***
Hari-hari Keyla yang lalu dimana ayahnya yang selalu mengabaikannya kini kembali terulang. Baru sejenak Keyla merasakan sedikit perhatian dari sang ayah dan kini ayahnya kembali berubah seperti semula. Ayah yang cuek dan menatapnya tajam. Entah apa yang membuat ayahnya kembali seperti dulu, padahal Keyla pastikan dirinya tidak berbuat apapun yang menyinggung ayahnya. Terakhir kali ia berbicara dengan sang ayah adalah tiga hari yang lalu, saat ayahnya menghadap kepala sekolah karena panggilan darinya.
Jangan melewati batasmu.
Itu adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut ayahnya untuk dirinya. Keyla tersenyum kecut. Memangnya salah jika ia ingin merangkul ayahnya? Apa itu melewati batas? Keyla tak habis pikir dengan pemikiran sang ayah. Apa sebegitu besarkah rasa benci ayahnya terhadap kejadian dulu yang ia sebabkan waktu itu.
Keyla menghapus kasar air matanya. Ia harus meminta penjelasan pada sang ayah, kenapa berubah dingin kembali padanya? Keyla bangkit dari tidurnya dan keluar kamar menuju ruang kerja. Hari sudah malam, bundanya sudah tidur, dan ia yakin ayahnya itu selalu berada di ruang kerja untuk beberapa saat sebelum tidur ke kamar bundanya. Keyla harus memanfaatkan waktu ini. Ia tidak ingin perang dingin ini berkelanjutan hingga ia dewasa. Ia tidak ingin rasa benci ayahnya semakin besar.
Tok... Tok...
Tak mempedulikan balasan dari ayahnya, Keyla memutuskan untuk masuk tanpa izin. Ia bisa melihat ayahnya sedang duduk tenang dengan beberapa berkas dan layar komputer yang sedang aktif. Pria itu tidak menoleh pada Keyla, tapi ia tahu bahwa yang masuk tanpa izin adalah putrinya.
“Kemana sopan santunmu?” ucap Gio dengan wajah datar tanpa menoleh pada Keyla yang bergeming.
“Ayah, kenapa berubah?” Keyla mencoba untuk terlihat tenang, tetapi jantungnya tidak bisa berhenti berdetak cepat.
“Keluar,” usir Gio tanpa rasa kasihan sama sekali.
“Keyla butuh penjelasan, Ayah! Apa Keyla ada salah? Kenapa Ayah balik lagi kayak gini?” ucap Keyla dengan suaranya yang bergetar menahan tangis. Keyla tidak boleh menangis. Ia takut ayahnya malah risih dan marah.
“Jangan melewati batas,” ucap Gio kali ini dengan sorot tajam menatap manik cokelat terang milik Keyla.
Keyla memejamkan matanya kuat. Apanya yang melewati batas? Mereka ayah dan anak, kenapa Keyla tidak bisa merasakan kasih sayang lebih? Apa ia meminta penjelasan pun dikatakan melewati batas?
“Ayah selalu aja bilang jangan melewati batas. Apa Ayah gak sadar kalau Key ini putri Ayah!”
“Lancang!” bentak Gio murka. Pria itu bangkit dari duduknya dan menghampiri tubuh Keyla yang berdiri dengan gemetar. Keyla ketakutan setengah mati saat ayahnya mendekat.
“Keyla cuma mau kasih sa- AKH!”
Gio mencengkram leher Keyla. Memojokkan tubuh gadis itu ke dinding dan mengangkatnya hingga Keyla merasakan tercekik. Pasokan udara sulit untuk Keyla hirup hingga ke paru-parunya. Keyla menatap ayahnya dengan mata sendu.
“A-Ayah,” panggil Keyla dengan susah payah.
“Semua ini salahmu!” bentak Gio semakin mencekik leher Keyla. Pria itu gelap mata hingga rasanya ingin menghabisi nyawa putrinya sendiri.
“A-Ayah, Key enggak bi-bisa napas,” rengek Keyla mencoba melepas cekikan sang ayah.
“Teman-temanmu itu mencela istriku! SEMUA KARENAMU! Kamu yang membuat istriku buta, apa kamu sadar! JADI, MENJAUHLAH DARIKU!” bentak Gio kini semakin mencekik Keyla dengan dua tangannya. Tubuh Keyla meronta karena pasokan udara yang tak tersisa. Paru-paru Keyla kosong akan udara. Wajahnya pucat kebiruan. Matanya mulai sayu hendak terpejam. Yang ia lihat hanya wajah marah ayahnya dan setelah itu gelap menerjangnya.
Keyla rasa...
Dirinya telah mati.
Ah, tidak apa. Bukankah mati lebih baik daripada harus merasakan sakit hati sepanjang hidup? Keyla bersyukur jika ia memang akan mati.
Sementara Gio yang diliputi amarah langsung tersadar dengan mata yang membelalak kaget. Pria itu melepaskan cengkeramannya pada leher Keyla hingga membuat tubuh Keyla merosot jatuh ke lantai. Pria itu panik. Ia mengecek apakah Keyla masih hidup atau mati, dan untungnya saja Keyla masih hidup walau napasnya tampak lemah.
Lama Gio menatap ke arah tubuh Keyla yang tak sadarkan diri di lantai, bukannya mengangkat tubuh gadis itu untuk ia taruh di kamar. Melainkan ia keluar dari ruang kerjanya untuk memanggil Bibi Inem.
***
Mata Keyla terbuka. Ia kini sudah berada di sebuah ruang bernuansa putih. Saat ia pikir ada di surga, ia tersadarkan dengan bau obat-obatan yang menandakan dirinya berada di rumah sakit. Keyla juga melihat punggung tangannya yang diinfus. Memangnya ia sakit sampai perlu diinfus segala? Namun ingatan semalam tereka ulang dalam pikirannya. Keyla membuka matanya lebar dengan deru napas yang tak beraturan. Sorot mata tajam penuh kebencian itu untuknya. Tak ada harapan untuk Keyla. Bahkan mendengar teriakan ayahnya untuk menjauh pun membuat Keyla sakit hati semakin dalam.
Keyla tidak mau berjauhan dengan ayahnya.
Keyla tidak mau kebencian menghancurkan keluarga ini.
Keyla duduk di brankar sembari memeluk lututnya. Ia menangis tertahan di sana. Tangannya menepuk area jantung yang terasa sesak sekali.
“Sakit banget,” ucap Keyla dengan diiringi tangisan.
“Di sini sakit banget rasanya.”
“Ayah bahkan gak pikir panjang buat ngebunuh Key.”
“Sebenci itu ayah sama Key.”
“Ya Allah, emang Key ada salah, ya? Kok cobaannya banyak banget? Ini cobaan apa peringatan dari-Mu? Keyla rajin kok. Keyla rajin sholat, rajin puasa sunah, rajin bersedekah, semua larangan-Mu Keyla hindari, tapi kenapa cobaannya gak habis-habis? Apa dosa Keyla banyak?” Keyla menangis meraung pilu sembari menyalahkan nasibnya.
Keyla tak peduli jika akan ada orang yang mendengar tangisannya. Hari ini adalah batas kemampuannya. Keyla tidak bisa lagi. Bukankah Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya? Lalu, disebut apa ini jika melewati batas? Karma?
Bibi Inem yang tadinya cemas saat mendengar teriakan dari ruang rawat Keyla menjadi ikut menangis dalam diam melihat putri majikannya sehancur itu. Keyla pantas bahagia. Wanita paruh baya berusia 65 tahun itu menangis dalam diam menatap kesengsaraan Keyla. Ia paham betul bagaimana Keyla karena ia yang merawat gadis itu sejak kecil. Kejadian dimana hari-hari manis Keyla menjadi pahit seperti sekarang, ia tahu semuanya.
“Non,” panggil Bibi Inem dengan suara pelan agar tidak mengagetkan Keyla.
Keyla menatap pada sang Bibi. Ia semakin menangis pilu saat melihat Bibi Inem menatapnya penuh kasihan.
“Keyla mau peluk, Bi.”
“Keyla mau itu.”
“Keyla udah gak sanggup, Bi.”
“Keyla harus apa sekarang?”
Bibi Inem menutup pintu dan berhambur memeluk Keyla yang menangis. Wanita paruh baya itu ikut menangis dalam pelukannya. Kalimat menyakitkan yang diucapkan Keyla membuat relung hatinya tertampar.
“Non Keyla gak boleh putus asa. Non Keyla pasti bisa melewati cobaan ini. Yang sabar ya, Non.”
“Sabar ada batasnya, Bi.”
Bibi Inem terdiam.
***