Awal Pertemuan
Hari ini tidak ada jam kuliah,karena sudah hampir selesai dan tinggal praktiknya saja,aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. kebetulan uang saku juga sudah menipis.
Trrriiinggg....ttrriiinnggg....
ku lihat layar Hp ku ternyata nomor ibu yang menelepon.
"Assalamualaikum,,ya bu ada apa?"
"Wa'alaikumsalam nduk,,sedang apa? sehatkan? Oh iya,,mau pulang kapan nduk? ini sudah tanggalnya kamu pulang kan?"
"Alhamdulillah sehat bu. Iya insyaallah hari ini aku pulang bu,ini sedang siap - siap dulu."
Oh..yo wes hati - hati yo nduk. Ibu tunggu di rumah."
" Ya bu,,sampaikan bapak nanti aku minta jemput ya.Kalau sudah sampai tempat biasa aku telpon ibu lagi."
" Iya nduk nanti ibu sampaikan ke bapakmu untuk jemput ditempat biasa. Jaga diri baik-baik ya. telpon ibu tutup dulu. Wassalamu'alaikum."
"siap bu..Wa'alaikumsalam."
Setelah itu aku pun berangkat untuk pulang ke kampung halaman ku. Butuh waktu 4 jam untuk sampai ke kmpung ku . Kampung yang indah nan Asri,berbeda jauh dengan tempat ku menuntut ilmu. Disini sangat panas,berbeda dengan kampung ku yang sejuk,kadang malah terkesan dingin karena kampung ku terletak di pegunungan.
Bapak sudah menunggu ku ditempat biasa. Ku perhatikan paras wajahnya yang semakin senja,,tetapi masih ada gurat ketampanan yang tersisa disana.
"Assalamualaikum bapak." aku menyalami bapak dan bapak sedikit kaget karena beliau tidak menyadari kalau aku sudah berada di belakangnya.
"Wassalamu'alaikum nduk,,kaget bapak,,ditunggu - tunggu ternyata sudah ada dibelakang aja."
"Hayoo...bapak lagi ngalamunin apa sih kok sampe gak nyadar aku dah ada di belakang bapak?" tanyaku sambil menggoda bapak.
kami memang sering sekali bercanda,,karena bapak sangat humoris ketika bersama keluarga.
" ndak kok,,bapak ndak ngelamunin apa - apa. yok pulang bantar lagi mesti hujan ini dah mendung banget."
"yuuk pak,,udah gak sabar minum kopi panas sama nyemil gorengan ini."
Setelah itu aku langsung membonceng motor bapak. Aku memang tidak bisa membawa motor sendiri. Entah kenapa rasanya parno sekali untuk latihan mengendarai motor itu. Yang ada malah bayangan jatuh dari motor terus sampai tidak berani walaupun hanya sekedar berlatih.
Dalam perjalanan pulang kami menghabiskan waktu dengan mengobrol. Bapak banyak bertanya tentang kegiatan ku di kota gudeg itu. Dan bertanya kapan aku akan wisuda,,karena memang sudah tidak ada perkuliahan dan hanya menyelesaikan tugas praktik ku saja.
*******
Sesampai di rumah aku disambut dengan hangat oleh ibu dan kakak perempuan ku ,mbak Diba. Ternyata mereka sudah menyiapkan makanan kesukaan ku. Ibu memang selalu menyiapkan makanan kesukaan ku ketika aku sudah sampai di rumah.
"Dek,,aku dah gak sabar pengen cerita sesuatu sama kamu." mbak Diba langsung mengajak ku ngobrol
" Kamu ingat gak sama si Yoyon anaknya bude Sani?
" Ooh,,mas Yoyon inget aku mbak. Emang ada apa?
"Kemarin dia kesini trus ngobrol lama banget sama bapak ibu "
" Lho,,kan emang mas Yoyon ada bisnis kopi sama bapak,,ya wajar lah mereka ngobrol lama. Emang ada yang aneh mbak?"
" Iya sih emang bapak ada bisnis sama dia,,tapi yang bikin mbak penasaran tuh mereka nyebutin nama kamu dek "
" Nama aku?"
" Iya,,kalau menurut mbak sih ya,,kaya nya kamu mau dijodohin deh sama dia. Mbak juga sempet denger kalau Yoyon bilang pengen jadi mantu bapak ibu."
" Aah....mbak ini jangan ngarang deh. Ini kan jaman milenial,,kenapa jiga masih ada jodoh - jodohan. Kaya Siti Nurbaya aja."
Mbak Diba hanya mengedikan bahunya,dan membuatku semakin penasaran dengan apa maksud ucapan mas Yoyon itu. Apakah aku harus bertanya sama ibu?? tapi Aah.... rasanya seperti aku kegeeran. Bisa jadikan mas Yoyon hanya bercanda mengatakan itu semua? Biar aja lah aku pura-pura tidak tau saja cerita mbak Diba tadi.
******
Pagi ini terasa sangat dingin. Walaupun udara cerah tetapi di kampung halaman ku ini udara terasa dingin,,maklum lah pegunungan. Aku masih malas untuk beranjak dari tempat tidur ku. Mbak Diba dan ibu sepertinya sudah bangun dan berada di dapur tuk menyiapkan sarapan. Kebetulan hari ini weekend dan nanti rencana aku dan mbak Diba akan berbelanja sekalian jalan-jalan.
" Dek bangun,,bantuin mbak mu ini lho. Anak gadis ndak boleh bangun siang - siang. Nanti rejekinya dipatok ayam lho."
Suara ibu langsung membangunkan ku. Ada rasa malas untuk segera bangun karena masih terasa dingin. Aku juga jarang sekali membantu di dapur saat pulang ke rumah. Rasanya malas saja kan sudah ada mbak Diba dan ibu yang sudah menyiapkan semuanya. Jadi ngapain aku mesti repot - repot ke dapur? Tapi itu semua tidak berlaku untuk ibu. Buat ibu,,sebagai anak gadis harus bisa dan mau mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kata ibu biar nanti kalau sudah berkeluarga kita bisa menjadi istri yang baik dan disayang mertua.
Dengan sedikit malas aku pun bangun dan membantu mbak Diba di dapur. Ibu sedang mencuci pakaian di belakang sedangkan bapak sedang bermain dengan Kiko,,anak mbak Diba. Suami mbak Diba bekerja di liar kota. Sedangkan Mbak Diba bekerja sebagai PNS di kantor Kecamatan bareng dengan Bapak. Sebuah kebetulan yang membuat banyak orang iri dengan keluarga ku. Bahkan banyak yang melakukan hal-hal keterlaluan dan menyangkut hal mistik karena saking irinya. sungguh keterlaluan
Aku segera membantu mbak Diba dan segera bersiap untuk berbelanja. Kami hanya berdua karena Ibu tidak mau kami ajak. katanya ibu nanti Bude Sani mau datang. Aku jadi teringat cerita mbak Diba kemarin tentang mas Yoyon. tapi aku tidak mau geer dulu. Karena Bude Sani emang sering kerumah,pun dengan ibu yang juga sering berkunjung ketempat bude Sani. Mereka bersahabat sedari kecil kerena berasal dari kampung yang sama. Saat ibu sakit karena Diguna - guna orang,,bude Sani juga ikut mencari orang pintar untuk menolong ibu. Mereka sudah seperti saudara buat keluarga ku.
*****
Mbak Diba mengajakku berbelanja di swalayan yang terkenal di kota kami. Sebelum berbelanja kami ke anjungan ATM dulu karena mbak Diba akan menarik uang kiriman dari mas Adi,suaminya. Karena Tahun ini Kiko sudah masuk sekolah,,jadi sekalian berbelanja untuk kebutuhan sekolah Kiko.
Saat berbelanja kebutuhan rumah,, ada seorang karyawan yang memperhatikan aku terus.
"Kamu kenal dia dek? dari tadi liatin kamu terus tuh."
" Aku sih kaya gak asing mbak sama tampangnya. Tapi siapa ya?
Tiba - tiba lelaki itu menghampiri kami.
" Dilla ya? Apa kabar,,lama ya gak ketemu."
Aku hanya tersenyum dan terus mengingat siapa lelaki ini? sepertinya sudah tidak asing buat ku. Tapi siapa ya??
Besambung