Part 7:

1617 Kata
"Saya harap kamu gak lupa sama permintaan saya semalam." Mirza berjalan melewati Fazia tanpa menolehnya. "Kenapa gak nyuruh adik Anda sendiri yang jauhin saya?" Fazia tetap berdiri di tempatnya, tapi ucapannya itu berhasil membuat Mirza berbalik dan menatapnya tajam. "Saya gak punya alasan buat jauhin Citra, tapi Citra punya alasan buat jauhin saya." "Kamu nantang saya buat kasih tau yang sebenarnya ke Citra?" Mirza terkesan mengancam. "Silakan." Fazia bersikap masa bodoh, padahal otaknya mendadak sibuk mencari kalimat balasan yang setimpal. "Saya pastikan bukan cuma Citra yang tau soal pekerjaan kamu, tapi kampus kamu juga." Mirza lalu tersenyum sinis. "Dan di saat harga diri saya sehancur itu, saya pastikan hubungan Anda dan tunangan Anda juga hancur." Fazia balik mengancam. "Apa mau kamu?" Mirza tampak tak terima calon istrinya dilibatkan. "Anggap kita gak saling kenal dan jangan ungkit masa lalu, apalagi sampai nyinggung harga diri saya." Fazia tidak sulit mencari jawaban. "Sepuluh juta selama satu minggu ...." Mirza tersenyum merendahkan. "Mungkin sekarang harganya lebih tinggi?" "Kira-kira gimana reaksi tunangan Anda kalo tau calon suaminya suka jajan?" Fazia tersenyum getir, harga yang disebutkan Mirza justru memberinya celah untuk balik menyindir. "Kayaknya Citra bakal ilfeel banget sama kamu. Apalagi Ibu saya, mungkin rumah ini bakal bikin tasyakuran pas Citra gak temenan lagi sama kamu." Mirza pura-pura tak peduli, menyudutkan gadis itu tanpa henti. "Ah, ya." Fazia manggut-manggut dengan semangat seolah mendapat ide bagus. "Kayaknya Ibu Tari bakal ngadain ruqyah buat anaknya yang-" "Jaga ucapan kamu!" Mirza sengaja memotong ucapan, muak mendengar Fazia memutar kata. "Ucapan saya gak semenyakitkan ucapan Anda." Fazia berkata lirih diiringi senyuman menyakitkan. Malas melanjutkan perdebatan yang entah kapan selesai, Mirza memasuki mobil dan menutup pintunya dengan kasar. Tidak ada niat untuk mengajak Fazia beragumen, dia hanya ingin mendengar kata 'ya' atas ucapannya semalam atau gadis itu tidak perlu menjawabnya saja sekalian. Sementara di luar sana, Fazia tampak mengarahkan wajahnya ke dalam rumah seakan menunggu kedatangan Citra. Tangannya sibuk menyentuh ujung kelopak mata, berusaha mengurangi air yang menggenang di sana sebelum menetes. Lagi, Mirza berhasil membuat hatinya sakit. Fazia memang sudah memikirkan cara untuk menjauhi Citra sejak semalam. Tak perlu diperingati, ia sudah sadar diri. Namun, Mirza kembali mengucapkan kalimat yang membuatnya merasa terintimidasi dan terhina. Tentu dia tak mau diam saja, terlebih pria itu juga sama kotornya. Susah senang sudah Fazia hadapi selama lima bulan tinggal di Jakarta. Meski uang pemberian Mirza sudah kandas tak bersisa, dia tetap merasa cukup karena mendapat biaya beasiswa dan bekerja paruh waktu. Tidak bisa dikatakan tercukupi, tapi setidaknya dia tidak sampai kelaparan. Tak pernah sedikit pun Fazia berniat ingin melakukan pekerjaan hina itu lagi, akan tetapi Mirza sudah terlanjur salah menilai. Apa dirinya terlihat sehina itu? Fazia ingin sekali menjelaskan sesuatu, tapi untuk apa? Tidak akan mengubah apa pun, Mirza sudah memiliki tunangan. "Jam berapa masuk matkul?" Mirza menoleh sebentar, lalu kembali fokus mengemudi. "Jam sebelas." Citra yang duduk di belakang bersama Fazia, menjawab malas. "Dan jam segini kamu udah berangkat?" Mirza melirik arlojinya yang menunjukkan pukul delapan. "Mau ngapain dulu kamu?" "Aku udah biasa berangkat pagi, kok. Main dulu di kosan Zia, terus berangkat ke kampus bareng." Citra menjawab sejujurnya. "Beres jam berapa?" Mirza kembali bertanya. "Rahasia." Citra menolak menjawab. "Yang penting aku pulang sebelum maghrib kayak biasanya, kan?" "Langsung pulang." Mirza tak mau mendengar alasan. "Masa nongkrong sore-sore juga gak boleh?" Citra tentu saja memprotes, tak percaya kakaknya itu akan semakin mengekang. "Parah banget Kak Mirza! Kak Ravin aja gak segitunya!" "Ravin gak tau kamu ke club. Coba kalo tau? Mungkin sekarang dia lagi urus kuliah kamu di Inggris." Mirza tak merasa ada yang salah atas sikapnya. "Gak! Kak Ravin pemaaf, lebih manusiawi dari Kak Mirza!" Citra menyangkal, tak ragu memihak kakak pertamanya. "Makanya aku males dianterin Kakak! Pasti aja ngoceh kayak gini!" Mustahil berani menanggapi perdebatan adik dan kakak itu, Fazia hanya menjadi pendengar setia meski pandangannya terarah ke samping jendela. Entah mengapa dia jadi berandai-andai memiliki kakak laki-laki seperti Mirza. Walau terkesan menyebalkan, tapi dia sangat penyayang. Fazia hanya tak tahu saja, Mirza menjadi kakak yang sangat posesif justru setelah mengenal dirinya lima bulan lalu. Dia sengaja mengambil alih peran Ravindra untuk mengawasi pergaulan Citra, tak mau adiknya itu menyimpang dan terjerumus ke dalam pergaulan bebas di luar sana. Usai mengantarkan Citra ke kosan Fazia, Mirza langsung melanjutkan perjalanannya menuju kantor Rajasa. Citra memang sudah terbiasa datang ke kosan temannya saat pagi sekalipun kuliahnya masuk sore, entah mengapa dia nyaman menghabiskan sebagian waktunya di tempat sempit itu. Kali ini Fazia sengaja tidak terlalu banyak bicara dan sedikit mengabaikan keberadaan Citra. Cepat atau lambat, temannya itu akan merasa jenuh dan mungkin akan mencari teman baru. Biarlah, dia hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang Mirza yang terus menyakiti hatinya. "Ortu lo minta duit lagi?" Citra hanya asal menebak, berjalan menuju keluar gedung kampus. Ya, biasanya Fazia banyak melamun setelah menerima panggilan dari orang tuanya. "Kapan teleponnya? Kok gue gak tau?" "Nyokap gue belum telepon lagi, kok." Fazia menggeleng pelan. "Terus kenapa lo badmood gitu? Dari semalam sampe gini hari, masih aja badmood." Citra mulai menduga-duga. "Apa karena lo belum puas ngobrol sama Kak Ken gara-gara kakak gue keburu dateng?" "Kayaknya lo, deh, yang belum puas ngobrol sama Kak Ken." Fazia nyengir kuda, menyindir. "Ye ...." Citra langsung tersipu, menyenggol bahu Fazia dengan bahunya. "Dia sukanya sama lo lagian." "Kata siapa?" Fazia tak merasa disukai pria itu. "Yang diajak ketemuan kan lo, bukan gue. Gue cuma ikut aja." Citra lalu terlihat kesal tanpa alasan. "Lo suka sama Kak Ken?" Fazia menatap waspada. "Gak." Citra spontan menggelengkan kepalanya. "Jangan bohong, Cit." Fazia tak percaya sama sekali. "Lo kali yang suka sama Kak Ken." Citra kembali melemparkan tuduhan. "Gue mau fokus kuliah." Fazia menegaskan ucapannya. "Masa? Yakin? Serius, nih?" Citra terus menggoda. "Padahal banyak yang naksir lo." "Gak kebalik?" Fazia mengangkat kedua alisnya dengan kesal. "Gue juga bingung, kenapa kebanyakan naksirnya ke lo, sih? Gue kurang cantik apa?" Citra baru terpikir hal itu. "Jelas. Mereka cuma pake motor kreditan, mana berani deketin lo." Fazia tersenyum sungging. Citra langsung terbahak mengingat kenyataan itu. Kampus mereka memang bukan kampus ternama, bukan kampus yang diisi dari kalangan konglomerat seperti dirinya. Fazia dan Citra termasuk primadona baru, tapi tidak sedikit yang malah menghindari Citra karena merasa tak percaya diri. Kenzo, mahasiswi mana yang tidak tergila-gila padanya? Seantero kampus itu sudah dapat dipastikan mengenal dia, pria tampan yang selalu tampil stylish. Daya tariknya tak hanya dari segi rupa dan penampilan, tapi juga kekayaan. Berbagai kendaraan sport pernah dia pamerkan di kampus. Namun, pesona Kenzo tidak berhasil menarik perhatian Fazia. Baginya, percintaan hanya akan menghambat keseriusannya dalam menuntut ilmu. Belum lagi, kriteria seorang Kenzo pastilah bukan dirinya. Berbanding balik, Citra justru terlihat menyukai Kenzo, hanya saja dia selalu menutupi. "Hai." Pria yang sedang dibicarakan Fazia dan Citra melambaikan tangannya dari kejauhan. Jelas, kedua gadis itu serempak menghentikan langkah dan menunggu Kenzo menghampiri mereka. Sesuatu yang menyebalkan bagi Fazia, dimana dirinya menjadi pusat perhatian hanya karena bertemu Kenzo. "Sorry soal semalam. Gara-gara gue, mungkin kalian jadi kena omel." Kenzo tampak menyesal. "Gak apa-apa, Kak." Citra menggeleng tak keberatan, sementara Fazia tak menjawab apa pun. "Mau pulang?" Kenzo hanya basa-basi, menatap mereka silih berganti. "Kayaknya kita mau nongkrong-nongkrong dulu." Citra yang menjawabnya. "Ya udah ikut gue aja," ajak Kenzo tanpa pikir panjang. "Aku gak bisa, Kak, maaf." Fazia menolak sopan. "Tapi Citra bisa, kok." "Loh?" Citra memekik panik. "Kayaknya gak mungkin Citra mau jalan sama gue tanpa lo, Zi." Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bisa, kok, dia, bisa." Fazia menyahutinya dengan antusias. "Zi ...." Citra merengek tak nyaman. "Tapi awas aja kalo berani macem-macem sama dia." Fazia merubah ekspresinya menjadi galak, tak segan memperingati Kenzo. "Mana berani gue. Kakaknya galak gitu." Kenzo terkekeh mengingat penampakan Mirza semalam. "Gue cabut duluan, ya. Bye." Fazia bergegas pergi tanpa menunggu respons temannya. "Zi ...." Citra gelagapan, antara ingin menyusulnya tapi juga tak enak pada Kenzo. Fazia pura-pura tak mendengar panggilan dari Citra, terus berjalan hingga dirinya berhasil sampai di jalan raya. Akhirnya dia bisa bernapas dengan lega, tak melulu diikuti temannya ke mana pun dia pergi. Ya, biasanya Citra akan ikut ke restoran tempat Fazia bekerja untuk sekadar duduk dan bersantai. Tidak seperti biasanya, sore ini restoran tempat Fazia bekerja terlihat cukup ramai. Bangunan yang sudah cukup kuno itu sempat terbengkalai selama beberapa tahun dan baru beroperasi lagi sejak dua bulan yang lalu, wajar saja jika belum banyak pengunjung apalagi pelanggan. Entah siapa pemiliknya, yang Fazia tahu restoran tersebut milik keluarga Rajasa. Di tempat lain Citra sedang menikmati sore harinya di sebuah kafe dengan hati berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Kenzo memperlakukannya dengan manis dan penuh perhatian. Sebaliknya, Citra yang sebenarnya sangat cerewet mendadak malu-malu dan manja. Tidak seperti semalam yang berkumpul dengan banyak temannya, kali ini Kenzo ingin mengobrol berdua. Ya, sejak awal Kenzo memang tertarik pada Citra, bukan Fazia. Hanya saja gadis itu selalu bersikap sombong, tidak seperti Fazia yang cukup ramah. Dalam hal ini Kenzo cukup pengecut dan mungkin egois, memperalat Fazia hanya untuk mendekati Citra. Anehnya Citra tak lagi bersikap sombong ketika Kenzo pura-pura mendekati Fazia. "Di mana kamu?" "Restoran kita." "Ngapain?" "Bentar lagi pulang, kok." "Kakak tanya, kamu ngapain di sana?" "Cuma nongkrong aja, sekalian nemenin temen kerja." "Yang tadi?" "I-iya." "Kakak jemput." "Pak Hardi emang ke mana?" "Nganterin Mama pengajian." "Aku pulang pake taksi aja kalo gitu." "Kamu pikir Kakak bakal ngizinin?" "Aku gak minta izin sama Kakak, tapi-" "Kakak ke sana sekarang." Tut! "Aduh, mampus!" Citra menepuk keningnya sendiri. "Kenapa?" Kenzo menatap heran. "Kak, bisa anterin aku ke restoran?" Citra terlihat sangat panik. "Sekarang?" Kenzo masih menatapnya tak mengerti. "Sekarang banget, Kak. Ayok!" Citra tanpa sadar menarik tangan Kenzo hingga pria itu hampir terjatuh. "Ada apa emang?" Kenzo buru-buru berdiri. "Aku harus cepet sampe ke restoran sebelum kakak aku datang ke sana!" Citra menjelaskan dengan tak sabaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN