Ilham lega. Kini Rania sudah membuka matanya. ke dua anaknya pun kini sudah lebih baik kondisinya. Rania menanyakan dimana keberadaan buah hatinya. Ia terus melihat ke sekeliling untuk mencari keberadaannya. Netranya menyapu ke semua sudut ruangan. Kosong. Nihil. Ia tidak berhasil menemukan anak anaknya .
"Mas, anak kita dimana ?" ucap Rania pada suaminya kala usahanya untuk mencari keberadaannya tidak berhasil jua.
"Eh iya. Rania yang tenang. Anak kita ada di ruang sebelah. Ia harus menerima perawatan khusus. Tapi Alhamdulillah sekarang kondisinya sudah semakin membaik" Ilham menjelaskan dengan santai. ia tidak mau Rania panik dan akan membuat kesehatannya terganggu.
"Alhamdulillah mas kalau begitu. Rania lega" Rania mengeluarkan nafasnya dengan sedikit hentakan. Menandakan hatinya kini sudah lega dan tidak lagi diselimuti rasa khawatir yang begitu mendalam.
"Mas, ayah dan ibu mana? mereka tidak kelihatan?" Rania menyadari ia hanya di temani oleh suaminya.
"Ibu lagi menjaga anak kita Ran. Alhamdulillah sekarang kondisinya yang semakin membaik sudah boleh dijaga oleh saudara dan kerabatnya"
"Mas aku ingin melihat anak kita. Aku ingin melihat jagoan kecilku"
"Iya. kamu baru sadar belum lama. Sebentar ya. Kamu yang sabar. Pulihin kesehatan kamu dulu" Ilham menenangkan Rania.
"Mas, Rania ngga sabar pengin bertemu dengan anak Rania. Anak kita laki laki atau perempuan mas?"
"Alhamdulillah anak kita laki laki Ran. Dua duanya laki laki Alhamdulillah, kita di karuniai dua orang anak sekaligus Ran.."
"Alhamdulillah anak kita juga sehat sehat Ran, hanya perlu di rawat di ruangan khusus untuk beberapa waktu" lanjut Ilham menjelaskan.
Mata Rania berbinar. Ia sangat senang. Ke dua anaknya yang di kandungnya selamat.
"Iya mas. Rania ingin segera bertemu dengan mereka mas" Rania masih saja meminta untuk di pertemukan dengan anaknya. Ilham tidak tega melihat Rania. Akhirnya ia akan meminta mertuanya untuk mempertemukan anaknya dengan cucunya.
"Iya sudah kalau begitu. Tapi sebentar saja ya. Biar nanti ibu kamu yang menggendong mereka ke sini"
"Iya mas. Yang penting Rania bisa bertemu dulu dengan mereka. Tidak apa kalau hanya sebentar" Rania tersenyum. Sebentar lagi pasti ia akan di pertemukan dengan anak anaknya yang ia lahirkan.
"Iya sebentar ya mas menemui ibu terlebih dahulu"
"Iya mas"
Ilham berjalan keluar. Ia menuju ruang di mana bayi bayinya di rawat. Bayi bayinya membutuhkan perawatan untuk sementara waktu. Bagaimana tidak. Ibu Rania tidak akan bisa menjaga dua buah bayi secara bersamaan. Di tambah lagi dengan usia ibunya yang tidak muda lagi.
Rania melihat kepergian Mas Ilham dengan senang. Ia tidak sabar untuk segera melihat anak anaknya. Kata suaminya, anak anaknya laki laki dan kembar. Seperti apa wajahnya sangat membuat Rania penasaran.
***
Ilham datang ke kamar tempat Rania di rawat kembali. Ia mengendong seorang bayi. Ibu nya Rania tampak di belakang Ilham. Ia sama seperti Ilham. Sama sama menggendong seorang anak kecil. Bayi yang Rania lahirkan.
Rania tersenyum melihat kehadiran suaminya bersama dengan ibunya yang sama sama membawa bayi. Bagaimana tidak senang. Ia melihat sosok anaknya mendekat kepadanya. Sosok anak yang belum sama sekali ia lihat.
"Mah, mas.." Rania menyambut mereka dengan suka cita.
"Iya Rania" jawab mamahnya yang semakin mendekat.
"Ini putra kamu, selamat ya nak. anak kamu laki laki. Bakal jadi jagoan ini tidak lama lagi. Ibunya Rania Menyerahkan cucunya untuk di gendong oleh ibunya.
Rania sangat senang. Ia menerima anaknya dan langsung menggendong nya di tangannya. Ia terlihat sangat manis. pasti jika sudah besar mereka akan menjadi laki laki yang begitu tampan.
Mas Ilham juga mendekat pada Rania. Ia memperlihatkan bayi yang apa pada gendongannya pada Rania. Wajah mereka terlihat sangat mirip. Wajar mereka adalah saudara. Sama sama terlahir dari rahim yang sama dengan selang waktu yang tidak terlalu lama. Hanya dalam hitungan menit selisih mereka di lahirkan di dunia ini.
***
Kondisi Rania makin membaik. Kondisi kedua bayinya kini juga sudah tampak sehat. Lebih sehat dari pada kesehatan Rania.
Rania sudah boleh untuk di rawat di rumah. Ilham menyampaikan kabar ini kepada mertuanya.Bersyukur,mertuanya itu setuju kalau Rania di rawat di rumah untuk memulihkan keadaannya. Ia juga mengajukan diri u tuk membantu menjaga cucu cucunya sampai Rania benar benar sehat dan mampu untuk mengurusi kedua anaknya.
Ilham segera mengurus semua administrasinya. ia tanda tangan sebagai tanda ia telah melunasi semua biaya rumah sakit yang harus ia bayar.
"Ran, Ayuk kita pulang. Alhamdulillah dokter sudah mengizinkan" Ilham mengucapkan pada istirnya.
"Alhamdulillah mas kalau Rania sudah boleh pulang. Jujur Rania sangat ingin tinggal dirumah. em melakukan itu semua sehingga Rania cepat sehat.
Rania merasa senang. Setidaknya ia bisa lebih dekat dengan anaknya ketika di rawat di rumah. Ia bisa berada berdampingan dengan anak anaknya.
Ibunya juga tidak kalah bahagia. ia juga sudah menyampaikan kepada Rania kalau ia akan menginap untuk beberapa hari.
Imam menghubungi Sabahat sahabat Rania untuk membantunya membuat persiapan penyambutan kecil kecilan untuk Rania. Untung mereka stand by. Mereka sangat antusias ketika Ilham meminta tolong bantuannya.
"Iya ham pasti kita akan bantu" kira kira seperti itulah mereka ketika di mintai tolong.
Asma salah seorang target Ilham untuk di repotkan. Ia memperhatikan kalau Asma sangat dekat dengan Rania.
Ilham menghubungi Asma. Benar sekali. Asma langsung meresponnya dengan baik. Memang Rania dan Asma ini sudah kayaknya seperti adik dan kakak.
"Iya segera pasti aku akan sampai di rumah kalian. " jawab Asma melalui tulisannya ketika Ilham meminta tolong kepadanya.
****
"Selamat datang kembali di rumah"
"Tara..."
"Selamat Rania"
"Selamat datang di rumah kembali dengan status panggilan baru"
Rania terkejut. ia tidak menyangka akan di beri kejutan demikian. Ketika ia turun dari mobil, tidak ada tanda tanda kalau dia akan menerima kejutan. Baru setelah Rania membuka pintu dan mobil taxi yang di sewanya dengan Ilham dan ibunya telah pergi.
Rania juga melihat tulisan yang terpampang di sana. 'Selamat datang ibu baru di Istana ini kembali'
"Ya Allah. Kalian ini selalu membuatku senang. Makasih ya, repot repot segala" Rania terharu. ia sedikit menitikkan air mata di kedua bola matanya.
"Iya Rania. Ini tidak merepotkan sama sekali.Selamat menjadi ibu ya Rania" salah satu temannya memeluknya.
Kehadiran Asma juga menambah kehebohan di sana. Ia juga memeluk Rania dan memberinya semangat dan ucapan selamat.
" Wah ibu muda ini. Ibu baru" goda Asma pada Rania. Mukanya yang bulat itu terlihat mengemaskan bagi sebagian orang.
Rania tersenyum ke Asma. Ia makin di buat haru dengan kehadiran mereka semua tidak terkecuali Asma yang berada pada tengah tengah temannya yang ikut meramaikan kedatangannya di rumah kembali pasca melahirkan.
"Terima kasih banyak loh Asma. Makasih ya. Rania sungguh merasa haru dengan ini semua.
Asma tersenyum ke arah Rania. Ia memberi pelukan hangat pada Rania.
"Ini semua itu dalangnya nih. Ada di sebelah kamu" Asma melempar pandangan pada Ilham yang berada di dekat Rania.
Rania melemparkan pandangan ke suaminya. ia tersenyum Ternyata suaminya romantis juga. Ia tidak mengira Ilham seromantis ini. Menyiapkan acara kecil kecilan untuk menyambut kedatangannya yang membuatnya sangat senang.
" Mas.." Rania melihat ke arah suaminya.
"Terima kasih banyak. Makasih banyak ya. Mas sangat perhatian pada Rania. Makasih banyak mas" Rania terus berterima kasih pada suaminya. Laki laki yang sangat ia cintai. Laki laki yang sudah mau menghabiskan tenaganya hanya untuk membuatnya bahagia.
"Iya. Mas hanya melakukan hal kecil. Sudah jangan berterima kasih terus. Mas yang terima kasih karena kamu sudah melahirkan dua jagoan mas yang sangat menawan, terima kasih banyak ya Rania"
"Eh sudah sudah Ayuk buruan masuk istirahat" Ilham sadar. mereka berdiri lumayan lama. Pasti Rania akan merasa lelah kembali jika terlalu la berdiri dan kecapean.
Rania segera membaringkan badan di ruang depan. Ruang yang sengaja Ilham sulap untuk tempat Rania menjaga anak anaknya ketika siang hari.
Rania juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibunya dan Ayahnya yang kini juga ikut ke rumahnya. Bahkan ibunya berencana akan menginap untuk beberapa hari. Menginap demi menjaga anaknya dan merawat cucu cucunya untuk sementara waktu.
Anak anak Rania di tidurkan juga di samping Rania. Mereka terlelap dalam tidur. Mereka sepertinya merasa sangat nyaman berada di dekat ibunya. Berada di samping Rania yang telah melahirkannya. Rania terus memandangi anak anaknya yang sedang tertidur itu. Mungil kecil dan lucu. Itulah gambaran dua orang bayi yang tertidur itu. Rania bersyukur. Ia dikaruniai anak yang membuat hatinya semakin senang. Kehadiran buah hatinya menambah kelengkapan kebahagiaan yang Rania rasakan.