*** “Kenapa nangis?” Keyla mendongak menatap sumber suara yang ternyata berasal dari Samuel. Laki-lami itu mengambil tempat duduk di depan Keyla sembari bertopang dagu menatap Keyla lamat-lamat seolah Keyla akan hilang jika ia mengalihkan tatapannya barang sejenak saja. “Kamu bolos?” Bukannya menjawab, Keyla malah balik bertanya. “Iya, kenapa? Kalo gue yang bolos mah udah biasa, guru juga udah pada banyak yang tahu. Kalau elo? Lo tuh anak teladan. Cukup tadi pagi bolos, sekarang mau bolos lagi? Lo gak takut image baik lo tercoreng? Nanti bisa-bisa gue yang disalahin banyak guru gara-gara deket sama lo dan dikira gue yang ngehasut lo jadi murid bandel,” oceh Samuel. Laki-laki itu terlihat sedang mengomeli Keyla. Ia khawatir, tapi ia tidak tahu harus bertanya atau tidak karena ia tahu it

