BAB 18

2146 Kata
Setelah pemakaman Bara, semua orang di sekitarnya terpaksa kembali ke aktivitas normal mereka. Diantaranya adalah Callista yang kembali bekerja seperti biasa setelah 3 hari libur karena harus pergi bersama Tanisha. Tanisha masih sedih dan sering tiba-tiba menangis saat memikirkan kepergian Bara. Kepergian Bara yang tiba-tiba dan tidak terduga telah meninggalkan banyak luka di hati. Bukan hanya Tanisha, Mahesa juga menjadi sedikit lebih gelap. Bahkan di hari biasa seperti ini, imej Mahesa yang biasanya antusias dan mengganggu suasana, berubah drastis. Dia lebih pendiam daripada saat berbicara dengan rekan-rekannya. Callista bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Mahesa yang sedang berkonsentrasi pada layar komputer di depannya. Pukulan! Pukulan! Callista mengulurkan tangan dan menepuk meja Mahesa sampai pria itu berbalik. "Mau minum kopi bersama?" tanya Callista. Mahesa menghela nafas, dan setelah beberapa saat pria itu mengangguk. Akhirnya setelah menerima ajakan Callista, Mahesa keluar bersama Callista dan menuju ke area kantin. Di sana mereka duduk berdua dan menikmati secangkir kopi panas. Keduanya terdiam cukup lama. Bahkan Callista cukup bingung harus memulai dari mana karena takut salah paham dan dimaknai berbeda oleh Mahesa. Bagaimanapun, Mahesa pernah menjadi saudara perempuannya, dan Callista memahami Mahesa lebih baik daripada rekan-rekan Mahesa mana pun. "Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan dan itu pasti sangat menyedihkan. Tapi jika terlalu lama, semua pekerjaan Anda akan berantakan," kata Callista. Mahesa menatap mata Callista dengan sedih. "Ah, maaf, aku tidak mengatakan itu sebagai bosmu. Itu sebagai Callista Evanora yang dulu adalah adik iparmu,” Callista menyela sebelum Mahesa berbicara dan mengubah kata-katanya. "Begitu," kata Mahesa, perlahan menyesap kopinya. "Kamu juga tidak baik. Ayah akan sedih jika tahu anak bungsunya seperti itu. kata Callista. Wajah Mahesa berubah seketika, sebuah jari tampak melingkari cangkir seolah berpikir. "Kamu benar. Aku harus marah dan kembali ke hariku. Kalau begini terus, Ayah pasti sedih," kata Mahesa. Senyum tipis muncul di wajah Mahesa, membuat Callista ikut tersenyum. "Bagaimana dengan Mahavira? Apakah kamu merasa lebih baik?" tanya Callista, mengingat bagaimana Mahawira menangis sebelum pemakaman Bara dan bahkan menjadi orang terakhir yang pulang dari sana. "Kakakku tidak masuk kerja hari ini. Sepertinya dia sakit," kata Mahesa. "Sakit?" "Ya. Rasa sakit dan kesedihan fisik. Semuanya membuat Kak Mahawira malas bertemu orang. Callista tercengang mendengarnya. "Ini bukanlah kali pertama. Ketika kamu menceraikan Kak Callista, Kakak Mahawira melakukan hal yang sama,” lanjut Mahesa. "Apa?" "Kamu tidak tahu?" tanya Mahesa. Callista menggelengkan kepalanya. “Sudah 2 minggu Kak Mahawira tidak masuk kerja. Sebenarnya, Kak mencari Kakak Callista dan mencoba meminta maaf tetapi tidak berhasil. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Bu Mahawira menempuh banyak jalan untuk menggapai Suster Callista di hatinya.mulai sekarang.” Kata-kata Mahesa keluar langsung. Di satu sisi Callista tidak ingin mempercayai kata-kata Mahesa, di sisi lain dia tahu betul bahwa mantan iparnya bukanlah pembohong yang baik. "Tuan sedang dalam terapi?" tanya Callista. "Tidak. Saya tidak suka diperlakukan, Perawat Callista tahu yang terbaik," kata Mahesa. "Jadi, bolehkah saya mengetahui alamat rumahnya?" tanya Callista, menyadari bahwa dia sudah kehilangan akal karena semakin dekat dengan Mahawira. Mahesa mengangguk sambil menatap Callista. * * * * * Setelah menanyakan alamat rumah Mahawira kepada Mahesa, Callista segera pergi ke apartemen Mahawira. Sebelum itu, Callista telah menghubungi Eric jika dia memiliki hal lain yang harus dilakukan dan tidak dapat menghubungi Grayson tepat waktu. Eric kemudian menjemput Grayson di sekolahnya. Callista naik taksi karena, sejujurnya, dia tidak tahu persis di mana apartemen Mahawira berada. Akhirnya, setelah 45 menit berkendara, taksi Callista berhenti di kompleks apartemen yang mewah. Sebuah gedung pencakar langit terlihat lebih baik dengan lampu hias yang bersinar saat senja. "Menara Dahlia, kan, Bu?" tanya sopir taksi kepada Callista. Callista melihat pesan Mahesa lagi, "Ya pak. Menara Dahlia,” kata Callista. Akhirnya, mobil Callista berhenti di depan Menara Dahlia. Callista segera turun dan memasuki d alam kemudian berjalan ke arah resepsionis. "Halo, saya tamu dan ingin berkunjung ke lantai 22 tempat Pak Mahawira, apa bisa?" Tanya Callista. "Dari siapa?" tanya sang resepsionis. "Callista, saya um.. adiknya," jawab Callista berbohong karena tak mungkin ia mengaku jika dia adalah mantan istri istrinya. Sang resepsionis membuka buku tamu seolah mengkonfirmasi status nama Callista dalam daftar keluarga yang diizinkan masuk. "Callista Evanora?" tanya sang resepsionis itu lagi. "Benar." Sang tampak menekan sebuah tombol, "Pintunya sudah saya buka. Silakan mengambil di sebelah kanan dan langsung ke lantai 22." "Terima kasih," balas Callista kemudian masuk ke arah dalam. Sebuah apartemen mewah dan keamanan ketat membuat Callista terpana. Dalam hati ia berpikir mengapa tak dari dulu saja tinggal di sana. Tapi buru buru Callista mengelak dan mengatakan tidak seharusnya ia berpikir demikian pada saat pernikahannya bahkan sudah berakhir. Callista berjalan ke dalam sesuai arahan sang resepsionis. Kemudian tekan tombol akhirnya 22 pada lift tersebut dan sampai pintu lift terbuka. Tak seperti kebanyakan apartemen yang dari lift langsung disuguhkan dengan lorong. Apartement itu justru langsung membuka langsung ke arah sebuah pintu yang menunjukan tempat yang ditempati oleh Mahawira. Karena Callista pun sudah diberitahu kunci password apartement Mahawira, langsung saja Callista memasukan kombinasi angka pada pintu dan masuk ke dalam rumah. Aroma vanilla langsung menyambut kedatangan Callista saat menginjakan kaki di apartement. Jangan lupa Callista mengganti alas kaki dengan sendal rumah sebelum masuk ke dalam. Callista mengedarkan pandangannya, mencari kamar Mahawira berada untuk memeriksa keadaan pria itu yang tinggal seorang diri. Tok! Tok! Tok! Callista mengetuk pintu sebanyak 3 kali dan membuka pintu. ternyata mendapati tempat tidur yang kosong dan tak ada seorang pun di sana. "Kenapa tidak ada siapa siapa? Apa dia pergi?" gumam Mahawira. Baru saja Callista hendak berbalik tiba-tiba saja... terima! Seseorang langsung memeluknya dengan erat. Suara hembusan napasnya bahkan terasa di tengkuk Callista dengan jelas. "lepas-" "Biarkan seperti ini sebentar saja," ujar suara seorang pria yang terdengar familiar. Mahawira memeluk Callista erat sambil menundukan kepalanya di bahu wanita itu sambil memejamkan mata. * * * * * Callista terdiam saat merasakan tangan Mahawira melingkari pinggangnya. Ratusan kenangan dari keduanya bermain seperti film maju cepat tetapi juga cepat kembali ke titik semula. menjembatani! Callista melepaskan tangan Mahawira yang melingkari pinggangnya, dan menatap pria yang sedang menatapnya. Mata sembab, bibir kering dan kantung di bawah mata seolah menunjukkan betapa lelahnya Mahawira beberapa hari terakhir ini. Tak hanya kelelahan, rasa sakit dan kesedihan juga menyelimuti pria itu. "Ma-maaf," kata Callista sambil melepaskan tangan Mahawira dari tubuhnya. Mahawira tersenyum, mengulurkan tangan dan membelai lembut pipi kiri Callista. “Terima kasih sudah datang dan merawat saya,” kata Mahawira. “A-aku tidak khawatir. Saya yakin saja,” jawab Callista, tak ingin Mahawira salah paham dengan sikapnya. Callista meninggalkan Mahawira dan berjalan menuju dapur. Saya melihat bahwa tidak ada satu pun makanan yang disajikan di sana. Sementara itu, Mahawira mengikuti Callista dan duduk di meja bar di dapurnya. "Kamu belum makan?" tanya Callista. Mahavira menggelengkan kepalanya lemah. Sungguh, saat ini Callista sangat mengkhawatirkan kondisi Mahawira. Siapa yang tidak terlihat bersemangat menjalani hari. Callista berjalan mendekati Mahawira dan dengan lembut menyentuh dahi pria itu setelah menyisir rambut yang menutupi dahinya. "Apakah kamu sudah minum obatmu?" tanya Callista sambil menatap wajah pucat Mahawira. "Belum. Aku belum makan apa-apa dari pagi, hanya minum air putih," jawab Mahawira sambil menoleh ke cangkir air mineral di sebelah mesin cuci piring. Callista menghela nafas. Kemudian beralih ke celemek yang tergantung di dinding dan kenakan. "Kau ingin memasak?" "Bagaimana menurutmu? Apakah pasien tidak makan nasi?" "Tapi aku tidak sakit. Aku juga tidak demam." "Tapi wajahmu sepucat orang yang akan mati." Callista menatap Mahawira sejenak sebelum mengangkat penggorengan dari dasar laci. Karena belum pernah memasak di sana dan bahkan baru pertama kali memasak di sana, Callista terus bertanya dimana peralatan masak Mahawira. "Di mana toko rempah-rempah?" Callista bertanya untuk kesebelas kalinya. "Di lemari," kata Mahawira. Callista berbalik dan mencoba membuka rak paling atas lemari dapur. Setelah Callista membuka lemari, wanita itu tidak bisa melihatnya. Membuat Callista berjinjit beberapa kali untuk menonton. Mahawira, yang juga kesal karena Callista kesulitan, akhirnya bangkit dan mengambil bumbu masak yang tersisa di lantai atas. Callista terdiam sesaat ketika Mahawira tiba-tiba berdiri di belakangnya dan meraih bumbu. "Di Sini." "Terima kasih banyak." "Banyak?" "Tidak tercerna?" "Semuanya sudah habis. Belum membeli peralatan dapur. Biasanya pengurus rumah tangga bertanggung jawab untuk menyimpan rak ini. Tapi dia belum masuk kerja selama tiga minggu karena keluarga di desa sakit." "Pekerjaan rumah?" "Benar." "Diam." Setelah Callista mengumpulkan semua bumbu yang diperlukan. Callista melanjutkan proses memasak. Siapkan bahan yang berbeda dan campur dalam panci. Mahawira duduk dengan tenang dan memperhatikan Callista yang ahli memasak. Bahkan matanya sepertinya tidak berkedip dan tidak akan melihat ke belakang bahkan untuk sedetik pun. Setelah matang, Callista Mahawira langsung menyajikan sayap ayam dengan mayonaise bawang putih. Mahawira bukanlah tipikal pasien yang suka makan bubur. Saat merasa mual, pria lebih memilih makanan dengan rasa yang kuat untuk merangsang nafsu makan. "Diundang makan." "Kamu tidak mau makan?" tanya Mahawira saat melihat Callista yang baru saja melepas celemeknya dan hendak menuju tas yang sudah ditaruh di kursi di ruang tamu. "Tidak." "Bolehkah aku makan malam denganmu? Jika kamu tidak keberatan." Akhirnya, Callista pergi dengan Mahawira untuk makan malam. Bahkan membantu pria itu mengeluarkan tulang dari ayam. Mahawira makan lapar sampai habis. "Biar aku yang cuci piringnya," kata Callista sambil membawa piring kotor bekas pakai Mahawira ke wastafel. Usai mencuci piring, Callista kembali memeriksa kening Mahawira dan melihat wajah Mahawira sudah tidak pucat lagi. “Demamnya sudah turun. Sepertinya tidak perlu lagi." "Terima kasih banyak." Callista hanya tertawa dan pergi ke tasnya dan mengambilnya. "Kalau begitu aku akan pulang-" Kata-kata Callista terputus ketika Mahawira tiba-tiba menariknya dari belakang hela napasnya dan membalik tubuh callista. Wanita itu tersentak saat melihat Mahawira yang menangis di hadapannya. Tangan Callista terulur dan mengusap air mata yang mengalir di pipi Mahawira. "Jangan menangis, Papa pasti akan sedih jika melihat anak sulungnya menangis seperti ini," ujar Callista. Mahawira melihat dan mencium telapak tangan Callista cukup lama, membuat wanita itu terdiam. "Maaf," ujar Mahawira. "Maaf." Pria itu mengucapkan kata maaf beberapa kali membuat Callista kebingungan. "Sepertinya kamu masih dalam suasana sukhaeka, sebaiknya aku pergi," ujar Callista. Lagi lagi ditahan oleh Mahawira dan pria itu memeluk Callista dengan erat. "Maafkan atas kejatuhanku selama ini. Maaf atas kesalahanku dan hal yang kulakukan 5 tahun yang lalu. Perceraian kita-" "Berhenti," potong Callista. "Jangan membicarakan perceraian lagi. Aku sudah menganggap semuanya berakhir. Aku sudah terbiasa hidup sendiri dan tolong jangan perlu kembali," sambung Callista. Mahawira melonggarkan pelukannya dan membocorkan sendu ke arah Callista. "Aku bodoh karena aku percaya pada hal yang bahkan bukan seharusnya aku percaya. Aku mempercayai foto bodoh itu dan memilih menceraikanmu dari pada meminta penjelasan darimu terlebih dahulu." "Foto?" Mahawira pun pergi dari hadapan Callista, mengambil sesuatu dari dalam kamarnya dan kembali dengan sebuah peta cokelat yang segera ia berikan kepada Callista. "Aku menerima berbagai foto hampir setiap hari. Aku merasa muak padahal aku sudah mengatakan untuk berhenti dan tak mau mempercayainya. Callista membuka peta tersebut. kapan saat melihat foto yang bahkan tak pernah ia lakukan. Sampai akhirnya ia melihat foto terakhir. Foto yang tubuhnya betelanjang bulat dan sedang tidur namun bukan dengan Mahawira. "Gila!" pekik Callista. "Sebenarnya dulu aku meminta seseorang bernama Pak Tono untuk mengawasimu karena aku selalu khawatir "Kamarmu? Jepang? Bagaimana bisa?" "Seharusnya aku berpikir ke sana tapi aku langsung kalut. Aku lalu memintamu melakukan tes DNA tapi kamu menolak, membuatku semakin yakin jika itu anak Eric." Callista melihat saat ia mendengar sesungguhnya Mahawira menceraikannya. "Ayu." "Ayu?" tanya callista karena tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Mahawira. "Iya, sekretarisku Ayu. Dia yang menjebakku dan kita dalam permainanya." "Apa?" "Sebelum Papa meninggal, Papa memintaku bertemu dengan orang suruhannya. Dia berhasil mengidentifikasi orang yang mengirimkan foto ini bahkan Pak Tono juga mengakui jika Ayu yang memintanya melakukan hal itu "Tunggu dulu, jadi semua foto palsu ini sengaja dibuat agar cemburu dan kita berpisah?" Mahawira menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Callista. "Tapi aku belum menegur Ayu. Aku mau melihat sejauh mana ia bermain. Dan mengenai Grayson..." "Greyson?" callista tersadar jika Mahawira sebenarnya sudah tahu tentang Grayson, "Aku tak akan menyerahkan anakku meski dia harus menjadi pewaris tunggal." "Aku tidak memintanya dengan paksa. Hanya saja, boleh kan aku mengenal dia? Aku tahu ini terlambat tapi-" "Aku akan memperkenalkan dia. Sudah tahu dia bukan siapa?" Mahawira mendengar ucapan Callista. Padahal beberapa saat yang lalu callista menolak mentah mentah. "Tapi bukan berarti aku akan memberikan hak asuhnya. Hanya sebatas mengetahui, kau tidak boleh mengambilnya." Mahawira tersenyum mendengar ucapan Callista kemudian memeluk wanita itu dengan erat. "Aku janji akan menyelesaikan semuanya. Aku janji." Callista hanya terdiam. Hatinya yang semula sekeras batu perlahan melunak. Melihat Mahawira - nya yang kembali, membuat Callista merasa senang walau ada satu sisi dimana dia masih kesal terhadap keputusan pria itu. Perasaannya tak pernah berubah, hanya waktu yang membuatnya mengeraskan dan tak mau merasakan cintanya lagi. Membuat Callista menjadi wanita tangguh yang hidup demi anaknya. Apa yang diminta Bara kepadanya dan ucapan Mahesa yang mengucapkan Mahawira menyesali perbuatannya. Perlahan, seluruh kebenaran akan terungkap. Mahawira dan Callista hanya akan menunggu tanggal mainnya dimana mereka bisa membalas semua perbuatan Ayu yang sudah memisahkan mereka berdua dan menjadikan anak mereka sebagai korban atas semua kejadian ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN