Vampir? Sosok menyeramkan yang hanya ada di dalam Novel dan Film fantasy? Tidak, ini tidak mungkin, bagaimana bisa seorang Aron berubah menjadi vampir dalam sekejap, apalagi dia sama sekali tidak tergigit oleh vampir. Aron berpikir keras bagaimana bisa dia menjadi vampir.
“Tidak mungkin,” sahut Aron.
“Semua mungkin di jaman yang canggih seperti ini, ketauilah Aron, aku yang telah membuat ramuan agar manusia lebih kuat, sejak sepuluh tahun yang lalu, aku selalu mencoba namun baru kali ini berhasil,” ucap Alvaro
Aron masih tidak bisa memahami maksud Alvaro, dia bukan mahasiswa kedokteran, tidak pernah memahami anatomi manusia, apalagi urusan soal ramuan cairan yang ada di sekitarnya kini. Namun ada satu toples kecil yang membuatnya heran, toples yang dipenuhi dengan lintah. Dia geli sendiri melihatnya.
“Lalu, bagaimana aku bisa hidup? Bukannya yang aku tau vampir itu monster yang meminum darah manusia? Seperti film TwighNight? Cerita tentang dunia vampir?” tanya Aron masih tidak mengerti, rasanya mendadak otaknya menjadi error atas penjelasan Alvaro. Wajar saja Aron mahasiswa Akuntansi semester enam jurusan Akuntasi, yang ia tau hanyalah urusan laporan keuangan dan segala yang berbau angka dan hitungan.
“Bagian mana yang kamu tidak pahami? Ya mungkin ada kesamaan dengan film yang pernah trending itu,” ucap Alvaro
“Apa aku bisa bergerak cepat? Apa kemampuan lebihku? Apa aku juga meminum darah? Apa aku bisa mengubah orang lain juga menjadi vampir? Aku ini sebenarnya apa?” tanya Aron
“Baik, akan aku jelaskan. Dengarkan baik-baik, aku tidak akan mengulanginya. Aku menyatukan gen beberapa hewan dan tumbuhan lalu aku kembangkan untuk bisa hidup di dalam tubuh manusia, seperti lintah, tumbuhan venus dan lainnya, aku satukan gen itu lalu aku suntikkan kedalam tubuhmu, memang aku sudah gila, tapi aku ingin menciptakan cairan yang bisa membuat manusia hidup abadi,” jelas Alvaro
Aron hanya begidik geli saat melihat lintah yang asik bergelayutan di dalam kaca toples itu, rasanya dia mual jika mengetahui bahwa apa yang ada di dalam tubuhnya adalah gen lintah, tidak bisa masuk kedalam nalarnya, Aron memilih menepis semua penjelasan Alvaro dan memikirkan nasibnya bahwa dia seorang vampir.
“Lalu? Apa bedanya aku dengan manusia biasa?” tanya Aron
“Tentu saja kalian sama, hanya saja kau minum darah, manusia tidak, kau sangat kuat, manusia biasa lemah. Kau tidak akan bisa terluka, luka dalam tubuhmu akan sembuh dengan sendirinya. Apa kau ingat? Saat ingin membantingku tadi? Kau merasa sangat ringan kan? Itulah kelebihanmu, satu lagi, mulai saat ini kau harus mengontrol nafsumu, jangan sampai kau kelaparan atau haus saat melihat darah.”
“Tapi? Apa aku bisa mengubah seseorang menjadi vampir?” tanya Aron
“Tidak,”
“Kenapa? Bukannya di film biasanya bisa merubah menjadi vampir?” tanya Aron lagi
“Inilah kenyataannya, coba saja kau gigit dan hisap darahku, aku jamin aku tidak akan berubah menjadi vampir, aku telah melakukan eksperimen selama 48 kali dan mereka semua mati ditengah kehidupannya menjadi vampir, sampai saat ini aku belum tau apakah kau akan bisa berhasil hidup abadi, ramuan yang aku sutikkan kepadamu sedikit berbeda, aku menambahkan ramuan rahasia sebelum menyuntikkan kepadamu, jadi aku peringatkan kepadamu, waktu hidupmu hanya 50 hari. Biasanya semua objek penelitianku akan mati dalam waktu 50 hari kedepan,” jelas Alvaro
Hal ini sangat membingungkan bagi Aron, tiba-tiba dijadikan objek penelitian dan berubah menjadi Vampir? Penjelasan Alvaro sangat tidak masuk akal baginya. Aron menerima kartu nama Alvaro dan memilih pulang kembali kerumahnya, sebenarnya Alvaro mencegah Aron untuk pulang kerumah, namun Aron keras kepala, hal itu membuat Alvaro pasrah dan diam-diam menyuruh body guradnya mengawasi Aron, takut bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Saat ini yang ia rasakan hanyalah ketakutan akan kematian yang akan mendatanginya 50 hari lagi, sedangkan dia merasa sangat bersalah dan belum bisa membahagiakan ibu tercintanya. Yang Aron inginkan menyingkirkan ayah tirinya untuk tidak lagi hadir dalam hidupnya.
Aron berjalan menyusuri jalanan kota dengan kedua kakinya, motor kesayangannya telah hancur. Pikirannya hanya terus berputar menerima kenyataan bahwa ia seorang vampir. Ia berjalan menyusuri gedung yang masih baru dibangun, masih berupa rangka, dan pegawai disana bekerja tanpa lelah. Aron mendekati bangunan itu, entah kenapa dia sangat ingin mengawati gedung yang masih rangka itu. Dalam hitungan detik seketika tembok bagian tengah itu runtuh, mata Aron melebar dan dengan cepat dia menuju lebih dekat ke dalam bangunan dan menahan tembok besar yang akan runtuh. Semua pekerja bangunan berlari mencari tempat aman. Seluruh orang melihatnya heran, bagaimana bisa ia menahan tembok besar itu sendirian.
“CEPAT KELUAR!” teriak Aron.
2 body guard dokter Alvaro segera bertindak, mereka menghubungi ambulance untuk menyelamatkan pegawai yang terluka. Sedangkan Aron masih berdiri menahan bangunan, dengan mudah dia memindahkan tembok itu ke halaman samping yang kosong. Semua orang bertepuk tangan melihat Aron yang bak superhero menyelamat semua pegawai yang diambang kematian. Entah kenapa mata Aron malah terpusat pada pegawai yang terluka, dia berulang kali menelan air liurnya melihat darah segar yang keluar dari kakinya. Ingin rasanya Aron mendekat, namun dia tidak kuasa, Aron segera berbalik, menmbus orang-orang yang ramai ingin mengucapkan terimakasih, dia berlari cepat menghindari keramaian.
“Sudah, lebih baik kita disini, kau lebih aman,” ucap Alex salah satu body guard yang diutus mengawasi Aron. Mereka berhenti pada gang sempit jalan yang buntu. Aron mengatur nafasnya, anehnya dia tidak merasa kelelahan setelah berlari, namun Alex nafasnya tersengal.
“Kenapa masih mengikutiku sih? Kan aku sudah bilang, aku ini baik-baik saja,” ucap Aron
“Tidak, mungkin sekarang kau baik-baik saja, tapi jika suatu saat kau ambruk aku harus sigap,” sahutnya
Aron duduk dipojok gang, memikirkan nasibnya, mendengar ucapan Alex, dia kembali berfikir, jika benar dia vampir dan akan mati 50 hari kedepan, apa yang harus dia lakukan untuk memanfaatkan sisa hidupnya?
“Memangnya, benar? Aku akan mati 50 hari lagi?” tanya Aron
Alex mengangguk, lalu dia menyalakan rokok ditangannya, menghisapnya dan menikmatinya. Dia memberikan Aron rokok lainnya, namun Aron menggeleng, dia bukan lelaki perokok. Apalagi dia selalu di cap sebagai ‘Mahasiswa Berprestasi’. Aron menghela nafasnya, menanti jawaban Alex yang menikmati rokoknya.
“Ya, semua objek penelitian begitu, aku telah menjadi body guard dokter Alvaro sejak 15 tahun yang lalu. Semuanya mati dan mereka semua mati dengan cara mengenaskan,” jelasnya
“Maksudmu?” tanya Aron masih tidak mengerti
“Mereka semua mati karena organ di dalam tubuhnya tidak berfungsi, paru-paru, jantung, semua tidak bekerja dengan baik,” ucap Alex
“Jadi.. itu.. be-benar?”
“Jangan terlalu dipikir, nikmati saja hidupmu, bersyukurlah masih hidup. Saat kau sekarat, kepalamu hampir pecah. Dan kini? Coba lihat, tidak ada bekas luka satupun di wajahmu kan?” Alex mencoba membuat Aron untuk tenang, tidak panik atas kematian yang akan menjemputnya, Alex tau suatu saat Aron pasti mengalami hal yang sama dengan objek penelitian lainnya, rasa sakit yang sangat luar biasa dan menghantui Aron akan terjadi tepat sepuluh hari sebelum tanggal kematian. Tugas Alex sebagai body guard untuk memantau Aron dan memberinya obat penenang untuk meredakan rasa sakit itu jika suatu hari terjadi.