Kara yang melirik Aline sebentar dan tersenyum kecil yang melihat Aline bersemu merah. Kara pikir Aline mengagumi parasnya, padahal ia belum mandi dan bajunya masih basah bekas air cipratan Aline. Aline didudukan Kara dibagian belakang mobil, menutup pintu mobil dan memutar menuju kursi supir. Kara sudah menyiapkan makanan untuk Aline dia bawa dalam satu kotak bekal, dan baju untuk Aline. Dan mereka siap berangkat ke pantai.
“Kara, aku cantik nggak?” Aline bertanya pada Kara
“Udah ganti baju dulu, handuknya taruh aja disamping”
“Awas kamu liat kebelakang, jangan ngintip”
“Gak bakal” Kara hanya menjawab Aline cuek dan singkat ia ingin segera membawanya ke pantai dan berangkat ke kantornya, ia sudah mendapat ide untuk ceritanya kali ini. Aline memperhatikan sekelilingnya, bangunan yang tinggi, jalanan yang penuh dengan kendaraan, dan beberapa orang berseragam memasuki gedung. Mereka terdiam, berbeda dengan Kara yang menyukai suasana hening, Aline sangat menyukai keramaian. Baginya ia merasa tidak sendiri dalam keramaian, merasa perutnya lapar ia membuka kotak bekal buatan Kara. Aline makan menikmati bekal tersebut sambil tersenyum sendiri, mengagumi Kara yang tampan, tinggi, tegap memiliki alis yang tebal serta lesung pipi yang membuat Kara sangat manis, ia sangat menyukai sifat Kara yang mandiri dan perhatian padanya.
“Kara, aku cantik nggak?” Aline bertanya lagi pada Kara
“Ya”
Mendengar jawaban Kara yang cuek dan dingin dari tadi Aline terdiam, entah mengapa bisa suasana hati Kara berubah, padahal tadi ia melihat Kara yang ramah padanya. Aline hanya terdiam sepanjang perjalanan, takut bila Kara marah padanya. Pertemuan mereka begitu singkat, Kara menggendong Aline menuju pantai, banyak pasang mata yang melihat mereka, beberapa mengambil foto secara diam-diam, namun buru-buru Kara membawa Aline ke pinggir pantai sisi barat yang sepi tidak ada orang disana. Ia menuju tengah pantai dan melepas gendongannya, namun Aline menarik Kara membuat Kara ikut masuk kedalam air, Kara sangat geram dengan Aline yang suka tiba-tiba menariknya. Ia marah, membuka mulut ingin memarahi Aline namun Aline tersenyum dan memeluk Kara, mengucapkan terimakasih pada Kara atas kebaikannya.
“Kara, terimakasih sudah mengembalikanku” Ia menggunakan sihirnya untuk membuat bola kaca kristal salju, didalam bola itu terdapat koi berkepala berbentuk hati, mirip seperti wujudnya saat menjadi koi, dan memeberikannya pada Kara. Kara hanya mengangguk dan melepas pelukan Aline, menerima pemberian Aline, belum sampai Aline hilang dari pandangannya ia berdiri kembali menuju mobilnya lagi.
