3 – Pertemuan Dua Cerita

2070 Kata
Tubuh dibersihkan dengan air. Jiwa dibersihkan dengan air mata. Akal dibersihkan dengan pengetahuan. Dan jiwa dibersihkan dengan cinta. -Ali bin Abi Thalib- ________________________________________ Di kamarnya, Sarah terlihat cemas dan gelisah. Ia mondar-mandir sambil menempelkan ponsel ditelinganya. Sudah sejak kemarin perasaan gundah ini menghampirinya. Pasalnya, Faris sulit dihubungi dan yang membuat Sarah semakin frustasi, kedua orang tua Faris juga tidak mengetahui di mana putranya sekarang. Kedua orang tua Faris memang tinggal di Brunei setahun terakhir ini untuk mengurus pekerjaan mereka dan katanya akan kembali sehari sebelum acara akad nikah sang putra. Sarah yang kebingungan, akhirnya memilih diam dan tidak memberitahukan kepada keluarganya bahwa Faris hilang kabar. Sarah takut, jika ia mengeluh satu patah kata bahwa ‘Faris tidak bisa dihubungi dua hari ini’ maka keluarganya akan melemparinya segudang kalimat yang mampu memojokkannya. Ini pilihan dan keinginan Sarah hingga mau tak mau Sarah harus menanggung semuanya. Sarahlah yang keras hati ingin menikah dengan kekasihnya itu. Sarahlah yang menentukan hari pernikahan mereka dan Sarah juga yang bersemangat mengatur semua kesiapannya. Jadi, Sarahlah yang harus menanggungnya, bukan? Sarah menghela nafas, tangannya gemetaran. Terakhir kali ia bertemu dengan Faris adalah seminggu yang lalu setelah memutuskan untuk memajukan tanggal pernikahan mereka. Faris tak berkomentar saat Sarah memutuskan hal itu hingga kemudian mereka pun dipingit seminggu ini. Tapi mengapa Faris juga menghilang ketika dihubungi? Sarah hanya ingin memastikan bagaimana kesiapan keluarga pria itu di sana, sebab persiapan di rumahnya hampir beres dengan sempurna. Di lantai bawah sana, yang rencananya akan mejadi lokasi akad nikah hampir selesai didekor. WO pilihan Sarah pun memboyong banyak karyawannya untuk membantai rumah Sarah dengan dekorasi yang super megah. Bahkan dekorasi yang Sarah dan Faris pilih merupakan produk terbaru, khusus dipesan untuk acara mereka. Jadi, belum ada dekorasi seperti yang digunakan di pernikahan Sarah ini sebelumnya. Sarah pun baru saja mem-booking makeup artist yang super handal untuk acara dua hari lagi. Sarah menggenggam ponselnya yang dua hari ini terasa tak berguna. Bagaimana bisa Faris tak bisa dihubungi saat hari pernikahan mereka sudah di depan mata? Bahkan keluarga Sarah yang dari jauh pun telah merapat ke rumah. Apakah hanya Sarah saja yang antusias dan mengurus semuanya? Ke mana Faris dan keluarganya? Rencananya, Sarah ingin mengajak Faris untuk mengantarkan undangan pernikahan hari ini kepada teman-teman mereka. Tapi nyatanya apa? Faris seakan hilang ditelan bumi, bahkan semua keluarganya juga tidak tahu di mana pria itu berada. “Kamu di mana sih?” lirih Sarah dengan mata berkaca-kaca. “Arggh, aku pusing! Mengapa bisa jadi  begini! Hikks....” Sarah menumpahkan linangan air matanya di ranjang. Ranjang di kamar yang besok akan didekor indah. *** Di sisi lain, satu hari sebelumnya Di sebuah rumah mewah, beberapa orang dewasa sedang terlibat dalam diskusi yang sedikit alot. Salah satu dari mereka terlihat cemas saat menyampaikan maksud kedatangan mereka ke rumah saudaranya ini. Yang lainnya pun tak kalah serius mendengar sautan demi sautan kalimat yang dilontarkan. Beberapa saat kemudian, pria berperawakan seperti orang Arab menghentikan pembicaraan mereka. Beliau menyarankan untuk menunggu seseorang yang menjadi isi pembicaraan mereka itu muncul. Semuanya pun mengangguk patuh menyetujuinya. Tak berapa lama setelahnya, sosok tampan yang ditunggu pun datang. Azhar menatap satu per satu anggota keluarga yang memenuhi ruang tamu di rumah orang tuanya. Orang tua dari Adzkia pun juga ada dan terlihat gelisah di tempatnya. Azhar mengucapkan salam kemudian mendekat ke arah mereka. Ia menyalami mereka satu per satu hingga memposisikan diri di kursi kosong di samping uminya. “Ada apa ini? Mengapa meminta Azhar kembali hari ini?” tanya Azhar dengan raut wajah bingung. Kemarin, orang tuanya menghubunginya dan memintanya kembali ke Indonesia. Katanya ada sesuatu yang penting untuk dibahas. Pagi-pagi sekali, Azhar pun mem-booking tiket keberangkatan dan meninggalkan pekerjaannya di sana. Beberapa menit berselang, belum ada yang bersuara menimpali pertanyaan dari pria tampan keturunan Timur Tengah itu. Mereka hanya bisa saling pandang untuk mempersilakan siapakah yang akan mengutarakan maksud lebih dulu. Hingga sebuah suara memecahkan keheningan, “Sebenarnya kami ingin meminta bantuanmu, Azhar. Apakah kau bersedia membantu kami?” Ayah Adzkia bersuara, membuat Azhar memutar arah pandang ke sudut kirinya. “Insya Allah. Jika memungkinkan untuk membantu, maka Azhar siap membantu, Paman,” jawab Azhar dengan sopan lalu melanjutkan kembali perkataannya, “sebenarnya, bantuan apa yang bisa diberikan oleh keponakanmu ini?” Seketika, semuanya kembali terdiam. Tak ada yang ingin bersuara setelahnya, bahkan ayah dari Adzkia terlihat mengatup bibirnya rapat-rapat. Kemudian, terjadi pergerakan di sebelah pria paruh baya itu. Ibu Adzkia memberanikan diri untuk membuka suara karena melihat keraguan dari suaminya. “Azhar, putra saudara kami, Bibi mohon padamu dengan segenap hati, menikahlah dengan Adzkia. Putri kami.” Deg Azhar mematung setelah mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh wanita di samping pamannya itu. Ibu Adzkia kembali melanjutkan perkatannya tanpa menghiraukan keterkejutan dari sang keponakan. “Gagalkan rencana pernikahan Adzkia dengan kekasihnya. Kami baru mengetahui bahwa kekasih Adzkia bukanlah orang yang baik, dia pria yang telah beristri bahkan memiliki anak. Tapi, Adzkia tidak mempercayai perkataan kami." Ibu dari Adzkia itu kembali terdiam setelah mengutarakan maksudnya dengan jelas. Azhar masih tak percaya dengan indera pendengarnya dan lebih tak percaya dengan permintaan bibinya itu. Menikahi Adzkia yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, terlebih lagi menggagalkan pernikahan Adzkia dengan orang yang dicintainya? Jika itu adalah Sarah, maka tanpa pikir panjang Azhar akan langsung menyetujuinya. Tapi ini bukan. Ini Adzkia, kakak sepupu jauhnya yang juga merupakan rekan sesama dosennya. “Kia pernah mengatakan bahwa dia mencintaimu. Dia kerap mengungkapkan tentangmu pada Bibi. Jadi, hanya kamu yang mampu membantu kami. Jika itu kamu, maka Kia tak mungkin menolak rencana ini. Gagalkanlah, Azhar. Kami mohon sekali ini saja, toh kau juga tak memiliki seseorang yang kau cintai, bukan?” ucap Ibu Adzkia dengan mengiba. Azhar menatap serius mata sayu bibinya, lalu pandangannya berpindah pada abinya. Abinya mengangguk, berarti sang abi menyetujui permintaan Ibu Adzkia itu. Terakhir, pandangan Azhar bertumpu pada wanita yang berada tepat di sampingnya. Uminya menggenggam erat tangannya, berusaha memberi kekuatan untuk sang putra. Hanya uminyalah yang mengetahui bahwa Azhar sedang memperjuangkan seseorang sejak lama dan sekarang, seseorang itu diketahui telah menjadi kekasih bahkan calon istri orang lain. Azhar bingung, bagaimana dia harus bersikap sekarang? Menyetujui permintaan keluarganya untuk menikahi Adzkia hingga terpaksa mengubur dalam-dalam rasa cinta dalam diamnya pada Sarah ataukah menolak permohonan keluarganya hingga terus mengharapkan Sarah tanpa keyakinan akan berakhir indah ataukah sebaliknya? *** Keesokan harinya Sarah yang ditemani sahabat baiknya telah mendarat di negara tetangga, Singapura. Perasaan Sarah masih sekacau kemarin-kemarin. Sarah kecewa, namun ia simpan sebelum memastikan sendiri kebenarannya. Sarah tidak langsung percaya pada apa yang disampaikan bawahan Faris. Tapi, potret yang sedikit buram itu seakan nyata adanya. Faris terlihat sedang berduaan dengan seorang wanita dan bermesraan pula di negara ini. Mana mungkin Faris bisa begitu saat Sarah tengah cemas akan kelangsungan acara mereka. Apakah Faris setega itu menyakiti Sarah? Apakah Faris tidak berniat untuk melanjutkan rencana pernikahan mereka? Jika memang begitu, mengapa tak dari awal saja? Mengapa harus didetik-detik menjelang waktu yang telah ditentukan ini? Sarah semakin terisak. Shakilla---sahabat sedari kecilnya itu dengan penuh sayang dan kesabaran menenangkannya. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju lokasi yang diberitahukan oleh Beril, bawahan Faris di Agensinya. Beberapa waktu berselang, dua wanita cantik ini pun sampai di Hotel XYZ. Shakilla membimbing Sarah yang masih menampakkan guratan kesedihannya. Keduanya pun menyambangi meja resepsionis untuk meminta sedikit informasi darinya. Shakilla terlibat obrolah dengan resepsionis cantik itu menggunakan bahasa Inggris. Saat Shakilla menyebutkan satu nama yang tengah mereka cari, Resepsionis itu terlihat kebingungan, sebab penghuni hotel yang memakai nama Faris ada beberapa orang. Lalu, Sarah menyerahkan ponselnya yang menampilkan gambar Faris dengan wajah yang terlihat jelas. Beberapa menit mencermati, akhirnya resepsionis itu mengangguk paham. Sambil menerima kembali ponselnya, Sarah dan Shakilla mendengar penuturan si Resepsionis mengenai pria yang mereka cari. Selesai mendengar penuturan tersebut, seketika Sarah memegang d**a sebelah kirinya. Di sana terasa begitu sakit dan menusuk. Ini Farisnya. Ternyata Faris benar berada di Singapura, di hotel ini pria itu menginap. Faris sengaja menghilangkan dirinya bahkan saat besok siang adalah acara syakral mereka. Air mata Sarah kembali berlinang. Farisnya telah berubah, Farisnya telah mengecewakannya dan satu hal lagi yang harus Sarah pastikan, yaitu bersama siapakah Faris di sini? Shakilla meminta Resepsionis tersebut untuk mempertemukan mereka dengan Faris. Lalu, Resepsionis itu mengatakan bahwa orang yang mereka cari sedang keluar dan mungkin saja akan segera kembali. Sarah dan Shakilla memilih untuk menunggu Faris di lobby hotel. Harap-harap cemas menanti kedatangan pria itu.  Pikiran Sarah kosong, bahkan kesibukan diponselnya tak ia hiraukan. Dapat dipastikan bahwa saat ini keluarganya sedang mencemaskan dirinya. Sarah hanya pamit untuk bertemu Faris dan tidak mengatakan keberangkatannya ini. Keluarganya pun bingung dan sempat bertanya-tanya mengenai alasan Sarah ingin menemui Faris di luar. Mengapa tidak di rumah saja dan Faris yang datang sekaligus memantapkan pengucapan ijab qabulnya besok? Hal itu menambah beban dipikiran Sarah hingga harus memutar otak untuk menimpalinya. Sarah melirik ponselnya sekilas, di sana terdapat banyak sekali pesan masuk yang salah satunya dari Mama Faris---calon mertuanya. Bingung harus bagaimana, Sarah memilih menonaktifkan ponselnya daripada beban pikirannya bertambah berat. Kemudian, saat Shakilla sedang izin ke toilet dan meninggalkan Sarah sendiri di kursi lobby, tanpa sengaja Sarah menemukan sosok yang ia tunggu-tunggu kedatangannya. Sungguh kenyataan ini begitu kejam. Mengapa orang yang Sarah cintai dan begitu Sarah agung-agungkan tega menghantamnya dengan pemandangan ini? Mengapa tidak sejak awal saja Faris jujur padanya dan mengapa harus sekarang Sarah mengetahuinya?  Ya Allah, besok adalah hari bahagiaku. Pria itu seharusnya sedang serius latihan mengucapkan ijab qabul sekarang. Tapi apa ini? Faris terlihat memeluk seorang wanita cantik. Wanita itu dengan berani mencium Faris di tengah keramaian lobby hotel, Faris bahkan tidak menolaknya. Faris membalas perlakuan wanita itu dengan lebih berani lagi. Air mata Sarah tak mampu dibendung lagi. Sarah menekan nyeri didadanya sembari berdiri. Dengan langkah lebar, ia membawa tubuh rapuhnya menuju kedua orang itu. Plak! Plak! “b******k!” “PRIA s****n!” “SAMPAH!” teriak Sarah dengan meluapkan kemurkaannya. Faris menahan perih diwajahnya. Ia sangat terkejut melihat Sarah yang telah berada di hadapannya. Dengan gugup, ia pun bersuara, “K-kamu d-di-di sini?” Sarah menatap Faris tajam. Saat Sarah ingin kembali menampar pria itu, tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh wanita yang bersama Faris. “Ngapain kamu tampar pacar orang, hah!” bentak wanita itu dengan berani. Nyalang matanya seperti menantang Sarah terang-terangan. Sarah tak menimpali ucapan wanita itu, mendengarnya saja membuat Sarah muak hingga Sarah beralih menerjang wanita berpakaian tidak sopan tersebut. Sarah mengenalinya. Dia Bella, model baru di Agensi Faris yang mulai bergabung sejak beberapa bulan yang lalu. Bellalah yang sering menggantikan Sarah ketika Sarah membuat ulah, seperti menolak saat diminta berpose liar dengan pakaian yang menantang. “Hei, betina! Kamu sama brengseknya dengan pejantan ini!” ejek Sarah disela amukannya yang sedang tarik-menarik rambut dengan wanita bernama Bella itu. Faris terlihat bingung hendak membela yang mana. Dengan menahan perih diwajahnya, Faris memilih berada di tengah untuk melerai keduanya. Namun- Plak Sarah kembali menitipkan tangannya diwajah Faris dan hal itu membuat Bella geram. Bella mengangkat tangannya dan hendak menampar Sarah balik. Namun sayang, tangannya tak sampai menyentuh wajah Sarah. Tangannya ditahan oleh seorang pria tak dikenal yang baru saja menghampiri mereka. “Maaf, sebaiknya jangan membuat keributan di sini. Apa tidak malu dengan tamu hotel yang lain?” ucap pria itu seraya menurunkan tangan Bella. Faris pun menyadari bahwa sekarang mereka telah menjadi bahan tontonan. Tanpa memperhatikan siapakah pria yang sudah berani ikut campur dalam masalah mereka, Faris bergerak mendekati Sarah yang sedang terisak. Tanpa tersentuh sedikitpun, Faris melepas cincin dari jari manisnya. “Maafkan aku, Sarah, aku tidak mencintaimu lagi dan aku memilih Bella daripada melanjutkan pernikahan kita besok. Aku tidak ingin kau menyesal nanti. Jadi, sebaiknya kita batalkan saja acara kita. Nanti, akan aku jelaskan pada keluargamu dan untuk sekarang, tolong kamu yang menjelaskannya. Maaf menyakitimu karena aku tak bisa bersamamu lagi. Kita selesai!” Setelah mengatakan itu, Faris menggenggam tangan Bella dan berniat ingin menyerahkan cincinnya kepada Sarah. Sarah menyeka air matanya seraya menepis kasar cincin itu hingga terpental ke lantai. Kemudian, Sarah memutar badannya untuk meninggalkan hotel ini. Namun, tanpa sadar ia menyenggol pria asing yang tadi menghentikan keribuatan mereka. Tubuh Sarah terhuyung dan hampir saja menyentuh lantai. Untung saja pria itu menahan tubuhnya hingga Sarah kembali berdiri tegap. “Terima kasih,” lirih Sarah sambil menyeka air matanya. Sarah pun melepaskan tangan pria itu dari pundaknya. Tanpa melihat siapa pria tersebut, Sarah melangkah cepat untuk meninggalkan tempat ini. Shakilla yang baru saja kembali dari toilet menatap bingung Sarah hingga mengejarnya setelah mengambil kembali tas sang sahabat yang tertinggal di kursi lobby.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN