Pagi itu aku melihat wajah Reni pucat. Pagi-pagi sekali sudah ada di ruang tengah. Tumben, pikirku. Aku tetap melanjutkan langkahku ke dapur. Baru saja aku hendak membuka pintu kamar mandi. Adik iparku tersayang berlari dari ruang tengah dan menyerobot. “Mbak, Rum! Aku duluan!” pekiknya sambil terus menutup pintu dengan keras. Aku tersenyum geli. Akhirnya aku memanaskan air untuk membuat kopi. Mas Harso baru saja menyelesaikan sholat shubuh dan masih di kamarnya. Ali datang dari dalam dengan sudah mengenakan seragam. “Mbak, Rum! Aku boleh pinjem duit dulu gak?” Tumben Ali pinjam uang padaku. Aku melirik wajahnya yang sudah segar. “Tumben Li? Buat apa?” tanyaku. “Mau berobat ke dokter, Mbak! Dari malem, Reni bolak balik terus ke kamar mandi! Dia udah pucet sama lemes banget!” Dia

