"Apa sebaiknya aku pergi saja temui Mas Bagas sekarang. Setidaknya aku mencoba baik padanya. Siapa tahu dia mulai luluh." ucap Fina. Mencoba untuk tersenyum tipis. Dia menghela napasnya. Dan, mulai bertekad untuk pergi. Salam satu tarikan napasnya. Fina membuka pintunya. Dia terdiam sejenak. "Sepertinya jangan, dia pasti marah sekarang jika aku dekat-dekat dengannya." Ucap Fina. Dia menutup pintunya kembali. *** Dan, Berbeda dengan Bagas. Dia terdiam di kamarnya. Bingung apa yang harus dia lakukan. Meski sebenarnya dia mulai ada rasa dengan Fina. Tapi, keluarganya lebih penting dari perasaannya. Rasa dilema membaut Bagas keras tersiksa. Disisi lain, dia masih belum bisa melupakan sepenuhnya kenangan bersama dengan Indah. Bagas han6a diam, duduk di rahangnya. Kedua tangannya mengusap

