PART - 5 : HARI PERTAMA BERPERANG

1124 Kata
Naura bergidik melihat banyaknya bocah-bocah troublemaker yang seperti siap untuk mengajaknya pergi ke medan perang. Berusaha keras untuk tidak melarikan diri dari tatapan-tatapan polos yang berdiri bergerombol di depannya memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Tampangnya sih polos tapi Naura sudah bisa membayangkan di kepalanya drama apa saja yang akan terjadi dan itu pasti akan membuat Naura seperti terkena serangan badai. Sialnya, setelah berdiri di hadapan mereka semua seperti ini, Naura malah tidak yakin apa dia bisa menghadapi semuanya sendiri karena menghadapi keponakannya saja dia bisa berubah menjadi hulk dalam sekejap. Tahan..tahan..tahan.. Mereka anak orang bukan anak nyamuk. "Halo sayangku semuanya." Naura kaget dengan salam nyaring dari ibu Dahlia yang berdiri di sebelahnya. "Halo ibuuuuuuuu," balas mereka. Ibu Dahlia melambai-lambai, menoleh ke arahnya dan memperkenalkannya dengan seorang wanita muda berkepang yang sedang hamil besar yang tersenyum melihatnya. "Naura, kenalkan ini Putri yang mengajar kelas ini." "Halo Putri." Naura mengulurkan tangan yang langsung disambut Putri. Selama tiga bulan ini, Naura yang akan menggantikan Putri yang cuti hamil. "Halo. Semoga betah ya," balasnya seakan memberi semangat. Yeah,semoga saja. "Anak-anak senang nggak nyanyi-nyanyinya?" tanya Ibu Dahlia. "Senaaaaanggg Buuuuu. Laaaggiiiiiiiiiiii potong bebeeeeknyaaaaaaa." Ada yang menjawab tapi ada juga yang cuek. Naura hanya diam tanpa berniat menyapa mereka tapi tatapan dari Ibu Dahlia juga Putri membuatnya kagok. Dia berdeham dan menyapa semua anak-anak itu tanpa ekspresi dan intonasi datar. "Hai semua." Singkat , jelas dan padat. Anak-anak itu sama sekali tidak ada yang menjawab hanya diam memperhatikannya begitu juga Ibu Dahlia dan Putri. Naura nyengir, "Maklumin Bu hari pertama." “Di sini ada lima belas siswa dan siswi tapi ada satu siswa yang sedang izin selama seminggu,” Ibu Dahlia memberi info. “Izin kemana,Bu?” tanya Naura. “Diajak PapInya keluar negeri ada urusan.” “Oh.” Naura mengangguk. Enak banget ya. Tiba-tiba ponsel di saku celananya berbunyi dan Si Ibu langsung mengangkatnya. "Oh begitu. Oke baiklah, Saya akan segera ke sana." Naura melihat anak-anak itu menelengkan kepala memperhatikan dan dia membalasnya dengan melotot membuat beberapa anak perempuan bergerak mundur. "Naura—" Naura langsung menoleh, pasang senyum bisnisnya. "Saya tinggal sebentar di sini sama mereka ya. Saya dan Putri mau ke ruangan dulu ada yang mau diurus. Sekalian kamu berkenalan dan berinteraksi dengan mereka." "Hah? Sendirian?" Mampus!! "Iya, memangnya kenapa?" "Eh, gak apa-apa Bu." "Oke, kami tinggal sebentar ya." Naura mengangguk saat Ibu Dahlia melambai ke anak-anak itu dan meninggalkannya di sana sendirian. "Uwuwuwuwuwuwu, ibu guluuu baluuuuu." Seorang anak cowok yang sejak awal dia perhatikan tidak bisa diam di tempatnya mendekat dan berputar-putar di sekelilingnya. "—eh," ucap Naura yang kepalanya mengikuti pergerakannya yang bikin pusing. Anak cowok itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang sudah lengkap. "Jangan mutar-mutar begitu. Duduk!!" Ucapnya seraya menunjuk lantai. "Gak maaaauuuu. Hhahahahhahaha." Anak itu malah bersembunyi di balik punggungnya dan saat dia menoleh ke belakang anak itu langsung berseru lantang. "BAAAAAA!" Ya Tuhan, beri hamba kesabaran tingkat dewa khayangan. "Ibu guluuuuu cantiiikkkkk." Beberapa anak perempuan bergerombol mendekatinya dan menengadahkan kepala memperhatikan. Ada yang menarik-narik blazernya, rambutnya dan ada yang duduk di kakinya. "Kalian ini bisa dibilangin gak?" ucapnya ketus. "Eh, jangan pegang-pegang ya. Ini rambut sudah mampir salon tadi pagi nanti kusut." "Elisa maaau punya lambut beginiiii." Salah satu anak perempuan yang memiliki rambut pendek merengek di depannya. "Ya sana panjangin dulu itu rambutmu." Anak itu hanya mengerjapkan matanya. "Nguinggg..nguingggg..nguinggg awaass ada tayoo mauu lewaaaaattt," ucap anak cowok yang lainnya ke arahnya membuatnya reflek langsung memekik mundur membuat anak-anak perempuan itu kaget. "Bu guluuuu ayoooo naikk tayoooo." Naura bergerak dengan cepat menghindari anak itu yang membawa mainan bus kecilnya di tangan dan bergerak mengikutinya. "Uwuwuwuwuwu." Benar-benar anak yang tidak bisa diam. "Tayoo mau lewaaaaattt. Miciiiiiii." "Hust, kamu mainnya jauh-jauh sana jangan ngikutin!" "Wuwuwuwuwuwu." Anak itu tetap saja mengejarnya dan dikasih tahu nggak bisa. Naura bergerak berputar -putar di sana sampai tanpa sengaja kakinya menginjak boneka milik salah satu anak perempuan yang ada di sana dan— BUKKK!! "Adooooowwwww, pinggangku." Naura terjatuh dengan tidak elegannya dan anak cowok yang mengejarnya tadi langsung tertawa terpingkal-pingkal. "Aaaaahh Ibuuuu duyuuuuu jattoooohhhh. Kapooooooook." Sialan memang dikapokin anak kecil. Naura mengusap pantatnya seraya meluruskan kaki dan memperhatikan semua anak-anak itu bergerombol di sekitarnya. "HUAAAAAAAAA, bonekaaaaaaa balbieeee Riskaaaa kepalanya lepaaaaaasss." Anak perempuan itu menangis di depannya. Naura melihat boneka barbie yang tadi diinjaknya sudah tercerai berai kepalanya. "Aduuhhh ituu buang ajaaa, jelek," Naura menendang kepala si Barbie menjauh dari kakinya membuat Riska yang melihatnya tambah menangis dan merangkak untuk sampai ke tempatnya dan menarik rambutnya. "Aaaaaaaaaa bonekaaaa balbieeeekuuuuu." "Aduhh, sana minggir." Anak-anak itu mengerumuninya dan anak cowok yang membawa bus tayo di tangannya itu mendorong-dorong kakinya dengan bus miliknya "Minggillll sanaa minggilll." "Hei kalian jauh-jauh." Naura mendorong pelan beberapa anak yang begitu dekat dengannya. "Hei, jangan tarik-tarik rambut." Naura mencoba melepaskan rambut hitam bergelombangnya dari cengkraman si anak yang menangis tadi. "Kalian minggir semuanya." "Huuaaaaaaaa." Sekarang ada tiga anak yang menangis dan itu membuat Naura semakin pusing. "Tayooooo mau lewaaaaaat. Awas Bu guluuuuuu." "Minggir!!" ucapnya seraya membuang mainan itu menjauh membuat anak cowok itu diam lalu kemudian marah dan mendekat lalu mengambil telapak tangannya dan mengigitnya. "Aaaaarrrgghhhhhh." Naura memekik. "Memang enaaaaak akuuuu gigiiiitttt. Weeeeeee." Anak cowok itu memeletkan lidahnya dan berlari pergi sambil terrtawa-tawa. Naura mengacak rambutnya yang sudah berantakan dan memekik. "AKKHHHHHHH!!" Frustasi. Kesal. Marah. Anak-anak memang makhluk yang menyebalkan!! *** “Bagaimana hari pertamamu bekerja?” Naura yang sedang selonjoran kaki di sofa ruang tamu rumahnya mencebik menjawab pertanyaan Arbella yang datang dari arah dapur dan duduk di sofa tunggal sambil nyemilin kacang goreng. “Rusuh.” Arbella tertawa membuat Naura keki dan membuang muka kembali fokus dengan ponselnya untuk mencari tahu kegiatan Wisnu. Tapi sayangnya, sejak satu jam yang lalu tidak ada yang bisa di dapatkannya. “Tapi seru kan?” “Seru apanya? Stress sih iya.” Arbella berdecak, “Tapi ingat loh ya, mereka itu anaknya orang yang nggak bisa kamu marahin sembarangan. Kamu harus hati-hati dalam berbicara dan bersikap.” “Aku sudah berusaha semampuku,” desah Naura. Membayangkan kembali dia harus menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak berubah menjadi hulk. “Percayalah, itu semua akan kamu rasakan manfaatnya suatu hari nanti.” “Aku tidak peduli,” cibir Naura. “Kalau kamu mau menyerah dan pasrah ditinggalkan Wisnu ya kamu berhenti saja.” Naura mendelik. “Kamu bilang aja sama mereka kalau kamu nggak kuat.” “Tidak!” Naura menggeleng. “Pokoknya aku harus kembali mendapatkan kepercayaan Wisnu apapun yang terjadi.” “Ya, pertahankan keyakinan itu.” Naura melihat Arbella berdiri. “Kalau begitu, untuk merayakan hari pertamamu bekerja bagaimana kalau kita berdua jalan-jalan ke mall?” Naura langsung berdiri dari rebahannya. “Traktir ya?” “Oke.” Naura sumringah, yah, setelah melalui hari yang berat dan melelahkan dapat traktiran begini memang pantas didapatkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN