*** Pagi yang Keyla harapkan nyatanya tak jadi kenyataan. Gadis itu berangkat sekolah dengan tampang lesunya. Ia tidak tahu harus berekspresi seperti apa lagi ketika kekecewaan ini kembali menghampirinya. Keyla merasa dirinya terlalu banyak berharap hingga akhirnya tenggelam dari rasa kecewa akibat hadapannya sendiri. Saat ia mendengar dari Bibi Inem tadi bahwa ayah dan bundanya tidak bisa datang ke sekolah, ia pikir itu hanya alibi ayahnya saja agar tidak jadi datang ke sekolahnya. Namun ketika ia melihat sendiri bundanya yang sedang di kompres, barulah ia tahu bahwa itu bukan sekadar alibi semata. “Tuhan jahat, ya? Padahal baru aja mau bahagia,” ucap Keyla dengan tersenyum pedih. Gadis itu berjalan sepanjang koridor dengan berat hati. Ia sudah terlanjur berkata pada Gaby bahwa orang tu

