*** “STOP, ADNAN!” Roby memisahkan Adnan dari Ferry. Laki-laki itu membantu Ferry untuk berdiri sehabis diberi pukulan telak di wajahnya yang dipelakui oleh Adnan. Roby menatap tajam pada Adnan dengan sorot mata tak menyangka. Sementara Ferry terdengar meringis pelan sembari menyeka darah di sudut bibirnya. Gi*la pukulan Adnan bukan main-main. ”Lo gi*la?! Ngapain lo nonjok sahabat lo sendiri?” ucap Roby setengah membentak. Ia menatap tak menyangka pada Adnan yang terlihat tak bersalah. “Dia cewek, gak baik lo deketin cuma karena kasihan.” “Oh jadi gara-gara tadi?” kekeh Ferry sembari menatap Adnan dengan tatapan meremehkan. “Lo cemburu?” ejek Ferry dengan senyum miringnya. “Gak.” Roby menggeleng dengan sikap yang ditunjukkan Adnan. Laki-laki itu amat sulit untuk ditebak. Dia suka ta

