Sejak kemarin Aron merasakan sesuatu yang berbeda, kebebasan. Dia kini menggunakan baju kaus hitam polos dan skinny jeans membuat otot bisepnya tercetak jelas dan para kaum hawa menatapnya menggoda iman mereka. Meski tak lupa kacamata baca betengger di wajahnya, Aron semakin terlihat sebagai lelaki berkelas. Tubuhnya semakin tegap dan tinggi badanya bertambah. Perubahan hormon karena Vampir telah membuat kulitnya semakin putih pucat, malah terlihat lebih mengagumkan daripada sebelumnya. Aron berjalan melewati kerumunan para mahasiswa jurusan Akuntansi. Matanya menatap lurus dan pandangannya jatuh kepada seorang wanita yang sejak dulu ia cintai. Namun hingga kini status mereka masih bersahabat, tidak lebih
“Hai!” Sapa Aron ramah, dia mencoba memberanikan diri menyapa perempuan itu. Cantik, tinggi dan manis. Satu-satunya yang mampu mengubah dirinya yang redup kembali bersinar
“Coba tebak, kenapa hari ini aku bahagia?” tanya Helena, perempuan yang disukai Aron
“Kenapa?” tanya Aron menyergitkan dahinya tak mengerti
“Aku baru saja menerima cintanya Alex!” serunya yang sukses membuat Aron membelalakkan matanya tak percaya ucapan Helena.
“Alex? Alex Deroine?” tanya Aron terkejut, ada rasa kecewa, cemburu dan tentunya hati yang patah menyerang dirinya.
“Ya! Alex Deroine! Kakak tingkat kita Aron!” ucap Helena bersemangat.
Aron hanya tersenyum kecut, berusaha menyimpan berbagai rasa laranya. Barangkali Helena hanya bercanda, semua itu adalah ketidak mungkinan. Terpancar jelas wajah Helena yang sangar berseri, ada yang berbeda darinya, senyum Helena karena jatuh cinta.
“Oh, iya aku mengenalnya, Kalau begitu aku ke kelas dulu ya,” ucap Aron bangkit dari duduknya. Namun tangan Helena mencegahnya agar tetap duduk di sampingnya.
“Tunggu, kelas hari ini sedang libur, apa kau tak membaca pesan di grup?”
“Benarkah?” Aron membuka pesan, sebenarnya dia agak kesulitan membaca pesan di layar handponenya karena pecah bekas dia kecelakaan.
“Layar handponemu? Apa yang terjadi?” tanya Helena bingung melihat layar handphone Aron yang hancur, dia tau pasti Aron malas membuka pesan karena layarnya retak parah.
“Jatuh,” ucap Aron singkat. Entah kenapa melihat Helena yang perhatian kepadanya membuat hatinya semakin sakit, hubungan mereka hanya sebatas sahabat, tapi Helena sama sekali tidak menceritakan tentang seseorang yang ia sukai, menutup rapat rahasianya. Dulu Aron sering mengira jika Helena juga menyukainya karena Helena sangat baik dan perhatian kepadanya. Tapi sayangnya perhatian itu hanyalah kebaikan sebagai sahabat. Kebaikan itu memang sudah sifat yang mengental pada diri Helena, baik dan ramah.
“Kalau gitu mau aku temani untuk memperbaikinya atau kau mau yang baru?” tanya Helena
“Mungkin yang baru,” ucap Aron. Dia mengingat seluruh tabungan ayah tirinya yang sudah ia keruk habis. Mungkin ini saatnya menggunakannya sebagian untuk membeli handphone baru. Harga handphone yang hanya tiga juta tidak ada bandingannya dengan ratusan juta tabungan milik ayah tirinya kan? Aron sebenarnya tahu, ayahnya selalu membohongi ibunya jika tidak memiliki uang. Tapi ibunya selalu tidak percaya akan ucapan Aron.
“Boleh, kita pergi sekarang? Tapi? Apa pacarmu tidak akan marah kepadku?” tanya Aron
“Tidak, kita ini kan bulan dan bintang yang selalu bersama-sama, tentu saja Alex pasti mengizinkan,” ucap Helena.
Aron mengangguk lalu meraih tangan Helena, menggiringnya menuju parkiran mobil.
“Tumben, ini mobil papamu kan?” tanya Helena
“Ya, dia sedang keluar kota sekarang, daripada mobilnya tidak digunakan, aku bawa saja ke kampus,” ucap Aron berbohong. Dia memang tidak pernah menggunakan mobil, bahkan dia benci mengendarai mobil karena kota ini panas dan macet.
Aron sesekali menoleh kesamping, wajahnya menatap Helena yang sedang tertidur pulas. Tanpa ia sadari mobilnya telah salah jalur, dia menyetir ke arah berlawanan dan sebuah truk besar dengan kecepatan tinggi.
“Remnya! Remnya! Remnya BLONG!” teriak supir truk itu dan dia belum sempat membanting stir, menabrak dengan hantaman kuat ke arah mobil Aron.
Aron tidak mengalami luka apapun, kakinya hanya tercepit dibagian bawah mobil yang bengkok, sedangkan Helena telah banyak mengeluarkan darah, nafasnya pun memendek, ajal sudah dekat menghampirinya.
“HELENA! HELENA!” teriak Aron dan mengguncang tubuh Helena
Darah yang mengucur dari pelipis Helena membuat taring Aron keluar dan rasanya ia ingin meminum darah itu, dia tak kuasa menahan hasratnya, dia malah menghisap darah Helena sampai habis. Setelah puas Aron melepaskan Helena. Dia kembali sadar apa yang dia lakukan, membunuh orang yang dia cintai sendiri. Aron bergetar hebat dan tangannya sangat dingin. Dia tidak bisa mengendalikan nafsunya, beberapa orang telah menghampirinya berusaha menolongnya, namun Aron mengambil Helena, keluar dari mobil lalu berlari cepat keluar dari kerumunan. Kini dia ada di tengah hutan rimbun, menangisi mayat Helena. Rasanya waktu begitu cepat, dia tidak bisa mengontrol nafsunya hingga membuat Helena mati.
AAAAARRRGGGHHHH
Aron kesal dengan dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa ia tidak mengontrol nafsunya. Dia berdiri dan memukuli semua pohon besar, semuanya runtuh, kemarahannya ia lampiaskan, rasanya ingin melukai dirinya sendiri, namun dia adalah monster, dia tidak bisa terluka sedikit pun.
“Helena.. bangunlah, aku mohon..” ucap Aron sambil terisak menangis.
Aron menunduk memeluk Helena erat dan berulang kali menyebut namanya, namun Helena sama sekali tak bergerak. Bodohnya Aron tidak membawanya kerumah sakit segera. Aron meletakkan Helena dan berniat mencari kayu untuk melubangi tanah, memakamkan Helena. Dia mencari ke hutan bagian selatan dan setelah ia menemukannya, ia kembali menuju mayat Helena. Namun dia tidak menemukannya, Helena menghilang. Aron mencari ke sekitar hutan, namun tidak menemukan Helena sama sekali, dia terduduk lemas dan bingung apa yang terjadi, siapa yang sudah mengambil mayat Helena saat ia pergi? Aron terus diselimuti rasa bersalah rasa amarah kembali menghantuinya, kelinci kecil di hadapannya menjadi korban atas amarahnya, dia menyergap kelinci itu dan memangsanya. Kelinci itu pun hanya merasa kesakitan, Aron terus menghisap darahnya hingga tak tersisa. Aron benar-benar menjadi monster sekarang. Rasanya sama seperti makan cemilan kecil saat dia sudah makan besar meminum darah Helena, anehnya dia merasa semakin kuat, bahkan kini penglihatannya menjadi lebih tajam, ia mampu melihat sesuatu dari jauh, dan dia bisa melompat cepat keatas pohon. Dirinya tidak lagi dikuasai oleh naluri manusia, hormon Vampir dalam tubuhnya telah bertumbuh kuat menjadikannya Vampir seutuhnya. Namun rasa tidak puas menghampirinya, kijang yang tengah berlari di belakangnya menjadi santapan empuk bagi Aron, dia kembali melancarkan aksinya menikmati kijang itu, menyerap habis darahnya, hingga kijang itu tak mampu lagi bersuara. Amarah dan nafsu makin bergelora membara dalam tubuh Aron, namun masih ada sedikit kesadaran dalam dirinya dia berlari cepat menuju kediaman Alvaro dan dengan kasar membanting pintu rumahnya. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk sampai kerumah Alvaro, dia bergerak sangat cepat dalam 1 KM dia bisa menempuh waktu 5 menit. Kekuatannya makin bertambah. Bahkan dia tak lagi mau menekan patung singa untuk kebawah menuju tempat kerja Alvaro. Dia hanya menghentakkan kakinya dan segera meluncur kebawah sayangnya, perbuatannya justru menghancurkan rumah Alvaro Keena