“Bagaimana harimu?” tanya Aditya lembut ketika sudah berdiri di depan Adelia. “Kelihatannya kamu lelah.”
Adelia menatapnya sebentar, lalu mengalihkan pandangan. “Sedikit,” jawabnya singkat. Ia mencoba tersenyum sopan, meski wajahnya masih menyimpan bekas duka.
Aditya menunduk sedikit, seolah berusaha menangkap pandangan matanya.
“Aku kebetulan ada di dekat sini. Kupikir… gak ada salahnya menjemputmu pulang. Boleh kan?”
Suara itu begitu tenang, berbeda jauh dari nada tegas ayahnya semalam. Aditya tampak seperti sosok yang penuh kesabaran, seseorang yang tidak memaksa, tapi tahu bagaimana membuat orang lain merasa diperhatikan.
Adelia tak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah pria itu, mencoba membaca niat di balik senyumannya. Dalam hati, ada pergulatan yang sulit dijelaskan. Bayu baru saja pergi meninggalkannya dengan hati yang retak. Dan kini, di saat ia kehilangan pegangan, seseorang datang dengan tangan terbuka, menawarkan sesuatu yang tampak seperti ketenangan.
Namun sebelum pikirannya sempat menemukan jawaban, Aditya berbicara lagi.
“Kalau kamu nggak keberatan,” ucapnya lembut, “izinkan aku mengantarmu pulang. Anggap saja… aku sedang belajar menjadi calon suami yang baik.”
Ucapanya itu terdengar hangat hingga membuat d**a Adelia bergetar halus. Ia menatap Aditya lama, dan di balik matanya yang tenang, Adelia melihat ketulusan atau mungkin hanya ingin meyakinkan dirinya bahwa ketulusan itu benar-benar ada.
Aditya segera membuka pintu untuk Adelia, ia menoleh dengan senyuman hangatnya. “Ayo, Kamu akan masuk angin kalau terus di sini.”
Adelia melangkah pelan dan memasuki mobil itu dengan perasaan yang penuh kebimbangan. Saat mobil melaju meninggalkan gedung, Adelia merasa mungkin… ini memang jalan yang sudah ditentukan untuknya.
Mungkin, di balik luka yang baru saja terbuka, Tuhan tengah menunjukkan arah baru. Hingga Adelia pun memutuskan untuk mengikutinya tanpa berpikir jauh.
***
Gaun-gaun putih berjajar rapi di dalam butik mewah, menggantung anggun di balik kaca transparan. Hari ini Adelia sedang mencoba gaun pernikahan bersama dengan Ibunya, Sukma. Namun, bukan hanya bersama dengan ibunya. Melainkan juga bersama Aditya dan Sintya.
Adelia menatap pantulan dirinya di cermin besar di depan, mengenakan salah satu gaun pengantin yang baru saja dicobanya, gaun itu berwarna putih gading dengan renda halus di bagian bahu, begitu indah tapi terasa asing di tubuhnya.
“Cantik sekali, Adel,” ucap Sukma dengan mata berkaca. “Kamu benar-benar terlihat seperti putri.”
Sintya ikut tersenyum, menatapnya penuh kebanggaan. “Adit beruntung sekali mendapatkanmu. Gaun ini pas sekali di tubuhmu, elegan tapi tetap sederhana.”
Adelia hanya tersenyum kecil, matanya menatap bayangan dirinya sendiri. Ia tahu seharusnya merasa bahagia, tapi rasa gugup dan bimbang masih menempel kuat di hatinya. Hingga suara tawa kecil dari arah belakang menarik perhatiannya.
Aditya sedang berbicara dengan kedua ibu itu. Ia menunduk sopan, sesekali tertawa kecil saat Sintya menggoda soal kesiapannya menjadi suami.
“Tenang, Bu. Saya akan berusaha jadi menantu yang baik. Asal Ibu jangan terlalu sering marah kalau nanti saya kalah debat sama Adel,” ucapnya membuat mereka bertiga tertawa.
Adelia memperhatikan dari kejauhan. Ada sesuatu yang hangat dalam cara Aditya bersikap. Tatapannya selalu lembut, nada bicaranya santun, dan ia begitu pandai membuat dua wanita itu merasa dihormati tanpa terlihat dibuat-buat. Ia memperhatikan bagaimana Aditya dengan sabar membantu Sintya yang kesulitan duduk karena rok panjangnya, lalu tersenyum menenangkan Sukma yang terlihat emosional melihat anaknya bersiap menikah.
“Bu, jangan menangis terus,” ucap Aditya lembut sambil menyerahkan tisu. “Kalau Ibu menangis begini, nanti Adel malah ikut sedih. Padahal dia seharusnya bahagia hari ini.”
Sukma tertawa kecil, menyeka matanya. “Kamu benar, Adit. Aku cuma… masih nggak percaya anakku akan menikah.”
“Percayalah, Bu,” jawab Aditya dengan senyum tulus. “Saya janji akan menjaganya baik-baik.”
Adelia tertegun mendengar itu. Kata-kata sederhana, tapi diucapkan dengan keyakinan yang membuat dadanya bergetar pelan.
Ia menunduk sedikit, lalu menatap dirinya lagi di cermin. Entah bagaimana Adelia merasa… tenang. Mungkin bukan cinta yang membuatnya seperti itu, tapi kehangatan yang perlahan menenangkan luka lama di hatinya.
Tak lama kemudian, Aditya menghampirinya. Ia berdiri di belakang, menjaga jarak sopan, lalu menatap bayangan Adelia di cermin.
“Gaun itu cocok sekali untukmu,” ucapnya pelan. “Kamu terlihat… cantik.”
Adelia tersenyum samar. “Aku merasa kurang cocok,” jawabnya pelan.
Aditya menatapnya lembut. “Nggak apa-apa. Kamu bisa mencoba yang lain.”
“Apa kamu ... yakin?” tanya Adelia menatap nanar pada pantulan keduanya di cermin.
Aditya menatapnya heran, “Tentang apa?” tanyanya balik.
“Pernikahan ini,” balas Adelia terdengar keraguan yang cukup besar.
Aditya terdiam, menimbang kata apa yang harus ia ucapkan untuk meyakinkan Adelia.
“Hmm ... jika kamu belum yakin, aku bisa menunggu selama yang kamu mau, Adel,” ucapnya pelan. Tatapan matanya melembut seolah menekan kecewa pada raut wajahnya.
“Tapi,” lanjutnya. “Aku nggak ingin mengecewakan orang tua kita. Bagiku, mereka adalah yang utama dan berharap kamu bisa mengerti. Bahwa pernikahan ini bukan antara aku dan kamu, tapi juga antara orang tua kita. Aku hanya ingin menjadi anak yang berbakti, bukankah kamu juga merasakan hal yang sama?
Kata-kata itu terasa seperti tamparan keras. Adelia menatap bayangan Aditya di cermin, melihat ketulusan di matanya. Entah bagaimana kata-kata itu mulai merasuki hatinya.
Suara lonceng lembut dari arah pintu membuat semua kepala di ruangan itu menoleh hampir bersamaan. Pintu butik pengantin terbuka perlahan, dan dari baliknya muncul sosok pria bertubuh tinggi dengan balutan kemeja hitam rapi dan celana panjang abu gelap. Langkahnya tenang, tapi setiap gerakannya memancarkan wibawa yang kuat membuat semua mata otomatis menatapnya.
Adelia tertegun seketika. Pria itu memiliki aura berbeda dari Aditya. Tatapan matanya tajam, dalam, seolah bisa menembus lapisan hati orang lain. Rahangnya tegas, dan sorot mata itu… entah kenapa, terasa seperti menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Kak Pras!” seru Aditya segera melangkah maju menghampiri pria itu. “Aku nggak nyangka kau datang juga. Kukira kau masih di luar negeri.”
Prasetyo hanya tersenyum tipis. “Aku baru tiba pagi ini,” ucapnya dingin. Matanya lalu beralih, menatap ke arah Adelia yang masih berdiri di depan cermin, mengenakan gaun pengantinnya. Tatapan itu cukup lama hingga membuat Adelia gugup dan spontan menunduk.
Aditya menyadari hal itu dan cepat-cepat menghampiri mereka. “Kak, kenalin,” katanya sambil memegang lembut tangan Adelia dan membawanya sedikit mendekat. “Ini Adelia Putri, calon istriku.”
Pras menatap tangan mereka berdua, lalu menatap wajah Adelia sekali lagi. Tatapan itu tak seperti tatapan seorang kakak ipar yang ramah, tapi seperti seseorang yang sedang menilai menyelami isi hati tanpa bertanya sepatah kata pun.
“Apa kau… yakin mau menikah dengan Adit?” tanya Prasetyo dengan wajar datar.
Seketika ruangan menjadi hening. Sukma menatap bingung, Sintya terperanjat, bahkan Adelia membeku di tempat, tidak tahu harus menjawab apa.