***
“Gaby,” panggil Keyla pada gadis yang sedang asik bermain ponsel di sebelahnya. Mereka kini sedang berada di rumah Gaby. Tadi sebelumnya Keyla menuju rumah sahabatnya ini untuk menginap, ia sempat pulang sejenak untuk meminta izin pada bundanya. Ia takut bundanya bertanya soal dirinya pada sang ayah yang berujung membuat ayahnya kembali marah.
“Hm?”
“Kak Adnan tuh orangnya gimana?” tanya Keyl sedikit ragu. Ia takut Gaby curiga padanya.
“Si Adnan? Emang kenapa lo nanyain bocah tengil itu?” heran Gaby. Gadis itu bahkan mengubah tidurnya menjadi tengkurap menghadap Keyla. Sorot matanya menyelidik menatap sang sahabat.
“Ya, enggak. Aku sedikit aneh aja,” imbuh Keyla berharap Gaby percaya.
“Aneh gimana maksud lo?”
“Tadi pas di kantin, dia sembarang ceplas-ceplos gitu.”
Telapak tangan Keyla tanpa ia sadari sudah basah sejak tadi. Tidak tahu saja bahwa jantungnya sedang berdebar cepat saat mengingatnya lagi. Keyla tidak pernah jatuh cinta, tapi kenapa sekalinya ia jatuh cinta malah harus pada Adnan kakak kelasnya?
“Gak usah lo ambil hati omongannya. Dia itu orang aneh, sinting, gak ada akhlak, pokoknya gak usah baper sama dia."
“Kenapa?”
“Kenapa lo bilang? Lo liat aja besok atau lusa dia bakal berubah lagi, kadang jadi orang jutek, kadang jadi orang dingin kek kulkas dua pintu, kadang juga tengil, dia itu aneh Key. Jangan pernah mau apalagi deket sama dia,” ucap Gaby dengan menggebu. Matanya menyiratkan kobaran api penuh permusuhan pada Adnan.
“Kamu kok keliatan gak suka banget sama Kak Adnan?”
“Emang! Gue gak suka banget sama tuh bocah tengil, dulu pas kami TK bareng dia pernah bilang gue ngompol di celana gara-gara rok gue basah, alhasil gue jadi diejek mulu. Dan ujung-ujungnya gue jadi pindah TK gara-gara malu. Sampai saat itu dan detik ini, gue paling gak suka sama tuh bocah!”
Keyla tertawa saat mendengar penuturan Gaby yang menurutnya lucu.
“Terus kenapa dia di undang ke party kamu?”
“Ya itu karena Papa yang nyuruh. Gue mah ogah nyuruh dia dih.”
Keyla manggut-manggut tak jelas mendengar semua penjelasan itu. Menurutnya itu lucu. Gaby benci terhadap Adnan karena dendam kanak-kanaknya. Namun bukankah suatu saat benci bisa jadi cinta? Keyla terkesiap. Ia merasakan sesak saat membayangkan. Ia menatap Gaby yang asik berceloteh menyumpah serapahi Adnan. Ia tidak bodoh untuk mengetahui bahwa benar yang ia rasakan ini adalah rasa suka bahkan bisa dikatakan cinta. Adnan adalah cinta pertamanya. Keyla tak sangka itu. Ia yang tidak pernah peduli terhadap hal berbau cinta-cintaan malah jatuh cinta di saat seperti ini.
***
Hari ini adalah perayaan party ulang tahun Gaby. Semua yang hadir hanyalah anak muda dan tidak ada orang tua manapun karena Gaby melarang keras Papanya untuk mengundang kolega bisnis. Ini acara khusus anak muda untuk perayaan ulang tahunnya, Gaby tidak mau semua berjalan membosankan karena adanya orang-orang tua para kolega bisnis.
Gaby menggunakan gaun berwarna putih dengan beberapa ukiran rumit yang unik. Cantik dan elegan, itulah yang menggambarkan sosok Gaby. Berbeda dengan sosok Keyla di samping Gaby yang menggunakan gaun hitam anggun yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Pakaian yang Keyla gunakan memang sesuai dengan dress code yang sudah ditentukan. Semua tamu memakai pakaian hitam dan Gaby memakai pakaian putih. Terlihat sekarang Gaby menjadi pusat perhatian karena pakaiannya yang berbeda. Namun berbeda dari beberapa orang yang menatap pada sosok di samping Gaby. Senyum hangat Keyla meruntuhkan pertahanan banyak laki-laki. Langkah kaki yang anggun, sorot mata yang sayu yang memabukkan, sungguh membuat mereka semakin jatuh hati pada sosok Keyla.
“Eh, Fak. Itukan cewek lo,” ucap Ferry sembari menyenggol tangan Adnan agar ikut melihat pada apa yang sedang ia lihat.
“Fak Fak Fak, panggil Fakri kalo nama tengah atau Adnan nama depan, pengen dibacok lo?” ucap Adnan tajam.
“Ya elah gitu doang sensi, noh liat cewek lo.”
Adnan menoleh menatap pada arah yang Ferry tunjuk. Matanya menyorot teduh, beberapa pemikiran terlintas dalam benaknya yang entah itu soal apa.
“Cie terpesona!” sorak Roby sembari menepuk punggungl sahabatnya itu.
“Gak.” Secara tiba-tiba wajah Adnan berubah datar. Ia masih menyorot pada sosok itu, tapi kali ini beda.
“Oh pantes dia gitu, liat noh ada cowok cakep lagi ngajak ngobrol,” goda Ferry.
Adnan memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya ia memiliki sahabat seperti ini. Ia memilih untuk duduk dan meminum alkoholnya yang tersedia. Party ini memang menyediakan berbagai jenis alkohol, tapi tidak sampai yang dosisnya tinggi seperti Vodka dan sejenisnya.
Acara di mulai. Semua berjalan lancar. Gaby ditemani oleh kedua orang tuanya memotong kue besar itu hingga terdengar gemuruh tepuk tangan. Dan masuklah mereka pada acara dimana dansa di mulai.
Adnan langsung bangkit dari duduknya untuk mengajak sosok gadis yang tengah tersenyum lebar.
“Sama gue, mau?” tawar Adnan mengajak berdansa bersama.
Semua orang terdiam sejenak dan langsung bersorak heboh. Bahkan kedua sahabat Adnan pun tercengang melihatnya. Sungguh gentleman sekali sahabat mereka itu.
“Sebenernya ogah, tapi ya udah ayo.”
Adnan tersenyum pada Gaby. Ia menggenggam tangan Gaby yang menggenggam tangannya. Mereka berjalan menuju lantai dansa. Keduanya berdansa dengan amat serasi hanya berdua. Satu tangan Adnan di pinggang ramping Gaby, dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Gaby. Sementara Gaby, satu tangannya berada di bahu lebar nan kokoh milik Adnan, satu nya lagi bertaut bersama tangan besar Adnan. Mereka berdansa dengan pelan dan terlihat romantis. Terlibat beberapa pembicaraan diantara mereka.
Sementara sosok Keyla yang sejak tadi memperhatikan keduanya dengan sorot mata kosong. Dia tidak menyangka akan secepat ini untuk patah hati. Benar pemikirannya atas Adnan yang menyukai sahabatnya mungkin juga sebaliknya Gaby menyukai Adnan. Ia menggeleng pelan. Tidak seharusnya ia menaruh rasa di saat hidupnya serumit ini. Umurnya masih 16 tahun belum cukup layak untuk menyimpan rasa. Keyla menunduk dan mengangguk. Sebisa mungkin tidak menunjukkan wajah sendu. Namun matanya berkhianat. Keyla malah menangis. Ia mundur perlahan agar tak terlihat oleh beberapa orang yang sedang terpesona pada dansa romantis antara Gaby dan Adnan.
“Ayah aja belum berhasil aku luluhin. Bisa-bisanya aku masih sempet mikirin cinta-cintaan.” Keyla memukul pelan kepalanya. Ia menghapus air matanya dan menekan rasa sakit hatinya. Tidak apa. Ini bukan pertama kalinya ia sakit hati, kan? Ayahnya bahkan sudah sering melukai hatinya lebih dari ini. Seharusnya Keyla sudah kebal, kan? Hanya cinta monyet, tidak masalah untuk merasakan patah hati lebih cepat daripada patah ketika cintanya sudah amat mekar.
Keyla menatap kembali pada mereka yang sedang berdansa, tapi kali ini ia tertegun saat manik hitam itu menatapnya. Adnan menatapnya dalam entah dengan pemikiran apa, tapi Keyla merasakan gelenyar aneh pada dirinya seperti merinding.
Keyla tidak bisa untuk terlihat baik-baik saja sekarang. Ia memilih memutuskan pandangan mereka terlebih dahulu dan menyibukkan dirinya dengan makan-makanan yang tersedia. Cake manis itu ampuh mengembalikan mood Keyla.
“Lo sendirian?”
Tubuh Keyla terperanjat kaget dan langsung berbalik menatap sumber suara. Matanya melebar.
“Kamu...”
***