*** Suasana ruang makan malam ini terasa amat canggung. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Gita bahkan hanya diam sembari menerima suapan dari Gio. Entah kenapa wanita itu hanya diam saja, biasanya ia akan banyak bertanya pada Keyla tentang bagaimana hari yang putrinya itu hadapi. Apakah menyenangkan atau tidak. “Bunda,” panggil Keyla. Gadis itu merasa sedikit aneh dengan bundanya. Ada apa ini? “Iya, Nak?” “Bunda sakit?” “Iya, sedikit gak enak badan.” Keyla mengangguk pelan. Pantas saja bundanya hanya diam saja sejak tadi. “Besok pembagian raport,” ucap Keyla lagi dan kini bukan ia katakan pada bundanya, melainkan ayahnya. “Ayah bisa-” “Saya ada meeting besok pagi, jadi sepertinya tidak bisa.” Keyla terdiam. Ya, selalu saja ini alasan yang diberikan Gio padanya hanya agar tidak da

