“Harso, Reni kan masih sakit! Selama dia belum pulih, saya akan merawatnya di rumah kalian!” ucap Tante Haminah sambil menatap suamiku. “Apa?! Ide gila macam apa ini? Reni seenak hatinya mengajak orang lain tinggal di rumahku?” Aku maju selangkah mendekat pada kedua ibu dan anak itu. Kutatap lekat wajah Reni yang terlihat memang masih pucat. “Ren, alhamdulilah kalau Ibu kamu mau ikut rawatin kamu! Kebetulan Mbak sudah bayarin kontrakan buat kalian tinggal nanti, sayang kalau gak ditempati! Itu Mbak kasih gratis buat kamu di bulan pertama, ya itung-itung tanda sayang kakak buat adiknya,” ucapku sambil tersenyum dan mengerling pada adik iparku itu. Enak saja mau ajakin pasukan tinggal. Yang ada bisa jantungan aku menahan kesal. Sepertinya perangai Tante Haminah tidak jauh berbeda deng

