Di antara banyaknya pengunjung restoran yang terus berdatangan, Imran selaku manager di sana berjalan terburu-buru menuju keluar bangunan. Dahinya sedikit mengkerut ketika mendapati seorang pria yang sedang memasuki tempat itu. Sudah lama tidak bertemu, wajar dia merasa pangling.
"Mas Mirza?" Imran menyapa dengan sopan.
"Pak Imran."Mirza mengangguk satu kali. "Di mana adik saya?" tanyanya seraya celingukan.
"Saya belum lihat Citra. Kayaknya belum ke sini, Mas." Imran ikut mengedarkan pandangannya ke beberapa meja.
"Tadi dia bilang di sini." Mirza memberitahu.
"Oh ...." Imran tidak kaget, mungkin dia yang belum melihat Citra hari ini. "Fazia," panggilnya.
Gadis yang dipanggil Imran sontak menghentikan langkah dan menoleh dengan cepat. Rautnya yang semula tenang, seketika terlihat tegang. Alasan apa lagi jika bukan karena keberadaan Mirza? Tak ingin membuat Imran bingung, dia berusaha menyembunyikan emosi dan bersikap setenang mungkin.
"Iya, Pak?" Fazia mendekati tanpa mempedulikan Mirza.
"Citra udah ke sini?" tanya Imran ingin memastikan.
"U-udah, Pak. Dia lagi ... ke minimarket depan dulu." Fazia menjawab terbata setelah beberapa detik terdiam, yakin Citra telah berbohong pada kakaknya.
"Kalo gitu, silakan tunggu, Mas. Maaf, saya mau ke parkiran dulu, istri saya nunggu di mobil." Imran tak bisa menemani. "Tolong layani Mas Mirza," titahnya pada Fazia, lalu pergi dari pandangan.
Fazia mengembuskan napas lelah, menatap Mirza yang juga sedang menatapnya datar. Sial, mengapa harus dirinya yang melayani pria itu? Berhasil memutus kontak mata, Fazia melirik sekitar dimana teman-temannya tampak sibuk melayani pengunjung, sementara Mirza sudah mengisi salah satu meja.
"Mau pesan sesuatu? Silakan." Fazia menyerahkan buku menu, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
Mirza bergeming, mengabaikan buku menu dan fokus menelisik Fazia yang sedang memakai seragam karyawan. Tubuh gadis itu tidak mengalami perubahan, tetap kurus bak kurang makan. Namun, wajahnya memang terlihat lebih terawat, rambut lurusnya pun semakin panjang dan menambah kesan cantik.
Penampilan Fazia saat ini terbilang cukup modern, Mirza jadi paham mengapa gadis itu bersembunyi dibalik pekerjaannya sebagai karyawan restoran, padahal ada pekerjaan yang setiap malam dia kerjakan. Ya, dia tak tahu saja bahwa pakaian yang Fazia pakai justru dari uang pemberiannya lima bulan yang lalu.
"Minuman kesukaan saya masih sama," ucap Mirza membuat Fazia menatapnya seketika.
"Jus alpukat?" Fazia menebaknya ragu-ragu. Ya, dulu pria itu memintanya untuk membuat jus alpukat setiap hari.
"Ingatan kamu masih berfungsi dengan baik." Mirza manggut-manggut membenarkan.
"Mohon tunggu." Fazia lalu bergegas pergi.
Setibanya di dapur, Fazia tidak langsung membuat jus alpukat pesanan Mirza, melainkan menghubungi Citra. Beruntung dia cepat-cepat menghubunginya, karena Citra akan segera sampai di restoran. Sesuai arahan Fazia, Citra beralasan sudah datang sejak tadi dan pergi untuk membeli sesuatu di minimarket.
Rasa-rasanya Citra tak sabar ingin menceritakan pertemuannya bersama Kenzo pada Fazia hingga ia meminta izin pada Mirza untuk menginap di kosan temannya itu. Namun, jangan harap Mirza akan memberi izin, tapi Citra yang memang sangat keras kepala tak henti-hentinya memohon dengan berbagai alasan.
"Kak, please. Kali ini aku beneran mau nginep di kosan Zia, gak bakalan main ke club lagi. Ada tugas kuliah yang mau kita kerjain bareng-bareng." Citra sudah siap-siap untuk meminta izin pada sang ibu, tapi percuma saja jika Mirza tetap tidak mengizinkannya.
"Sekali enggak, tetep enggak." Mirza menggeleng tak peduli.
"Kak ...." Citra tak malu merengek manja.
"Permisi." Fazia datang dan menyimpan minuman yang dipesan Mirza di atas meja.
"Perhatian banget, sih, lo." Citra langsung menyambar minuman itu tanpa bertanya milik siapa. "Thanks."
Mirza terlihat tak mau pusing dengan minumannya, sedangkan Fazia merasa tak enak. Harusnya dia membawa dua minuman mengingat Citra yang senang meminum minuman orang akan datang. Belum juga bergerak lagi, tangan Fazia sudah ditarik kencang oleh Citra hingga ia terduduk secara spontan.
"Nginep di rumah gue, ya?" Citra tak habis akal, mulutnya sudah gatal ingin bercerita.
"Gak bisa, Cit." Fazia menolak tanpa banyak pikir.
"Please." Citra kembali merengek. "Bantuin gue ngerjain tugas. Besok pagi 'kan harus udah beres," mohonnya seraya mengedipkan mata sebagai isyarat.
"Gue sibuk. Sorry." Fazia tetap menolak, justru sedang berusaha menjauhinya.
"Sibuk apa, sih?" Citra mendelikkan matanya. "Please, lah. Gue mau nginep di kosan lo gak dibolehin sama kakak gue, tapi lo gak butuh izin siapa-siapa buat nginep di rumah gue."
"Gue masih banyak kerjaan." Fazia buru-buru bangkit dan meninggalkan meja.
"Zia, please. Gue gak bisa ngerjain tugas." Citra terus merengek sambil mengekorinya.
"Sorry, Cit." Fazia menggeleng tegas.
"Lo marah gara-gara gue jalan sama Kak Ken?" Citra tiba-tiba bernada lirih seolah menyesali sesuatu.
"Gimana?" Fazia mendadak berhenti, berbalik hanya untuk memastikan pendengarannya.
"Lo suka, 'kan, sama Kak Ken?" tuduh Citra dengan wajah cemberut.
"Bukannya kita udah sering bahas soal itu?" Fazia muak mendengarnya.
"Terus kenapa lo gak mau nginep di rumah gue? Lo juga kelihatan beda banget hari ini. Kenapa gak bilang aja kalo lo suka sama Kak Ken? Gue gak bakal mau jalan sama dia!" Citra makin meluapkan kekesalannya.
"Loh?" Fazia bingung harus menjelaskan apa. "Gue gak masalah lo jalan sama Kak Ken."
"Bulshit!" Citra memutar tubuhnya, kembali ke mejanya.
"Jangan salah paham gitu, Cit." Fazia tak bisa diam saja dicurigai seperti itu, berbalik panik hingga ia pun mengikuti temannya.
"Ya udah nginep di rumah gue!" bentak Citra tak mau tahu. "Gue ngomong ke Pak Imran, ya."
Tak tahu harus menjawab apa lagi, Fazia sampai terdiam di tempat ketika Citra melewatinya untuk menemui Imran dan meminta izin agar dirinya bisa pulang sekarang juga. Tak mau disalahkan, ia pun menatap Mirza seakan memberitahu pria itu bahwa adiknya sendiri yang memiliki ketergantungan padanya.
Sore itu Fazia terpaksa mengiyakan keinginan Citra, yaitu menginap di rumahnya. Meski hatinya terus saja mendumal, kali ini dia berharap Mirza tidak mengatakan kalimat yang akan membuatnya meledak. Hening, Citra yang duduk di sampingnya malah seperti orang gila, senyum-senyum sambil chatting-an.
Entah akan ke mana, Fazia rasa jalur yang diambil Mirza bukan arah menuju rumah. Sampai tiba-tiba, mobil memasuki kawasan rumah sakit dan berhenti di depan pintu masuk. Ternyata seorang wanita cantik sudah menunggunya, masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Mirza yang memang sedari tadi kosong.
"Hai." Wanita itu, Delisha, tersenyum manis ke arah tunangannya.
"Maaf telat." Mirza membalas senyumnya yang mengembang. "Kamu udah nunggu lama?"
"Gak juga. Santai aja." Delisha tak mau mempermasalahkan apa pun. "Hai, Cit."
"Kak Lisha." Citra yang baru sadar adanya Delisha segera mencium tangannya dengan sopan. "Temen aku, Kak. Fazia," lanjutnya memperkenalkan Fazia dan temannya itu ikut mencium tangan Delisha.
"Kalian dari mana?" tanya Delisha sambil memasang seatbelt di tubuhnya.
"Aku lagi nongkrong di restoran, terus Kak Mirza maksa mau jemput." Citra menjawab dengan nada mengadu.
"Kok kamu yang jemput?" Delisha tampak bingung, biasanya Citra akan diantar jemput supir rumah.
"Katanya Pak Hardi lagi nganter Mama pengajian, padahal aku bisa pulang naik taksi." Citra yang menjawabnya, lagi-lagi dengan nada provokasi.
"Masih mau nongkrong?" Delisha tersenyum menggoda.
"Huum." Citra manggut-manggut dengan wajah kesalnya.
"Lagian masih sore gini juga. Kenapa gak biarin Citra puasin nongkrong?" Delisha turut kesal pada Mirza.
"Tau tuh, Kak. Biasanya aku harus udah pulang sebelum maghrib, eh sekarang masih sore aja harus udah di rumah." Citra terus menyudutkan sang kakak.
"Citra masih muda. Jangan terlalu dikekang." Delisha menasehati pria yang sejak tadi bungkam.
"Pergaulan luar gak baik buat dia." Mirza hanya menjawab singkat, padat, dan jelas.
"Tergantung yang jadi temennya." Delisha setuju pada kalimat Mirza, akan tetapi semua tergantung keadaan. "Fazia kelihatannya baik, kok."
"Belum tentu." Mirza bergumam dalam hati.
"Iya, dong. Dia ini baik banget sama aku. Selain sering bantuin ngerjain tugas, dia juga galak sama cowok-cowok yang genit sama aku," sahut Citra, tak ragu memuji temannya.
"Wah, jeger juga kamu, ya." Delisha terkekeh ke arah Fazia, sedangkan gadis itu hanya tersenyum sebagai responsnya. "Aku kayaknya gak langsung pulang. Mau di rumah kamu dulu," sambungnya pada Mirza.
"Kenapa emang?" Mirza mendadak tak enak hati. Jelas saja, Fazia akan ikut ke rumah!
"Papa sama Mama masih di jalan. Kayaknya pulang malem. Gak ada siapa-siapa di rumah." Delisha memberikan alasannya.
"Kita bikin masak-masakan, yuk, Kak?" ajak Citra, senang Delisha akan mampir ke rumahnya.
"Ayok." Delisha langsung mengangguk saat itu juga. "Udah lama kita gak masak-masakan, ya?"
"Kak Mirza gak bisa banget diajak masak-masakan, beda sama Kak Ravin," cibir Citra yang tak bosan-bosannya menyinggung Mirza.
"Gak apa-apa. Belum tentu semua cewek bisa masak, apalagi cowok." Delisha terkesan membela calon suaminya.
Delisha, putri dari salah satu orang yang cukup berpengaruh pada kejayaan perusahaan Rajasa. Meski ayahnya seorang pebisnis besar, dia lebih memilih menjadi seorang dokter ketimbang mengikuti jejak sang ayah. Tak hanya berpendidikan tinggi, dia juga sangat cantik dan dewasa, hanya dua tahun lebih muda dari Mirza.
Sempurna! Kata yang pertama kali terucap di benak Fazia ketika melihat sosok Delisha. Pantas saja Mirza dengan sangat mudah melupakannya, bahkan sekarang pria itu memandangnya hina karena calon istrinya memang benar-benar jauh lebih baik darinya. Tak dapat dipungkiri Fazia sendiri menilai mereka serasi, tapi entah mengapa hatinya pun berdenyut nyeri.
"Cit-"
"Jangan mulai ...." Citra langsung memperingati, yakin Fazia ingin pulang ke kosan. "Gue mau cerita sesuatu sama lo," bisiknya.
"'Kan bisa besok." Fazia memutar bola matanya ke arah lain.
"Gak mau. Pokoknya malam ini lo harus dengerin gue cerita." Citra menolak menunggu hari esok.
"Bahas apa, sih? Bisik-bisik gitu." Delisha menoleh ke belakang, penasaran apa yang mereka bicarakan.
"Ini, Kak. Pacarnya ngajak ketemu, padahal dia mau nginep di rumah aku." Citra menjawab dengan entengnya seakan memang begitu kenyataannya. "Udah, sih. 'Kan bisa ketemuan besok," bujuknya pada Fazia.
"Lo tau sendiri pacar gue posesif banget. Kalo minta ketemu ya harus ketemu, Cit." Fazia sama gilanya saking bingungnya harus bereaksi apa.
"Ya ampun, enaknya punya pacar posesif." Delisha sengaja menyinggung Mirza yang jauh dari kata posesif padanya.
"Iya, Kak. Udah gitu dia cemburuan banget." Fazia melanjutkan bualannya dengan senyum terpaksa.
"Lebay." Mirza bergumam pelan.
"Berarti dia sayang banget sama kamu. Jangan menilai berlebihan sama sikap seseorang, kecuali sikapnya udah diluar batas." Delisha menasehati.