BAB 6

1225 Kata
Ayu tampak terus menyesuaikan diri dengan tubuhnya saat berjalan. Wanita itu tampak menggigiti kukunya untuk meredam rasa takut di hatinya. Tempat yang biasanya ramai segera terasa kosong saat wanita itu memasuki area tangga darurat untuk menyembunyikan ketakutannya. Tiba-tiba, pintu keluar darurat terbuka, memperlihatkan sesosok wanita yang segera berjalan ke arahnya. "Sebagai?" tanya Ayu pada wanita itu. “Pak Mahawira yang membawanya ke rumah sakit. Dia bertanya. Ayu langsung melebarkan matanya, "Kamu makan? "Bukankah kamu memintaku untuk meracuni Callista? Saya mendengar di belakang panggung bahwa Bu Callista akan mengambil gigitan pertama, jadi saya membawanya ke sana, ”jawabnya. "Bodoh, Agita!" dipanggil Ayu. "Apa? Bodoh? Serius!” Agita tidak setuju. Padahal, kedekatan Ayu dan Agita tidak diketahui. Bahkan keduanya tidak terlihat dekat saat tidak berbicara. Di depan, Ayu dan Agita tampak seperti orang asing yang belum pernah bertemu. Tapi siapa sangka kedua wanita itu bahkan sudah bekerja sama sejak pertama kali bertemu? Ini bermula saat Ayu tiba di kantor Pandawa Group di Surabaya. Saat itu, dua wanita di kamar mandi tampak bersama di cermin. Ayu buka suaranya duluan, dia bilang dia benci Callista karena berusaha cari perhatian. Sepertinya Agita akan membela Callista, namun ternyata Agita melakukan hal yang sebaliknya. Dia juga tidak menyukai Callista, yang menurutnya terlalu mencolok dan berpura-pura mencuri perhatian. Karena cemburu dan benci pada Callista, Agita menumpahkan minuman ke pakaian Callista di hari promosi. Sejak saat itu, Agita dan Ayu bekerja sama. Ayu mengatakan dia membutuhkan Agita untuk menyingkirkan Callista, dan tentu saja Agita dengan senang hati membantu Ayu, terutama setelah dia ditawari pekerjaan dan posisi tetap di markas Rasendriya Corporation. "Sudah kubilang, masukkan racun yang cukup ke dalam makanan! Bukan pada apa yang benar-benar menonjol!” kata Ayu dengan tatapan kesal. Agita juga menggigit bibirnya sambil memeras otak dan memikirkan apa yang harus dilakukan. "Jangan sampai ada yang tahu kamu menaruh racun di sana. Kalau satu orang tahu, cerita kita tamat!” kata Ayu kepada Agita. Seolah tidak menyadarinya, Mahesa telah mendengarkan percakapan Ayu dan Agita sejak kedua wanita itu bertemu. Karena Callista dibawa ke rumah sakit oleh adiknya, Mahesa langsung menimbulkan kecurigaan semua orang, termasuk Agita. Karena gerakannya yang mencurigakan, Mahesa memutuskan untuk mengikuti Agita, yang sebelumnya menggunakan kepura-puraan untuk pergi ke kamar mandi. Meski semua orang tampak khawatir dengan kondisi Callista, Agita justru mengasingkan diri dan Ayu menghilang begitu saja. Untuk membuat Mahesa semakin yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Dan benar saja, kecurigaannya terbukti. Pria itu langsung merekam seluruh percakapan antara Ayu dan Agita. Dengarkan setiap kata yang diucapkan kedua wanita itu. "Kamu sangat pintar. Sejak awal saya tidak suka Suster Wira mempekerjakan Anda sebagai sekretaris pribadinya. Kamu i***t dengan pengalaman kerja dan kecerdasan, kamu tidak lebih dari pengemis jalanan," kata Mahesa. bergumam dan akhirnya keluar. Lokasi tangga darurat, memegang tangannya. * * * * * rumah sakit PMI Jakarta, ibu kota Indonesia Callista tampak terus berkedip sambil menatap kilatan cahaya yang langsung muncul di pupil matanya. Perlahan suara orang-orang di sekitarnya bisa terdengar. Suasana menjadi tenang. "Kalista?" disebut suara nyanyian terkenal. Suara yang sudah lama ia rindukan dan benci. "Kalista?" panggilan balik suara. "Kalista?" Panggil Mahavira. Akhirnya, Callista sadar kembali. Tim perawat dan dokter langsung bergegas ke Callista yang sudah tidak sadarkan diri selama 3 jam. "Nona Callista, bisakah Anda mendengar suara saya?" tanya dokter. Callista mengangguk lemah. “Syukurlah Bu Callista sudah bangun. Apakah Anda ingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum dia pingsan?” Tanya dokter lagi. Callista mengangguk lagi. Dokter itu langsung tersenyum dan menatap Mahawira. “Alhamdulillah Pak Callista cepat sampai Bu Callista. Jika terlambat, kemungkinan racun sudah menyebar ke seluruh tubuh dan masuk ke aliran darah," kata dokter Mahawira itu. “Apakah dokter harus merawat Callista? Bagaimana dengan pengobatan dan obat-obatannya?” tanya Mahawira tampak prihatin. "Mungkin kita bisa tinggal sampai besok, ya. Kita perlu melakukan sedikit pengujian untuk memastikan racun benar-benar hilang dari tubuhnya," jawab dokter. Mahawira terdengar lega, yah pasnya. "Apa perlu saya bantu untuk pemesanan kamar, Pak? Kebetulan kamar di kelas 3 ada yang kosong," sahut sang perawat. "Kamar VIP saja, ada?" pinta Mahawira. Mata sang perawat. Padahal Callista hanya akan diminta tinggal paling lama 1 malam, tapi Mahawira justru meminta kamar VIP. "Ada, Pak. Nanti biar saya siapkan ranjangnya lebih dulu," balas perawat itu. "Kalau begitu kami permisi. Jika ada apa apa, bisa memanggil saya atau perawat lain," ujar dokter itu kemudian pergi dari hadapan Mahawira bersama sang perawat. Mahawira membocorkan wajah pucat Callista. Wanita itu tampak menoleh ke arah Mahawira dna membocorkan Mahawira untuk sewaktu-waktu. "Kenapa?" Tanya Mahawira. "Rumah," jawab Callista. "Rumah? Oh tunggu sebentar." Mahawira langsung berdiri dan membuka sebotol air mineral, kemudian memasukan sedotan dan diarahkan kepada Callista. Dengan cekatan pria itu langsung memberikan minum pada Callista yang tampak kehausan. Beberapa waktu lalu, Mahawira tampak panik dengan Callista yang tak sadarkan diri dalam dekapannya. Ruangan ICU pun heboh karena kedatangan pasia yang keracunan dan bahkan sampai tak sadarkan diri. Callista langsung dibawa ke jalur darurat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Seluruh tim perawat melakukan yang terbaik. Dokter pun akhirnya menyedot habis makanan yang dicerna oleh Callista di dalam lambungnya. Untung saja Mahawira bisa dengan cepat tiba di rumah sakit. Jika tidak, mungkin Callista tak akan pernah membuka matanya lagi. "om?" panggil salah seorang anak kecil yang sontak saja membuat Mahawira menoleh ke arah sumber suara. Mata Mahawira langsung memotret saat menemukan Grayson yang berada di sana entah sejak kapan. Dylan, Ajeng, Anggara, Mahesa dan Agita juga turut datang ke sana. "Grayson, kesini sayang," pinta Callista dan Grayson yang semula berdiri di sampling Mahawira langsung berlari ke arah Callista dan memeluknya. "Bunda tidak apa apa?" Tanya Greyson. stop Mahawira pun menyadari sesuatu, ia telah menemukan hal yang selama ini menjadi tanda tanya besar baginya. Grayson adalah anak dari Callista, mantan istrinya sendiri. melihat Callista yang sudah tersenyum karena kehadiran Grayson, Mahawira pun langsung berdiri dan pamit pergi. "Kalau begitu, saya pamit pergi karena saya masih ada urusan lain. Untuk kamar biar saya yang menanggung biayanya, saya izin," ujar Mahawira kemudian hendak pergi. Tiba-tiba saja Grayson berlari ke arahnya dan memegang tangannya, "Terima kasih membantu Bunda dan membawa Bundaku kemari," ujar Grayson. Hati Mahawira merasa hancur dan merasa bahagia di saat bersamaan. Bagaimana bisa, anak yang pernah berusaha ia buang dan pernah tak ia akui sebagai anak, kini berdiri di sampingnya dan memegang kendali. Bahkan tak hanya itu saja, semua orang yang pernah melihat dirinya dengan Grayson akan setuju jika kedua orang itu memiliki wajah yang mirip. "Sama sama," jawab Mahawira kemudian melepaskan tangan Grayson dan meninggalkan area ICU. Di dalam ponsel, Mahawira hanya terdiam. Diam membocorkan objek yang ada tersedia. Perasaannya terus berseteru. "Yadi.., anak itu benar-benar anak Callista?" Tanya Mahawira. "Anak Eric? Atau anakku?" gumam Mahawira lagi sambil membayangkannya. Pria itu pun kembali menyadari jika Mahesa ini tidak yakin jika Callista selingkuh dengannya dan selalu bersikukuh jika anak yang dilahirkan Callista mirip dengannya. "Callista tak pernah selingkuh.. ya?" gumamnya lagi sekaligus bertanya pada dirinya sendiri. dosa langsung tanggung jawab Mahawira. Tanpa sadar, air mata bahkan sampai mengalir karena perasaan itu. Dengan cepat pria itu menyeka air mata yang mengalir di pipinya kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya dan menelepon dengan nama gilang di dalam ponselnya. Mahawira langsung menonton dengan orang yang selama ini memberikan foto terkait perselingkuhan Callista kepadanya. Dan bisa dibilang sebagai alasan perceraian Mahawira dan juga Callista selama ini. "Halo, Gilang. Kapan Anda ada waktu? Bisa kita bertemu sebentar dan minum kopi santai bersama?" Tanya Mahawira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN