Bab 6

1109 Kata
Aron masuk perlahan kedalam rumahnya, seperti biasa dia memanjat dan masuk dari balkon kamarnya. Ayah dan ibunya rupanya sudah tertidur pulas, keadaan rumah gelap gulita. Ada rasa sesak dalam diri Aron saat mengetahui mereka bisa tidur nyenyak tanpa tau apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan tidak mencari Aron. TRING Handphone Aron berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk, dia segera merogoh sakunya, layar handohonenya retak parah bekas kecelakaan namun dia masih bisa melihat isi pesannya. Tertera nama Arnold disana, teman sekampus Aron. 'Hei cepat kumpulkan tugasmu sebelum jam 7 pagi! Cepat email Mrs. Anne.' Aron tak membalas isi pesan itu, dia memilih merebahkan dirinya memejamkan mata berusaha untuk tidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur. Kamarnya gelap, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, tapi dia sedari tadi gelisah kenapa dia tidak bisa memejamkan matanya, rasanya lelah tapi matanya terus terjaga. Dia memilih bangkit turun kebawah mengambil air minum di dapur. Samar-samar dia mendengar erangan demi erangan dari suara ibunya. Dia bersembunyi di balik pintu dapur dan melihat pemandangan yang orang tuanya lakukan. Bukan hal yang salah, tapi Aron kecewa, bagaimana bisa mereka bersenang-senang sedangkan dia kabur dari rumahnya. Dia sudah tidak lagi diharapkan di rumah ini. Dia bersumpah tidak akan kembali ke rumah ini lagi, rumah busuk, dia tidak pantas disini. Aron berbalik ke kamra orang tuanya mengambil sertifikat rumah dan segala harta papanya, termasuk ATM dan kunci mobil, lalu dia ke atas kamar, membereskan barangnya dan dengan mudah dia mengangkat koper berat lalu loncat kebawah, mengendarai mobil papanya. Entah kemana yang akan dia tuju, tapi yang jelas dia sudah memegang ATM papanya, dia berniat menarik semua uang di dalamnya sebelum papanya memblokir ATMnya. Aron memang cerdas, dia juga membawa handphone kedua orang tuanya, berjaga-jaga jika mereka menelfon polisi. Setelah mengeruk uang tabungan papanya, Aron kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara, dia berniat pergi keluar negeri tanpa sepengetahuan siapapun, mengasingkan dirinya dari khalayak publik. Namun handphonenya berdering, dia melihat nama Alvaro Keenan disana. Dengan segera Aron mengangkat telfon itu. "Ya? Halo?" "Kau mau kemana? Bandara?" tanya Alvaro "Ya, aku ada masalah, harus segera pergi." "Kembali ke laboratorium bawah tanahku sekarang! Aku yakin kau aman disini." Aron memutar arah dan menuju laboratorium bawah tanah Alvaro, tempat rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Alvaro yang masih sibuk menuliskan sesuatu dia terperanjat ketika sesorang berdiri di depan rumahnya. Dia segera membuka pintu itu lalu membiarkan Aron masuk. "Masuklah, aku ada di bawah lantai ruang tamu, kau tekan kepala patung singa maka pintu nya akan terbuka," ucap Alvaro Bangunan rumah Alvaro memang cukup unik, seperti bangunan rumah lama, hanya saja desainnya sangat unik. Aron mencari patung singa dan menekan kepala singa itu, lantai ruang tamu terbuka lebar dan terlihat ada tangga menuju ruang bawah tanah. Aron segera memasuki ruangan itu dan menemui Alvaro. Namun belum sampai ia akan membuka pintu ruangan Alvaro, kepala Aron terasa sangat pusing, dia mengalami keringat dingin dan pandangannya menggelap. Alvaro membuka pintu ruangannya dan terkejut saat Aron pingsan tepat didepan pintu ruangannya. Entah sudah berapa lama Alvaro terbaring disitu. Alvaro memanggil asistennya untuk membawanya masuk kedalam. "Dok, bukannya seharusnya dia masuk di ruang karantina? Apa ini tidak berbahaya jika melepas monster berkeliaran?" tanya salah satu asisten yang sibuk menyiapkan kantung darah untuk Aron. Aron pingsan karena kekurangan asupan darah dalam tubuhnya. "Kali ini aku yakin, dia bisa mengendalikannya. Dia percobaanku yang berbeda." Setengah jam kemudian Aron kembali sadar, dia membuka matanya dan melihat Alvaro dan beberapa asistennya yang juga memandanginya. "Bagaimana?" tanya Alvaro kepada Aron. "Aku? Memangnya kenapa?" tanya Aron bingung melihat Alvaro Alvaro hanya menghela nafas, dia heran bagaimana bisa Aron tiba-tiba jatuh dan hilang kesadaran. Dia telah berubah menjadi monster kekinian, tapi kenapa tubuhnya malah makin lemah, Alvaro hanya merasa ada sesuatu yang janggal dalam tubuh Aron. Alvaro mendekat dan mengambil sampel darahnya. "Kau? Apa tak merasakan sakit apapun?" tanya Jaseline, seorang suster yang membantu merawat Aron. Ada rasa takut menyelimuti hati Jaseline saat menanyakan keadaan Aron. Apalagi di depannya kini bukan manusia biasa, dia sangat jelas pertama kali melihat Aron melempar dokter Alvaro dengan mudah. "Baik, aku merasa lebih baik sekarang, apa yang terjadi dengangku? Apa aku sudah akan mati?" tanya Aron dengan tatapan sendu, satu-satunya hal yang ia takut di dunia ini adalah kematian, dan perpisahan. "Tidak, kau hanya pingsan karena kekurangan darah." Ucapan suster itu membuat Aron membelalakkan matanya, dia tak pernah menyangka jika dia harus meminum darah untuk kebutuhan menyambung hidupnya, lalu darah siapa yang mau dia minum? Ada rasa jijik menghantuinya saat ini membayangkan harus meminum darah manusia. "AKU MENEMUKANNYA!" ucap dokter Alvaro seketika menunjukkan hasil sampel darah Aron Aron menyerngitkan dahinya, tidak memahami maksud ucapan Alvaro. Dia bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Alvaro. Mereka saling menatap, dan Alvaro tersenyum kegirangan. "Aku berhasil, kau percobaanku yang berhasil. Sel darahmu kembali sempurna saat kau telah disuntikkan darah." Alvaro memberikan sebuah gambar yang telah dia cetak mengenai bentuk sel darah Aron sebelum dan sesudah diberikan darah. "Coba lihat, kau kembali sempurna saat kau menerima donor darah, lebih mudahnya kau akan hidup sempurna sebagai vampir. Kau akan abadi jika meminum darah," ucap Alvaro tersenyum Aron bergidik ngeri menatap Aron, pasalnya dia sendiri tidak bisa membayangkan jika harus terus menerus mengonsumsi darah. "Tapi aku jijik, aku tidak bisa meminum langsung dari menggigit seseorang," ucap Aron bingung harus bagaimana menghadapi ucapan Alvaro. "Ada saatnya nafsumu datang. saat emas itulah kau harus segera meminum darah agar tidak collapse," jelas Alvaro Mungkin benar ucapan Alvaro beberapa waktu lalu, saat ia ke ATM, dia merasa kehausan dan rasanya ia ingin memakan seseorang, sebelum ia mengganas, Aron lebih memilih menancapkan gasnya menuju tempat Alvaro. "Aku hanya takut jika seseorang akan mati karenaku," ucap Alvaro. "Minumlah darah hewan, mungkin akan tetap baik-baik saja, aku masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Yang jelas Aron, kau akan hidup abadi, tidak akan mati untuk selama-lamanya, selama kau mengonsumsi darah, darah apapun itu," ucap Alvaro "Apa kau tidak bisa mengubahku? Aku hanya ingin kembali seperti manusia normal, lidahku terasa pahit saat memakan makanan manusia, aku bahkan tidak ada selera dan merasa lapar, tolong, ubah aku kembali menjadi manusia dokter," ucap Aron memelas, tapi Alvaro malah menatap Aron kecewa. "Kau seharusnya berterimakasih, kau tidak akan mati dan hidup abadi, akulah yang berhasil mengubahmu Aron." "Tidak, aku tidak mau menjadi monster, aku mau hidup normal sebagai manusia, meski nantinya aku akan mati, meski aku takut mati, apa kau tidak pernah membayangkan? Jika tindakanmu itu berbahaya? Bagaimana jika semua orang mati karenaku? Bagaimana jika semua hewan mati karenaku?" tanya Aron "Hahahaha, apa kau tau rantai makanan? Apa kau pernah melihat di dunia ini jika hewan lain akan mati dan habis dimangsa oleh seekor singa?" ucap Alvaro Aron berpikir sejenak, benar kata Alvaro, mungkin semua akan baik-baik saja meski ia adalah seorang vampir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN