Chapter 41 (Si Kembar)

1052 Kata
Bulan demi bulan telah berhasil Rania lewati. Kini perutnya semakin besar. Usia kehamilannya yang semakin mendekati kelahiran sangat tampak terlihat dari perutnya. Dua buah bayi yang di kandungnya seperti sudah tidak sabar untuk segera dilahirkan ke dunia. Rania duduk di ruang depan sambil menonton televisi. Ilham suaminya berada di dapur. Ia sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam mereka berdua. Ilham sendiri yang memintanya. Ia sudah melarang Rania untuk memasak sejak usai kandungannya telat menginjak usai sembilan bulan. Rania sudah melarangnya. Namun ternyata Ilham lebih keras kepala. Ia benar benar ingin istrinya untuk istirahat secara total. "Mas mas! mas!" suara Rania sedikit teriak. Namun rasa sakit yang di deritanya hanya mampu membuat suaranya keluar sedikit. Tidak terlalu keras jika di dengarkan. Suara api kompor yang di gunakan untuk memasak berhasil menimbulkan suara. Suara masakan yang telah panas terbakar api dan menjelang matang. Suara itu sedikit menyamarkan suara Rania yang berusaha berteriak sekeras mungkin untuk memanggil suaminya. Rania merasa sangat lemas dan perutnya terasa begitu sakit. Ia merasa tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakitnya. Darah sudah berhasil keluar menuruni kaki Rania. "Mas ! mas!" Rania masih berusaha untuk memanggil suaminya yang tengah masak itu. Suaranya terdengar semakin lemah. Di tambah rasa sakit yang ia rasakan. Ilham tidak mendengar teriakan Rania. Rania semakin lemah dengan keadaannya. Rania tidak tahan lagi. Ia jatuh pingsan di lantai. Ilham kembali ke ruang depan dengan membawa dua piring makanan. Ia sudah membayangkan ekspresi istrinya itu. Ia pasti akan senang dengan makanan yang ia hias dengan cantik di piring. Namun apa yang terjadi? piring itu jatuh ke lantai. Isinya berhamburan berhasil mengotori lantai. Berantakan kesana dan kemari. Ilham melihat keadaan Rania yang sudah tergeletak di lantai. Ilham benar benar terkejut melihat istrinya itu. Rania tidak tersadarkan diri. "Rania, Rania, Ran..." ucap Ilham dengan panik sambil menepuk beluk pipi Rania. Berharap usahanya itu akan segera menyadarkan istirnya. Rania tidak tersadarkan diri juga. Hal ini membuat Ilham makin panik. Ia segera teriak minta tolong ke tetangga sekitar. Beberapa orang datang menghampiri rumah mereka. Ilham menghubungi Ambulance dengan segera. Berharap ambulance segera datang dan membawa istrinya ke rumah sakit. Orang orang yang datang di rumah Ilham juga merasa panik. Beberapa ibu ibu tampak sibuk menyadarkan Rania. Namun sama. Nihil tidak ada hasil. Sama seperti yang di lakukan oleh Ilham. Tidak berhasil membangunkan Rania. Ilham masuk ke dalam rumah kembali. Suara ambulance sudah terdengar. ia segera mengangkat Rania dengan hati hati dan sedikit mempercepat langkahnya. Ilham membawa Rania masuk ke ambulance. Ia masih tidak bisa mengatur nafasnya. Tubuhnya dipenuhi rasa kepanikan. Ambulance berjalan dengan cepat membawa mereka ke rumah sakit. Para perawat sudah bersiap menyambut mereka kala suara ambulance mulai terdengar menggema di sekitar rumah sakit. Rania segera di bawa ke ruang operasi. Usia kandungan Rania yang sudah tua dan keadaan Rania yang masih tidak tersadarkan diri membuat Ilham begitu panik dan menyalahkan dirinya sendiri terus menerus. Bagaimana ia bisa teledor menjaga istrinya yang tengah hamil itu. Rania di masukkan ke ruang bedah. Berdasarkan saran dokter Rania akan di Cesar. Jalan satu satunya untuk menyelamatkan mereka. Memang resikonya terlalu tinggi. Tapi tidak ada jalan lain yang bisa di tempuh. Ilham berlinang air mata. Air matanya tidak berhasil di bendung. Rasa sedih dan menyesal yang begitu dalam sudah berhasil membuatnya begitu merasa bodoh. Bodoh sekali dalam penjagaan Rania. "Ran,maafkan aku.. maaf aku lalai menjaga kamu" *** Ilham menghubungi orang tuanya dan orang tua Rania. Dengan panik Ilham menghubungi mereka. Meraka yang mendapat kabar demikian tidak kalah paniknya. Bagaimana tidak. Rania sosok yang sangat mereka sayangi. Kehadiran buah hati mereka juga sudah ditunggu tunggu sedari lama. "Ibu bapak, Ranai di rumah sakit, Ia akan operasi untuk kelahirannya" deg. Perasaan khawatir langsung menyelimuti orang tua Rania. Ibu Rania yang menerima telefon Ilham langsung menangis. Ayahnya juga langsung panik. Mereka segera bergegas menuju rumah sakit untuk menemui putri mereka. Belum ada tanda tanda dokter akan keluar dari ruangan. Ilham semakin di buat panik. Ayah dan ibu Rania juga terlihat tidak kalah paniknya. Sementara orang tua Ilham masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Berjalan bolak balik menunggu kabar dari dokter. Lama sekali dokter tidak keluar. Apa prosesnya selama ini ? Ah bagaimana dengan keadaan Rania. Ditengah kepanikan yang makin melanda dokter dengan wajah yang dipenuhi keringat keluar dan menuju ke arah mereka. "Bagaimana dok?" Ilham langsung menubruknya dengan pertanyaan. Ia sudah tidak sabar mengetahui keadaan istrinya dan anak anaknya yang berada dalam kandungan. Wajah dokter yang tampak lelah dan penuh dengan keringat membuat Ilham panik. Ditambah dokter menarik nafas berat. seperti hal yang akan ia sampaikan begitu berat untuk diucapkan. "huh" "Begini, proses operasi Nyi Rania lumayan memakan waktu. Untunglah baik ibu dan bayinya bisa di selamatkan. Namun keadaannya sama sama masih sangat lemah" Mendengar perkataan dokter Ilham bersyukur. Tangisannya bertambah kencang. Namun kali ini, tangisannya adalah tangisan kebahagiaan. Bahagia dengan proses kelahiran anaknya. Rasa bahagia menyelimutinya. Rania juga selamat dalam proses melahirkan. "Alhamdulillah" "Alhamdulillah.. terima kasih banyak dokter, terima kasih" Ilham sangat berterima kasih dengan dokter yang sudah membantu menyelamatkan istirnya dan anaknya itu. Hati bahagia juga menyelimuti ayah dan ibu Rania. Mereka resmi menjadi kakek dan nenek dan anak mereka selamat dalam proses melahirkan cucu cucunya. "Selamat ya pak, kedua anak bapak laki laki. Selamat buat kelahiran anak kembar bapak" ucap dokter pada Ilham. Dokter pergi meninggalkan mereka. Rania masih terus dalam pengawasan perawat. kondisinya yang begitu kemah belum boleh di jenguk terlalu banyak orang. hanya satu orang yang boleh masuk ke ruangan untuk melihat kondisi Rania. Ilham langsung masuk ke dalam untuk melihat istrinya pasca operasi itu. Ia tidak henti hentinya mengucapkan syukur. Ilham keluar dengan perasaan bahagia. Ia memberi waktu untuk orang tua Rania menjenguk anaknya pasca melahirkan. "Alhamdulillah pak, Rania selamat. Bayi bayinya juga selamat" ucap ibu Rania pada ayahnya setelah mereka sama sama melihat kondisi anak mereka. "Alhamdulillah sekali buk. Kita sudah resmi jadi kakek nenek" Ayahnya tersenyum bahagia. Ilham memberi kabar bahagia ini pada sahabatnya. Ia juga memberi kabar pada sahabat Rania. Asma dan Nisa. Dua sosok yang sangat dekat dengan Rania padahal tidak terdapat ikatan darah. Mereka menjawab kabar bahagia dari Ilham dengan ucapan syukur. Ilham menghubungi mereka dengan ponsel Rania. Sahabat sahabat Rania juga tidak henti hentinya mengucapkan syukur atas kelahiran anak sahabatnya itu. Ilham juga meminta tolong kepada Asma dan Nisa untuk ikut hadir dalam penyambutan Rania ke rumah yang akan Ilham siapkan untuk memberi kejutan kepada istirnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN