Part 6:

1496 Kata
"Kayaknya di sini gak susah nyari pelanggan." Mirza berdiri tepat di belakang Fazia, bersedekap d**a sambil memperhatikan pergerakan gadis itu. "Harganya masih sama?" tanyanya yang sungguh tak enak didengar. "Kamu tuli?" geram, dia mencekal lengan Fazia yang hendak pergi dengan membawa satu gelas air minum. "Maaf?" Fazia pura-pura tak mengerti, padahal hatinya berdenyut nyeri. "Jangan sandiwara di depan saya." Mirza menatap tajam seakan ingin membunuhnya saat ini juga. "Saya bukan Gaby yang dulu. Jadi, tolong jangan bahas yang udah berlalu." Fazia tak ragu memohon. "Sekarang jadi siapa? Zia?" Mirza tersenyum kecut. "Kamu sengaja ganti nama-" "Itu nama asli saya, Fazia. Sedangkan Gaby ... itu cuma nama sial." Fazia menyela ucapan, tahu apa yang Mirza pikirkan. "Jauhi adik saya. Jangan sampai dia terbawa arus kotor kayak kamu." Mirza mengecam, menelisik tubuh Fazia dengan tatapan hina. "Apa bedanya saya sama Anda? Bukannya kita sama-sama kotor, Pak?" Fazia balik menyinggung, tak terima disudutkan secara bertubi. "Sama-sama kotor?" Mirza mempersempit jarak, merasa tertantang atas kalimat gadis itu. "Jangan sampai saya teriak." Fazia mundur secara perlahan. "Teriak aja. Bilang ke semua orang kalo kamu-" Byur! Mirza terdiam seketika, tak percaya Fazia berani menyiram wajahnya dengan sangat tidak sopan. Fazia sendiri tersentak, tangannya reflek melakukan itu. Melihat tatapan Mirza yang semakin tidak bersahabat, Fazia bergegas pergi dengan langkah menggebu-gebu, nyaris berlari. Tubuh Fazia merosot di atas lantai setelah berhasil memasuki kamar Citra, kedua tangannya yang bergetar sengaja menutupi bibir guna meredakan suara tangis yang tak dapat dibendung. Hatinya terasa sangat sakit di dalam sana, napasnya tercekat seolah kehabisan oksigen. Kata-kata Mirza bagaikan duri tajam yang berhasil melukai hati Fazia sangat dalam. Tak pernah sedikit pun Fazia membayangkan pria itu akan berkata demikian, tapi hari ini dia merasa dunianya hancur dan tak memiliki masa depan. Kali ini dia benar-benar menyesal mengenal Citra. Di sisi lain, Mirza menyesali ucapannya yang tak terkendali. Kalimat tadi tak hanya menyakiti Fazia, tapi dirinya juga. Sungguh, perasaannya terasa sangat kacau. Senang, kaget, resah, gelisah, kecewa, takut, semua menjadi satu di waktu yang sama, terus menyerangnya tanpa jeda. Lima bulan yang lalu, tepatnya saat Fazia meninggalkan villa, Mirza memutuskan untuk pulang di hari yang sama. Hal itu karena janjinya sendiri pada Fazia, yaitu pulang dan bangkit dari keterpurukannya. Jujur saja, nasehat yang diberikan Fazia sangat berpengaruh untuknya. Hari-hari berlalu, Mirza mulai beraktivitas seperti biasa. Namun, ada saat-saat tertentu dia mengingat Fazia. Bagaimana kabarnya? Di mana dia sekarang? Tak tahan membendung rindunya, Mirza bahkan nekat mencari tahu tentang Fazia. Namun, tidak ada informasi yang didapat. Cinta? Entah, Mirza hanya ingin bertemu atau sekadar mendengar suaranya, bertukar kabar, atau yang lainnya. Berbulan-bulan dia menunggu informasi, tapi tak kunjung dia dapatkan. Hatinya mulai lelah menunggu yang tak pasti, hingga akhirnya dia melamar seorang wanita. Namun, gadis itu kembali menampakkan dirinya sebagai Fazia dan bukan Gaby, di sebuah club, berpenampilan sexy, bersama banyak pria pula. Bukan salah Mirza yang akan berpikir buruk tentang Fazia, tapi keadaan yang membuatnya demikian dan jujur saja dia sangat kecewa. Sekarang, kehadiran Fazia tidak lagi Mirza harapkan. Selain dia sudah memiliki calon istri, Fazia juga tidak pantas berteman bersama Citra. Bukan soal kasta, Mirza hanya tak ingin adiknya terbawa pergaulan bebas. Satu lagi, jangan sampai Fazia mengusik hati dan rencananya. "Mata lo kenapa?" Citra memperhatikan wajah temannya melalui cermin rias. "Kurang tidur." Fazia malas menyahuti, sibuk merapikan barang-barangnya di dalam tas. "Kayak abis nangis." Citra mendengkus, kembali mengoleskan skincare di wajahnya. "Gue balik sekarang, ya." Fazia ingin cepat pergi sebelum bertemu ibunya Citra terutama Mirza. "Entar aja bareng gue. Abis sarapan kita langsung ke kosan lo." Citra jelas langsung menahannya. "Lo nyusul aja." Fazia tetap beranjak dari duduknya. "Santai, lah. Masih pagi juga." Citra menoleh dengan kesal. "Ada yang mau gue kerjain dulu di kosan." Fazia berusaha mencari alasan. "Sarapan cuma bentar, abis itu kita langsung jalan. Mau ngapain emang? Nyetrika? Cuci baju? Beres-beres? Masih sempat, dong, orang kita masuknya siang!" Citra tak mau mendengar bantahan. "Batu emang." Fazia kembali duduk di sudut ranjang, tak kaget dengan keras kepala temannya. "Gak ngerti lagi, deh. Gue beli skincare bulan lalu gak cocok, langsung bruntusan. Giliran lo yang pake malah kinclong gitu. Gak enak banget punya muka sensitif, gak bebas gonta-ganti produk." Citra berceloteh sembari melanjutkan aktivitasnya. "Zi?" "Hm." Fazia tak mau menoleh, menyibukkan diri dengan ponselnya. "Lo kenapa, sih?" Citra merasa aneh, tapi temannya itu bergeming. Demi Tuhan, rasanya Fazia ingin menghilang saja dari tempat itu daripada harus sarapan bersama. Dia ingin menghindari pertemuan bersama Mirza, tapi dengan cara apa? Kejadian semalam masih terbayang, apalagi kata-katanya terus terngiang-ngiang di telinganya sampai sekarang. Tidak ada pilihan, dengan sangat terpaksa Fazia ikut ke meja makan untuk sarapan. Di sana dia bertemu Tari, ibu Citra yang menyapanya dengan sangat ramah. Ternyata Citra mewarisi sifat ibunya, baik dan tulus tanpa memandang sebuah kasta. Apa Mirza juga memiliki sifat yang sama? Fazia terpaku meneliti penampilan Mirza yang sedang berjalan ke meja makan. Tidak jauh seperti kemarin, pria itu terlihat sangat tampan dan berwibawa khas orang-orang perkantoran. Tubuh kekarnya begitu menawan, harum parfumnya sudah tercium meski orangnya masih jauh. Namun ketika Mirza balik menatapnya, Fazia langsung menundukkan kepala. Malu, rasanya dia tak pantas ada di sana, duduk bersama orang-orang berkasta tinggi. Mau bagaimana lagi, ia pun terpaksa. Hingga sarapan pun dimulai, semua sibuk dengan makanannya masing-masing. "Harusnya kamu minta jemputan dari sore, bukannya nunggu malem. Jadinya ngerepotin kakak kamu yang masih di perjalanan mau pulang, jauh-jauh jemput kamu ke sana." Tari baru saja mendengar bualan Citra soal semalam. "Kirain listriknya bakal cepet idup, eh sampe malem masih mati. Udah mah wifi mati, mau pesen makan gak bisa, mau mandi gak ada airnya, bahkan mau pipis aja gak cukup." Citra kembali membual dengan tenangnya. "Emang kosan kamu sering mati listrik gitu?" tanya tari pada Fazia. "Lumayan, Tante." Fazia mengangguk saja. "Panggil mama kayak temen-temen Citra yang lainnya, ya. Jangan sungkan di rumah ini." Tari tersenyum hangat menatap Fazia. "Tau tuh, Ma. Dari tadi kayak sungkan banget gitu, padahal biasanya sebelas dua belas sama aku." Citra menggerutu kesal. "Ngapa, sih, lo?" "Gak apa-apa, Cit." Fazia berusaha bersikap tenang. "Kalo kesurupan bilang, biar gue panggil kyai. Jangan tiba-tiba jadi pendiem gitu. Serem gue." Citra menampilkan ekspresi takut. "Gimana kerjanya? Ada kendala, gak?" Tari ingin tahu. "Enggak ada, Tan- Eh, Ma." Fazia menggeleng sopan. "Kalo ada apa-apa di restoran, bilang Mama, ya." Tari kembali mengajak Fazia bicara. "Aku yang maju duluan. Siapa yang berani nyenggol temen aku?" Citra bergaya sok. "Kalo di kandang aku yang pasang badan, beda cerita kalo di kampus, Zia yang suka lindungin aku," ucapnya pada sang ibu. "Kenapa gak kuliah di luar negeri?" Mirza baru tahu di mana adiknya menimba ilmu. "Kalo soal itu jangan tanya aku, tanya aja sama Mama." Citra menolak untuk menjawab. "Mama gak ada temen, Za. Ravin sama Nia 'kan di apartemen." Tari mengeluarkan pembelaannya. "Lagian Citra itu cewek, jadi gak perlu, lah, kuliah jauh-jauh. Yang penting dia bisa pulang dan ketemu Mama tiap hari." "Terus kenapa gak pilih kampus besar?" Mirza tak mengerti. "Mama gak masalah, Kak Ravin juga." Citra mengangkat bahunya masa bodoh. "Kampus kamu gak jelas! Mahasiswinya juga!" Mirza sengaja meninggikan nadanya, menyinggung Fazia. "Gak jelas gimana?" Citra mendelik aneh. "Cuma kampus itu yang paling deket dari sini. Mama gak mau kampus Citra jauh, entar minta ngekos, gak bisa pulang tiap hari alasan jauh." Tari harap Mirza mengerti maksudnya. "Sekarang juga mau ngekos." Citra asal nyeletuk, jelas saja Mirza langsung menatapnya tajam. "Iya, enggak. Cuma bercanda lagian." Sarapan Mirza belum habis, tapi dia terpaksa meninggalkan meja makan karena harus menjawab panggilan dari Ravindra. Menyebalkan! Hari masih pagi saja Ravindra sudah menghubunginya untuk membahas rentetan pekerjaan yang harus Mirza kerjakan seharian ini. Sudah tiga hari Mirza di Jakarta. Bukan sengaja pulang, tapi Ravindra meminta bantuan untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk hingga sebagian terbengkalai. Pria itu sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, belum lagi akan bulan madu setelahnya. "Za, nanti anterin Citra dulu, ya. Pak Hardi katanya bakal telat datang." Tari menyimpan ponselnya kembali setelah membaca pesan dari supirnya. "Gak! Aku naik taksi aja!" Citra merespons dengan cepat. "'Kan searah. Gak apa-apa numpang sama kakak kamu." Tari tidak kaget, adik dan kakak itu memang terkadang tidak akur. "Gak mau!" Citra tetap menolak. "Kenapa gak mau?" Tari merasa heran. "Kakak anter." Mirza mencurigai sesuatu. "Gak usah. Aku bisa naik taksi." Citra menggeleng tak peduli. "Kakak anter." Mirza tak mau mengalah. Semakin adiknya menolak, dia malah makin penasaran. Citra langsung terlihat bad mood, yakin kakaknya itu akan memberikan segudang nasehat selama dalam perjalanan. Huh, baru membayangkannya saja dia sudah malas duluan. Sialnya dia tidak berani membangkang lebih, Mirza sudah mengancam akan mengirimnya ke Singapura! Fazia tampak tak berselera menyantap sarapan, ingin cepat-cepat meninggalkan rumah itu. Tapi, apa tadi? Mirza akan mengantarkan Citra dan tentu dirinya juga? Sungguh memuakkan! Kapan dia bisa bernapas dengan lega jika pria itu selalu ada di hadapannya? Fazia sudah lelah! Semua orang membubarkan diri usai sarapan, kecuali Tari yang masih ada di meja makan. Citra pergi ke kamarnya untuk mengambil barang yang ketinggalan, sementara Fazia menunggu di luar. Hal yang tidak dia inginkan terjadi, Mirza menghampirinya dengan tatapan dingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN