BAB 8

1006 Kata
"Ma Revan mau menikah," ucap Revan tiba-tiba. "Tapi dengan pilihan Revan sendiri," lanjut pria itu. Sang Mama menghentikan aktifitasnya menyendok nasi untuk Revan. "Kamu sudah punya calon?" tanya Mamanya memastikan. "Iya, Ma," jawab Revan tegas menyembunyikan kekhawatirannya. Tak ada yang tahu kalau saat ini tangan dan kakinya dingin, bahkan nyaris membeku layaknya es. "Bukan klien kamu, kan? Kamu gak jadi pebinor kan, Nak?" selidik Mamanya lagi. "Mama gak mau ya kalau kamu merusak rumah tangga orang. Kamu itu tampan, pekerjaanmu ini memang rawan. Kamu gak sampe senekat itu kan?" cecar Mamanya tanpa jeda. "Ya ampun! Kayaknya Mama terlalu banyak nonton sinetron ikan terbang," batin Revan. "Aku harus bisa mengulur waktu agar Mama tak tahu kalau calon menantunya memang klien aku," jerit hati Revan. "Tapi, Ma..." Revan menjeda perkataannya. "Tapi apa lagi? Ya ampun! jangan-jangan benar kalo kamu kepincut istri orang?" geram Mamanya. "Eh, bukan, Ma. Enggak gitu!" Revan menghela nafas. "Begini, Ma." Revan berusaha menjelaskan perlahan. "Mama kan khawatirnya Revan jadi pebinor tuh... Revan gak kayak gitu. Cuma... dia itu janda, Ma. Tapi tunggu dulu, Mama jangan menyela," ujar Revan saat Mama nya membuka mulutnya hendak menyela penjelasan Revan. "Dia itu janda, tapi bukan karena Revan... Dia bercerai dengan mantan suaminya karena mantan suaminya berselingkuh. Dan juga, wanita itu sebenarnya sudah lama Revan kenal... Dia dulu pernah bantu Revan melawan preman sekolah yang mem-bully Revan. "Astaga... Kenapa kamu gak pernah cerita kalau kamu pernah jadi korban bullying?" terdengar suara Mamanya sedikit terkejut. "Udah lama, Ma," jawab Revan santai sambil mencomot lauk yang sudah tersedia. "Enak, Ma. Kapan-kapan ajari Revan masak menu-menu ini, ya?" pinta lelaki tampan itu menunjuk menu makanan yang tersedia di atas meja. Menu rumahan yang sederhana itu cukup memanjakan lidah Revan yang jarang sekali makan masakan rumah. Karena kegiatannya yang padat sebagai pengacara, membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Sehingga mau tak mau, pria itu memesan delivery atau makan di restoran. Sang Mama hanya bisa geleng-geleng kepala. "Makanya, buruan dibawa kesini calonnya. Biar bisa Mama lamar," sindir Mamanya. Uhuk! Revan mengambil gelas berisi air putih di sebelahnya. Dia segera meminum cairan bening itu untuk melegakan tenggorokannya. "Ya ampun, Ma... Buru-buru banget pengen dikenalin sama pilihan Revan." Revan meletakkan kembali gelas yang telah berisi setengah itu. "Gimana gak buru-buru. Diantara teman-teman arisan Mama, cuma Mama aja yang belom gendong cucu," gerutu sang Mama kesal. "Jangankan cucu, menantu aja Mama belum ada," imbuh Mamanya lagi. "Kan ada princess cantiknya Mbak Ella... Dia kan cucu Mama juga?" kilah Revan. Sang Mama makin sebal. "Tau, ah! Capek Mama ngadepin kamu. Ada aja alasannya." Sang Mama nyaris beranjak dari kursi meninggalkan Revan yang belum selesai makan. "Mau kemana, Ma?" Revan memegang lengan Mamanya lembut. "Duduk dulu donk, Ma." Revan meletakkan alat makannya lalu minum air putih yang tersisa setengahnya. "Revan serius kalau Revan sudah punya calon. Tapi Mama harus benar-benar menunggu." Revan menjeda kalimatnya. "Dia janda, bisa dibilang baru beberapa waktu lalu menjadi janda akibat ulah suaminya. Dia merupakan gadis baik-baik meski kini dia sebatang kara. Namun hatinya masih terluka. Dan aku yakin Mama tahu itu. Masih sulit bagi dia membuka hati untuk orang lain. Tapi Revan dan dia cukup dekat. Jadi, Ma... Beri waktu Revan untuk menaklukkan hatinya. Mama tak perlu khawatir, dia itu benar-benar calon menantu idaman Mama," ucap Revan panjang lebar. Sang Mama akhirnya mengangguk, setuju untuk menunggu sampai wanita yang dimaksud Revan dibawa ke kediamannya. Mamanya begitu percaya dengan apa yang dikatakan Revan. Mamanya yakin Revan tak akan mengecewakan dirinya. *** Hari demi hari berlalu. Sidang perceraian Rheina dan Vano berjalan dengan lancar. Pasalnya Vano memilih mangkir dari sidang sehingga membuat sidang berjalan lebih mudah. Namun, Rheina tak mendapatkan apa yang menjadi haknya. Namun wanita itu ikhlas, dia membiarkan Vano dan Novita menikmati harta kekayaan yang semu yang sebagiannya adalah miliknya. "Selamat ya, Re," ucap Mbak Ella memberi selamat atas status barunya. Ella senantiasa mendampingi Rheina dalam sidang perceraian nya. Wanita berusia 32 tahun yang selalu tampak muda itu tak pernah absen memberi semangat kepada Rheina. "Makasih ya, Mbak," jawab Rheina sembari tersenyum, senyum yang sedikit terpaksa. Bagaimana tidak? Meski Rheina sudah resmi berstatus single, hati kecilnya masih merasa sakit hati akan perlakuan Alvano selama ini. Hanya karena Anak, pria itu justru memilih selingkuh, mengkhianati dirinya. Memang mungkin dirinya yang bermasalah, karena endometriosis yang diderita olehnya. Namun bukankah setiap penyakit ada obatnya? Rheina yakin bisa sembuh, hanya saja waktu yang mungkin sedikit lama membuat Vano lelah dan bosan. Belum lagi dirinya yang memilih berkarir. Rheina sedikit bersyukur. Paling tidak dia tak berpisah dengan kondisi tak memiliki pekerjaan. Justru pekerjaannya sedang bagus-bagusnya. Yah, meski beberapa saat lalu dia diberhentikan secara sepihak dengan alasan yang tak masuk akal. Rheina sangat bersyukur mengenal Mbak Ella dan Revan. Dua orang itu yang selalu membantu dan mendukung dirinya dalam kondisi apapun, tak menghujat dirinya yang kekurangan, dan justru membantu dengan tulus. "Makan, yuk! Mumpung lagi izin cuti. Kapan lagi kita bisa nongkrong bareng," celetuk Mbak Ella. "Tapi, Mbak-" Wanita itu langsung menyeret Rheina tanpa menunggu penolakan dari Rheina. "Anggap sebagai perayaan status baru, hahaha." Mbak Ella tertawa terbahak. Revan yang juga baru saja keluar dari ruang sidang, diajak ikut serta oleh Ella. Ella membawa Revan dan Rheina menuju sebuah restoran yang tak jauh dari pengadilan agama. Suasana restoran itu sangatlah nyaman, hampir menyerupai sebuah cafe, dan sangat asri. Banyak pemuda pemudi berlama-lama di sana. Entah untuk santap siang, atau hanya nongkrong ditemani secangkir kopi dan beberapa cemilan. "Aku sama Revan yang pesan, kamu yang bayar. Tak ada penolakan!" ujar Ella sesaat setelah pelayan memberikan menu restoran itu. Mau tak mau, Rheina menyetujui. Apalah arti beberapa ratus uang kalau dibandingkan dengan ketulusan mereka yang selalu menemani Rheina saat di posisi paling bawah. Rheina tersenyum melihat Ella sangatlah antusias dalam memilih makanan yang akan mereka makan. Begitu pula dengan Revan. Ya, meski Rheina tau jika Revan sering kali tertangkap basah curi pandang padanya. Rheina tak mau terlalu percaya diri, menebak-nebak isi hati Revan. Baginya, Revan hanya ia anggap sebatas sahabat. Sedikit banyak, perceraian itu membuat sebuah trauma tersendiri bagi Rheina terhadap lelaki. Dia masih belum siap membuka lembaran baru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN