Bab 8

1012 Kata
Kara keluar dari kamarnya lalu turun melihat Karen yang sedang bingung mengatasi akuarium yang bocor, perlahan airnya mulai akan habis, Kara melihat adiknya yang panik kembali lari ke kamar mengambil akuarium milikknya yang terisi gabus bulat kecil-kecil, dengan beberapa gulungan kertas didalamnya, akuarium kecil itu biasanya menjadi tempat beberapa gulungan kertas yang berisi genre cerita, fantasy, romance, horor, dan masih banyak lagi. Terkadang jika Kara bingung harus menulis apa, ia mengambil satu gulungan kertas itu untuk menentukan genre apa yang akan dia tulis. Kara menumpahkan seluruh isi akuarium ke lantai kamarnya dan turun kebawah, kali ini ia tak menggunakan anak tangga, ia langsung melompat dari atas melalui celah tangga, seperti superhero yang seketika datang melompat turun menyelamatkan ikan yang sulit bernafas, ia menggenggam koi dalam akuarium besar tersebut dan memindahkan kedalam akuariumnya lalu ia isi dengan air dari wastafel. Adiknya Karen yang melihat hal itu terkejut, Kara yang tiba-tiba melompat dari atas, bagaimana bisa kakaknya melompat tanpa cidera, mungkin karena panik segala hal jadi memungkinkan bagi Kara, pikir Karen. Ikan Koi itu kini selamat, mereka berdua tersenyum lega, ikan itu sangat berarti bagi mereka, peninggalan dari nenek. Koi itu sekarang sudah bisa bernafas dan bergerak bebas kesana kemari dalam akuarium, coraknya yang putih merah, dan memiliki tanda hati tepat dikepala membuat ikan itu menjadi terlihat unik dan menggemaskan. Kara dan Karen segera membersihkan lantai diam-diam, tak mau orang tua mereka terbangun dan kembali ke kamar masing-masing. Saat Kara menaiki anak tangga yang ketiga, ia menoleh kebelakang, dilihatnya ikan itu, seolah tatapan mereka bertemu, ikan itu terdiam dan melihat Kara, Kara hanya tersenyum melihat ikan itu, ia sangat lega ikan kesayangannya masih hidup ia kembali mendekati akuarium itu dan mengambilnya, dibawanya ke kamar, barangkali ikan itu bisa memberikan inspirasi bagi Kara untuk menulis cerpen kali ini. Akuarium itu ia letakkan disamping laptobnya yang masih menyala, ia masih menatap koi itu yang bergerak kesana kemari, namun lama – kelamaan ia melihat ikan itu seperti gelisah ke kanan kiri, mengitari akuarium, Kara berpikir ikan itu kurang oksigen, ia segera kekamar mandi mengisi bathub kamar mandinya dan memindahkan koi tersebut kedalam bathub kamar mandinya. Ia tidak tega jika Koi itu merasa semoit dalam akuarium kecil itu, rencananya ia akan membelikan akuarium baru untuk Koi itu. Koi itu kini lebih bebas kesana kemari, Kara mengamati tanda hati dikepala koi itu, ia ingat sekali pesan neneknya saat memberikan koi itu untuknya. Tanda hati dikepala koi itu adalah wujud cinta nenek pada cucunya, Kara dan Karen. Sudah semakin larut malam, ia kembali ke kamar dan merebahkan dirinya diatas kasur lalu memeluk erat gulingnya, tubuhnya meringkuk mengingat kembali kenangan dengan neneknya, sejak kecil oma selalu memanjakannya dan mjatuh dari sepeda saat masih 5 tahun, neneknya terlihat panik dan menggendongnya, saat itu kakinenyanyanginya mendidiknya untuk menjadi lelaki yang tangguh, ia teringat saat ia ya berdarah namun dengan sabar neneknya mengobatinya dan menghiburnya agar tidak menangis lagi. Mengingat omanya Kara jadi rindu, sambil memejamkan mata ia mengingat lagi kenangan lain bersama omanya, perlahan ingatan itu membawanya tertidur pulas dan menariknya ke alam mimpi. Kara terbangun mendengar panggilan di handphonenya ia cepat angkat dan menerima panggilan itu, lalu segera mengambil sepasang pakaian dan handuk dari lemarinya lalu dia segera mandi. Namun ia menghentikan aktivitasnya mendengar suara perempuan mendengungkan nada, ia kira Karen mandi dikamarnya, ia menutup pintu kamar mandi lagi lalu turun namun ia terkejut saat melihat Karen yang sedang menaiki motor bersiap untuk berangkat kuliah,lalu kembali lagi keatas sambil membuka pintu kamar mandinya lagi, kali ini ia membuka dengan suara kencang, tak lagi mendengar suara perempuan itu, ia masih menebak nebak suara siapa yang ia dengar, lalu ia masuk membuka perlahan selambu bathub dan mendapati seorang perempuan berkaki sirip menghadap ke tembok, Kara terkejut dengan apa yang dilihatnya, ia menutup selambunya, lalu membuka lagi dan ternyata perempuan itu masih ada. Ia ragu dengan apa yang dilihatnya, tak berani mendekati perempuan itu, perempuan itu juga masih berdiam juga takut dengan Kara. Ia menerka bagaimana bisa ada putri duyung disini, lagipula itu kan hanya mitos, tak mungkin ada putri duyung, ia berpikir mungkin saja ada fans yang mengagumi beberapa tulisannya di majalah, lalu nekat masuk kamarnya dan menggunakan busana putri duyung. Lalu dibalik selambu Kara mencoba untuk berbicara dengan perempuan itu “Siapa kamu?” Namun perempuan itu tak membalas pertanyaan Kara, ia sibuk menutupi dirinya dengan rambutnya yang panjangnya sepinganggnya. Kara menunggu jawaban perempuan itu, namun tak kunjung mendapat jawaban, Kara kembali membuka selambu dan duduk dipinggiran bathub memberanikan diri, ia mengamati perempuan itu sambil tangannya mengepal didepan d**a, takut jika perempuan itu tiba-tiba menyerangnya, namun perempuan itu kini mencoba menghadapkan wajahnya pada Kara, ia mendongak dan menatap Kara yang juga menatapnya, tangannya menyilang didada menutup sebagian tubuhnya yang terbuka. Kara yang menyadari perempuan itu tak berbusana cepat-cepat memalingkan wajahnya dan memberikan handuknya, perempuan itu mengerti maksud Kara, ia melilitkan handuk membungkus tubuhnya. Kara mulai membuka suara memecah keheningan diantara mereka berdua. “Jadi kamu siapa? Kenapa diam saja?” “A.. aku.. Aline” “Kamu siapa? Kenapa kamu bisa nekat disini ?” “Aku putri duyung, aku disini dari tadi malam” Jawaban Aline yang membuat Kara tertawa lalu kembali menatap Aline tak percaya. Melihat Kara yang tertawa tak percaya padanya ia cemberut menangkup air di tangannya lalu melemparkan air itu kepada Kara. Kara terdiam melihat Aline yang wajahnya merah cemberut, matanya mulai berair, sebelum Aline menangis Kara mengajaknya bicara lagi. “Maaf, jangan marah, aku kira kamu fans ku yang suka dengan tulisanku. Kamu benar putri duyung? Coba buktikan padaku, berikan aku uang 1 Juta sekarang!” “Kamu kira aku jin apa?? Aku ini putri duyung!” Aline semakin marah pada Kara dia mengambil air lebih banyak dan menyiramkannya pada Kara. Ia gemas bagaimana bisa Kara tak mengenalnya, padahal selama ini Kara dan Karen lah yang merawatnya, memberi makan dan menyelamatkannya kemarin. Kini Kara sudah basah kuyup, ia memengang tangan Aline menghentikan Aline yang menyiramnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada Aline yang sedari tadi masih terlihat marah. Kali ini Kara ingin balas dendam, satu tangannya memegang kedua tangan Aline dan satu lagi tangannya mencipratkan air pada wajah Aline.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN