13. Terabaikan?

1288 Kata
*** Keyla tak pergi sekolah selama 2 hari dengan alsan sakit. Ia tidak mau pergi sekolah dengan keadaan leher membiru. Ia tidak ingin ada orang-orang yang berpendapat bahwa dirinya mendapatkan k*******n dalam keluarganya sendiri walau itu benar. Terutama Gaby. Keyla tidak bisa berbohong jika Gaby sudah mendesaknya untuk jujur. Ia tidak mau Gaby malah membenci ayahnya. Ini salahnya dan tidak seharusnya orang lain ikut campur, kan? Ya, Gaby memang sahabatnya, tetapi untuk urusan pribadi seperti ini Gaby tak perlu tahu. Keyla hari ini bisa pulang ke rumah setelah di rawat 2 hari di rumah sakit. Rencananya besok ia akan sekolah. Untung saja ia ada ponsel, jadi ia bisa bebas menelpon Gaby tanpa bertemu dan meminta tugas apa saja yang tertinggal olehnya selama 2 hari ini. “Makasih ya, Bi.” Keyla tersenyum pada Bibi Inem yang membukakan pintu mobil taksi itu untuknya. “Gak apa-apa, Non. Gak perlu bilang makasih sama Bibi,” imbuh Bibi Inem sembari membantu Keyla masuk. “Udah, Bi. Gak usah dipapah gini, Key kan cuma sakit bagian leher bukan kaki,” ucap Keyla tertawa kecil. Tingkah Bibi Inem begitu lucu di matanya. Sangat penuh kehati-hatian seolah Keyla adalah tuan putri kerajaan. Padahal aslinya putri buangan, kan? Keyla tersenyum miris dengan pemikirannya. Tepat saat Keyla memasuki gerbang, tiba-tiba mobil yang dikendarakan Gio pun tiba. Pria setengah baya itu ternyata sudah pulang. Tubuh Keyla otomatis gemetar, ada rasa trauma saat ia melihat ayahnya sendiri. Kenapa denganku? Keyla menggeleng kuat berusaha agar menghilangkan trauma. Ia tidak boleh trauma pada ayahnya. Jika ia trauma, bukankah berarti ia tidak bisa untuk berdekatan dengan ayahnya karena akan memunculkan trauma? Tidak! Keyla tidak mau! Untuk memastikan apakah dirinya benar-benar trauma atau tidak, Keyla memberanikan diri menatap ayahnya yang turun dari mobil. Matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata hitam milik Gio. Tubuh Keyla langsung lemas dan gemetar ketakutan. Kilatan kejadian di mana mata hitam legam itu menatapnya penuh benci dan rasa membunuh. Keyla memalingkan wajahnya. Benar ternyata dirinya trauma. Keyla menyayangi ayahnya, tapi Keyla tidak bisa mengabaikan dirinya sendiri. Trauma bukan hal yang sepele. Keyla harus menghindar sejenak dari sang ayah untuk mengikis rasa trauma secara perlahan. Kalau bisa Keyla ingin dihipnotis agar lupa ingatan tentang kejadian menyeramkan itu. “Bi, anter Keyla ke kamar.” Suara Keyla bahkan terdengar bergetar. Gadis itu susah payah bersuara setelah beberapa saat suaranya tercekat. Bibi Inem menuntun Keyla dengan perlahan memasuki rumah dan menuju kamar. Tanpa sadar hal itu menggores ego Gio, ia merasa terabaikan dan tidak dihargai. Setibanya di kamar, Keyla langsung menutup pintu kamarnya dan tidak lupa menguncinya. Keyla merosot jatuh di balik pintu dengan tubuhnya yang gemetar hebat, jantungnya yang berdetak cepat, dan wajahnya yang memucat. Keyla takut. Bagaimana jika ayahnya akan mencekiknya lagi? Bagaimana jika Keyla salah sedikit langsung dibunuh oleh ayahnya? Apa nanti nasib Keyla akan sama seperti berita pembunuhan ayah terhadap anaknya sendiri? Keyla terlalu berfikir negatif sampai dirinya kehilangan kendali. Dia panik. Panic attack, Keyla mengidapnya sejak lama dan sekarang kambuh lagi. Lebih gentingnya lagi, gejala itu kambuh saat ia melihat ayahnya. Tidak. Keyla mencari obat penenang yang biasanya i minum. Keyla dengan tangan gemetar mencari dengan tak sabaran obatnya itu. Ia berhasil menemukannya dan langsung mengambil dua pil untuk ia telan tanpa air. Keyla mengatur napasnya yang memburu. Ia tidak boleh kalah akan sakitnya ini. Keyla harus kuat. “Syukurlah.” Tubuh Keyla perlahan bisa rileks kembali. Ia membaringkan dirinya di kasur kecil miliknya sembari memejamkan mata berharap untuk mengatur gejolak emosinya yang tak terkendalikan. Keyla butuh pengalihan agar tidak terus memikirkan ayahnya. Ya, tak ada yang terlintas dalam benaknya kecuali menelepon Gaby. Ia mengambil ponsel yang ayahnya belikan waktu itu, dan entah kenapa ia langsung melempar benda itu dengan tatapan mata menajam. Keyla panik lagi. Ia memegang benda pipih itu dengan tangan gemetar. Saat menyentuhnya, kilasan manis tentang ayahnya yang membelikan ponsel terlintas sejenak dan berujung pada adegan Gio mencekiknya. Keyla memegang lehernya sendiri. Ia merasa tercekik, padahal tidak ada yang mencekiknya. Air matanya langsung turun membanjiri pipinya. Gadis itu mengambil ponsel pemberian ayahnya dan ia sembunyikan agar tak terlihat oleh Indra penglihatannya. Keyla mengambil ponsel yang Gaby berikan padanya. Ia lebih baik menggunakan ponsel itu saja. Keyla mulai menelepon. Ia sudah paham nomor ponsel Gaby, jadi tidak perlu untuk menyalinnya dari ponsel sebelumnya. “Halo?” Mendengar suara Gaby, tanpa sadar Keyla menghembuskan napas lega. “Ini Keyla, By.” “Heh, beneran lo ternyata. Ini lo nelpon gue pake hape yang gue beliin waktu itu, ya?” Keyla mengernyit heran. Kenapa Gaby bisa tahu? Seolah bisa membaca pikiran, Gaby langsung menyahut, “Ya karena nomor hapenya yang ada di hape gue beliin itu udah gue save pake nama lo. Makanya gue agak bingung pas lo nelpon gue pake nomor yang gue beliin bukan yang biasanya.” Keyla tersenyum mengerti. “Hapenya rusak, tadi jatuh sampe retak dan gak bisa dimainin lagi,” alibi Keyla dan Gaby malah percaya begitu saja. “Astaga Key, hape harga segitu jatuh? Rusak pula! Wah gila parah si sultan,” decak Gaby terlihat tak menyangka. Sebab gaya bicara Keyla yang terlalu santai setelah kehilangan ponsel seharga dua puluhan juta lebih. “Gak apa, kan hape yang Gaby beliin gak kalah bagus dan mahal,” ucap Keyla sembari tertawa pelan. “Huh, dasar.” “Btw, ada apa nih kok nelpon?” “Ee anu, By. Aku kan ketinggalan pelajaran selama dua hari, nah boleh gak kalo aku liat catetan kamu sekalian latihan juga. Nanti aku koreksi deh kalo salah.” “Oh itu mah gampang, catetan cuma dikit kok. Bentar ya gue kirimin. Tapi kalo untuk tugas latihan gue belum Key, soalnya susah gak paham anjir.” Keyla tertawa saat mendengar nada frustasi Gaby. “Ya udah kirimin aja catetan sama tugasnya, nanti setelah selesai nyatet aku langsung kerjain tugas, setelah itu aku kirimin ke kamu.” “Ah yang bener lo?” Keyla ikut tertawa saat Gaby di seberang sana cekikikan tidak jelas. “Benerlah, kapan coba Keyla bohong?” ucap Keyla serius. “Oke, gue matiin ya telponnya. Mau gue fotoin dulu catetan sama tugasnya.” “Iya, makasih ya, Gaby.” “Sama-sama sahabat cantikku.” Keyla menunggu sejenak dan tak lama sekitar lima menit setelahnya, Gaby mengirimkan lima foto. Empat diantaranya adalah tugas mencatat dan satunya lagi adalah tugas latihan. Gadis itu menuju meja kecil di samping tempat tidurnya, mulai mengerjakan tugasnya dengan wajah serius. Ia sebisa mungkin menyibukkan diri agar tak terus memikirkan sang ayah. Dua jam setelahnya. Keyla meregangkan ototnya yang kaku. Ia menatap jam di ponselnya yang menunjukkan pukul enam, yang berarti sebentar lagi akan masuk waktu ibadah. Ia merapikan buku catatannya serta tidak lupa memfoto hasil pengerjaan tugas latihannya, lalu ia kirimkan pada Gaby. Gadis itu merasakan haus pada tenggorokannya. Keyla keluar dari kamar dan menuruni tangga untuk menuju dapur. Ia harap di dapur tidak ada orang sama sekali. Namun harapannya pupus saat melihat ayahnya sedang membuat s**u di dapur, sepertinya itu untuk bundanya. Keyla berusaha mati-matian agar tubuhnya tidak gemetaran. Ia berjalan kaku menuju kulkas di dekat ayahnya. Membuka pintu kulkas dengan tangan gemetar. Tidak ada sapaan sok akrab yang ia berikan untuk ayahnya. Lidahnya terasa kelu. Keyla tidak bisa berbicara banyak selain ingin cepat-cepat kembali ke kamar. Keyla menuangkan air pada gelas dengan tak sabaran hingga air itu tumpah sedikit membasahi pantry. Oh ayolah, Keyla tidak mau seperti ini. Ia menaruh kembali botol berisi air minum itu dan menutup kulkasnya. Ia meneguk air itu dengan tergesa tak sabaran. Secepat mungkin agar ia tidak terlalu lama berada di samping ayahnya. Dapat ia rasakan, tatapan yang tertuju padanya. Keyla yakin itu ayahnya. Keyla seratus persen yakin hal itu. Tanpa kata Keyla langsung berjalan tergesa kembali menuju kamar, meninggalkan Gio yang menatapnya dengan intens sejak tadi. Perasaan apa ini? Terabaikan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN