16. Suka atau cinta?

1144 Kata
*** “Key, lo nginep tempat gue aja, ya?” Gaby menatap penuh harap pada Keyla yang sedang menulis. Gadis itu sangat berharap Keyla menginap di tempatnya untuk hari ini saja karena besok adalah ulang tahunnya dan ia ingin bergadang bersama sahabatnya ini. Membayangkan mereka melakukan keseruan di kamarnya entah kenapa membuat Gaby semakin ngotot menyuruh Keyla untuk menginap. “Gak tau, By. Belum izin sama Ayah,” ucap Keyla dengan helaan napas gundah. “Ya udah izin sekarang. Gue mau lo nginep tempat gue sebagai hadiah dari lo. Pokoknya kalo om Gio gak ngizinin lo, sini biar gue yang ngomong sama ayah lo.” Keyla meringis saat mendengar suara berapi-api milik Gaby. Apa sangat penting tentang dia yang menginap atau tidak? “Ayolah, ya? Mau, ya? Harus pokoknya. Besok kan Sabtu, sekolah kita libur. Terus minggunya baru party gue. Lo gak kasian sama gue yang selalu sendiri ngenes gini?” ucapan memelas Gaby nyatanya tak membuat Keyla luluh. Gadis itu tidak mengiyakan, tetapi juga tidak menolak. “Begadang itu gak baik,” ucap Keyla sedikit memberikan nasihatnya. “Eh buset, baru juga sekali, Key.” Keyla langsung menoleh menatap Gaby dengan sorot melotot. Bukan terlihat seram, melainkan lucu di mata Gaby. “Oh sekali? Terus yang kemarin apa? Yang nonton drakor sampe jam dua pagi terus ke sekolah muka sembab habis nangis semaleman? Bukan kali itu aja ya kamu begadang, banyak hari sebelum-sebelumnya yang kamu habisin begadang buat baca novel, buat nonton Drakor, buat–” “Udah udah, lo kenapa jadi omelin gue? Kalo gak bisa ya udah, gak usah ngomel bisa?” Rutuk Gaby kesal. Gadis itu kembali duduk dengan benar menjauhkan tubuhnya yang tadi mencondong pada Keyla. Gadis itu memilih mengambil earphone-nya dan mendengar musik dengan keras agar tak terdengar suara apapun selain musik itu. Gaby menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan di atas meja, ia membuang muka untuk tidak menatap ke arah Keyla. Melihat Gaby yang marah padanya, membuat rasa bersalah timbul dalam benaknya. Keyla sangat ingin mengiyakan keinginan Gaby, tapi ia belum meminta izin dan masih takut pada ayahnya. Keyla menghela napas pasrah. Ia merogoh saku roknya untuk mengeluarkan ponsel hasil pemberian Gaby. Gadis itu berdiri menjauh dari keramaian agar tak ada yang bisa mendengar obrolannya nanti. Keyla menelepon ayahnya. Awalnya tidak diangkat, tetapi saat panggilan ketiga barulah telepon Keyla diangkat ayahnya. Hanya ada hening sejenak sebelum Keyla berkata, “Yah, boleh Key nginep di–” “Lakukan apa yang kamu mau. Jangan ganggu saya.” Tut. Keyla terdiam. Ia menatap layar ponselnya dengan tatapan tak terbaca. Gadis itu tersenyum masam. Ia menghembuskan napas kasar dan berbalik kembali pada mejanya, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menunjukkan kesedihan di mata Gaby. Ia tidak mau Gaby mengkhawatirkannya lagi. Keyla tersenyum lebar walau terasa hambar. “By, Key udah izin barusan. Dan kata Ayah boleh,” ucap Keyla dengan suara riangnya. Wajahnya memancarkan keceriaan. Gaby tidak mendengar apa yang Keyla ucapkan karena sedang memakai earphone. Keyla menggeleng heran melihat tingkah Gaby yang sangat suka merajuk seperti ini. Ia melepaskan satu earphone Gaby dan kembali mengulang perkataannya sebelum Gaby menyemburnya dengan amarah. “Serius lo?” pekik Gaby tak habis pikir. Ia menatap penuh binar senang saat Keyla mengangguk. “Akhirnya! Gila sumpah gue seneng banget. Nanti pas pulang sekolah kita langsung cari gaun aja. Gue bosen sama gaun di lemari, gak ada yang menarik lagi.” “Baju kamu banyak, By. Itu di kamar kamu bahkan ada yang belum kamu pake, kenapa harus beli lagi? Mubazir loh uangnya,” ucap Keyla yang terdengar seperti omelan di telinga Gaby. “Bukan gitu, Key. Gue males aja bajunya itu udah gak menarik lagi. Terus juga pasti udah kekecilan di gue,” jelas Gaby berharap Keyla percaya. Namun harapannya harus pupus saat melihat Keyla menggeleng tegas. “Kits gak usah ke mall, biar aku yang pilihin gaun buat kamu. Jangan biasain beli gaun banyak-banyak tapi gak kepake semua. Kan sayang kalo gitu.” Gaby menghembuskan napas kasar tanda bahwa ia pasrah dengan segala ucapan Keyla. “Key, jam istirahat tinggal lima menit lagi. Ayo kita ke luar duluan biar gak perlu desak-desakan lagi.” “Tapi gimana kalo nanti ibu Endang-” “Kita izin aja sama ketua kelas. Bilangnya ke toilet bentar, kitanya ke kantin. Gimana bagus gak ide gue?” ucap Gaby sembari menarik turunkan alisnya. Merasa apa yang Gaby katakan ada benarnya juga. Daripada berdesak-desakan, lebih baik mereka datang lebih awal. “Ya udah, ayo.” Keyla menutup bukunya dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Ia bangkit dan disusul oleh Gaby. Setibanya di kantin, Gaby langsung berhambur pada kursi pojok yang merupakan tempat terbaik untuk duduk dan bersantai. Itu adalah tempat yang biasa mereka duduki saat berada di surganya sekolah ini. “Lo mau apa, Key?” tanya Gaby sembari menatap dengan binar senang pada deretan makanan kantin yang siap mengisi perutnya. “Apa aja selagi gak bahaya.” “Okay-okay, gimana kalo beli bakso? Atau mau mie ayam aja? Batagor? Siomay?” “Samajn aja lah, By.” Gaby mengangguk, ia segera memesan dua porsi batagor dan dua porsi bakso. Keyla menggeleng tidak percaya saat melihat Gaby memesan sebanyak itu. “Ini semua gue kasih gratis sebagai bentuk terima kasih karena lo udah mau nginep tempat gue,” ucap Gaby saat melihat Keyla hendak protes. “Tapi aku gak makan sebanyak itu, By.” “Ya udah sih, kalo lo gak habis ya tinggal kasih gue. Biar gue yang abisin,” ucap Gaby dengan santainya. “Astaga, perut kamu kuat banget ka-” “Boleh gabung?” Keyla dan Gaby langsung mendongak menatap siapa yang menyapa mereka barusan. Dan ternyata itu adalah Adnan diikuti dua temannya di belakang, Roby dan Ferry. Gaby menatap seisi kantin dan ia berdecak kagum karena bel istirahat belum berbunyi tapi bangku kantin sudah penuh, pantas saja mereka sering tidak kebagian tempat duduk. Gaby mendongak menatap kakak kelasnya ini. Ia kenal dengan Adnan jadi ia mengiyakan saja. “Duduk ya tinggal duduk kali, gak usah minta izin segala kayak sama siapa aja lo.” “Okay, makasih.” Adnan memilih duduk di dekat Keyla, sementara Roby di depan Keyla dan Ferry di depan Gaby. Berbeda dengan Gaby yang biasa saja, Keyla malah terus menunduk untuk meredakan debat jantungnya yang selalu berulah saat berdekatan dengan Adnan. Ada apa dengannya? Keyla tidak pernah segugup ini hanya untuk duduk dengan kakak kelas ataupun laki-laki manapun. Keyla selalu gugup jika berhadapan dengan ayahnya saja. “Lo kok diem aja?” ucap Roby pada Keyla yang menunduk. “Nan, cewek lo kenapa dah?” gurau Ferry menggoda Adnan. Keyla yang kaget akan ucapan Ferry hendak membantah, tetapi candaan balik dari Adnan membuatnya diam tak berkutik. “Biasalah, cewek gue emang pemalu.” Gaby bergidik jijik dan menatap malas pada candaan Ferry dan Adnan yang tidak ada malu-malunya. Berbeda dengan Keyla yang merutuki jantungnya yang semakin berdebar menggila. Suka atau cinta? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN