4 – Keputusan dan Resiko

1521 Kata
“Boleh jadi kamu mencintai sesuatu padahal se­suatu itu amat buruk bagimu, dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu. Kamu tidak menge­tahui sedangkan Allah Maha Mengetahui” (QS. 2:216) _________________________________________ Setelah mendengar permintaan dari Bibi dan pamannya, permintaan untuk menikahi Adzkia dan menggagalkan rencana pernikahan wanita itu dengan Andra---kekasihnya, Azhar merasakan kebimbangan yang amat luar biasa. Disatu sisi ia ingin membantu, apalagi kenyataan yang baru didengarnya adalah Adzkia pernah menyimpan rasa padanya. Azhar masih tak percaya, sebab Adzkia yang dewasa sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Namun, di saat Azhar berusaha meyakinkan hatinya untuk mengabulkan permintaan dari orang tua Adzkia, ia kembali dibayangi nama 'Sarah'. Meski sebulan ini belajar melupakannya, tak jarang hati Azhar terasa nyeri saat bayangan gadis itu tiba-tiba muncul dipelupuk matanya. Azhar tahu ini salah, tak sepantasnya ia begini. Namun, sisi hatinya mengatakan bahwa ia benar, sebab yang salah itu adalah ketika ia menginginkan orang yang ia cintai harus mencintainya bahkan harus menjadi miliknya, itulah kesalahan terbesar dalam cinta. Umi yang menjadi tempat Azhar berkeluh kesah mengenai masalah ini, memberinya pengertian. Wanita itu mendukung apapun keputusan Azhar bahkan ikut menyetujui jika nantinya sang putra harus menolak permintaan Paman dan bibinya. Hingga di sinilah Azhar sekarang, di sebuah hotel bintang lima. Ia hanya pulang dan berada di Indonesia sehari, yaitu untuk mendengar permintaan mereka. Azhar meninggalkan kediaman Umi dan abinya lagi demi pekerjaannya yang tak bisa ia tinggalkan barang sehari pun. Azhar pergi setelah berjanji pada keluarga Adzkia bahwa akan memberikan jawaban atau keputusan atas permintaan mereka besok, setelah pekerjaannya hari ini rampung. Sejak mendengar permintaan mereka, Azhar langsung mengerjakan sholat istikharah. Menengadahkan tangan bermunajad kepada-Nya, berusaha meyakinkan hati, berusaha memetik sebuah gambaran yang mampu meneduhkan hatinya ketika nanti kalimat apa yang akan ia utarakan kepada Paman dan bibinya itu. Sebab Allah sen­diri telah berfirman: “Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka jawablah bahawa Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Ku.“(QS. 2:186) Dengan ayat tersebut Allah memberikan harapan yang sebesar-besarnya bahwa setiap do’a yang disampaikan pada-Nya akan dikabulkan. Allah tidak mungkin mungkir janji, siapa yang paling tepat janjinya selain Allah? Dalam sebuah hadis riwayat Abu Da­wud, Tarmizi dan lbnu Majah, Rasul pun bersabda tentang masalah doa, “Sesungguhnya Allah malu terhadap seseorang yang menadahkan tangannya berdoa meminta kebaikan kepada-Nya, kemudian menolaknya dalam keadaan hampa”. Azhar menyambut salam dari beberapa tamu yang baru saja sampai. Hari ini ia menghadiri acara resmi pembukaan Restoran baru yang berada di lantai 3 hotel. Sebenarnya, Azhar lelah berpindah-pindah antara Singapura-Indonesia dan sebaliknya. Ia berencana untuk kembali menetap di Indonesia setelah berumah tangga nantinya, namun kapan? Dan siapa yang dapat ia ajak untuk meyempurnakan separuh agama ini? Apakah Sarah? Seseorang yang telah lama menghuni do’anya? Ataukah Adzkia, kakak sepupu yang harus ia nikahi atas permintaan orang tuanya? Entahlah. Jika Sarah, Azhar tak yakin gadis itu menyisakan ruang di hatinya. Kemungkinan, Sarah telah mengatur pernikahannya sekarang. Sebab, yang terakhir kali Azhar dengar dari Riqhad, Sarah telah bertunangan dengan kekasihnya. Azhar juga yakin pria beruntung itu adalah pria yang sama dengan yang ia temui saat di Bali beberapa bulan yang lalu. Azhar mulai menutup telinga dan memejamkan matanya jika itu mengenai Sarah. Ia tak lagi ingin mengetahui tentang gadis itu. Namun, saat mata dan telinga mampu ia jaga, ada hati yang takbisa ia kelola dan diatur semaunya. Hanya Pemiliknyalah yang mampu membolak-balikkannya. Hingga di dalam sana, masih tersisa ruang untuk Sarah yang mungkin tak mampu Azhar geserkan. Azhar kembali tersenyum menyambut sapaan dari tamu hingga langkah membawanya ke lantai dasar. Ia berinisiatif meninggalkan tempat acara ini lebih dulu, sebab harus kembali ke kampus untuk melaksanakan pengabdiannya. Beberapa saat kemudian, tubuh Azhar telah berada di lobby hotel. Ketika langkahnya ingin diarahkan ke pintu masuk, kakinya terasa kaku. Ia tak ingin beranjak, sebab seseorang yang menghampiri penglihatannya tak mampu ia abaikan begitu saja. Sarah, satu kata yang terbentuk dari lima huruf penuh makna. Jika disebutkan ‘Sarah’ maka itu ibaratkan sandi yang mampu menggerakkan anggota tubuh Azhar. Buktinya, kakinya tanpa diminta melangkah menuju gadis itu. Jantung Azhar berdegup memanggil namanya, pikiran Azhar dipenuhi olehnya, mulut Azhar melafalkan namanya hingga sepasang mata ini berhasil membingkainya dengan sempurna. Azhar berhenti tak jauh dari Sarah berada. Sarah terlihat bersedih di kursi lobby dengan seorang diri. Azhar hanya bisa menatapnya dari sini hingga kemudian ia melihat suatu pergerakan dari gadis itu. Tubuh ringkih Sarah berdiri tegap, melangkah mendekati dua orang yang terlihat mesra hingga tangan Sarah bersarang di wajah salah satu dari mereka. Azhar masih memperhatikan dengan beragam dugaan dipikirannya. Sarah kenapa? Pria itu siapa? Mengapa Sarah ada di sini? Kenapa Sarah bersedih? Hingga mengapa Sarah menumpahkan kemurkaannya pada dua orang di depannya? Dari posisi sekarang, Azhar bisa mendengar semuanya. Tidak, Azhar bahkan bisa melihat semuanya. Sarah menyebut pria itu 'b******k' dan memakinya dengan u*****n tak pantas lainnya. Kaki Azhar hendak mendekat, namun berusaha ia tahan. Hingga saat tangan seorang wanita ingin menyentuh wajah Sarah, Azhar pun maju tanpa ragu. Azhar menghentikan wanita itu hingga dapat ia saksikan kesedihan dan kekecewaan Sarah terhadap mereka. Azhar menyaksikan semua itu dengan jarak sedekat ini. Pria itu---Faris, calon suami Sarah dan wanita yang bersamanya adalah selingkuhannya. Pria itu menghianati Sarah, menghianati wanita yang begitu berharga untuk didapatkan, wanita yang berada nyaman dihatinya. Azhar ingin marah, ia ingin memaki Faris, tapi ia sadar siapakah dirinya ini? Punya hak apa Azhar akan itu? Kemudian, Faris menyerahkan cincin dari jari manisnya kepada Sarah dengan inti ucapan bahwa dia membatalkan pernikahan mereka yang direncanakan besok. Besok? Deg Besok! Kinerja otak Azhar terhenti. Jika saja tak begini, jika saja Faris tak bersikap b******k maka harapannya pada Sarah benar-benar tertutup sempurna besok, sirna. Ada sedikit kecerahan di sisi hati Azhar mengetahui hal ini, hari ini. Namun, saat ia pandangi wajah terluka Sarah, ia menyadari bahwa Sarah begitu mencintai Faris. Sisi hati Azhar yang lainnya pun ikut merasa terluka karenanya. Sarah terlihat lemah dan hampir merosot jatuh saat gadis itu hendak melangkah pergi setelah menepis tangan Faris. Azhar menahan tubuh gemetarnya agar Sarah tak luruh ke lantai. Azhar menyentunya, kulit Azhar mengenai pundak Sarah. “Terima kasih,” lirih Sarah. Kata pertama yang Azhar dengar langsung dari bibir Sarah. Kata yang dituju hanya kepadanya. Azhar melepaskan tubuh Sarah hingga seorang wanita lainnya terlihat mengejar gadis itu setelahnya. Azhar menghela nafas sambil memandangi kepergian Sarah. Pria yang telah mengecewakan Sarah itu pun telah melenggang pergi bersama wanita pilihannya. Wanita yang ia pilih dengan membuang wanita yang Azhar inginkan. Setelah punggung bergetar Sarah menjauh, Azhar langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. “Pesankan tiket ke Indonesia untuk besok. Tiket paling pagi, keberangkatan paling awal!” titahnya. Kemudian, Azhar mencari kontak lainnya yang akan ia hubungi. Dengan penuh keyakinan, ia pun memantapkan diri. Ya Allah, semoga yang aku pilih ini adalah benar. Ridhoi aku dengan rahmat kasih sayang-Mu. *** 09:00 WIB Setelah semalaman dihantui kegundahan yang hakiki, subuhnya, Shakilla membantu Sarah bersiap-siap karena mereka akan terbang kembali ke Indonesia. Untung saja mereka bisa mendapatkan tiket keberangkatan kedua dari Changi Airport. Sarah tak lagi menangis karena sumur air matanya terasa kering sehabis tertumpah ruah. Namun, ia masih mamasang raut bersedih dan beragam rasa takut memenuhi dirinya. Bagaimana nanti ketika sampai di rumah? Apa yang akan ia sampaikan pada orang tua dan sanak saudaranya? Bagaimana jika Sarah tiba sedangkan rumahnya sudah dipenuhi banyak orang yang akan menyaksikan prosesi akad nikahnya? Sarah memejamkan matanya, beberapa jam lagi seharusnya ia dan Faris duduk bersanding dengan ikatan baru. Namun, tepat beberapa waktu lagi Sarah akan mencoreng wajah orang tuanya. Sarah akan mempermalukan keluarganya di hari yang seharusnya ia bahagia. Di dalam taksi, Sarah mengaktifkan kembali ponselnya. Panggilan dari mamanya langsung tertampil dilayar ponselnya sesaat kemudian. Sarah pun menguatkan diri untuk menjawabnya. “Di mana?” tanya suara di seberang sana. “Sarah di jalan, Ma. Bentar lagi nyampe.” Sarah menjawab dengan berusaha menahan tangis yang ingin meledak kembali. Ia menunggu reaksi sang mama. Dari kemarin, Sarah tidak bisa dihubungi hingga meminta Shakilla ikut diam jika ditanya. Karena ponselnya ia nonaktifkan, pasti mamanya memiliki banyak pertanyaan yang ingin diutarakan. Namun, dugaan Sarah salah. Mamanya malah berkata santai, “Baiklah. Hati-hati. Mama tunggu.” Hanya itu. Serius hanya itu? Hingga Sarahlah yang menjadi bingung sendiri. Sarah pun lebih memilih untuk membuka pesan dari orang tua Faris daripada membuka pesan dari yang lainnya, padahal begitu banyak pesan masuk diponselnya ini. Pesan dari mamanya Faris yang belum ia buka sejak kemarin. “Maaf, Sarah. Maafkan Faris. Maafkan putra kami. Dia sebenarnya telah menghubungi Mama kemarin dan mengatakan niatnya untuk membatalkan pernikahan kalian. Jujur, Mama tak percaya hingga menganggapnya bercanda. Namun, saat dia menjelaskan semuanya, kami syok. Kami sekeluarga sangat kecewa, kami marah, kami tak menyangka akan begini jadinya. Untuk itu, kami mohon maafkan kami yang sebesar-besarnya.” Air mata Sarah kembali luruh. Mereka semua menganggap hati dan perasaan Sarah ini seperti mainan saja.  “Sarah, kamu yang sabar ya. Ingat ada Allah tempat meminta pertolongan, keluhkan semuanya pada Dia yang Maha Bijaksana.” Shakilla memeluk tubuh gemetar Sarah hingga taksi yang mereka tumpangi sampai di rumah megah yang telah disulap dengan dekorasi yang mewah. Tetapi sayang, dekorasi indah itu harus menjadi arang yang mencoreng keluarga Sarah hari ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN