*** “Jangan banyak tingkah,” ucap pria setengah baya itu sembari berlalu dari teras rumahnya. Ia sudah tidak dalam suasana hati baik untuk kembali melanjutkan aktivitasnya di sana. “Key menang demi Ayah, semua Key lakuin sekuat tenaga biar Ayah ngelihat perjuangan Key. Apa gak ada sedikitpun Ayah bangga?” Keyla menelan salivanya. Ia sudah sangat frustasi saat sikap ayahnya tak pernah berubah walau ia mati-matian berusaha sekuat tenaga membanggakan pria itu. “Apa yang bisa saya banggakan?” ucap Gio sembari membalikkan badannya menghadap Keyla. Pria itu memberikan tatapan datar meremehkan yang membuat Keyla sakit hati. “Keyla banyak menangin lomba dari sejak Key sekolah dasar sampe sekarang, bahkan terhitung ratusan. Ayah gak pernah ngehargain perasaan Key. Ayah selalu aja cuek. Key peng

