***
Keyla sedang menyusuri koridor sekolah lagi ini seorang diri. Ia berangkat sangat awal bahkan baru ada satpam seorang di sekolahan luas ini. Angin berhembus menerbangkan beberapa helai rambutnya. Keyla tak risih dengan angin, ia bahkan memejamkan mata saking menikmatinya. Namun hal ceroboh yang Keyla lakukan saat ini adalah memejamkan mata sembari terus berjalan. Hampir saja ia menabrak sebuah tiang tembok jika saja tidak ada tangan yang menghalangi keningnya menyentuh tembok itu langsung. Keyla tersentak kaget dan langsung menatap sang empu.
“Lo kalo jalan liat-liat, masih untung ada gue. Coba kalo tadi jidat lo kena tuh tiang, benjol gede dah lo.”
Keyla mengenal orang ini, sosok laki-laki yang di malam pesta Gaby menemaninya berbincang. Seingatnya dia bernama Samuel dan laki-laki itu seangkatan dengannya, mereka hanya beda kelas saja dan beruntungnya mereka adalah kelas sebelahan.
“Aku kira tadi aku yang pertama dateng, kok ada kamu?” heran Keyla mengabaikan ocehan Samuel tadi.
“Ya bisa lah, orang gerbang aja udah di buka kok. Btw, lo bisa gak usah panggil aku-kamu?” kesal Samuel sembari menatap sengit pada Keyla yang menatapnya bingung.
“Gak bisa, aku sedikit risih kalo pake lo-gue. Kayak gelisah gitu,” ungkap Keyla jujur. Ia tidak terbiasa mengatakan bahasa gaul itu pada siapapun, jadi wajar saja jika ia risih, kan?
“Ck! Bisa! Lo gak bakal risih kalo udah dibiasain. Buru cepet,” paksa Samuel.
“Mau lo apa?” ucap Keyla dengan berusaha sebisa mungkin. Ia sangat tidak nyaman.
“Nah gitu kan bagus.”
“Udahlah, gak jelas banget. Minggir, aku mau ke kelas lagi.”
Samuel tercengang saat Keyla melewati dirinya begitu saja sembari mencibir kesal. Baru saja ia puji malah kembali lagi. Ini bukan masalah norak atau tidaknya, tapi sejak pesta Gaby semalam, ia berbicara banyak dengan Keyla. Gadis yang manis dan terlihat lugu bagai kelinci siap di terkam harimau, Samuel merasa ingin melindungi sosoknya. Saat mata Keyla di pesta malam itu menatapnya dengan penuh derai air mata dan amat sendu, Samuel sudah merasakan ada yang aneh dalam dirinya.
“Key!” panggil Samuel.
Keyla menoleh. Jarak diantara mereka terbentang cukup jauh.
“Kita temenan, kan? Lo udah janji semalem,” teriak Samuel agar bisa terdengar jelas oleh Keyla.
“Emang kalo mau temenan harus ada janji dulu, ya? Temenan ya temenan aja,” ketus Keyla dan kembali melanjutkan langkahnya. Entahlah ia merasa suasana hatinya belum cukup baik sekarang.
Samuel tertawa melihat wajah cemberut Keyla. Ia semakin gemas dengan gadis itu. Bagaimana bisa setelah hampir 2 tahun ia sekolah di sini, baru kali ini ia melihat seorang Keyla kesal dan cemberut. Keyla sosok yang tertutup, ia jarang bergaul dengan teman-teman lainnya walau ia populer di sekolah ini. Semua orang tahu namanya, tapi tidak semua orang tahu wajahnya. Keyla sangat membuat Samuel terpesona.
“Dia udah punya cowok belum sih? Nanti pas gue pepet eh malah udah punya cowok, yang ada gue jadi sakit hati.” Samuel menggeleng pelan. Ia melanjutkan langkahnya untuk menuju kantin. Namun beberapa detik berikutnya ia sadar bahwa tidak mungkin kantin sudah buka jam segini. Paling cepat kantin akan buka pukul tujuh dan ini masih pukul enam kurang lima menit.
Samuel akhirnya memilih untuk melangkah menuju kelasnya saja. Saat ia melewati kelas Keyla, gadis itu juga masih sendirian dan hal yang membuat Samuel berhenti adalah saat Keyla mengeluarkan kotak bekalnya.
Keyla menatap ke arah pintu karena merasakan ada tatapan yang mengarah ke arahnya.
“Mau?” tawar Keyla pada Samuel. Ia menyodorkan kotak bekal berisi nasi goreng buatannya pada Samuel yang menatapnya.
“Boleh nih?” ucap Samuel dengan binar senang.
“Boleh, masuk aja.”
Samuel berjalan senang menuju kursi di samping Keyla, kursi tempat Gaby duduk. Mereka duduk berdua dengan Samuel yang menatap ke arahnya. Keyla membuka kotak bekalnya dan harum semerbak khas nasi goreng membuat perut Samuel berbunyi tiba-tiba. Keyla sontak menoleh pada perut yang sedang diusap oleh Samuel. Gadis itu tersenyum dan hampir saja tertawa.
“Kamu laper banget, ya?” Samuel mengangguk. Ia malu sekali saat Keyla mendengar suara perutnya. Mau ditaruh di mana wajahnya ini?
Melihat telinga Samuel memerah, Keyla kembali tertawa dan berkata, “Udah gak apa-apa, gak usah malu gitu.” Samuel cemberut saat mendengar ucapan Keyla, itu seolah ledekan untuknya.
“Buka mulut,” ucap Keyla sembari menyodorkan satu suapan sendok nasi goreng ke arah mulut Samuel.
Samuel yang sudah amat lapar lantas membuka mulutnya, menerima dengan senang hati nasi goreng itu untuk ia lahap. Tiap kunyahannya, Samuel tak bisa berhenti. Ini sangat nikmat.
Samuel hampir saja tersedak saat melihat Keyla memakan satu suap nasi goreng dengan sendok yang baru saja ia pakai untuk menyuapi Samuel. Mereka makan berdua. Oh astaga, Samuel merasakan debaran menggila dalam dadanya. Oh tidak tidak, ini tidak boleh terjadi.
“Ekhem, buatan lo?” tanya Samuel mencairkan suasana.
“Iya,” ucap Keyla. “Apa gak enak?” Keyla menatap wajah Samuel dengan intens, takut pemikirannya benar. Ia malu jika makanannya memang tidak enak.
“Enggak kok, ini enak.” Keyla menghembuskan napas lega saat mendengar ucapan Samuel barusan. Ia kembali menyuapi Samuel dan baru dirinya. Terus sampai begitu hingga suapan terakhir. Akhirnya bekal itu sudah habis. Keyla terkekeh saat Samuel bersendawa tanda kenyang.
“Lo bawa nasi goreng banyak banget, emang bisa lo biasa habisin porsi segitu ya?” Samuel menatap kotak bekal itu yang berukuran lumayan besar untuk gadis bertubuh kecil seperti Keyla.
“Emang sengaja bawa banyak karena aku makannya pas pagi sama siang, males ke kantin soalnya.”
“Oh jadi ini alesannya jarang ke kantin. Seminggu bisa satu atau dua kali doang gue liatnya,” ucap Samuel sembari mengangguk dan dibalas anggukan pula oleh Keyla.
“Eh btw ini udah jam setengah tujuh lewat, tumben ya temen kelasku pada belum dateng semua.” Samuel mengendikkan bahunya acuh.
“Gue balik ke kelas, ya. Makasih sarapannya, kalo bis besok gue minta lagi,” gurau Samuel.
“Okay, besok aku bawa dua bekal deh kalo gitu.” Samuel terbelalak akan jawaban yang diberikan oleh Keyla. Ia tentu saja akan menerima dengan senang hati kalau begitu.
“Janji loh ya! Awas aja besok lo gak bawa,” ucap Samuel dengan sedikit ancaman.
“Iya, tenang aja.”
“Okay, gue cabut.”
Saat Samuel berjalan menuju pintu kelasnya. Tak bisa lagi Keyla tahan senyumnya untuk mengembang. Kalimat dari Samuel bisa meredakan sakit hatinya karena ucapan sang ayah pagi tadi.
“Singkirkan makanan ini.”
“Tapi kenapa, Yah?”
“Makanan sampah, tidak enak.”
“Tapi kata Bi-”
“Inem! Singkirkan makanan ini dari meja makan!”
“Ba-baik, Tuan.” Inem menatap kasihan pada Keyla yang menunduk dengan wajah sedih. Padahal tidak ada yang salah dari nasi goreng buatan Keyla. Ini enak, ia sendiri yang menyicipinya tadi.
“Saya ingatkan, jangan sekali-kali memasak untuk saya.”
“Iya, Ayah.”
Dan saat mendengar Samuel memuji makanannya dengan binar senang seperti tadi, tentu saja Keyla merasa kesedihannya sedikit terobati. Gadis itu menutup bekalnya dan keluar dari kelas untuk membuang tisu. Betapa terkejutnya ia saat teman-teman sekelasnya sedang duduk di teras depan kelas masih dengan tas yang mereka gendong.
“Kalian kenapa duduk di sini?” heran Keyla.
Mereka semua menoleh dan mendekat di samping pintu. Mengintip sejenak ke dalam dan terlihatlah kelas yang kosong. Semuanya menghembuskan napas lega.
“Lo ngapain Key duduk berdua sambil suap-suapan kek tadi bareng si Samuel,” tanya salah satu teman Keyla bernama Dea.
“Dia laper, jadi aku bagi sarapan. Emang kenapa sama dia?”
“Lo gak tau?” pekik salah seorang siswi lainnya yang Keyla tahu bernama Sindy.
“Dia itu cowok yang dijuluki The Badboy of Smapan. Cowok nakal yang sering keluar masuk ruang BK. Masa iya lo gak kenal sih Key?” heboh Sindy.
Keyla menggeleng. Ia tidak terkejut dengan berita yang baru ia ketahui karena dari penampilan Samuel tadi saja sudah cukup memberikan kesan pelajar nakal.
“Lo gak takut?” ucap Dea.
“Selagi sesama manusia, enggak takut lah.”
“Anjir-anjir nih bocah. Lo pake pelet apa sampe tuh Samuel mukanya gak garang kayak biasanya.”
“Udah-udah, mending kalian masuk. Ini bentar lagi bel.”
Semua teman-teman Keyla yang tadi duduk di depan kelas langsung berhambur memasuki kelas mereka.
Keyla masuk terakhiran dengan kepalanya yang terus berpikir seputar Samuel.
Samuel pelajar nakal yang sering bolak-balik BK, apa ia harus menjauhinya? Tidak. Tidak. Itu tidak boleh. Keyla tidak bisa menilai seseorang dari covernya saja. Mungkin ada alasan khusus untuk Samuel bertingkah seperti itu.
Siapa yang tahu, kan?
Keyla merasakan tatapan seseorang menghunus punggungnya. Dengan spontan Keyla menoleh dan ia mendapati mata tajam milik Adnan sedang menatapnya. Tatapan pria itu terlihat penuh misteri. Keyla bergidik melihatnya.
Apa ada yang salah?
***