Sama-sama sibuk di dapur, terdapat perbedaan bahan-bahan yang diolah Fazia dan Delisha untuk membuat camilannya masing-masing. Delisha yang merupakan seorang dokter, tentu mengutamakan gizi dan kebersihan dalam pengolahan, berbeda dari Fazia yang lebih mementingkan soal cita rasa.
Tidak memerlukan banyak waktu dan tenaga, Delisha sudah selesai membuat dua porsi spinach mancha, bayam muda yang dicampur yogurt segar. Dia juga membuat dua gelas lime squash, campuran jeruk nipis, soda dan daun mint untuk disuguhkan kepada calon suaminya, Mirza Kalandra Rajasa.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Fazia selesai membuat kentang keju, bakwan jagung, dan banana pom pom serta avocado yogurt smoothies yang dia kerjakan seorang diri. Citra tentu ada di sana, hanya saja dia lebih asyik bertukar pesan bersama Kenzo ketimbang sibuk mengolah beberapa camilan.
Fazia mengumpulkan makanan dan minuman buatannya di atas nampan, lalu menyusul Delisha yang sudah lebih dulu pergi ke lantas atas. Citra ada di belakangnya, berjalan sangat lamban dan tetap sibuk dengan ponselnya. Wajar saja, dia ketinggalan jauh oleh temannya yang berjalan lebih cepat.
Langkah Fazia terhenti di ujung tangga, hatinya terenyuh seakan rindu melakukan kegiatan yang pernah dia lakukan lima bulan yang lalu, tapi kini dilakukan oleh Delisha, yaitu menyuapi Mirza yang sedang bermain game! Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca, tangannya pun sedikit bergetar.
“Fazia?” Delisha merasa aneh mendapati Fazia yang mematung. “Ngapain kamu diem di situ?”
“I—iya, Kak?” Fazia tergagap kaget, malu.
Mirza sempat melirik Fazia sekilas, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke layar televisi.
“Duduk sini.” Delisha menepuk-nepuk sofa di sampingnya yang kosong. “Citranya di mana?”
“Kita duduk di tempat lain aja, yuk, Zi. Males lihatin game gitu,” sahut Citra yang baru saja muncul di belakang tubuh Fazia.
“Sini aja.” Delisha tak sungkan merengek manja, ingin Fazia dan Citra bergabung di sana. “Jangan game, dong,” ucapnya pada Mirza.
“Udah lama gak main game.” Mirza bergeming, masa bodoh mereka suka atau tidak pada game-nya.
“Kayak anak kecil tau.” Citra mencibir, terpaksa duduk di samping kakaknya.
“Banyakin makan sayuran gini.” Delisha lanjut menyuapi spinach mancha ke Mirza.
“Kalo mentah ya gak enak.” Mirza mengeluh, terpaksa membuka mulutnya.
“Biasain makanya.” Delisha tampak gemas.
“Dih, main comot aja!” gerutu Citra saat Mirza mengambil kentang keju di piringnya.
“Nyobain, dong.” Delisha memajukan tubuhnya untuk meraih camilan yang dibuat Fazia. “Enak,” pujinya sambil manggut-manggut, bakwan jagung memang kesukaannya.
Fazia memilih diam, padahal sudut matanya tak henti memperhatikan Mirza. Selain asyik bermain game, pria itu juga tak henti-hentinya mengambil camilan di piring Citra. Apa dia tahu camilan itu buatannya? Fazia merasa hatinya dipenuhi bunga-bunga indah dan kupu-kupu yang beterbangan.
Mirza tentu tak tahu siapa yang membuat camilan, setahunya ketiga wanita itu membuatnya bersama-sama. Wajar saja dia menghiraukan larangan Citra karena mengira Delisha ikut andil mengolahnya. Melirik minuman kesukaannya yaitu alpukat, dia juga meraih dan meminumnya tanpa bertanya.
“Itu punya Zia!” pekik Delisha dan Citra secara bersamaan.
“Uhuk ....” Mirza tersedak minuman yang dia minum seenaknya.
“Punya kamu 'kan yang ini. Udah aku bikinin.” Delisha mengambil lime squash, lalu menunjukannya pada Mirza. “Aku bikinin yang baru, ya. Yang ini udah terlanjur diminum sama Mirza,” ucapnya pada Fazia dengan mimik tak enak.
“Gak apa-apa, Kak. Aku bisa minta punya Citra.” Fazia tersenyum tidak keberatan, sementara Citra malah mendekap minumannya sendiri seolah tak mau berbagi.
“Lagian kamu main minum aja punya orang. Terus yang ini gimana? Mau diminum, gak?” Delisha mengoceh kesal pada Mirza bercampur tak enak hati pada Fazia.
“Asem, Lisha.” Mirza menampilkan wajahnya yang memelas.
“Tapi 'kan bagus buat kesehatan kamu.” Delisha mendelik kesal.
“Aku aja yang minum.” Fazia menawarkan diri, secara tidak langsung ingin menggantikan Mirza.
“Punya maag atau gerd, gak?” Delisha ingin memastikan sesuatu lebih dulu.
“Gak ada, Kak.” Fazia menggeleng lemah.
“Maaf, ya.” Delisha baru menyodorkan minuman itu pada Fazia.
“Gak masalah.” Fazia kembali tersenyum lembut.
Syukurlah, sikap Mirza dan Delisha terbilang normal dan biasa saja, tidak terlalu romantis ataupun sebaliknya. Mungkin karena mereka sudah sama-sama dewasa hingga tidak membesarkan hal-hal romantis, Fazia tak tahu, yang jelas hatinya cukup tidak tersiksa dengan kegiatan mereka berdua.
Berdampingan dengan perginya Mirza untuk mengantarkan Delisha pulang, Fazia mendapat panggilan dari ibunya sebelum Citra mulai bercerita tentang pertemuannya bersama Kenzo hari ini. Jujur saja Fazia malas menjawab, sudah tahu apa niat ibunya menelpon. Namun, akhirnya dia tetap menjawab.
“Assalamu'alaikum.”
“Zia, Ivan harus bayar biaya renang ke sekolahnya. Ibu gak ada lagi uang, Bapak—”
“Kemarin-kemarin 'kan aku udah kirim uang lima ratus ribu.”
“Udah abis. Lagian yang dipake sama Ibu cuma dua ratus, yang tiga ratusnya sama Bapak.”
“Aku gak ada lagi uang, Bu.”
“Masa gak ada lagi? Kamu 'kan dapat uang beasiswa gede. Jangan pelit sama keluarga, apalagi sama orang tua.”
“Bukan pelit, tapi aku harus pinter-pinter ngatur keuangan biar—”
“Belum lagi 'kan kamu kerja. Masa dimintai tolong gak bisa? Kasian adik kamu mau renang gak punya uang. Desi juga kemarin nangis-nangis mau sepatu baru, cuma Ibu mentingin buat Ivan dulu.”
“Aku kirim dua ratus, ya.”
“Masa cuma segitu? 'Kan kamu kerja di restoran, gak pusing-pusing mikirin makan.”
“Bu, biaya hidup di sini juga mahal. Kosan aku yang cuma sepetak aja harganya—”
“Ya udah deh terserah kamu mau ngirim berapa. Asal Ivan bisa ikut renang.”
“Iya, aku kirim sekarang. Assalamu'alaikum.”
Dugaan Fazia memang tak pernah salah perihal niat ibunya menelpon. Bukan kali ini saja sang ibu meminta uang, entah itu dalam jumlah besar ataupun kecil, tapi sudah kesekian kalinya. Andai ibunya mengerti, Fazia juga harus berhemat agar uangnya tidak cepat habis dan cukup untuk satu semester.
“Sabar, ya.” Citra mengusap bahu Fazia dengan lembut.
“Gue malu jadi temen lo.” Fazia tersenyum miris.
“Apaan, sih. Jangan ngomong gitu, lah.” Citra tak suka, kalimat Fazia tak nyaman di telinganya.
“Lo gak tau aja kamar lo itu lebih luas dari rumah orang tua gue.” Fazia kembali tersenyum pahit.
“Udah, jangan bahas harta. Rumah ini juga bukan punya mama gue, tapi punya papa sama istri pertamanya. Asal lo tau aja. Kalo keluarga papa apalagi keluarga istri pertamanya datang ke sini, gue sama mama auto jadi babu.” Citra tak kalah menceritakan kisah pilu keluarganya.
“Lo masih mending punya kakak kayak Kak Ravin.” Fazia pikir nasib temannya tetap jauh lebih baik darinya.
“Kalo itu gue setuju.” Citra tak mengelak, Ravindra sangat adil meski tidak seibu. “Intinya jangan bahas harta sama gue, karena gue sering kali ngerasa bukan siapa-siapa di rumah ini kalo keluarga papa ataupun keluarga istri pertamanya datang ke sini.”
“Tapi gue masih gak ngerti, cewek sekaya lo kenapa mau-maunya punya temen sekere gue?” Fazia baru berani mempertanyakan itu.
“Gue pernah punya sahabat selama SMA.” Citra mulai bercerita sembari menguyah camilannya.
“Terus?” Fazia menunggu kelanjutannya.
“Dia selingkuh sama cowok gue. Makanya sekarang gue gak mau pilih-pilih temen. Gak harus sebanding sama gue, yang penting dia gak bermuka dua kayak si Fabiola!” Citra menekankan kalimat terakhirnya.
“Terus lo pikir cewek miskin kayak gue gak bisa bermuka dua?” Fazia ingin meluruskan penilaian Citra.
“Seenggaknya cowok gue bakal mikir dua kali kalo mau selingkuh sama lo!” Citra bicara blak-blakan, memang seperti itu orangnya.
“Bener juga.” Fazia manggut-manggut, tak tersinggug sedikit pun. “Eh, terus cowok lo gimana? Masuk kampus kita juga?”
“Beda kampus! Ya kali gue mau sekampus sama cowok b******k kayak dia!” Citra kelihatan ogah-ogahan. “Oh, iya. Ternyata Kak Ken suka sama gue sejak awal, cuma katanya gue sombong. Tapi emang iya sih, gue gak bisa langsung welcome ke orang baru,” sambungnya dengan ekspresi berbunga-bunga.
Gendang telinga Fazia mulai berdengung tak nyaman, Citra bicara tanpa titik koma seakan dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara lagi. Sekarang Fazia paham suatu hal, ternyata Kenzo hanya memperalatnya untuk mendekati Citra. Namun, entah mengapa perasaannya biasa saja, tidak marah apalagi kecewa.
Hingga tak terasa hari mulai memasuki kegelapan malam, akan tetapi tidak ada tanda-tanda kepulangan Tari maupun Mirza. Citra tak henti-hentinya membicarakan tentang Kenzo, padahal Fazia sudah bosan mendengar cerita yang itu-itu saja. Ya, walau bagaimanapun Citra sendiri baru tahu sedikit tentang Kenzo.
Tari pulang ketika Citra sudah terlelap, sedangkan Fazia masih terjaga tanpa alasan yang jelas. Dia tidak mengantuk, juga entah mengapa pikirannya dipenuhi sosok Mirza. Di mana pria itu sekarang? Sudah malam, apa dia bermalam bersama Delisha? Apa dia pernah melakukan hal itu bersama tunangannya?
“By .... ”
Fazia membeku. Mengapa kondisi sekarang ini sangat dejavu seperti malam kemarin? Ya, dia sedang mengambil minum di sebuah dispenser dan Mirza ada di belakangnya entah sejak kapan. Fazia langsung tak enak hati, takut Mirza mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti malam kemarin.
“Saya udah berusaha buat jauhin Citra, tapi Kak Mirza lihat sendiri, 'kan, tadi? Citra—”
Ucapan Fazia tertelan habis, Mirza membungkam bibirnya dengan bibirnya sendiri. Otak Fazia mendadak kosong, tak bisa berpikir apa-apa. Mirza terus mempersempit jarak hingga tubuh Fazia terhimpit tembok dan mereka bisa merasakan debaran jantung yang berpacu hebat satu sama lain.
Napas Mirza kian memburu, lumatan bibirnya begitu menuntut. Untuk sesaat Fazia merasa terbuai, ciuman itu terlalu memabukkan. Namun ketika tangan Mirza mulai meremas gundukan miliknya, kesadaran Fazia langsung terkumpul sempurna. Mirza sudah memiliki tunangan! Dengan sekuat tenaga Fazia mendorong tubuh Mirza hingga ciuman pun terlepas.
“Kak Mirza .... ” Fazia menatap bola mata Mirza kiri dan kanan seakan meminta penjelasan.
Mirza terdiam seperti orang linglung, memandangi wajah Fazia dari jarak beberapa senti. Jarinya terulur ke arah bibir yang tampak memerah dan basah, lalu mengusapnya guna menghilangkan jejak ulahnya. Tanpa sepatah kata, ia pun berbalik dan memasuki kamarnya yang berada tepat di samping kamar Citra.
Sial! Mirza merasa apa yang baru saja terjadi hanyalah mimpi. Bagaimana dia bisa mencium Fazia dengan lancangnya? Dia baru saja pulang, lalu melihat Fazia yang sedang berdiri di ujung koridor. Tanpa perintah, kakinya malah menghampiri gadis itu tanpa tujuan pasti. Bodohnya lagi, dia menciumnya!
Tidak, Fazia harus segera pergi dari kehidupannya. Mirza tidak tahu sampai kapan dia bisa berpura-pura tidak membutuhkan gadis itu, sementara ada Delisha yang akan menjadi istrinya. Jangan sampai Fazia berhasil mengusik hatinya dan menghancurkan rencana pernikahannya. Mirza tidak memiliki alasan untuk menyakiti Delisha, juga tidak memiliki alasan untuk memilih Fazia.
“Aku pergi duluan.” Mirza mencium tangan ibunya dengan gerakan terburu-buru.
“Gak sarapan bareng?” Tari menatap bingung.
“Mau sarapan bareng Lisha.” Mirza berlalu tanpa pamit kepada yang lainnya, Citra dan tentu Fazia.
“Kayaknya kakak kamu lagi ada masalah. Masih pagi juga, udah bad mood gitu.” Tari merasa aneh sendiri.
“Mungkin.” Citra mengangkat bahunya sekilas. “Ma, mulai hari ini Pak Hardi gak perlu antar jemput aku, ya.”
“Kenapa?” Tari kembali bingung dengan tingkah kedua anaknya.
“Hm ....” Citra ragu mengatakannya. “Aku ada yang antar jemput,” ucapnya malu-malu.
“Pacar kamu?” tebak Tari.
“Belum pacaran, sih.” Citra merapikan rambutnya yang sudah rapi. “Tapi dia mau jemput aku hari ini.”
“Terus gue?” Fazia melirik dengan cepat.
“Ya lo dianterin Pak Hardi.” Citra mengerti kepanikan temannya.
“Mama cuma pesan, jangan lupa waktu. Usahain udah di rumah sebelum maghrib, jangan sampai kakak-kakak kamu ngomel cuma gara-gara kamu telat pulang.” Tari memberikan nasehat.
“Kak Mirza kapan balik ke Cilegon, sih?” Citra mendadak sensi mengingat kakaknya yang super posesif.
“Mungkin pas Ravin sama Nia udah beres resepsi, terus pulang liburan.” Tari sendiri tidak yakin.
“Yah, masih lama.” Citra mengeluh sebal.