Aline terus berenang menuju dasar laut, hingga menemukan perbatasan dan masuk kedalamnya, bertemu dengan kedua orang tuanya dan kakaknya. Mereka saling melepas rindu, Aline menceritakan semua yang terjadi padanya selama ini, orang tuanya yang terus mencari Aline namun tak kunjung menemukannya, kini kakaknya Alza sudah tumbuh tampan, besar gagah tegap dan sangat digandrungi para duyung wanita. Namun Aline tak ingin hidup lama disini, ia menceritakan tentang Kara, laki-laki yang ia cintai di daratan, ibunya memberikan Mondmarmelade untuk Aline, Mondmarmelade adalah coklat yang dicampur dengan sihir duyung dan kekuatan sinar bulan. Mondmarmelade yang dibuat oleh tangan duyung, dapat mendeteksi cintanya pada manusia, jika dimakan rasanya asam, cintanya akan bertepuk sebelah tangan, bila rasanya manis maka cintanya akan berbalas kelak. Orang tuanya tidak mempersulit Aline untuk berubah menjadi manusia, karena Aline mengatakan merasakan manis saat memakan Monmarmelade itu, kakak dan orang tuanya menyetujui Aline untuk menjadi manusia seutuhnya. Alza tak mau adiknya Aline sendirian di darata, ia memutuskan untuk menjadi manusia juga seperti Aline. Sudah 1 tahun Aline di lautan duyung, ia sudah merindukan Kara, Aline berpamitan untuk ke daratan kepada orang tuanya, ibunya memberikan liontin mutiara dan gelang untuk mereka berdua. Aline dan Alza melepas sihir mereka dan berubah menjadi manusia seutuhnya,
Sampai di daratan, sirip mereka menghilang perlahan dan mereka memiliki kaki seutuhnya seperti manusia, Aline berlarian sekitar pantai kegirangan memiliki kaki yang bisa berlari kemana saja yang ia mau, berbeda dengan Alza, ia sulit menyesuaikan menggunakan kakinya, dan ia beberapa kali terjatuh. Setelah menyesuaikan diri menggunakan kaki, mereka menuju rumah Kara. Kara terkejut, Aline dan Alza yang kini ada di hadapannya, Aline lamgsung memeluk erat Kara, menumpahkan segala kerinduannya pada Kara. Kara memberikan mereka tempat tinggal, tak mungkin jika Aline dan ALza tinggal bersamanya, dan ia mengurus segala urusan mereka, Aline dan Alza bekerja pada cafe baru yang dimiliki Kara sebagai chef. Kara begitu perhatian dan sangat peduli pada Aline, dengan sabar ia mengajari segala hal tentang memasak dan cara mengelola cafenya. Aline seperti tangan kanan bagi Kara, sudah hampir 2 tahun mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain. Kara dan Aline saling mengisi dan melengkapi ketika mereka bersama. Mereka seperti perangko dan surat, dimana ada Kara, disitulah ada Aline.
Hari ini, 1 Juli ulang tahun Kara, Aline membelikannya cake ulang tahun rasa coklat kesukaan Kara. Hari ini juga Aline ingin menyatakan perasaannya pada Kara didepan keluarga dan kakaknya. Ia memasuki toko Boundary Cake dan membeli kue coklat besar bertuliskan “Happy Birthday Kara” dengan lilin angka 25, yang menandakan umur Kara 25 tahun. Aline memegang erat kue itu, takut apabila terjatuh, ia menunggu bis untuk pulang, sengaja ia tak mengabari Kara ia dimana, ia mengendap-endap memasuki rumah dan suasana masih sepi, orang tua Kara belum pulang, adiknya juga masih kuliah. Aline naik keatas menuju kamar Kara, ia tersenyum melihat pintu kamar Kara, disini 3 tahun lalu ia menjadi koi lalu menjadi duyung, dirumah ini penuh kenangannya dengan Kara, dan rumah inilah menjadi tempat bahagia Aline. Aline membuka pintu kamar perlahan dan terkejut melihat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Kara memeluk seorang wanita teman sekantornya, Ia menjatukan kue dan menitikkan air mata, 3 tahun bersama Kara, bukan berarti apa-apa bagi Kara. Benar apa kata hatinya, Kara tak mencintainya bahkan kini Aline melihat Kara tengah bersimpuh didepan wanita itu memberikan cincin yang kemarin ia beli dengan Aline.
Ia telah berbohong pada orang tuanya mengatakan Mondmarmelade yang ia makan rasanya manis, namun yang sebenarnya ia merasakan asam, ia pikir ia bisa berjuang untuk mendapatkan hati Kara, dan kebaikan Kara selama ini membuatnya beranggapan Kara juga mencintainya, tapi Aline salah menerka, bahkan Kara pintar menyembunyikan siapa yang ia cintai. Ia tak menyesal menjadi manusia untuk Kara, namun satu hal yang pasti cintanya tak akan berbalas, karena Mondmarmelade tak akan pernah salah.