Bab 01. Kehidupan Nayla Zafira
Bandung.
Alarm dihandphone yang berdering nyaring membangunkan tidur singkat Nayla Zafira. Gadis itu baru bisa tidur setelah dia menyelesaikan pekerjaannya di Rytz bar pada pukul dua dini hari. Walau baru tiga jam tidur, Nayla terpaksa harus bangun karena pekerjaan rumah tangga kini telah menantinya.
Dengan wajah mengantuk dan mulut yang menguap Nayla turun dari kasur kecilnya lalu segera keluar kamar menuju dapur.
Nayla Zafira adalah seorang gadis penyabar, mandiri, tegar dan pekerja keras. Walau usianya masih sembilan belas tahun, Nayla bak seorang ibu rumah tangga yang bisa dengan telaten mengerjakan pekerjaan rumah.
Takdir memaksa Nayla untuk bisa melakukan itu karena setelah satu tahun pasca ibu kandungnya meninggal, ayahnya yang bernama Dani Permana menikah lagi dengan Meifa Sagita. Wanita itu memiliki anak seumuran dengan Nayla. Nayla pikir, hidupnya bisa seindah dan sebahagia dulu karena dia tidak hanya memiliki ibu lagi tetapi kali ini dia juga memiliki saudari. Namun sayang apa yang dipikirkan Nayla itu salah karena kenyataannya ibu dan saudari tirinya itu selalu jahat dan berlaku tidak adil kepadanya. Sedangkan ayahnya hanya bisa pasrah terhadap kelakukan istrinya itu. Jika dia membela Nayla, Meifa pasti akan murka dan mereka pasti akan bertengkar.
Nayla tidak ingin ada pertengkaran. Itulah sebabnya dia patuh saja pada apa yang dikatakan ibu tirinya itu. Mulai dari mengerjakan semua pekerjaan rumah, membantu perekonomian keluarga sampai harus mengalah untuk tidak melanjutkan pendidikan ke universitas. Semua itu Nayla lakukan dengan ikhlas dan tegar.
Pertama – tama Nayla memasak untuk sarapan. Setelah selesai memasak, dia melanjutkan pekerjaannya dengan membersihkan rumah mulai dari menyapu, mengepel sampai merapikan barang - barang dan melap perabot rumah. Setelah ayah, ibu dan saudari tirinya selesai sarapan, dia kembali ke dapur untuk mencuci piring. Setelah itu dia harus ke belakang rumah dan mencuci pakaian.
Setelah selesai mengerjakan semua itu, Nayla bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hanya butuh sepuluh menit, gadis itu telah menyelesaikan ritualnya. Dengan langkah cepat Nayla berjalan menuju kamar sempitnya lalu segera memakai pakaian, kaos hitam dan celana jins berwarna biru. Usai memakai pakaian, Nayla memoles wajah cantik nya dengan bedak tipis. Setelah merasa penampilannya sudah tampak rapi, segera dia menarik tas jinjing nya lalu keluar kamar menuju dapur.
Disana masih ada ayahnya, ibu dan saudari tirinya sedang duduk dan berbincang - bincang.
"Kamu udah mau berangkat?" tanya Dani pada Nayla setelah ia menghentikan percakapannya dengan Meifa.
"Iya yah." jawab Nayla.
"Nay, apa kamu tidak capek kerja siang malam ? Ayah perhatikan waktu istirahat kamu hanya beberapa jam saja. Kalau kamu terus – terusan seperti ini nanti kamu bisa sakit." ujar Dani khawatir.
"Kalau dia nggak kerja gimana kita bisa makan ? Gimana Risya bisa kuliah ? Terus gimana kamu bisa berobat?" gerutu Meifa.
Setelah lulus SMA Nayla harus bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Ketika ayahnya didiagnosa mengidap penyakit gagal ginjal, usaha bengkel ayahnya langsung dijual sehingga tidak ada lagi sumber penghasilan untuk keluarga mereka. Akhinya Meifa langsung saja menyuruh Nayla untuk bekerja agar bisa membantu kebutuhan sehari – hari dan juga membantu membayar biaya pengobatan ayahnya yang setiap bulan harus dua kali cuci darah.
Karena sayang pada ayahnya Nayla pun bersedia. Dia harus rela mengubur dalam – dalam keinginannya untuk kuliah. Dia harus sabar dan tabah, terlebih ketika dia mengetahui bahwa hanya dialah yang harus bekerja karena Risya akan melanjutkan pendidikan nya ke universitas. Dan dialah juga yang harus membayar uang kuliah Risya. Kasihan sekali dia!
"Ya kalau gitu kamu juga kan bisa bantuin Nayla. Paling tidak pekerjaan rumah bisa kamu kerjakan."
"Enak saja! Kamu lupa ya, aku itu alergi debu, alergi sabun cuci piring, alergi sabun cuci baju. Nanti tangan aku jadi terkelupas terus luka - luka lagi. Mana bisa aku kerjain pekerjaan rumah."
"Kalau begitu kamu bantuin masak."
"Sinting kamu! Kamu lupa juga ya. Aku itu tidak bisa pegang bawang, tidak bisa pegang cabe langsung perih tanganku. Kamu buat aku mati?"
Dani tak lagi mampu berkata - kata. Istri keduanya itu memang pandai bicara. Selalu saja banyak alasan jika disuruh membantu Nayla. Dan terkadang alasannya gila. Mana ada orang mati hanya karena memegang bawang dan cabe ? Benar – benar tidak masuk akal!
Dani tahu Istrinya itu tidak ada alergi apapun. Meifa hanya malas saja. Dia sama sekali tak ada niat untuk membantu Nayla. Pikirnya dia seorang nyonya sementara Nayla seorang pembantu.
“Kalau begitu, Risya saja yang bantuin Nayla mengerjakan pekerjaan rumah.”
“Ogah! Aku banyak tugas dari kampus jadi aku tidak bisa membantu Nayla.” pekik Risya dengan ekspresi acuh tak acuh.
Dani menarik napas panjang. Istri dan anak tirinya sama saja ternyata.
"Tidak apa-apa kok yah. Ibu sama Risya tidak perlu membantu. Nayla sudah terbiasa mengerjakan semua . Jadi ayah tenang ya. Nayla pasti akan baik - baik saja. Yakin deh, Nayla tidak akan jatuh sakit. Justru ayah tuh yang harus banyak istirahat agar sakitnya tidak kambuh."
"Tuh dengar." Mulut Meifa langsung bicara lagi. “Dianya kan tidak keberatan jadi kedepan tidak perlu bahas soal ini lagi. Males!”
Dani mendesah pasrah. "Ya udah kalau gitu kamu berangkat kerjanya sama Risya aja. Kan kampus sama tempat kerja kalian searah."
"Nggak bisa!" tolak Risya mentah - mentah. "Aku ada kelas pagi jadi kalau Nayla nebeng sama aku bisa - bisa aku terlambat."
Nayla mendesah panjang. Alasan itu lagi, alasan itu lagi. Sudah basi!
"Tidak apa-apa kok yah. Nayla bisa berangkat sendiri. Oh ya. Hari ini ayah akan mau ke rumah sakit kan. Ini uang untuk membayar biaya cuci darah.” ucap Nayla sambil memberikan sejumlah uang yang ia taruh didalam amplop putih.
Belum sempat Dani mengambil amplop itu, tangan Meifa dengan cepat merebutnya. “Biar aku yang pegang. Toh aku kan yang nanti anterin kamu. Jadi biar ini sama aku aja.”
Nayla dan ayahnya saling berpandangan. Raut wajah Dani terlihat sedih dan tak berdaya. Sebenarnya Nayla merasakan hal yang sama namun didepan ayahnya dia harus terlihat baik - baik saja. Dia harus terlihat kuat dan bahagia. Nayla pun langsung menyunginggkan senyum terbaiknya, seolah senyumnya itu dapat berkata bahwa tidak apa – apa.
“Nayla pergi dulu ya.” ucap Nayla kemudian.
"Kamu hati - hati ya nak. “
"Iya yah. Ini aku ambil untuk sarapan." ucap Nayla lalu meraih satu buah pisang yang terletak diatas makan.
"Duduk dulu kalau mau sarapan." ujar Dani.
"Tidak ada waktu lagi. Makan dijalan aja supaya Nayla tidak terlambat ke restorannya."
Sambil mengunyah pisang Nayla berjalan keluar rumah. Disusul Risya, gadis itu berjalan seperti seorang model, silang kanan silang kiri kakinya.
Begitu berada dihalaman rumah, dengan ketusnya Risya berkata, "Jangan pernah berharap ya bisa satu mobil dengan aku. Ogah banget deketan sama kamu. Kamu tuh bau!" Jari gadis bertubuh pendek itu langsung menutup hidung nya. Berlebihan! Mana ada Nayla bau busuk. Walaupun tidak memakai parfum, setidaknya sabun mandi dan shampo yang dipakainya berbau harum.
Risya bisa membawa mobil karena katanya dia punya pacar yang lumayan kaya. Dengan mudahnya pacarnya itu memberikan mobil pada Risya. Kini gadis itu lebih menjadi sombong. Pikirnya dia sudah kaya jadi bisa menghina orang seenak hatinya.
"Siapa juga yang mau satu mobil sama kamu? Aku mah takut disupirin orang pendek kayak kamu. Itu kaki nyampe nggak nginjak gas sama rem ?"
Risya langsung mengepalkan tangannya karena geram. "Iihh... kurangajar kamu!"
Sebelum gadis itu melapor pada ibunya, Nayla langsung saja kabur. Sambil tertawa Nayla segera menyalakan mesin motor maticnya lalu pergi dari sana.
***
“Kamu udah datang Nay.” sapa Vina salah satu teman kerjanya.
“Iya. Bentar aku simpan tas aku dulu ya.”
Nayla berlalu ke sebuah ruangan tempat para karyawan menyimpan barang – barang mereka. Setelah itu dia langsung memulai pekerjaannya. Hari itu seperti hari – hari biasanya. Tamu yang datang cukup banyak. Tetapi Nayla juga teman – teman pelayannya tidak merasa kewalahan melayani para tamu yang datang makan direstoran. Dengan cekatan dan sambil melemparkan senyuman terbaik, mereka melayani para tamu dengan sopan dan tulus.
***
Dani dan Meifa masih diteras rumah ketika segerombolan pria berpakaian hitam datang dan membuat keributan dirumah mereka.
Dani yang panik langsung saja bertanya, “Ada apa ini?”
Pria yang tubuhnya paling tinggi tersenyum sinis kala memandangi Dani. “Jangan berlagak amnesia. Jatuh tempo hutang kalian sudah lewat tiga hari. Kami kesini mau menagih pembayarannya.”
Alis Dani bertaut. “Hu-hutang? Hutang apa?” Tatapan matanya kemudian beralih ke Meifa. Tidak salah lagi. Istrinya itu pasti biang keroknya.
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang dapat diucapkan Meifa.
Pria yang lain kemudian mendorong meja dan menendang kursi hingga kursi dan meja yang terletak diteras itu menjadi berantakan. Dani hendak menahan pria itu namun dengan gerakan cepat pria itu mendorong Dani hingga pria paruh baya itu terjatuh dilantai.
“Kurangajar kamu! Mengapa kamu mendorongnya hah? Dia sedang sakit, kamu sangat kejam!” teriak Meifa pada pria yang mendorong suaminya.
Bukannya prihatin dan merasa bersalah, pria itu malah mendorong Meifa hingga wanita itu juga ikut terjatuh dilantai. Isi tas Meifa pun langsung berserakan. Pria itu melihat ada sebuah amplop berwarna putih yang lumayan tebal. Dia pun langsung mengambil amplop itu.
Sambil merangkak Dani mendekati pria itu. “Jangan ambil uang itu. Kembalikan!”
Pria itu tidak mengatakan apa – apa. Hanya kakinya saja langsung diayunkannya, menendang tubuh Dani. Dani langsung terjatuh lagi.
“Kalian jangan terlalu kasar.” seru seorang pria berumur empat puluhan. Pria itu kemudian berjalan menghampiri mereka semua.
“Tu-tuan Bram.” panggil Meifa terbata – bata.
“Ayolah.” kata Bram pada anak buahnya. “Berikan mereka waktu satu bulan. Jika dalam satu bulan mereka belum mengembalikan hutang barulah kalian beraksi.” ucap Bram dengan seringai licik.
Tuan Bram adalah seorang rentenir. Dia bisa dengan mudah meminjamkan uang. Tetapi saat menagih, sikap kasar pun tak segan – segan dilakukannya. Anak buahnya pun tampak sudah terlatih melakukan kekerasan bagi para peminjam yang tidak membayar hutang.
Salah satu anak buahnya menyerahkan amplop putih kepadanya. Bram kemudian membuka amplop itu dan menghitung jumlah uang didalamnya. Jumlah uang itu tiga juta rupiah.
“Sebaiknya kalian segera bayar hutang kalian. Kalau tidak, kalian tahu sendiri akibatnya!” Bram memperingatkan. “Dan ini. Uang ini tidak termasuk pembayaran pokok pinjaman. Ini hanya bisa membayar bunganya saja selama tiga hari ini.” Lanjut Bram sebelum mengajak anak buahnya pergi dari sana.
Tubuh Dani bergetar hebat. “Ya Allah, bagaimana ini ? Cobaan apa lagi yang engkau berikan pada hamba?” ratapnya sambil menangis.
Dani kemudian melayangkan tatapan tajam pada Meifa. “Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?” teriak Dani.
“A-aku meminjam uang se-seratus juta pada tuan Bram untuk bi-biaya masuk kuliah Risya. Yang lainnya a-aku pakai untuk pe-pengobatan kamu.”
“Bohong!” teriak Dani sekali lagi dengan wajah penuh amarah. “Teganya kamu melakukan ini. Selama ini pengobatanku dibiayai Nayla. Anak itu rela banting tulang untuk membantu perekonomian kita. Tapi kamu ? Lihat apa yang kamu perbuat! Bukannya membantu tapi kamu malah menambah masalah baru. Kamu benar – benar tidak punya perasaan!”
“Ini semua gara – gara kamu. Kamu kepala keluarga seharunya kamu yang mencari nafkah untuk kami. Kenapa kamu harus sakit ? Kenapa kamu harus lemah seperti ini?”
Ucapan Meifa sontak membuat Dani menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka istirnya itu akan menyalahkan dirinya. Siapa juga yang ingin sakit ? Demi apapun, Dani rela melakukan apa saja untuk sembuh. Tapi nasib berkata lain. Bagaimana pun usahanya, penyakitnya tidak dapat disembuhkan secara total.
Sepertinya tidak ada gunanya berbicara dengan istrinya. Ujung – ujungnya mereka pasti akan bertengkar. Dani pun bangkit, berjalan tertatih – tatih masuk kedalam rumah meninggalkan wanita rubah itu.
***
Jam menunjukan pukul tujuh malam ketika Nayla menyelesaikan pekerjaannya direstoran. Akan tetapi pekerjaan lain sedang menantinya. Setelah ini Nayla harus kembali bekerja sebagai pelayan di Rytz Bar Hotel.
Jika saja ayahnya tidak sakit, jika saja bengkel ayahnya masih ada dan jika saja Risya tidak kuliah, mungkin upahnya dari hasil bekerja direstoran bakal cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun kenyataaan sungguh tak seindah yang diharapkan Nayla. Hidupnya sekarang harus diisinya dengan bekerja dan bekerja.
Nayla setengah berlari ketika ia memasuki Rytz bar. Perjalanannya kesini mengalami hambatan karena motor yang dikendarainyaa mendadak mogok. Bukan mendadak tepatnya. Sudah menjadi penyakit motor matic itu, jika berjalan terlalu jauh motor itu akan mogok. Alhasil kini dia datang terlambat.
Rupanya keberuntungan masih belum berpihak pada Nayla. Ketika berada dipintu masuk bar dia bertabrakan dengan orang mabuk.