9. Jangan hina bunda.

2183 Kata
*** Keyla datang ke sekolah tak sepagi biasanya. Gadis itu terlambat bangun dan mengakibatkan ia ketinggalan angkutan umum. Butuh waktu sekitar lima belas menit lebih hanya untuk menunggu angkutan umum menuju sekolahnya. Dan kini ia sedang berjalan menuju kelasnya seperti biasa, tetapi ada yang sedikit berbeda kali ini. Entah kenapa Keyla merasakan tatapan sebagian pelajar itu kini terarah padanya. Mereka menatapnya dengan tatapan yang sulit Keyla jelaskan. Mereka juga berbisik-bisik sembari melirik ke arahnya. Keyla merasa tidak nyaman, ia memilih untuk mempercepat langkahnya menuju kelas. Namun setibanya ia di kelas, keributan di sana menyambut paginya. “Maksud lo apa majang gituan di mading sekolah?! Ngerasa hebat lo?” Keyla mengernyit heran. Ia kenal betul dengan suara siapa itu. Ia berusaha berjinjit untuk melihat pertengkaran siapa yang terjadi di sana, apakah benar sesuai tebakannya? “Heh, emang kenapa? Mading sekolah kan sebagai tempat info, ya gak masalah dong gue pasang di sana.” Kali ini Keyla tak mengenali suara siapa itu. “Heh! Lo udah kurang ajar, ya! Itu privasi di luar hubungan sekolah, terus apa gunanya lo pasang di mading sekolah? Kurang perhatian lo sampe berani caper gitu? Cih!” Keyla sangat yakin itu adalah suara sahabatnya, Gaby Anastasia. Dari semua gaya bicara dan tiap penekanan kata, itu sama persis dengan gaya bicara Gaby. Keyla memberanikan diri membelah kerumunan itu untuk sampai di pusat perhatian yang menampilkan sosok Gaby yang sedang berhadapan dengan seorang gadis yang ia ketahui merupakan putri dari kepala sekolah, gadis itu bernama Giselle. “Gaby, ada apa?” ucap Keyla yang khawatir melihat percekcokan mulut antara sahabatnya dan seniornya. Semua mata kini terpusat pada sosok Keyla. Mereka langsung berbisik bising dan hal itu semakin memancing amarah dari Gaby. “DIEM LO SEMUA!” bentak Gaby sembari menunjuk kerumunan itu dengan tatapan tajamnya. “Wah guys, ini nih anaknya udah dateng. Baru aja dibilangin eh udah nongol aja kayak setan,” ucap Giselle sembari bersedekap d*da menatap ke arah Keyla yang masih kebingungan. Semua orang tertawa mengejek. Amarah Gaby tak bisa ditahan lagi, saat tangannya hendak menjambak rambut Giselle, tangan Keyla lebih dulu mencekalnya. Keyla memberikan gelengan kepala sebagai isyarat untuk Gaby tak gegabah membuat onar. “Emang kenapa sama aku?” imbuh Keyla yang menatap Giselle dengan pandangan herannya. “Noh liat,” ucap seorang gadis berambut pendek yang berdiri di samping Giselle sembari melemparkan beberapa foto di hadapan Keyla. Mereka sangat sinis pada Keyla, padahal jika diingat-ingat Keyla tak pernah merasa membuat onar dengan seniornya itu. Keyla menunduk melihat ke arah foto-foto yang berserakan di lantai kelasnya karena dilempar. Ia menajamkan penglihatannya dan tubuhnya membeku. Ia mencoba untuk tetap berpikir positif dan hendak berjongkok mengambil lembaran foto itu untuk ia lihat secara pasti. “Gak usah liat, Key!” cegah Gaby panik menahan tubuh Keyla agar tak berjongkok. Keyla semakin curiga saat melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Gaby. Sahabatnya ini seolah takut tertangkap basah olehnya. Tanpa menunggu waktu lama untuk berdebat, Keyla memutuskan untuk melanjutkan niatnya tadi, mengambil foto itu. Saat satu foto ia lihat, tangan Keyla gemetar seketika. Gadis itu mendongak menatap pada sosok Giselle yang berdiri angkuh di depannya. Pandangan Keyla juga langsung