***
“Keyla!”
Langkah kaki Keyla langsung terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Belum sempat ia menoleh ke belakang, orang yang memanggilnya sudah lebih dulu merangkul bahunya. Siapa lagi kalau bukan Gaby? Ya, Keyla tahu tanpa perlu menoleh karena yang akrab dengannya sampai berteriak seperti itu hanya Gaby, sahabatnya.
“Kenapa?” tanya Keyla kembali melanjutkan langkah kakinya dengan diikuti Gaby di sampingnya yang masih merangkul pundaknya.
“Lo inget kan lusa hari apa?” Gaby menatap Keyla dengan wajah berbinar senang.
Keyla mengernyit. Ia memikirkan lebih dulu, ini hari apa ya?
“Ini hari apa?” balik Keyla bertanya.
“Ya, hari Senin.”
“Dua hari setelah hari Senin, hari apa?”
“Eee Rabu?”
“Nah itu tau, kenapa nanya?”
Gaby ternganga dengan jawaban Keyla yang terkesan tidak seperti biasanya. Jawaban dari Keyla membuat suasana hati Gaby berubah. Gadis itu melepaskan rangkulannya dan berjalan mendahului Keyla sembari menghentak-hentakkan kakinya tanda sedang merajuk.
Keyla tertawa melihat tingkah Gaby.
Bukankah ini tanggal 12 Juni? Berarti lusa tanggal 14 Juni, kan? Lalu kenapa dengan 14 Juni? Keyla bertanya-tanya dalam hati, memangnya hari apa itu? Apa hari istimewa?
“Hari istimewa...”
“Eh? Loh? Astagfirullah lupa!” Keyla langsung berlari menyusul Gaby yang sedang merajuk. Ia menepuk jidatnya saking merasa lemot tadi. Bisa-bisanya ia lupa akan hal itu.
“Gaby,” panggil Keyla saat baru saja masuk kelas. Gadis itu mengatur napasnya yang memburu sehabis berlarian.
“Apa?!” ketus Gaby tanpa menatap ke arah Keyla.
“Gaby jangan marah, Key inget kok lusa itu hari lahir kamu. Key cuma canda doang tadi,” ucap Keyla dengan amat memelas berharap Gaby percaya dengan ucapannya.
Gaby menatap sinis pada Keyla dan bangkit dari kursinya. Keyla panik saat Gaby hendak meninggalkannya. Ia pikir Gaby akan merajuk lama sampai berhari-hari seperti kejadian satu tahun yang lalu. Oh, tidak!
Keyla juga langsung berdiri dan merentangkan tangannya sebagai penghalang tubuh Gaby melewatinya. Gaby tidak boleh pergi sebelum memaafkannya. Harus!
“Maafin dulu, By. Aku seriusan tahu lusa tuh kamu ulang tahun, kan? Aku cuma canda aja tadi, tolong maafin. Aku minta maaf,” panik Keyla sampai tidak sadar matanya berkaca-kaca hendak menangis.
“Eh, lo cengeng banget sih. Jangan kegeeran makanya. Ini gue mau ngasih undangan party ke temen-temen gue, bukan mau ngehindar dari lo. Minggir,” ucap Gaby menatap ngeri pada Keyla yang hendak menangis di depannya.
Keyla bernapas lega. Namun karena Gaby berucap dengan nada ketus, ia percaya bahwa Gaby masih kesal padanya.
“Aku ikut boleh?” ucap Keyla seperti anak kecil yang meminta izin pada ibunya untuk ikut ke pasar.
Gaby berdecak gemas. Ia mencubit kuat pipi Keyla hingga memerah membekas bekas cubitan tersebut. Bukannya marah, Keyla malah tertawa senang. Gadis itu merangkul lengan Gaby dan mengikuti kemanapun Gaby pergi.
“Gimana kalo kita mencar aja, Key?” saran Gaby.
“Mencar gimana maksudnya?”
“Iya ini undangan party-nya kita bagi dua, lo kasihan sesuai undangan yang gue bagiin ke lo, dan gue juga bagiin bagian gue, biar cepet Key. Soalnya sepuluh menit lagi udah mau bel masuk, takutnya gak sempet. Dan gue gak mau motong jam istirahat gue cuma buat ngasihin ini doang.”
Keyla mengangguk pasrah. Memangnya apa yang bisa ia lakukan? Demi Gaby, apapun akan ia lakukan.
“Lo bagiin buat kakak kelas, ya. Gue bagiin yang buat seangkatan sekaligus ada beberapa adek kelas yang gue kelas, okay?” Keyla mengangguk mantap. Gaby tersenyum senang.
“Ini bagian lo, makasih ya sebelumnya.”
“Ish kayak sama siapa aja! Padahal kan kita sahabat,” ucap Keyla.
“Ya udah gak usah buang waktu, cepetan bagiin. Nanti kita temu lagi di kelas, ya.”
Keyla dan Gaby mulai berjalan terpisah. Keyla sebenarnya tidak mengenal kakak kelasnya sendiri. Bahkan ketua osis pun ia tidak tahu. Ia mengabaikan segala ruang lingkup di luar hidupnya. Selagi itu bukan urusannya, maka Keyla tak akan mau tahu. Terdapat pengecualian jika itu berkaitan dengan Gaby.
“Permisi, Kak. Saya mau cari Kak Adnan Fakri Husein ada?” tanya Keyla saat tiba di kelas 12 IPA 1, kelas pertama yang akan ia antarkan undangan ini. Anehnya, kenapa dari sekian banyak kelas 12, hanya 12 IPA 1 yang Gaby undang satu orang saja?
“Woy, Fak! Disamperin bidadari noh! Ajegile, pake pelet apa lo?!” sorakan teman-teman dari Adnan Fakri Husein itu membuat Keyla sedikit risih. Siulan dan lontaran kata cie diberikan untuknya. Keyla merasa tidak nyaman berlama-lama di sini.
“Kenapa?”
Keyla yang tadi menunduk melihat undangan langsung tersentak kaget hingga tubuhnya mundur secara otomatis bahkan ia hampir terjatuh, untung saja remaja laki-laki di depannya ini langsung merangkul pinggangnya dengan cepat. Posisi mereka terlalu dekat. Ini tidak aman.
“WADUH SI FAKRI!”
“Sikat Nan!”
“Pacaran ya pacaran aja kali, gak usah depan jomblo gini!”
“Nan, nanti kongkalikong ya tips biar dapet bidadari.”
Sorakan itu terdengar amat heboh hingga membuat Keyla semakin malu dibuatnya. Ia menjauh dari sang kakak kelas dengan cepat. Wajahnya memerah, bahkan saat menunduk pun telinganya masih terlihat memerah karena hal itu.
“I-ini ada undangan party dari Gaby Anastasia, terima kasih Kak.”
Keyla langsung berlari menjauh saat undangan itu telah berada di tangan sang kakak kelas. Adnan yang melihat tingkah Keyla hanya terdiam sejenak, lalu kembali masuk ke kelasnya dengan cuek.
“Woy, cewek lo?” tanya Ferry yang merupakan sahabat dari Adnan.
“Bukan.”
“Yes!” sorak Roby senang.
Adnan dan Ferry menatap Roby heran.
“Kenapa lo?” heran Ferry.
“Bagus dong, soalnya gue udah suka sama tuh cewek. Udah dari lama sih, tapi gak pernah ada kesempatan buat deket. Asal lo tau aja nih ya, tuh cewek misterius gimana gitu. Kesannya kan gua jadi penasaran. Dia gak pernah keliling sekolah anjir. Keluar kelas pun cuma kalo pas mau ke kantin dan pelajaran olahraga,” jelas Roby dengan menggebu-gebu.
“So, itu bukan suka.” Adnan berucap sinis.
“Gue setuju sama si Fak. Lo itu cuma penasaran bukan suka. Nanti kalo udah gak penasaran juga bakal lo putusin kayak mantan lo yang sebelumnya.”
“Bisa gak, gak usah manggil nama gue pake Fak? Kalo mau ambil nama tengah ya silahkan, tapi Fakri bukan Fak doang,” ketus Adnan kesal.
“Ya elah, itu namanya nama kesayangan.” Adnan berdecak malas. Ia memilih mengabaikan Ferry dan kembali fokus pada Roby.
“Tapi ini beda! Dia itu beda dari mantan gue sebelumnya. Keliatan banget kan si Key itu anak baik terus juga si teladan kesayangan guru. Lo gak tau semua piala di ruang kepala sekolah itu punya nya si Keyla? s**l, gue makin suka sama dia!”
Ferry langsung membolakan matanya.
“Oh jadi dia yang namanya Keyla Agatha Afsheen? Wanjir gila cakep boy ternyata. Gue pikir itu bukan si Keyla Keyla itu. Gue pikir si Keyla cupu karena pinter banget, eh gak taunya cantik juga. Udah pinter, cantik pula. Paket komplit nih. Gue juga mau deh.”
“Dih apaan lo! Gak boleh! Dia punya gue,” sengit Roby tidak terima.
“Kan belum pacaran! Lo juga belum deket sama dia,” balas Ferry tak kalah sengit.
“Apaan sih kalian berdua. Cewek kok direbutin.”
“Tapi ini cewek bukan sembarang cewek.”
“Ya, terus?” sahut Adnan malas.
“Ya udah sih kalo lo gak suka. Diem aja bisa? Ganggu kesenangan orang itu gak baik. Awas aja nanti lo jilat ludah sendiri.”
“Dih, gue bukan lo yang suka jilat ludah sendiri.”
“Wah, ngajak ribut!”
Ferry langsung berdiri di tengah-tengah antara Roby dan Adnan. Melihat wajah Roby yang sudah geram dengan jawaban Adnan, ia sudah tahu pasti akan ada pergelutan sahabat di sini.
“Udah-udah guys. Nanti Keyla nya bagi tiga aja.”
“Gak!”
“Gak.”
“Kenapa lo bilang enggak?!” sengit Roby pada Adnan, menatap curiga pada sahabatnya.
“Ya, karena gue gak mau. Cewek banyak, tinggal pilih.”
“Dih, iya deh yang ganteng!”
“Tuh tau.”
***