***
Keyla berdiri cukup lama di depan pintu rumahnya. Ada rasa takut yang hinggap pada hatinya kala ingin membuka pintu itu. Jantungnya sejak tadi tak berhenti untuk tidak berdetak cepat. Tangannya yang sejak tadi memegang amplop kuning berisi surat peringatan dari sekolah terlihat sedang gemetar. Wajah Keyla pucat dengan mata sayu yang hampa. Gadis itu kembali terisak pedih. Ia takut ayahnya kecewa. Ia takut bundanya sedih. Keyla tidak ingin ayahnya tahu ia bermasalah di sekolah, dan ia tidak mau bundanya tahu ia dicela karena memiliki ibu buta. Terbayang dalam benaknya seberapa sedih nanti bundanya kala mendengar itu.
Suara grasak-grusuk dari dalam menyentak Keyla dari lamunannya. Ia segera menghapus kasar air matanya dan menyembunyikan amplop itu di belakang punggungnya.
“Eh Non Keyla, kenapa belum masuk, Non?” ucap Bibi Inem dengan cengiran khasnya.
“Gak apa-apa, Bi. Key juga baru sampai rumah, terus pas mau buka pintu udah keburu dibuka sama Bibi.”
“Oala Non, iya udah cepet masuk Non bentar lagi mau hujan,” ucap Bibi Inem sembari menatap langit yang mendung.
“Terima kasih, Bibi.”
Keyla mencoba berwajah ceria di depan Bibi Inem agar tidak terlalu nampak bahwa ia sedang banyak masalah. Jika Bibi Inem tahu soal ini, maka sudah dipastikan ayahnya juga akan tahu.
Dengan gerakan cepat, Keyla bergegas menuju kamarnya dan menyembunyikan amplop itu ke dalam tas sekolahnya lagi. Ia akan mengambil resiko diberi hukuman daripada harus membuat orang rumah khawatir. Tidak masalah itukan hanya sebuah hukuman yang pasti akan selesai ia kerjakan dalam sehari dan tentu tidak akan membuat ayah dan bundanya sedih.
Keyla mengganti baju seragamnya dengan baju santai yang seringkali ia gunakan. Tidak masalah, karena itu memang baju kesukaannya.
Keyla segera turun untuk menuju ruang keluarga. Keyla bahkan sudah membawa bantal gulingnya. Ia berniat untuk menonton televisi sembari rebahan di sana. Namun ketika baru sampai di sana ia malah menemukan ada bundanya juga. Keyla melirik jam dan kini menunjukkan pukul setengah empat sore yang berarti ayahnya akan pulang kurang lebih setengah jam lagi.
“Bunda,” panggil Key.
Ia sedikit heran saat Bundanya berdiam diri duduk di sofa sembari menghadap pada televisi yang terbuka. Bundanya terlihat seperti orang normal yang sedang menonton televisi, tetapi bagaimana bisa seseorang yang buta melakukannya?
“Waduh, putri kecil bunda udah pulang?” ucap Gita dengan antusias.
Keyla berjalan menuju bundanya dan duduk di samping wanita tercintanya itu.
“Gimana hari ini? Apa baik-baik aja?” tanya Gita sembari mengelus punggung tangan Keyla yang berada di dekatnya.
“Alhamdulillah, iya Bun.”
Keyla mengernyit saat melihat jejak air mata di pipi bundanya. Apa bundanya itu baru saja menangis? Tangan Keyla yang bebas segera terangkat menyentuh pipi Gita yang basah. Gita terlihat tersentak kaget atas perbuatan yang Keyla lakukan. Ia kini terlihat amat kentara bahwa sedang panik.
“Bunda nangis, ya?” ucap Keyla khawatir.
Gita menggeleng dengan cepat.
“Siapa yang bilang kalo bunda habis nangis? Ini tadi tuh karena denger sinetronnya sedih banget,” ucap Gita dengan cepat.
“Tapi sama ajakan? Bunda habis nangis,” ucap Keyla khawatir. Gadis itu segera menghapus jejak air mata Gita dengan tangannya dan mengusap lembut wajah bundanya yang tampak amat cantik ini.
“Sinetron apa yang Bunda tonton?” Keyla berniat memastikan apakah Bundanya ini jujur atau tidak."
“Sinetron suami yang ninggalin istrinya, apa ya judulnya tadi tuh? Aduh Bunda lupa,” ucap Gita terlihat serius.
“Terus kenapa Bunda nangis?” heran Keyla.
“Ya gimana gak nangis, ceritanya sedih gitu. Masa iya Bunda harus ketawa pas ceritanya sedih? Nanti dikira g*la dong Bundanya.” Keyla mengangguk saja. Toh dirinya juga tidak masalah, yang ia permasalahkan hanya bundanya saja. Ia menyimak sejenak tentang sinetron itu dan memang benar bahwa itu tentang perselingkuhan yang dilakukan suami pada istrinya.
“Bunda,” panggil Keyla dengan lirih.
“Iya, Sayang?” sahut Gita dengan cepat.
“Bunda kan gak bisa-”
Keyla menjeda sejenak ucapannya agar tak menyinggung sang bunda.
“Terus kenapa bisa nonton ginian?”
Bukan wajah murung yang Keyla dapati dari Bundanya, melainkan senyum hangat yang terasa menjalar ke hati Keyla menenangkan dirinya yang sejak tadi gelisah.
“Apa kamu tahu, Nak? Bunda emang gak bisa liat, tapi Bunda bisa denger. Suara-suara televisi yang masuk ke telinga Bunda akan membuat Bunda secara otomatis ngerangkai adegan sendiri dalam penglihatan gelap ini. Ibarat kamu baca novel. Kamu cuma baca dengan mulut, tapi otak kamu ngereka bagaimana pergerakan tokoh itu. Imajinasi kamu yang ngatur kamu mau ngebayangin kayak gimana. Nah itu sama halnya kayak Bunda,” ucap Gita sembari mengelus rambut Keyla yang pendek.
Hah, pendek?
“Sejak kapan kamu potong pendek?”
Keyla gelagapan. Ia memang potong rambut pendek tapi itu sekitar satu minggu yang lalu. Ia potong pendek karena rambutnya seringkali rontok dan itu sangat menganggunya. Akhirnya Keyla memutuskan untuk memotong rambut pendek. Ayahnya yang tahu saja hanya diam tak peduli.
“Sejak seminggu yang lalu, Bunda.”
“Kenapa dipotong?”
“Key risih sama rambut yang sering rontok, Bunda. Key merasa terganggu banget jadinya potong rambut,” imbuh Keyla dengan jujur.
“Yah sayang banget, padahal kamu pasti bakal cantik banget kalo rambut panjang.”
“Enggak. Key itu jelek kalo rambutnya panjang, mending rambut pendek kayak Bunda, cantik tau. Kan enak kitanya jadi samaan,” bantah Keyla.
Gita tersenyum saat mendengar jawaban Keyla. Wanita itu menggeleng pelan sembari tertawa lirih, “Kamu ini masih kecil udah pinter ya muji orang.”
“Kan Keyla sering liat ayah ngegombalin Bunda lewat pujian yang aduhai manis itu, jadi sekalian aja Key belajar,” canda Keyla. Ia hanya asal bicara, tapi saat melihat wajah Gita merona malu, sepertinya apa yang ia bicarakan tadi memang benar adanya.
“Ciee, Bunda.”
“Apa sih kamu,” ucap Gita dengan wajahnya yang semakin memerah.
“Ya ampun, wajah Bunda sampai merah gitu loh.”
“Ah yang bener kamu? Aduh Bunda malu,” panik Gita sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.
Keyla tertawa lucu saat melihat tingkah bundanya. Setidaknya dilihat dari segala gerak-gerik bundanya, sang ayah memang selalu memperlakukan bundanya seperti Ratu kerajaan. Bersyukur hanya Keyla saja yang diabaikan.
“Bunda mu ke kamar aja deh kalo gitu,” ucap Gita sembari berdiri dengan susah payah.
“Ya udah deh iya yang lagi malu,” goda Keyla lagi dengan tawa kecilnya.
“Sini Key bantu, Bun.”
Keyla menuntun bundanya berjalan perlahan menuju kamar yang berada tak jauh dari sana karena kamar utama tidak berada di lantai dua seperti kamar Keyla. Ayahnya, Gio sengaja memindahkan kamar utama ke lantai dasar sejak kejadian kala itu. Alasannya tentu saja sederhana yaitu tidak ingin Gita kesusahan apalagi celaka karena harus naik turun tangga.
Tanpa mereka berdua sadari. Sosok pria yang sejak tadi menjadi dalang dari meronanya wajah Gita sedang berdiri mematung di sudut ruang. Matanya memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan istri dan putrinya sejak awal.
Matanya menatap kosong, tapi tidak dengan pemikirannya yang berkelana. Ada ribuan hal yang ia pikirkan dan hal itu semakin menambah beban pikirannya.
Bagaimana caranya?
Batin Gio entah tentang apa.
***