teralihkan pada pelajar lainnya yang sejak tadi menjadi penonton. Sebagian besar dari mereka menatapnya remeh sembari tertawa kecil mengejek dan selebihnya hanyalah tatapan iba. “Apa maksud kamu?” ucap Keyla menatap intens pada manik hitam pekat milik Giselle. “Ya, gak ada maksud apa-apa sih,” sambut Giselle dengan santai sembari tertawa mengejek dan bertos ria dengan temannya. “MAKSUD KAMU APA?!” Gaby terkesima. Baru kali ini ia melihat Keyla marah hingga membentak seseorang. Selama ini tidak pernah ia melihat Keyla lepas kendali sampai membentak dan menatap tajam lawannya. Bahkan saat pandangan Gaby turun ke tangan Keyla yang terkepal, instingnya langsung mengatakan untuk Gaby mundur menjaga jarak dengan Keyla. Ia menatap manik Keyla yang selalu bersandar sayu nan sendu, kini berganti menjadi manik penuh amarah berkobar api. Keyla begitu menyeramkan jika dalam mode marahnya. Giselle sebenarnya sempat terintimidasi dengan tatapan Keyla, akan tetapi ia menahan dirinya agar terlihat tetap tenang di depan semua orang. Mau ditaruh di mana mukanya jika ia takut terhadap Keyla? “Lo tuli? Kan tadi gue udah bilang kalo gak ada maksud ap- AKH!” Keyla langsung berdiri dan mendorong kuat d*da Giselle hingga gadis itu berteriak sakit dan tubuhnya mundur beberapa langkah. Semua orang memekik kaget saat melihat perbuatan tiba-tiba yang dilakukan oleh seorang Keyla yang dikenal sebagai gadis lemah lembut dan penuh ketenangan. “Sekali lagi aku tanya, maksud kamu apa?” ucap Keyla dengan suaranya yang terdengar berat. Giselle merasakan sesak pada dadanya akibat dorongan kuat dari Keyla. Bahkan teman yang tadi bersama Giselle malah menjauh perlahan agar tak ikut kena semprot. “Ya, gu-gue cuma iseng doang.” “Iseng kamu bilang? ISENG?” PRANG! Keyla melemparkan pas bunga kaca yang ada di dekatnya tadi ke arah dinding. Beberapa pelajar perempuan berteriak histeris dan menjauh dari sosok Keyla yang terlihat menyeramkan. “Ya kan gue cuma- AKH!” Keyla menendang tulang kering Giselle hingga gadis itu terjatuh dan meringis sakit hingga terlihat ingin menangis. Wajahnya merah antara malu dan kesakitan. “Kamu gak ada hak buat nyebarin foto bunda aku!” “Yaelah, cuma foto doang!” sahut salah seorang pelajar yang menjadi penonton. Dilihat dari wajahnya, pelajar perempuan itu adalah teman sekelas dari Giselle dan merasa tidak terima saat teman sekelasnya diperlakukan kasar oleh adik kelas mereka. “Aku gak masalah kalo dia nyebar foto bunda doang, tapi bisa jangan pake caption yang ngejelekin bunda aku? Aku gak bisa diem aja kalo gini ceritanya!” amuk Keyla murka menatap tajam pada pelajar perempuan tadi dan kepada Giselle yang sudah menangis. “Yaelah, bunda lo itu kan emang buta. Terus apa salahnya bilang kalo bunda lo buta? Merasa terhina gitu? Apa jangan-jangan lo gak terima karena malu ngakuin wanita buta itu bunda lo?” ucap teman dari Giselle itu dengan memberanikan dirinya. Merasa mendapat dukungan dari beberapa pelajar, ia memiliki keberanian untuk membalas ucapan Keyla. “BUNDA AKU EMANG BUTA, TAPI GAK BOLEH ADA YANG NGEHINA FISIK BUNDAKU!” bentak Keyla dengan wajahnya yang memerah. Semua pelajar di sana mulai berbisik-bisik dan terhasut akan ucapan teman-teman pendukung Giselle yang mengatakan bahwa Keyla sudah keterlaluan karena melakukan k*******n terhadap Giselle. Apalagi saat melihat Giselle yang menangis, tentu saja mereka semakin berpikir buruk tentang Keyla. “Bunda lo buta, itu fakta. Terus buat apa marah? Gak terima bunda lo buta apa gak terima kalo kami semua tau kalo lo itu anak dari wanita cacat?” Keyla mengepalkan tangannya erat. Air matanya memaksa untuk keluar saat mendengar hinaan itu. Tidak masalah jika hinaan itu diarahkan untuknya, tapi tidak jika itu tentang keluarganya apalagi bundanya yang begitu ia sayangi. Gaby yang paham situasi langsung menahan lengan Keyla agar gadis itu tidak lepas kendali. Gaby takut Keyla akan melakukan hal yang lebih gila dari ini. Cukup sudah Gaby dikagetkan akan kemarahan yang pertama kali Keyla tunjukkan ke semua orang, ia tidak ingin melihat bagaimana puncak kemarahan Keyla yang sesungguhnya. “Dan juga kabarnya bunda lo buta karena lo, kan?” Deg. Tubuh Keyla menegang kaku saat mendengar ucapan teman Giselle itu. Tanpa sadar tubuhnya gemetar takut. Kejadian bertahun-tahun lalu kembali terekam jelas dalam memorinya. “Masuk akal sih kalo bunda lo buta gara-gara lo, secara lo kan pembawa sial.” “JAGA BICARA LO, YA!” Gaby mendorong tubuh teman Giselle hingga gadis itu terdorong menghantam pintu. “Kenapa? Orang gue ngomong bener kok. Tanya aja sama bokapnya dia. Gue pernah tuh liat bokapnya dia ngomong gitu langsung ke dianya. Kasian banget, nyokap udah cacat eh ditambah bokap benci gara-gara pembawa s**l. Ups.” Keyla tak bisa lagi menahan linangan air mata. Ia merasakan rongga dadanya begitu sesak sekali. Terbayang kembali olehnya saat di mana kejadian yang sudah cukup lama sekitar tiga bulan yang lalu. “Ayah!” panggil Keyla dengan wajah senang saat melihat Gio keluar dari toko kue hendak menuju mobilnya. “Yah, Key boleh ikut ayah pulang gak?” harap Keyla dengan wajah yang ia buat semelas mungkin. “Menjauh.” Keyla tetap kekeuh untuk tidak menjauh dan malah menghalangi langkah Gio untuk memasuki mobil itu. “Keyla mau nebeng pulang bareng sama Ayah.” “Saya bilang menjauh!” Tubuh Keyla tersentak kaget saat mendengar bentakan dari Gio. Bahkan beberapa pejalan kaki melihat ke arah mereka. Tubuh Keyla kini gemetar karena ketakutan yang amat besar. “Ma-maaf, Ayah.” “Saya bisa celaka jika satu mobil dengan anak pembawa sial.” Setelah mengatakan itu, Gio segera mendorong tubuh Keyla menjauh dari hadapannya dan segera memasuki kursi pengemudi, meninggalkan Keyla yang berdiri kaku dengan air matanya yang tak berhenti mengalir. “STOP!” Gaby berteriak murka saat bisikan tentang mengatai Keyla anak dari seorang wanita buta dan gadis pembawa s**l. Mereka yang mencela Keyla merupakan sebagian dari pelajar perempuan. Tentu jelas alasannya apa. Pertama karena merasa jengah dengan sosok Keyla yang selalu diagung-agungkan oleh pihak sekolah, lalu kedua karena mereka kesal pada Keyla yang mencuri perhatian pelajar laki-laki dan mengatakan bahwa Keyla tukang cari perhatian. “Key, key, lo enggak apa-apa?” cemas Gaby sembari mengguncang tubuh Keyla yang sejak tadi bergeming. “Tolong hina aku aja, jangan bawa-bawa bunda. Gak apa-apa kalo kalian mau hina aku asal jangan bunda,” lirih Keyla dengan tangisan menyedihkannya. Beberapa pelajar yang sejak tadi menonton merasa kasihan dengan Keyla dan kebanyakan dari mereka adalah pelajar laki-laki. Mereka akhirnya angkat suara untuk membela Keyla yang malang. “Kalian jangan gitu dong! Ini sekolah, kenapa bawa hal-hal yang gak selayaknya diomongin di sekolah.” “Iya, betul. Kalian gak punya hati?” “Jangan gitu dong, Keyla anak baik gak mungkin pembawa s**l. Buktinya dia kebanggaan sekolah kita.” “Iya tuh bener.” Banyak yang bersuara untuk Keyla. Mereka merasa iba dan berpikir logis bahwa hinaan itu tidak pantas dilontarkan untuk gadis sebaik Keyla. Akhirnya kelas itu dipenuhi akan suara-suara bising yang saling membela antara Keyla dan Giselle. Gaby memegang bahu Keyla dan membalikkan tubuh sahabatnya itu agar membelakangi mereka semua. Gaby yang merasa sedih dan ikut sakit hati segera memeluk tubuh Keyla yang sejak tadi hanya diam saja. “Key, lo gak apa-apa?” bisik Gaby sembari mengusap punggung Keyla teratur. “Enggak apa-apa kok,” balas Keyla dengan suara amat lirih. “Lo jangan sedih, Key. Di sini banyak kok yang bela lo. Ada gue, temen-temen sekelas, terus juga ada yang lain. Lo gak perlu ngerasa sedih apalagi takut.” “Tapi yang mereka bilang itu bener, Gaby. Ayah sendiri yang bilang kalo aku memang anak pembawa s**l,” ucap Keyla terdengar pilu. “Kalo aku bilang aku lagi gak baik-baik aja, apa boleh?” Gaby tidak bisa menahan tangisnya saat mendengar suara putus asa dari sang sahabat. Ia menangis sembari semakin mempererat pelukannya terhadap tubuh Keyla. “Boleh Key, Boleh. Gak usah terlihat sok tegar disaat lo sendiri lagi gak baik-baik aja. Gak apa-apa kalo lo mau nangis, ada gue yang bakal ada buat lo.” Keyla meraung menangis sehingga membuat perdebatan yang tadinya terjadi ricuh menjadi hening. Mereka merasa merinding saat mendengar tangisan pilu milik Keyla. Tak pernah sekalipun dari mereka berpikir bahwa Keyla akan menangis pilu seperti ini. Beberapa dari teman Giselle yang tadi membela Giselle mati-matian bungkam karena mendengar tangisan pilu Keyla. “Aku salah apa, By? Aku salah apa?” Atmosfer kelas tiba-tiba berubah mendung. Beberapa dari mereka merasa bersalah dan empati pada Keyla. Untungnya tidak lama dari situ terdengar suara guru yang datang dan membubarkan kerumunan. Gaby masih setia memeluk Keyla yang menangis. Gadis itu memberikan tatapan mautnya pada mereka yang memojokkan Keyla tadi. Ada rasa menggebu-gebu dalam diri Gaby untuk memberikan ganjaran pada para pelajar tadi. “Yang merasa membuat onar, segera ikuti saya ke kantor BK sekarang!” Gaby mengelus punggung Keyla. “Udah, Key. Nanti gue janji bakal bales perbuatan mereka sama lo lebih sakit dari ini.” Keyla tak merespon. Ia masih sibuk dengan perkataan buruk teman-temannya tadi “Gaby, emang salah ya kalo aku bela bunda? Aku gak mereka jelekin bunda, padahal bunda itu baik.” “Enggak kok, lo udah bener. Gue juga kalo jadi lo udah pasti bakal marah juga.” “Tapi apa bener aku pembawa si-” “GAK? Lo apa-apaan sih! Kok malah dengerin ucapan mereka. Apa lo gak sadar selama ini lo itu bintangnya sekolah? Siswi terpelajar dengan predikat prestasi terbanyak yang menyumbang banyak piala buat sekolahan ini. Gak mungkin kalo lo pembawa s**l, Key.” “Tapi ayah bilang gitu. Ayah gak mungkin bohong.” Hati Gaby merasa tersayat saat mendengar kalimat lirih yang menyakitkan itu keluar dari bibir Keyla. Keyla terlihat rapuh dalam pelukannya, membuat Gaby cemas untuk sekadar memeluknya lebih erat. “Itu gak bener!” Gaby melepas paksa pelukan itu dan menghapus air mata Keyla. Memberikan tatapan serius. “Udah jangan dipikirin. Lebih baik kita segera ke BK sebelum hukuman kita nambah berat.” Dengan berat hati Keyla membiarkan Gaby menubruk tubuhnya yang lesu menuju ruang BK. Ia pasrah akan apa yang akan ia dapati sebagai bentuk hukuman dari guru. Keyla pasrah dan hanya bisa berharap hukuman itu tak akan melibatkan orang tua. Ya, semoga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN