Mall Besar Indonesia
Jakarta, ibu kota Indonesia
Setelah banyak persiapan yang panjang, waktu yang melelahkan, kerja sama yang tidak pernah berakhir, dan diskusi yang hampir setiap hari.
Akhirnya produk yang diluncurkan oleh fashion group 2 yang dipimpin oleh Callista berhasil diluncurkan. Setelah sebelumnya membahas sub-merek yang cocok, mereka akhirnya menggunakan nama R sebagai merek dagang.
Dante sebagai brand ambassador juga terlihat senang mempromosikan produk limited edition di akun media sosialnya, sehingga terjadi peningkatan penjualan produk tersebut secara mengejutkan.
Karena banyaknya permintaan pembelian offline dengan imbalan bisa berfoto bersama Dante, Callista dan timnya akhirnya memutuskan untuk mengadakan acara fan sign singkat di Grand Mall Of Indonesia.
Bahkan, ketika Callista datang ke Jakarta sebagai alasan untuk memperkenalkan Mahawira kepada wanita tersebut, Mahawira tidak terlalu memikirkan kesuksesan produk ini.
Tapi mode untuk perasaan pribadi benar-benar membawa serta hal-hal tak ternilai lainnya. Dia memiliki peningkatan penjualan yang bahkan melebihi ekspektasi sebelumnya. Bahkan Mahawira mengakui kecerdasan Callista tidak pernah berkurang sejak pertama kali.
"Sepertinya dia masih Callista yang kukenal," gumam Mahawira sambil menatap Callista yang tampak sibuk menata produk timnya di meja jelang acara fansign Dante, dan produk R untuk melamar.
Ayu yang duduk di sebelahnya malah menoleh karena mendengar suara Mahawira dengan jelas di telinganya. Wanita itu segera meminum air mineralnya dan mengosongkannya.
Mata Mahawira tak lepas dari Callista. Dengan tangan bersilang di depan d**a, Mahawira Callista dengan setia memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Sebenarnya Mahawira tidak sering datang ke acara promosi produk sebesar itu. Sebagai CEO, dia belum pernah menghadiri acara seperti itu.
Biasanya hanya pemeriksaan sample produk dan setelah Mahawira setuju, Mahawira menyerahkan sisanya kepada Ayu. Tak pelak, Ayu sangat sibuk karena Mahawira terlalu cuek dengan pekerjaannya.
Mahawira langsung teringat kejadian 9 tahun lalu saat baru saja bertemu Callista di kampus di jantung kota Depok.
Saat itu, Mahawira baru berusia 26 tahun sedangkan Callista berusia 24 tahun. Dengan selisih 2 tahun, Mahawira sangat tertarik dengan citra Callista yang cantik, polos dan juga sangat pintar.
Di sisi lain, Callista berhasil memikat Mahawira yang dingin dengan pesonanya. Hingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih dan menikah 2 tahun kemudian.
"Tuan?"
"Pak Mahawira," teriak Ayu, orang yang duduk di sebelahnya terus berteriak karena Mahawira tanpa sadar tenggelam dalam nostalgianya sendiri.
Mahawira berbalik dan mengedipkan matanya berulang kali.
"Ya ada apa?" tanya Mahavira.
“Pertunjukannya akan dimulai, mal sudah buka. Apa kau ingin kembali ke kantor?” tanya Ayu.
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Mahawira balik.
Ayu segera membuka tablet di tangannya dan membuka jadwal harian Mahawira.
Ayu berkata, “Kamu tidak ada janji hari ini. Tapi kemarin Pak Bara minta datang ke kantor karena mau bicara bisnis Singapura," kata Ayu.
"SMS saja Papa kalau aku pulang malam ini," kata Mahawira, lalu menoleh ke Callista yang tampak sibuk menyapa para tamu satu per satu.
Tanpa disadari, semua kursi dipadati oleh para penggemar Dante yang mengantri untuk melihat Dante. Produk R yang terjual habis karena antusias dari seluruh penggemar Dante.
Ajeng akhirnya tampil sebagai pembawa acara peluncuran produk massal tersebut dan menyambut seluruh pelanggan dan penggemar yang hadir.
"Oke, kurasa kalian berdua juga tidak sabar untuk bertemu Dante?" Kalau begitu aku akan segera meneleponnya. Dante!” Panggil Ajeng.
Terdengar suara gemuruh. Bahkan sampai orang biasa harus pergi ke toko untuk mencari sumber kebisingan.
Imej tampan dan karismatik Dante langsung naik ke panggung dan menambah kehebohan. Semua mata tertuju padanya, termasuk Callista.
"Apakah dia benar-benar cukup baik untuk melihatnya dengan penuh nafsu seperti singa?" gumam Mahawira tanpa sadar.
"Benar?" Agita, mendengarnya, tiba-tiba berbalik.
Merasakan bisikannya terdengar, Mahawira menoleh, "Oh tidak. Saya hanya bergumam karena saya melihat para wanita terlihat sangat bersemangat melihat kedatangan Dante."
“Saya sendiri, yang sudah menikah, sangat menyukai Dante, Pak. Selain tampan, Dante juga sangat ramah,” jawab Agita.
"Oh sama?" Jawab Mahawira sambil menatap senyum Dante mpeng. Dylan dan Anggara pun langsung masuk ke atas panggung dan membawakan nasi kuning yang sudah dibentuk kerucut untuk dipotong.
"Kepada Pak Mahawira saya persilakan untuk naik ke atas panggung untuk nasi kuning secara simbolis demi pertunjukan," pinta Ajeng.
Mahawira pun langsung berdiri dari posisi duduknya dan membetulkan kancing jas yang ia kenakan. Kakinya melangkah ke atas panggung dan sontak mencuri perhatian banyak orang.
"Bagaimana bisa seorang CEO tampak tampan dan muda seperti itu?" bisik salah seorang penggemar Dante yang terdengar ke telinga Mahawira dan membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tahu aku tampan," ujar Mahawira dalam hati.
Mahawira pun mulai dari ujung paling atas dan memberikannya kepada Dante secara simbolis. Setelahnya semua orang bertepuk tangan.
"Berhubung saya tidak akan ada disini karena Bu Callista, mungkin sebaiknya suapan pertama yang saya berikan kepada Bu Callista. Apa boleh?" Tanya Dante.
"Boleh!" pekik seluruh orang secara bersamaan.
"Bu Callista. Boleh dong naik ke atas panggung," pinta Ajeng.
Callista yang semula berdiri di ujung langsung berlarian kecil ke arah panggung. Semua orang langsung terpana dengan kecantikan Callista.
"Nah, perkenalkan. Beliau ini Bu Callista. Orang yang berhasil membuat saya menyukai penjualan hanya dalam 1 kali percobaan. Kalian juga setuju jika produk bagus?" tanya dante sembari memperkenalkan callista.
"Seti!"
Ajeng pun memberikan microphone pada Callista agar wanita itu bisa dengan bebas berbicara kepada para tamu yang hadir.
"Wah saya tidak menyangka jika antusiasme nya sampai sebagus ini. Terima kasih membeli produk kami semoga kami bisa mengembangkan lebih baik lagi," ujar Callista.
Semua orang pun bertepuk tangan termasuk Callista.
"Kalau begitu silakan hadap sini, Bu. Biar saya suapi," pinta Dante.
Callista menoleh ke arah Dante dan dengan lembut Dante menyuapkan Callista di hadapan banyak orang.
Suara iri pun terdengar jelas, membuat Dante dan Callista langsung tertawa.
Setelah menyuapi Callista, Dante langsung meletakkan piring yang ia pegangi sedari tadi dan memberikan tepukan tangan diikuti dengan penggemarnya yang lain.
Di saat kebahagiaan itu muncul, tiba-tiba saja Callista merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya. Mahawira yang berdiri di sampling Callista langsung mendekat.
"Ada apa?" bisik Mahawira.
Callista kepalanya tanpa menjawab.
Dan tiba tiba saja..
Bruk!
Tubuh Callista langsung ambruk di atas panggung membuat semua orang panik. Sontak saja Mahawira langsung menopang tubuh Callista dan berusaha menyadarkan wanita itu.
Dylan yang sedari tadi berdiri dengan tenang di belakang panggung bahkan sampai naik. Begitu juga dengan Mahesa yang berlarian ke arah panggung.
"Callista! Callista!" panggil Mahawira dan berusaha menyadarkan wanita itu.
Wajah Callista pun perlahan berubah. Bibirnya menjadi keunguan dan membuat Mahawira semakin panik.
"Itu racun! Makanan ini diracuni!" pekik Mahesa sambil menunjuk ke arah nasi tumpeng.
"Apa?!" pekik Dylan kemudian mulai mengambil nasi kuning dan mencium aromanya.
Aroma yang seharusnya tampak menggiurkan justru tampak di hidung Dylan.
Tanpa menunggu aba aba, Mahawira pun langsung memotret tubuh Callista, membuat semua orang langsung terdiam melihat aksi heroik pria itu.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit, kalian melanjutkan acaranya. Dan buang nasi kuning itu serta cari tahu siapa yang membuat," titah Mahawira kepada Ajeng.
Ajeng pun hanya menganggukan kepalanya dan membocorkan Callista yang tak sadarkan diri dalam dekapan Mahawira.
Mahawira langsung membawa Callista meninggalkan panggung dan pergi ke rumah sakit. Sedangkan Ajeng dan yang lainnya terpaksa harus melanjutkan acara meski mereka juga sama khawatirnya dengan keadaan Callista.