Kita Putus!

1259 Kata
Adelia berjalan menuju gedung kantor esok paginya, ia merasakan beban yang tak terlihat. Wajahnya kusut dengan mata yang sembab karena menangis semalaman. Begitu ia masuk ke ruang divisinya, suasana masih sepi. Hanya beberapa rekan kerja yang baru menyalakan komputer dan menyiapkan berkas. Namun tatapan pertama yang ia temui membuat napasnya tercekat. Bayu sudah ada di sana. Berdiri di dekat mejanya, dengan raut cemas dan mata yang memerah karena kurang tidur. Begitu melihat Adelia datang, Bayu langsung menghampiri. “Adel… Kenapa kemarin kamu nggak bisa dihubungi sama sekali? Aku telepon, aku chat, semuanya kamu nggak jawab. Aku khawatir,” ucapnya dengan raut cemas. Adelia menatapnya singkat lalu menunduk. “Maaf, aku sibuk.” Jawaban datar itu membuat Bayu terdiam. Wajahnya tampak terluka, tapi ia mencoba tersenyum. “Sibuk sampai semalaman? Kamu bahkan nggak kasih kabar sama sekali. Ada apa, Adel?” Adelia menatap sekeliling. Beberapa rekan mulai menoleh curiga. Ia menghela napas pelan. “Bisa kita bicara di luar?” Bayu mengangguk tanpa pikir panjang. Ia mengikuti Adelia menaiki tangga menuju atap gedung. Tempat itu selalu menjadi titik pelarian mereka berdua. Adelia berdiri di tepi pagar besi, memandang ke arah kota yang masih diselimuti kabut tipis. Bayu berdiri di sampingnya, menunggu jawaban yang entah seperti apa. “Adel,” ucapnya lembut, “ada apa sebenarnya? Kamu kelihatan aneh sejak minggu lalu, dan sekarang kamu malah menjauh.” Adelia menggenggam ujung jas kerjanya, berusaha menahan getaran di tangannya. Ia menarik napas panjang, “Aku dijodohkan, Bayu.” Bayu menatapnya tak percaya. “Apa?” “Aku dijodohkan sama anak sahabat Ayah,” lanjutnya datar, matanya tak beranjak dari langit abu-abu di atas mereka. Bayu tertawa kecil. “Adel, itu nggak mungkin. Kamu pasti bercanda, kan? Kamu nggak mungkin nurut gitu aja tanpa ngomong sama aku.” Adelia menunduk menahan air mata yang mulai mengumpul. “Aku nggak bercanda. Mereka udah tentuin tanggalnya. Dua bulan lagi aku menikah.” Bayu menatap Adelia lama. Senyum getir muncul di wajahnya. “Dan kamu cuma diem aja? Nggak berusaha nolak?” “Bagaimana aku bisa nolak?” balas Adelia cepat, menoleh ke arah Bayu. “Kamu tahu seperti apa Ayahku. Aku nggak punya pilihan.” Bayu mengepalkan tangannya. “Aku udah berjuang selama ini, aku kerja keras buat kamu, buat masa depan kita. Aku nabung, aku belajar jadi lebih baik, semua demi hari itu. Apa masih kurang buat mereka?” “Bukan soal cukup atau nggak cukup,” jawab Adelia. “Mereka nggak peduli. Buat mereka, cinta nggak penting. Yang penting adalah siapa yang bisa jamin masa depan.” Bayu menatapnya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca. “Dan kamu setuju sama mereka?” Adelia menutup matanya sejenak. “Aku… nggak punya kekuatan buat melawan mereka.” “Jadi kamu menyerah begitu aja?” seru Bayu, suaranya meninggi. “Adel, kamu tahu betapa keras aku bertahan di sini buat kamu. Aku rela nunggu, aku rela sabar walau mereka nggak suka sama aku. Aku pikir kamu akan tetap di sisi aku.” Adelia menatapnya dengan air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Bayu, tolong jangan buat ini makin sulit.” “Aku cuma minta satu hal!” potong Bayu cepat. “Kita lawan bareng. Kita buktikan kalau cinta kita bisa bertahan.” Adelia menggeleng kuat, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku nggak bisa.” Bayu menatapnya tak percaya. “Kamu nggak bisa… atau kamu nggak mau?” Adelia menatapnya dengan pandangan yang hancur. “Kita putus. Aku mohon, jangan hubungi aku lagi.” “Kamu serius ngomong gitu?” Adelia menahan isak, tapi suaranya parau. “Aku harus. Demi Ayah, demi Ibu, demi semuanya.” Bayu tertawa kecil, getir, hampir seperti menangis. “Demi mereka? Jadi aku nggak termasuk semuanya lagi?” Adelia menunduk. “Maaf.” Bayu melangkah mendekat, memegang tangan Adelia, menatapnya dengan tatapan penuh luka. “Aku pikir cinta kita cukup kuat, Adel. Ternyata aku salah.” Adelia menepis tangannya. “Aku yang salah. Aku mohon, jangan cari aku lagi.” “Baik. Kalau itu mau kamu.” Ia menarik napas dalam, mencoba menahan tangis yang ingin pecah. “Aku nggak akan ganggu kamu lagi.” Adelia tak sanggup menjawab. Ia hanya berdiri diam, air mata menetes satu per satu membasahi pipinya. Bayu menatapnya sebentar sebelum akhirnya berbalik dan pergi, hilang di balik pintu logam yang menutup perlahan. Kini hanya Adelia yang tersisa di sana. Ia berjongkok menahan sesak yang terasa seperti mencengkeram d**a. Air matanya terus mengalir, tangannya memukul dadanya. Perpisahan ini begitu menyakitkan. Namun, tak ada lagi yang bisa Adelia lakukan selain mengakhiri semuanya sampai di sini. *** Adelia kembali ke ruangannya dengan hati yang terasa berat pagi itu. Namun ia merasa aneh saat melihat meja kerja Bayu yang sudah kosong. “Bayu?” bisiknya tak mengerti apa yang terjadi. Ia berkeliling, berharap menemukan wajah itu di salah satu meja rekan kerja lain, tapi tak ada. Di tengah kebingungannya, Tiara, rekan satu divisi melintas sambil membawa tumpukan berkas. Adelia cepat-cepat menghentikannya. “Tiara! Tunggu… Bayu mana? Kok mejanya kosong?” tanyanya cemas. Tiara menatapnya heran. “Hah? Kamu nggak tahu, Adel?” Adelia mengerutkan kening. “Tahu apa?” “Bayu baru aja ngajuin pindah cabang. Katanya mau ke kantor cabang di Yogyakarta. Suratnya disetujui sama Pak Rudi dengan cepat, dan dia langsung beresin semua barangnya.” Adelia terdiam. Dunia di sekitarnya seolah membisu. “Dia… pindah?” gumam Adelia pelan, seperti belum yakin dengan yang ia dengar. Tiara mengangguk pelan. “Iya. Katanya butuh suasana baru. Aku pikir kamu tahu, soalnya kamu pacarnya. Apa Bayu nggak omongin ini ke kamu?” Mata Adelia langsung berkaca. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Adel? Kamu kenapa?” tanya Tiara panik, buru-buru meletakkan berkas dan menarik Adelia ke kursi terdekat. “Hey, tenang, ada apa sih? Aku bilang sesuatu yang salah, ya?” Adelia menggeleng lemah, bahunya bergetar menahan tangis. “Bukan, Tiara… bukan kamu.” Tiara mengernyit, menatapnya dengan cemas. “Terus kenapa kamu nangis gini? Aku pikir kalian berdua baik-baik aja.” Adelia mengusap air matanya yang tak henti jatuh. “Kami… sudah putus.” Tiara menggenggam tangan Adelia erat. “Adel, aku nggak tahu harus bilang apa, tapi—” Adelia memotongnya dengan lirih, “Dia benar-benar menepati janjinya. Dia bilang nggak akan ganggu aku lagi. Dan dia beneran pergi, Tiara.” Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih deras. Tangannya meremas rok kerjanya, dadanya sesak. “Aku yang suruh dia pergi, tapi kenapa sakit banget begini.” Tiara hanya bisa diam. Ia tahu, tak ada kata yang bisa menenangkan luka seperti itu. Ia menatap Adelia yang kini menunduk di meja, bahunya berguncang pelan. *** Adelia pulang dengan perasaan yang hampa. Sepanjang hari ia hanya bisa menyesali perpisahan yang begitu menyakitkan itu. Begitu melewati lobi utama, pintu kaca otomatis terbuka, dan angin sore menerpa wajahnya. Namun langkahnya langsung terhenti di ambang pintu. Di sana, berdiri seseorang yang tak ia duga akan ia temui. Aditya Laksmana. Pria itu menunggu di sisi mobil hitam mewah yang terparkir di depan kantor. Jasnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, dan senyuman itu, senyuman lebar yang tenang, seolah dunia tak pernah memberinya beban. Begitu melihat Adelia keluar, Aditya segera melambaikan tangan. “Adel!” sapanya dengan riang, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. “Kebetulan sekali. Aku tadi baru mau telepon kamu.” Adelia terdiam di tempat. Dunia di sekitarnya terasa melambat. Orang-orang berlalu-lalang di lobi, beberapa menatap penasaran ke arah mereka, tapi Adelia tak peduli. Matanya hanya tertuju pada sosok pria yang kini berjalan menghampirinya. “Apakah ini jalannya?” gumam Adelia lirih. “Apakah aku seharusnya mempercayai pria ini dan menggantungkan hidupku padanya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN