BAB 9

1343 Kata
"Jadi... Gimana langkah kamu ke depannya?" tanya Ella sesaat setelah pelayan pergi usai menyajikan makanan. "Entah... Tapi kayaknya aku mau fokus berkarir dulu, Mbak. Sayang banget 'kan kalau gak ada kemajuan. Aku mau move on, Mbak," ujar Rheina diselingi tawa. "Wah, bagus dong kalau gitu. Aku dukung. Full support buat kamu," ucap Ella antusias. "Oh iya, Mbak. Untuk proyek dengan pabrik di Semarang, kira-kira bisa gak ya, aku ikut ke sana? Sekalian pilih kain buat desain next season," ujar Rheina. "Kayaknya boleh, deh. Nanti aku sampaikan ke atasan. Jadi biar nanti kamu dibuatkan surat tugasnya," jawab Ella. "Wah! Makasih banyak ya, Mbak. Mbak Ella yang terbaik deh..." rayu Rheina. Revan sedari tadi hanya menyimak percakapan dua wanita di hadapannya. Hanya Revan yang profesinya berbeda dengan dua orang di hadapannya. Pria itu menikmati makanan di hadapannya. Sesekali dia menatap wanita di hadapannya itu. Revan hari ini sangatlah berbahagia. Orang yang sedari dulu ia sukai kini telah berubah status menjadi single. Ya, meski pernah menikah, hal itu tak membuat Revan patah semangat mengejar sang pujaan. *** Rheina baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Kini ia sudah kembali ke rumah sewaannya karena hari sudah berganti malam. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah notifikasi pesan bukti transfer dari Alvano kepada Rheina. Rheina hanya menanggapi sekilas. Nominalnya memang tak sebanyak yang dia pinta dalam gugatan cerainya, namun itu cukup untuk tambahan tabungannya. Meski masih ada rasa tak ikhlas dalam hati, Rheina tetap berbesar hati. "Yang penting udah bebas dari dia," gumamnya menyemangati diri sendiri. TRING Ponsel Rheina kembali berbunyi, sebuah notifikasi pesan masuk ke gawai nya. "Jangan lupa besok berangkat pagi. Udah banyak kerjaan yang nungguin di kantor. Gak perlu sedih, kamu gak sendiri." Begitulah isi pesan tersebut. Pesan dari Ella. Belum sempat Rheina membalas, benda pipih yang sedang dipegangnya itu kembali berdering. "Bisa buka pintu?" Rheina mengernyit membaca pesan dari Ella. "Mbak ada di depan." Tambah pesan yang tertera di layar. Rheina segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan yang lebih sopan. Lalu bergegas menuju pintu depan rumahnya. "Surprise! Kaget gak?" pekik Ella. "Nggak lucu kali, Mbak," cebik Rheina. "Sama siapa? Sendiri?" Rheina melongokkan kepalanya keluar rumah. "Cari siapa? Mbak datang sendiri lah." Sungut Ella. Rheina membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Ella yang membawa kantong belanjaan masuk ke rumahnya. "Princess gak diajak?" "Nggak, sama Papanya. Tadi udah bilang sama mereka. Soalnya besok kita mau dinas luar. Lagian juga mereka mau nginep di rumah mertua." "Mbak habis belanja?" tanya Rheina lagi. Ella hanya menjawab dengan anggukan.. Wanita itu langsung sibuk menata barang-barang yang ia bawa agar tertata rapi di dalam kulkas Rheina. "Mbak, aku gak enak ngerepotin terus," ujar Rheina sembari membantu Ella mengeluarkan barang-barang dari plastik. "Kayak sama siapa aja kamu. Aku nginep tiga hari di sini ya?" pinta Ella usai menutup kulkas yang terisi penuh. "Emang keluarga Mbak gak kangen gitu kalo nginep tiga hari? Oke lah kalau nginep cuma sehari... Tapi ini, tiga hari?? Suami Mbak gak marah??" "Aku kan udah ijin. Lagian dari pada di tinggal sendiri di apartemen, mending numpang di sini. Lumayan, bisa begadang sampe malem. Kalo udah sama suami n anak pasti gak bakalan bisa menikmati me time kayak gini. Toh, suami ada dinas luar juga seminggu," tutur Ella panjang lebar. "Oh iya, besok kita langsung ada tugas luar kota. Jadi besok kita harus berangkat pagi," ucap Ella lagi sembari berjalan menuju ruang tengah membawa nampan dengan beberapa kudapan di atasnya. "Yah, kok langsung berangkat pagi, Mbak? Tugas luar kota lagi," keluh Rheina. "Kamu mau lebih unggul dari wanita itu nggak? Kita rebutan proyek dengan perusahaan itu," sahut Ella. "Lho, bukannya mereka kerjaannya itu dari kita ya, Mbak?" tanya Rheina. Rheina bingung kenapa perusahaan lama tempat ia bekerja tiba-tiba melangkah jauh. "Mbak juga kurang paham. Tapi yang pasti wanita licik itu mau melewati batasannya." "Wah, lumayan menantang, nih! Oke lah, aku terima tantangannya." Rheina kembali bersemangat. Rheina dan Ella mengobrol ringan, sesekali mengunyah cemilan yang ada di hadapan mereka. Tak lupa mereka menghidupkan layar televisi dengan saluran luar. Ya, dua wanita itu sama-sama pecinta drama korea. Persamaan itulah yang membuat mereka semakin akrab semenjak pertama bertemu. Kakak adik beda ayah dan ibu itu sangat akrab dan saling mengerti satu sama lain. *** "Mbak, kita berangkat jam berapa?" "Mestinya sih jam 8 udah sampai di sana," jawab Ella. Rheina merogoh ponselnya di atas nakas, melihat waktu yang tertera di layar, 7.30 pagi. Rheina meletakkan kembali ponselnya, berniat untuk kembali tidur. Tiba-tiba, Rheina membuka matanya lebar-lebar... Pukul tujuh lebih tiga puluh menit. "Astaga!" pekik wanita itu. "Mbak, bangun! Kita udah telat." Rheina berusaha membangunkan Ella yang sedari tadi masih tertidur. "Mbak, udah setengah delapan. Ayo buruan!" teriak Rheina. Ella yang terkejut, dengan segera bangun. Wanita itu juga bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri secara kilat. Begitupun Rheina. Dua orang itu benar-benar sedang diburu waktu. Setelah dirasa cukup, keduanya segera berlari menuju pintu. Mereka dikejutkan oleh sebuah mobil yang diperkirakan sudah terparkir cukup lama. Seorang pria bergegas keluar setelahnya. "Udah bisa ditebak, pasti kesiangan," ujar pria itu sembari membuka pintu mobil dan membantu dua wanita itu memasukkan barang bawaannya ke bagasi. Rheina dan Ella hanya bisa tersenyum miris. Sungkan, malu, merasa bersalah, semuanya campur aduk jadi satu. "Udah dari tadi?" tanya Ella. "Udah hampir karatan, Mbak. Coba cek ponsel kalian, berapa kali aku misscall?" sarkas pria yang kini telah fokus mengemudi. Rheina dan Ella mengecek ponsel masing-masing. Puluhan panggilan tak terjawab tertera di layar benda pipih itu. Keduanya meringis, bisa-bisanya mereka terlalu lelap tidur. Suasana kembali hening. Revan yang kini mendadak jadi sopir mereka kembali fokus melajukan kendaraannya. Beruntung kota tujuan bisa ditempuh dengan melewati tol, sehingga membuat mereka tak terlalu terlambat. "Bentar deh, Van. Kamu kok tiba-tiba mau nganterin? Emangnya kamu gak kerja?" selidik Ella. "Hemm...." Revan gusar. Dia bingung hendak beralasan apa. Tak mungkin jika dia mengatakan secara langsung kalau dia ingin mengantar jemput Rheina. Pasti kakak sepupunya akan langsung melapor kepada kedua orang tuanya. "Aku kebetulan ada tugas luar juga, Mbak. Aku pikir kalian pasti butuh tumpangan. Apalagi hobi kalian itu sama... Nonton drakor sampai lupa waktu," ujar Revan hati-hati. Beruntung Revan hafal dengan hobi kakak sepupunya itu. Ella sangat mengagumi pria berkulit putih bermata sipit khas negeri ginseng. Hal itu membuat Revan yakin kalau kakaknya itu pasti begadang demi maraton drama yang kini tengah populer. "Oh... Ya gak apa-apa kalau memang kamu ada tugas luar juga. Tapi, bukan karena mau modus nganterin Rheina, 'kan?" selidik Ella. "Uhukk...." Revan tersedak ludahnya sendiri. "Eh, enggak, Mbak. Nggak gitu juga... Gimana ya...." Revan terlihat salah tingkah. Reflek Rheina menyodorkan sebotol air kepada Revan yang berada di kursi kemudi. "Thanks." Beruntung tak ada yang memperhatikan jika wajah Rheina sedikit bersemu. Meski entah kenapa ada sedikit rasa kecewa di hatinya mendengar akhir perkataan Revan. Rheina tak mau terlalu berharap. Apalah dia yang merupakan seorang janda, yang bila dibandingkan dengan Revan yang sangat sempurna, bagaikan langit dengan bumi. Sangat jauh berbeda, dan tak mungkin untuk bersatu. Tapi tak ada yang tahu permainan takdir apa yang akan menanti mereka nanti. *** Setelah sekitar dua puluh menit berkendara, tepat pukul delapan, Rheina dan Ella toba di perusahaan yang akan menjadi rekan perusahaan mereka. Setelah berterima kasih kepada Revan atas tumpangannya, Rheina dan Ella bergegas masuk ke dalam bangunan berlantai sepuluh itu. Memang gedung bangunan itu tak terlalu tinggi, karena merupakan kantor utama. Sementara pabriknya sangatlah luas, ada beberapa hektar yang sanggup menampung hampir sepuluh ribu karyawan. Ella dan Rheina menuju meja resepsionis. Setelah ditunjukkan letak ruang konferensi yang akan digunakan, mereka berdua bergegas menaiki lift menuju ruang yang dimaksud. Beruntung mereka masih terbilang tepat waktu. Setelah duduk, mereka mempersiapkan berkas dan laptop mereka. Setidaknya mereka memastikan segalanya siap pakai sebelum digunakan. Tak lama, terdengar derap langkah dari arah luar. Rheina dan Ella berdiri, bersiap menyambut perwakilan perusahaan itu dengan sopan. Ceklekk! Perlahan pintu itu terbuka. Suara beberapa orang yang hendak memasuki ruangan semakin jelas terdengar. Dua orang pria dengan setelan hitam, diikuti dua orang wanita di belakangnya mulai memasuki ruangan. "Selamat Pa-" Belum sempat sapaan terlontar, Ella dan Rheina dikejutkan oleh orang yang baru saja membuka pintu ruangan itu. "Kalian?" pekik salah seorang wanita yang berada di belakangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN