PART - 4 : BERSIAP UNTUK PERANG

1479 Kata
"Ya Tuhan,kenapa gue apes banget ya!" Naura memegangi kepalanya dengan dua tangan, terlihat begitu frustasi sementara sahabatnya, Fransiska, pemilik apartemen yang dia tinggali sementara selama mengajar di Paud sedang duduk santai menikmati kue blackforest sambil bertopang dagu. Mendengarkan saja Naura menumpahkan kekesalannya. "Di sana penuh dengan anak-anak yang terlihat susah diatur." "Yaiyalah anak-anak. Kalau nenek-nenek ya namanya panti jompo!" Naura melotot. "Ih serius. Elo tahu kan apa yang gue maksud?!" "Lebay." Siska mengunyah blackforestnya. "Cuma elo aja yang menganggap kalau anak-anak itu menyebalkan padahal ya mereka itu lucu dan ngegemesin.” Naura menopangkan dagu, menghela napas panjang. "Keponakan-keponakan gue yang biang onar itu. Setiap mereka datang ke rumah atau pas gue lagi main ke rumah mereka, pokoknya hanya ada keributan aja di sana. Bikin pusing dan sumpek. Belum lagi kalau kakak-kakak gue lagi ngomelin mereka." Siska tertawa membuat Naura keki dan dengan gerak cepat memasukkan sendok kecil ke dalam mulutnya yang terbuka. "Hmmpp—" Siska mendelik. "Sialan!!" umpatnya seraya mengeluarkan sendok dari mulutnya. "Elo Tante paling payah yang pernah gue temuin." "Terserah!" Naura menarik gelas kristalnya, mengambil botol anggur merah yang sudah dia buka, menuangkannya dan menegaknya sampai habis. "Gue bahkan ketemu dengan lelaki m***m itu di sana!" Naura masih tidak menyangka kalau bumi itu sesempit ini. Bisa-bisanya mereka bertemu lagi di tempat seperti itu hingga dia terpaksa meninggalkan mobilnya dan harus merayu Siska untuk mengambilnya, tapi sayangnya, mobilnya terkunci dan catatan yang ditinggalkan di kaca depan membuatnya ingin mengumpat. Laki-laki itu meninggalkan catatan yang mengatakan kalau dia membawa kunci mobilnya sampai dia mau bertatap muka dengannya. "Gila ya tuh laki!" decaknya kesal. “Wah, elo benar-benar apes,” Siska tertawa. "Kayaknya elo nggak bisa mengelak lagi dari dia kalau mau ambil mobil lo." Naura mengacak rambutnya,tidak mau memikirkannya. Biar saja mobilnya ada di sana, Naura tidak peduli dari pada dia harus berhadapan dengan laki-laki itu lagi. “Erghh, kira-kira gue bakalan sanggup bertahan sampai berapa lama ya di sana?" "Palingan juga besok lo kabur," cibir Siska. "Ohh tentu tidak!" Naura menggelengkan kepala. "Gue harus bisa bertahan." "Harus lah supaya elo bisa cepat-cepat nikah dan gak jadi perawan tua hanya karena para lelaki kabur dengan pemikiran konyol lo itu." "Sialan!!" umpatnya. "Gue gak akan jadi perawan tua!" "Makanya, rubah itu pola pikir dan sikap lo ke anak-anak supaya hal itu gak kejadian. Dengar ya—" Siska memutar sendok kecil di tangannya yang dihadapkan ke Naura. "Semua laki-laki menginginkan keluarga bahagia. Punya istri cantik yang hot di ranjang, punya anak-anak lucu yang wajahnya mirip dengannya, punya julukan kekinian yang bangga disanding mereka—" "Apa tuh?" "Hot Daddy," dengus Siska. "Ohhh," Naura manggut-manggut. "Coba aja lo lihat itu lelaki macho pecinta keluarga yang ada di i********:. Mereka bangga dengan julukan itu." "Gue gak pernah sih kepoin i********: mereka kayak elo yang ujung-ujungnya bakalan mupeng sendiri dan menghayal." Naura menggelengkan kepala. "Bukan gue banget." "Resek!” umpat Siska. “Wanita di luaran sana sekarang hobinya gitu." "Termasuk elo kan?" tuduh Naura. Siska memonyongkan bibirnya. "Hanya satu orang aja sih yang hobi gue intip roti sobeknya." "Siapa?" "Nick Batman." Siska nyengir membuat tawa Naura menyebur. "Yailah. Lelaki brewokan itu?" Naura menggelengkan kepala. "Lelaki hayalan banyak wanita kesepian di luar sana." "Eh, gak hanya wanita kesepian tapi ibu-ibu muda masa kini juga banyak loh!!" Siska menopangkan dagu. "Soalnya ya, dia itu makin tua, udah punya buntut satu makin gak nahan hotnya." Naura memutar bola mata. "Ya elo aja itu. Gue sih kagak!" Siska mendengus. "Pokoknya ya intinya, lelaki itu pasti ingin memiliki keluarga utuh. Ngapain coba nganggurin istri yang gak mandul kecuali elo didiagnosa terkena penyakit ganas. Pastilah maunya blendungin istrinya supaya beranak pinak." "Ah tahulah. Bikin pusing!!" Naura jengah, menegak lagi anggurnya. "Hmm tapi setelah di pikir-pikir, kok ya gue kasihan sama anak-anak yang akan elo ajar itu. Mereka pasti takut punya guru modelan lo gini!" "Heh, mereka pasti bakalan ngelawan balik dengan wajah polos mereka itu nggak ada takutnya." "Kalau gue yang jadi kepala sekolahnya, gak bakalan gue kasih masuk lo di situ. Nanti anak-anak bukannya senang malah stress." "Woiiii! kenyataannya yang stress itu gue bukannya mereka." Siska merebut gelas Naura, menuangkan anggur merah untuknya sendiri. "Gue tanya, memangnya dulu elo gak pernah kecil apa?" Naura memonyongkan bibirnya. "Mikir dong ah. Elo juga pernah kecil dan lo pasti punya banyak kenangan kan tentang hal itu." "Tau ah gelap," Naura sok cuek. "Dikasih pencerahan malah begitu." Siska berdiri dari duduknya, membereskan bekas piring yang digunakannya. "Udahlah, kalau memang gak sanggup ya mengaku aja kalah." "NOOOOO!" pekik Naura, memutar tubuhnya mengikuti langkah Siska menuju ke dapur. "Ini masih pemanasan. Pokoknya ya, gue harus menang dan anak-anak itu harus nurut semua sama omongan gue." Siska berdecak. "Lo pikir mereka pekerja lo di kantor. Sinting!!" "Bodo amat!!" Naura memilih untuk berdiri, berjalan ke arah ruang tamu dan menjatuhkan pantatnya di sofa, tidur terlentang di sana. "Lebih baik ya elo pikirkan gimana caranya mengambil hati mereka pelan-pelan dan lo akan lihat kalau mereka itu menyenangkan," teriak Siska dari dapur. "Ngambil hati mereka?" Naura bertanya balik. "Ih sori mori dori aja ya. Memangnya mereka siapa? Ogah banget!" Naura menghidupkan televise, mengganti salurannya tanpa benar-benar dia tonton karena pikirannya penuh dengan kejadian yang akan dialaminya besok. "Keras kepala!! Pantas aja Wisnu lari," tambah Siska kemudian. "Berisik!!' Naura mengambil bantal sofa dan menutup kepalanya yang pusing tapi sedetik kemudian dia bangkit lagi. "Ya ampun, gue telpon aja kali ya mobil derek langgannannya Mama buat bawa pulang mobil gue. Masalah kunci dipikirkan nanti ajalah." Siska menatapnya dengan pandangan frustasi, menghela napas lelah. "Serah lo lah. Tapi mau sampai kapan elo bakalan menghindar dari laki-laki itu. Elo kan berhutang budi, maaf sama ucapan terima kasih." "Tapi dia itu seram, SISKAAA!" teriak Naura, frustasi dan menjatuhkan diri lagi di sofa sembari mengacak rambutnya kesal. *** “Beb, ini sih namanya bunuh diri." Naura memutar bola mata sembari mengotak-atik ponsel di tangan saat perias yang sedang menata rambutnya berkomentar. "Elo kan gak suka banget sama anak kecil. Udah deh dari pada elo yang pusing nantinya mending angkat bendera putih aja dari sekarang." "Kamu lebay deh, Don. Masa gue harus kalah sebelum berperang sih. No Way!!" Doni Amirah, lelaki berjari lentik di salin langganannya yang bisa menyulap itik buruk rupa menjadi secantik cinderella itu sangat tahu bagaimana tidak sukanya dia dengan anak-anak. Pagi-pagi buta, Naura sudah ada di depan salon Doni padahal jam operasionalnya itu masih beberapa jam lagi hingga membuat Doni marah-marah. Dihari pertamanya bekerja, Naura ingin penampilannya sempurna supaya mudah mempengaruhi anak-anak. "Ihh dibilangin juga ih. Gue gak bisa bayangin itu nanti anak-anak bakal lihat wajah monster lo yang galaknya gak ketulungan. Kasihan aja sih sama mereka yang harus berhadapan dengan guru modelan lo gini." “Makanya, elo buat dong wajah gue ini secantik Princess Disney supaya mereka itu nurut sama gue!” “Etdah, sekalipun wajah kayak princess tapi kalau sifat lo lebih mirip medusa ya nggak mempan dong.” “Sialan!” umpat Naura.”Gue nggak separah itu!” “Lebih parah malah,” balas Doni. "Ini juga terpaksa harus gue lakuin, Don. Bilangnya sih supaya gue bisa memperbaiki image anak-anak di kepala gue ini supaya nanti gue bisa kembali negosiasi sama Wisnu." "Ah itu laki juga ya nyebelin." Doni mengatur rambut panjangnya agar lebih bergelombang bawahnya supaya dia bisa tampil cetar mengalahkan syahrono di hari pertamanya ke sekolah. "Seharusnya dia tetap mendampingi elo dan mencari jalan keluar yang terbaik berdua." Naura manyun mendengarnya. Kenyataan kalau Wisnu malah menghindarinya membuatnya kesal setengah mati. "Atau jangan-jangan dia memang sudah memprediksi kalau lo akan mempermasalahkan soal anak supaya kalian bisa putus dan dia bisa cari wanita lain yang modelannya seperti Metta itu, saingan lo." Naura melotot ke arah Doni melalui kaca. "Elo jangan ngomong sembarangan ah. Gak mungkin Wisnu langsung berpaling ke wanita lain.” "Gue kan cuma kasih pendapat." "Pendapat lo gak mutu." Doni mencibir, memberikan semprotan hair spray sebagai sentuhan terakhir dan tersenyum lebar membuat Naura langsung memperhatikan rambutnya yang sudah cetar. "Good. Biarpun harus perang dan gue gak tahu apa yang akan terjadi nanti tapi gue kudu selalu tampil cantik." "Elo mah memang sudah cantik. Ya udah sana deh pergi. Elo ganggu ritual pagi gue aja sih.” Naura memutar bola mata. ”Gue cuma bisa bilang, semoga elo beruntung gak kena darah tinggi setelah masa tiga bulan ini terlewati." Naura tertawa seraya berdiri. "Gue harus bisa bertahan. Anak-anak itu harus nurut sama perintah gue." "Elo kira mereka robot yang bisa diatur-atur. Yang ada sih elo yang harus menyesuaikan diri." "Bodo amat gimana caranya nanti. Ah udahlah. Gue udah telat jadi dadah bye bye." Naura memberikan ciuman jauhnya dan Doni langsung menangkap dan memberikan ciuman balasan lalu keluar dari salon menuju ke mobilnya. Naura terpaksa memakai mobil kesayangannya yang jarang dia pakai karena mobil miliknya yang berhasil dia derek ada di bengkel. "Gak ada dalam kamus seorang Naura mengalami kekalahan untuk hal beginian." Naura mencengkram kemudi mobilnya. "Oke, i'm ready for this." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN