BAB 19

2018 Kata
5 tahun lalu.. Seorang wanita dengan gaya seksi dan pakaian minimalis, didukung dengan pose cantik dengan lekuk tubuh yang menggoda, tampak memasuki ruang kantor. Beberapa pasang mata tampak terpaku pada wajahnya yang gembira. Bagaimana tidak, wanita itu menjadi saksi dalam sidang perceraian dengan kekasihnya beberapa bulan lalu. Pada akhirnya, meskipun dia tahu betapa pria itu menyesali keputusannya, dia merasa telah memenangkan permainan yang dia buat. “Siapa yang mengira bahwa CEO muda dapat dengan mudah diprovokasi? Seharusnya aku melakukannya sejak lama, ”gumam wanita itu dalam hati. Memikirkan sosok pria itu, tiba-tiba pria itu muncul di depan wanita itu dengan pakaiannya yang biasa. "Selamat pagi, Ayu," sapa pria itu sambil melangkah dan berdiri di samping Ayu yang sedang menunggu pintu lift terbuka. Ayu berbalik dan tersenyum: “Selamat pagi, Pak Mahawira. tanya Ayu. Bahkan, Mahawira tidak muncul untuk bekerja selama lebih dari dua minggu setelah proses perceraian. Mahawira meminta untuk menunda semua pertemuan dan pertemuan penting. Beberapa di antaranya bahkan dibatalkan karena Mahawira sedang sakit. Sebenarnya bukan tubuhnya yang sakit, tapi hatinya. Memang menyakitkan putus dengan wanita yang Anda cintai dengan keputusan yang Anda sesali. "Ya. Pertemuan hari ini dengan Pandawa Corporation?" tanya Mahavira. "Baik Pak. Pak Dawa akan datang ke kantor." "Oke. Telepon aku nanti. Aku akan tetap di kamarku." Setelah obrolan singkat mereka, keduanya segera memasuki lift dan pergi ke lantai mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Mahavira memiliki penampilan yang biasa saja, namun hatinya rapuh. Penyesalan hanya tinggal di akhir dan membuatnya semakin bersalah. Semakin banyak penyesalan yang muncul, semakin Mahawira berusaha meyakinkan dirinya bahwa keputusannya adalah keputusan yang tepat dan bahwa Callista berselingkuh dengannya sampai dia hamil anak laki-laki lain. Akhirnya, tiba saatnya untuk bertemu dengan Pandawa Corporation. Mahawira memasuki ruang rapat yang sudah dipadati karyawan Pandawa Group, termasuk Dawa, pemilik perusahaan. "Halo, Tuan Mahawira! Apa kabar? Wajahmu terlihat segar hari ini,” kata Dawa saat Mahawira datang. Kedatangan Pandawa Group ke sini bukanlah tawaran kerjasama, melainkan beban utang yang menumpuk akibat kerugian yang dideritanya. "Selamat tinggal. Saya merasa lebih baik, terima kasih atas kasih sayang Anda Pak Dawa, ”jawab Mahawira sambil duduk di kursi yang disediakan. Hari ini Mahawira juga berbicara tentang mengajukan pinjaman untuk perusahaan Mahawira. Bukan tanpa alasan Dawa terpaksa melakukan ini untuk menjaga perusahaannya yang sedang naik daun. "Daripada meminjam uang dari perusahaan ini, bukankah aku harus membeli perusahaanmu?" tanya Mahavira. Dawa tercengang ketika mendengar kata-kata Mahawira tanpa berkata apa-apa lagi. Bahkan Ayu sendiri tidak menyangka bosnya memiliki sikap sarkastik seperti itu. "Sebenarnya, aku juga berpikir begitu. Tapi aku akan mencoba menyelesaikannya sampai akhir, meskipun tampaknya tidak mungkin." “Kalau begitu, bisakah aku bertanya kepada stafmu yang luar biasa? Kasus terburuk, jika Anda tidak dapat membayar mereka, saya hanya mempekerjakan orang-orang terbaik Anda," kata Mahawira. "Saya akan mencoba." Proses peminjaman uang dalam jumlah besar akhirnya ditandatangani oleh kedua belah pihak. Mahawira memberi Pandawa Group 4 tahun untuk melunasi utang lebih dari 100 miliar. "Terima kasih banyak, saya akan mencoba untuk membayarnya kembali." “Tidak ada alasan untuk merasa terbebani. Anda tahu bagaimana perusahaan kami, Pak. Kamu juga mengenal ayahku dengan baik.” Memang benar, Dawa dan Bara adalah teman kuliah. Bedanya, Perusahaan Rasendriya adalah perusahaan yang dibangun dari keringat Bara sendiri, sedangkan Dawa menjalankan bisnis orang tuanya. Namun kini perusahaan besar itu memiliki takdir yang berbeda. Rasendriya terbang lebih tinggi dan lebih tinggi sementara Pandawa jatuh ke dasar jurang. * * * * * 4 tahun depan.. Selama 4 tahun terakhir, Mahawira sepertinya masih berusaha mencari bayangan Callista. Pria itu sudah beberapa kali berkunjung ke Bogor dan melewati area di depan rumah Callista. Namun usahanya tidak pernah membuahkan hasil. Hingga akhirnya pria itu tahu Callista telah tiada. Bahkan informasi yang coba didapatkan Mahawira diblokir oleh Ayu. Mahawira berulang kali meminta Ayu untuk mencari tahu keberadaan Ayu, tetapi Ayu selalu mengatakan bahwa Callista mungkin akan pergi dengan pria lain yang merupakan ayah dari anaknya. Ayu tiba di Mahawira dengan beberapa file data staf terbaik Pandawa. Jelas yang ini sudah diprediksi oleh Mahawira lebih dulu sejak awal, karena tahu jika perusahaan Dawa tak akan bisa membayar hutangnya. "Berikut data karyawannya, Pak. Karena Pandawa memiliki anak grup, sepertinya mereka berusaha menyembunyikannya. Jadi saya mencarinya sendiri. Jumlahnya ada 200 orang tetapi saya tidak begitu yakin siapa yang karyawan terbaik di sana," ujar Ayu sembari menyerabutkan Mahatersebutkan berkas padwir. Seperti ucapan Mahawira terlebih dahulu, jika Dawa tak dapat ditagih maka utang Pandawa Group akan di akuisisi. Sebenarnya mengambil keseluruhan hanya bagian positif yang menguntungkan. Mahawira juga tak mau jika membenci orang dia akan bertambah karena ia bisa memecat orang dengan santai tanpa memperdulikan nasib latar belakang mereka. "Terima kasih." "Kalau begitu saya izin, Pak," balas Ayu kemudian dari ruangan Mahawira dan meninggalkan pria itu seorang diri bersama dengan tumpukanan di atas mejanya yang baru diletakkan oleh Ayu. Pria itu segera memulai membaca profil perusahaan. Sampai akhirnya terhenti pada sebuah data anak perusahaan milik Pandawa Group. "Surabaya?" gumam Mahawira. Tangan Mahawira terhenti, napasnya tercekat dan kedua tangan saat melihat data salah satu karyawan yang berada di sana. "Callista Evanora," gumam Mahawira saat melihat nama sekaligus foto wanita itu di sana. Orang yang selalu ia cari selama 4 tahun terakhir. Berusaha menghubungi namun nyatanya Callista sudah mengganti semua nomor kontaknya. "Akhirnya aku memukanmu." Tanpa sadar Mahawira menitikan air matanya saat berhasil menemukan Callista. Ia pun langsung membuat sambungan telepon kepada Ayu. "Tolong hubungi Dawa. Aku akan mengakuisisi anak perusahaannya mulai besok. aku juga akan membuat sebuah tim baru." Mahawira tak berpikir panjang. Yang penting saat ini adalah membuat Callista kembali ke dalam jangkauannya. Ia tak memberi tahu Ayu jika ia berhasil menemukan Callista. Bahkan tim baru saja merupakan ide dadakan yang baru saja Mahawira mengingat beberapa detik yang lalu. Sekarang Mahawira hanya tinggal perlu gagasan anggota lainnya yang bisa menjadi alibi Mahawira untuk menarik Callista mendekat ke arahnya. * * * * * Hari yang ditunggu-tunggu Callista Evanora akhirnya tiba. Dimana ia menginjak hari itu tepat 33 tahun. Sudah 5 tahun Callista merayakan ulang tahunnya tanpa kehadiran Mahawira. Ulang tahun Callista bertepatan dengan hari kerjanya, yang jatuh pada hari Selasa. Jika Callista biasanya merayakan bersama keluarganya, kali ini tidak. Kesibukan yang semakin meningkat tak mampu membawa Callista ke pesta ulang tahun. Tapi tadi malam tiba-tiba Yunita memanggil Callista ke rumahnya bersama Budi. Pada akhirnya, Callista dan Grayson hanya berada di sana selama satu malam, dengan dalih Yunita merindukan cucu satu-satunya. Pagi ini Callista bangun seperti biasa. Segera bersiap-siap untuk berangkat dan juga persiapkan kebutuhan anak untuk sekolah. "Bu," panggil Grayson pelan, lalu memeluk Callista dengan lembut, mata masih setengah tertutup dan rambut acak-acakan. "Ya sayangku?" "Selamat ulang tahun ibu. Tetaplah bersenang-senang karena kebahagiaanmu membuatku bahagia," lanjut Grayson. Callista berbalik dan memeluk Grayson dengan lembut. Dia tidak menyangka anak laki-laki yang dibesarkannya akan merawatnya dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya. "Apakah kamu punya pekerjaan hari ini? Tidak bisakah kamu tinggal di sini? “Aku tidak bisa, sayang. Anda memiliki pertemuan penting hari ini, tetapi Anda akan mencoba untuk pulang lebih awal. Apa kabar?" Wajah Grayson berubah seketika. "Oke bu! Grayson setuju!" “Kalau begitu, Grayson mandi dulu, sayang. Kita punya waktu 30 menit lagi. Ibu sudah menyiapkan pakaian dan peralatan untukmu. Ibu menunggu di meja makan, oke? " Greyson mengangguk antusias. Bocah 5 tahun itu langsung berlari ke kamar mandi dan menutup pintu. Sementara itu, Callista kembali berkemas untuk bayinya serta barang bawaan yang dibawanya pulang tadi malam. Setelah semuanya selesai, Callista mengeluarkan tasnya dan ingin membawanya ke kantor agar dia tidak perlu pergi ke rumah Yunita untuk mengambil barang bawaannya. Begitu Callista membuka pintu kamar, dia dikejutkan oleh kehadiran 3 orang di depannya dengan kue dan lilin yang menyala di atasnya. "Selamat ulang tahun, Callista!" Eric, Yunita dan Budi berbicara bersamaan. Mata Callista berlinang air mata saat melihatnya. "Cepat dan buat permintaan," kata Eric sambil mendorong kue itu lebih dekat ke Callista. Callista juga mengatupkan tangannya, memejamkan mata dan meniup lilin yang menyala di hadapannya. rubah! Lilin di atasnya segera padam. Yunita memeluk Callista dan mengusap punggung anaknya. “Terima kasih telah menjadi anakku dan bangun dengan baik,” kata Yunita. Budi bergantian memeluk Callista dan mendoakan usia baru. “Sebenarnya kami ingin membuat kejutan tadi malam, tapi kami terjebak macet, kuenya basi dan kalian ketiduran. kata Eric. Callista memeluk wajahnya dengan kedua tangannya. "Apakah wajahku terlihat lelah?" "Sungguh! Itu sebabnya aku menyiapkan ini," kata Eric, lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil. "Apa itu?" "Buka saja." Callista membukanya dan rupanya memberi Eric voucher untuk facial di salah satu rumah sakit kosmetik termahal di Jakarta. "Terima kasih banyak!" Callista mengatakan saat hendak memeluk Eric, wanita itu buru-buru berhenti karena tidak ingin kuenya rusak. "Ya Tuhan, aku lupa, kuenya akan rusak." "Daripada memelukku, lebih baik kau memanggilnya karena tanganku mati rasa sekarang." Callista buru-buru merebut kue dari tangan Eric ketika dia mendengar pria itu mengeluh, tangannya kaku karena memegang kue untuk waktu yang tidak ditentukan. Setelah Callista merebut kue dari tangan Eric, Eric bisa meluruskan lengannya dengan normal. "Apakah kamu akan pulang hari ini?" tanya Yunita. "Ya Pak. Callista memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Sepertinya tidak mungkin jika ada pesta makan malam yang sedang berlangsung sekarang." Wajah Yunita berubah sedih. “Bagaimana kalau kita rayakan makan bersama dan liburan bersama di Bali? Toh ultah Eric tinggal 2 minggu lagi kan,” saran Budi. "Oh benar sekali. Sekali saja," jawab Yunita. Akhirnya, mereka berencana untuk pergi berlibur ke Bali selama 2 minggu ke depan selama akhir pekan. Setidaknya jika sudah direncanakan sebelumnya, Callista bisa meminta untuk meninggalkan kantornya. Begitu juga Eric yang akan mengajukan cuti. Setelah sarapan bersama selesai dan Grayson selesai, Eric membawa Callista dan Grayson ke Garuda Arboretum. Beberapa anak segera berlari masuk, yah Ya. d**a Bunda, dadah Om Eric," ujar Grayson kemudian turun dari mobil dan juga segera berlari ke arah dalam sekolahnya. Callista mengulum senyumnya melihat anaknya yang sudah sangat mandiri. Tidak seperti awal jika dirinya mengantarkan Grayson ke sekolah, pasti Grayson mau diantarkan sampai gerbang dan melihatnya sampai pandangan mereka tak lagi bertemu. Usai mengantarkan ke sekolah bersama Eric, Eric pun mengantarkan Callista ke kantornya. "Aku turun di halte depan saja," pinta Yunita. "Halte depan? Tapi cukup memakan waktu. Aku antarkan ke kantormu saja." "Tapi kau harus masuk ke dalam. Karena tidak boleh berhenti di tepi jalan." "Memangnya kenapa? Sudah aku antarkan saja sampai dalam. Lagi pula aku masih ada jatah telat untuk datang ke kantor." Sifat keras kepala Eric pada akhirnya tidak bisa diubah oleh callista dan wanita itu pun diantarkan sampai ke dalam. Saat Callista turun, tampaknya Mahawira tampak memperhatikan kedatangan Callista dari jauh yang kebetulan baru saja tiba di kantor. Setelah kepergian Eric, barulah Mahawira melangkahkan kaki dan menghampiri Callista yang sedang berjalan ke arah lobi. "Pagi," sapa Mahawira saat dirinya dengan sengaja berjalan melewati Callista. Callista mendongak dan melihat sosok yang menyapanya, menatap langsung saat sosok Mahawira yang berjalan melihat dan kini menunggu di depan lift bersama degannya. "Oh ya, ini," ujar Mahawira kemudian memberikan sebuah kotak berwarna merah muda lengkap dengan pita kecil berwarna merah tua. "Apa ini?" "Had." "Had?" "Kau berulang tahun kan?" Callista tersentak, "Anda mengingatnya?" "Tentu saja. Bisa dibilang itu hadiah 5 kali ulang tahunmu." Ting! Lift pun terbuka dan dengan segera Mahawira masuk ke dalam sedangkan Callista sempat diam sebentar. "Tidak masuk?" Tanya Mahawira. "Ah iya," balas Callista kemudian ikut masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Mahawira. "Sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan hadiah. Tapi terima kasih banyak," ujar Callista. "Sama-sama." Mahawira kembali dingin seperti acuh tak acuh terhadap callista saat satu persatu karyawan mulai masuk ke dalam lift dari berbagai lantai. Mereka pun langsung menyapa Mahawira yang berdiri di sana dengan posisi tegap. Sebetulnya callista tak menyangka jika dia akan mendapatkan hadiah dari Mahawira bahkan sampai berkata untuk 5 kali ulang tahun yang terlewatkan oleh Mahawira. Sebenarnya setiap kali Callista ulang tahun, Mahawira memang sering memberikan hadiah, entah itu barang berguna maupun tidak. Tapi di sisi lain ia akan mengajak Callista makan malam romantis. "Astaga jangan berpikir juga untuk diajak makan malam romantis, Callista!" ujar Callista di dalam hati. Ting! Lantai yang dituju oleh callista pun tiba. Wanita itu segera keluar dari dalam lift setelah melemparkan senyumannya kepada Mahawira. Sedangkan Mahawira hanya mengungkapkan kepergian Callista yang segera turun lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN