Kalian saling kenal?" tanya salah seorang pria yang merupakan pemilik perusahaan itu.
"Oh... Kami tidak saling kenal, Pak," sahut Novita gelagapan.
"Mungkin beliau terkejut akan kepala bagian Desain yang saya ajak sekarang," sela Ella santai dan pasti.
"Oh, ini Desainer baru yang cukup terkenal akan karyanya itu ya? Mbak Rheina, 'kan?" Pria itu menyodorkan tangannya untuk bisa berjabat.
"Iya, Pak. Perkenalkan,saya Rheina."
"Baiklah. Karena sudah berkumpul, kita lanjutkan meeting hari ini."
***
Pertemuan pagi itu berjalan cukup lancar. Perusahaan yang akan bekerja sama memberikan proyek kepada tim Rheina juga tim Novita. Selayaknya sebuah kompetisi, keduanya diberikan tantangan yang sama yang harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
"Baiklah, kita akan bertemu lagi minggu mendatang."
Semua orang berjabat tangan, menandakan akhir pertemuan. Lalu mereka pun keluar dari ruang pertemuan.
Rheina dan Ella bergegas meninggalkan ruangan. Keduanya mengabaikan Novita yang sedari tadi menatap tajam ke arah dirinya.
Entah mengapa Rheina bisa merasakan tatapan kebencian begitu pekat dari cara Novita melihatnya.
Mungkin Novita pikir Rheina akan menderita setelah ia berhasil merebut Alvano dan merusak pernikahan mereka.
Rheina tak memungkiri jika ia masih merasakan sakit atas pengkhianatan kedua orang itu. Rheina tak tahu apa dan sejak kapan Novita begitu membenci dirinya, menginginkan semua miliknya. Padahal sebelumnya mereka merupakan teman yang sangat dekat. Bahkan Rheina sering kali membantu Novita dalam keadaan apapun. Rheina tahu semuanya tentang Novita, namun baru menyadari kebusukan wanita itu.
Rheina dan Ella baru saja keluar dari kapsul lift yang membawa mereka ke lantai dasar. Dia dan Ella berjalan menuju pintu keluar kantor, hendak menunggu kedatangan taksi yang katanya sudah dipesan oleh Ella. Sembari berjalan, keduanya mengobrol banyak hal random. Mereka berencana untuk berjalan ke tempat wisata atau kafe sekitar yang ada di kota itu. Kebetulan kota yang mereka datangi kali ini memiliki taman yang katanya cukup indah dan asri. Keduanya sudah lama sekali tak mengunjungi tempat-tempat hijau yang menyejukkan mata.
Tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam metalik baru saja berhenti di depan pintu keluar perusahaan itu. Rheina yang melihat pintu mobil yang mulai terbuka itu seketika menghentikan langkahnya. Dia hafal siapa orang yang akan turun dari mobil hitam itu.
Seorang pria dengan tubuh tegap yang postur tubuhnya masih jelas dihafal oleh Rheina menyunggingkan senyum ke arahnya. Tidak, lebih tepatnya ke arah wanita di belakang Rheina. Tak tahu sejak kapan Novita tiba-tiba sudah berada di belakangnya tak jauh dari tempat ia berdiri.
Rheina tetap tertegun di tempatnya. Tubuhnya sedikit bergetar, ketakutan tengah mendera dirinya. Dia sama sekali tak mengharapkan bertemu dengan pria yang telah mengkhianati dirinya. Melihat bayangan pria itu saja rasanya ia tak sudi. Luka yang ditorehkan oleh pria itu masih belum kering. Rasanya masih kemarin kejadian itu terjadi.
Kejadian di mana dua orang itu berada di kamar yang sama, masih terpatri dengan jelas dalam pikiran Rheina.
Ella yang menyadari sesuatu yang tak beres dengan Rheina, dengan cepat bertindak. Wanita itu menarik lengan Rheina agar segera menjauh dari dua orang yang membuat Rheina rapuh itu.
Dengan sigap Ella membawa Rheina segera keluar agar tak melihat lebih lama bagaimana pasangan memuakkan itu.
"Sayang, makasih ya udah jauh-jauh jemput ke sini," ucap Novita manja. Wanita itu sengaja sedikit berkata lebih keras agar Rheina mendengarnya.
"Everything for you, Dear." Alvano tak kalah romantis.
Mereka lalu berjalan beriringan dengan lengan yang tertaut. Ella yang sempat melirik ke arah mereka merasa mual.
"Pasangan lebay," gumam Ella.
Bulir air mata Rheina jatuh. Beruntung hanya Ella yang menyadari jika wanita yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu menitikkan air matanya.
"Jangan ditangisi. Air matamu terlalu mahal untuk kamu keluarkan jika itu karena pasangan tak tahu diri itu. Mereka pasti akan membayar mahal semuanya." Ella berusaha menguatkan Rheina.
Rheina mengusap air matanya dan mengangguk. Biarlah orang menganggapnya cengeng. Dia masih kecewa dan terluka. Dan sampai kapanpun ia tak akan melupakan luka itu.
Ella membuka ponsel pintarnya. Ada sebuah pesan yang baru saja ia terima.
"Ayo kita pergi. Tunjukkan kalau kamu kuat."
Ella membawa Rheina menuju mobil yang tadi pagi membawanya. Rheina mengernyit heran.
"Mbak, kenapa Revan ada di sini?" tanya Rheina.
"Mbak yang minta dia jemput ke sini. Kita sedang butuh bantuannya saat ini," jawab Ella sebagai alasan.
"Tapi, kenapa dia bisa secepat itu sampai? Bukannya tadi dia bilang ada kerjaan?" tanya Rheina lagi.
"Entah, padahal beberapa menit lalu aku kirim WA, dia udah sampai aja. Tak apa lah... Lumayan tumpangan gratis," kelakar Ella mencoba meredakan kesedihan Rheina.
***
Revan, Ella dan Rheina sedang dalam perjalanan pulang. Tak ada yang berani membuka suara setelah kejadian tadi di lobi perusahaan rekanan Ella.
Beberapa saat yang lalu...
"Hai, Sayang. Udah selesai meeting-nya?" tanya Revan saat menghampiri Rheina dan Mbak Ella.
"Untunglah aku sampai di sini tepat waktu. Kamu lapar gak?" tanya Revan sembari menyelipkan anak rambut Rheina ke belakang telinga.
Karena mobil Revan terparkir tepat di depan mobil Alvano, mau tak mau Alvano melihat pemandangan yang membuat hatinya berdenyut. Nyeri.
Meski Vano berulang kali menyangkal kalau sudah tak mencintai Rheina, entah mengapa ia masih tak bisa terima jika Rheina dekat dengan pria lain. Alvano memang posesif... Dan egois.
Rheina tersenyum manis mendapat perlakuan Revan. Ia sadar, kalau Revan melakukan itu hanya sebuah sandiwara untuk menyenangkan hatinya. Dia tak se-istimewa itu untuk mendapatkan perhatian pria tampan di hadapannya kini.
Lain halnya dengan Revan. Meski itu sebuah sandiwara permintaan sepupunya, jantungnya terasa hendak melompat keluar saat mendapati senyuman manis Rheina. Senyum yang sejak awal membuatnya terpesona.
"Sadar, Revan. Ini hanya sandiwara!" rutuk Revan dalam hati.
Ekor mata Revan menangkap Alvano yang masih belum melajukan mobilnya. Revan melihat Vano mengeratkan pegangan pada kemudinya. Sebagai sesama pria, Revan yakin kalau Vano sedang marah.
Ah, sepertinya akan sangat menarik. Di satu sisi Vano masih ada rasa kepada Rheina, di sisi lain, pria itu masih bersama dengan Novita. Dasar maruk! Serakah!
Revan menyeringai penuh kemenangan. Mengejek Alvano yang kini sedang cemburu. Revan dan Rheina bergegas meninggalkan Vano dan Novita yang sedari tadi menonton pertunjukan romantis yang menyalakan api kecemburuan.
Dan kini, Revan menepikan mobilnya di sebuah pelataran rumah makan.
"Kita makan siang dulu," ucap Revan pada akhirnya.
Dua wanita itu hanya mengangguk dan mengekor di belakang. Rasa canggung masih mendera Revan dan Rheina, dan entah kenapa Ella tak membantu untuk mencairkan suasana.
"Van, kayaknya Mbak langsung pulang. Delisha rewel katanya di rumah mertua. Kalian makan siang berdua aja ya. Mbak udah pesen taksi, kok," ucap Ella tiba-tiba. "Nah, itu taksinya," ucap Ella lagi saat sebuah taksi mendekat ke arahnya.
Ella segera pergi meninggalkan dua orang itu setelah berpamitan singkat. Lebih tepatnya kabur, tak mau jadi pihak ketiga di antara dua orang itu. Selain tak mau menjadi obat nyamuk bagi keduanya, Ella tak ingin disebut sebagai 'pengganggu' saat mereka mendekatkan diri dengan makan siang. Dia cukup tahu diri, dan akan membiarkan dua orang itu membangun chemistry. Dia yakin kalau Revan sedang mengejar cinta Rheina. Oleh karena itu ia tak mau menghalanginya. Ella yakin mereka bisa bersama.