"Habis dari sini, kita ke butik ya? Katanya gaun pernikahan kita sudah jadi," ujar seorang wanita dengan suara manja.
Revan yang juga menangkap suara asing itu ikut menoleh. Ia terkejut, wanita itu sedang bersama dengan Alvano, suami Rheina.
Revan kemudian beralih menatap Rheina. Dilihatnya wanita itu sedang menunduk. Revan memandang Rheina dengan perasaan iba. Ia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati wanita itu melihat orang yang dicintai bersama dengan orang lain.
"Kamu tak ingin membalas mereka?"
"Buat apa?" tanya Rheina balik.
"Paling tidak itu akan melegakan hatimu."
Rheina masih tampak berpikir. Dia saat itu memang kesal, bahkan sangat kesal. Bagaimana tidak, mereka masih belum bercerai. Dan apa itu? Gaun pernikahan? Gila!
Seumur-umur baru kali ini ia mengalami hal gila nan menjijikkan. Suami sahnya bermesraan dengan wanita lain dan malah sudah merencanakan pernikahan dengan wanita lain?
"Apa perlu bantuan ku?" Revan menawarkan diri.
Rheina menggeleng. Ia yakin ia bisa menghadapi mereka.
Rheina menunggu Vano dan Novita pergi ke butik. Rheina berencana mengikuti keduanya. Mungkin hal itu terasa menggelikan, tapi lebih aneh lagi jika Rheina membiarkan suami sahnya bersama dengan wanita lain.
Vano dan Novita keluar dari toko pakaian pria itu. Rheina ikut melangkahkan kakinya mengikuti dua orang itu. Namun hanya beberapa langkah, Revan mencekal tangannya.
"Aku antar. Tak ada penolakan."
Meski enggan, Rheina menuruti mau pria itu. Dia tak berani melarang Revan. Ya, mungkin akan lebih baik dia ikut. setidaknya ada yang menjaganya jika dua orang yang mulai menjauh itu berlaku kasar lagi seperti waktu itu.
***
Revan menghentikan mobilnya di sebuah butik. Butik yang tak lain milik Mamanya? Yang benar saja?
Secara tak langsung keluarganya ikut andil dalam perpisahan Rheina dan Alvano.
Revan terdiam, dia menoleh ke arah Rheina, mengamati ekspresi wanita itu. Sepertinya Rheina tak tahu jika butik itu milik mamanya Revan.
Rheina turun dari mobil. Ia berjalan perlahan. Saat masuk ke bangunan bernuansa putih nan elegan itu, Rheina berjalan perlahan. Dia berpura-pura melihat-lihat beberapa gaun pesta yang tergantung rapi di sepanjang rak besi itu.
"Ada yang bisa Kami bantu, Nona?" sapa pegawai butik ramah.
"Saya mau melihat-lihat gaun pesta, Mbak."
"Ke sebelah sini, Mbak," ucap pegawai itu mengarahkan Rheina ke rak yang tak jauh dari tempat Vano dan Novita melakukan fitting baju.
Rheina melihat Vano duduk di sebuah sofa yang di depannya terdapat sebuah tirai besar. Tak lama tirai itu terbuka, menampilkan sosok wanita cantik dibalut gaun berwana putih gading, gaun yang indah dengan taburan permata Swarovski di bagian d**a dan bagian bawah gaun itu. Gaun dengan potongan sederhana namun mewah, cantik. Namun tak se-cantik hati calon mempelai wanita yang memakainya.
PROKK.. PROKK.. PROKK..
Suara tepuk tangan terdengar. Semua orang melihat ke sumber suara. Rheina yang berdiri tak jauh dari sana bertepuk tangan, mengejek wanita yang mengenakan gaun itu secara halus.
"Gaun yang bagus, cantik. Tapi sayang sekali, kamu tak akan bisa memakainya. Karena sampai kapanpun tak akan ada kesempatan untukmu memakai gaun itu. Tak akan pernah ada pesta pernikahan karena itu mustahil bagi istri kedua. Eh, lupa, masih belum jadi istri ya. Lebih tepatnya P-E-L-A-K-O-R!" ucap Rheina mencibir.
Novita turun dari panggung kecil dibalik tirai itu. Dengan langkah pelan yang tampak elegan.
Rheina mencibir. Wanita yang kini telah berdiri di depannya itu dengan wajah tersenyum.
"Setidaknya Alvano mencintaiku dan anak ini. Bukan dirimu yang mandul," balas Novita penuh penghinaan.
"Kamu lihat saja, aku akan membongkar semua kebusukanmu." Rheina menunjukkan foto Novita dan Vano dengan gaun itu.
Novita sedikit takut. Dia tahu apa yang akan Rheina lakukan dengan foto itu. Novita takut orang-orang di perusahaan tempat ia bekerja ikut menghujatnya jika tahu dirinya menikah dengan suami orang. Citra baik yang ia bangun akan hancur begitu saja jika orang-orang tahu.
Novita memilih bungkam. Dia memilih kembali ke ruang ganti dengan tangan mengepal.
"Akan aku pastikan perceraian kita akan cepat terjadi." ancam Alvano.
Rheina tertawa, menertawai dirinya yang menyedihkan. Bukankah itu yang ia inginkan? Secepatnya bercerai dengan Revan? Tapi kenapa masih ada sedikit rasa tak rela?
Rheina memilih pergi dari butik itu. Dia tak ingin Vano melihat air mata yang telah siap meluncur dari sela matanya.
Rheina berjalan diatas trotoar, menyusuri jalan entah kemana. Pikirannya kacau tapi dia tak sedikitpun menghentikan langkahnya. Hingga di sebuah halte bus, Rheina berhenti. Dia duduk di bangku besi halte lalu menangis.
Beruntung halte bus di sana sedang sepi karena memang masih jam kerja.
Revan yang sedari tadi mengikuti Rheina, hanya bisa melihat Rheina dari jauh. Ingin rasanya ia membawa wanita itu ke dekapannya agar Rheina merasa jauh lebih baik. Namun hal itu urung ia lakukan.
Revan tak berani menghampiri Rheina saat ini. Selain karena malu, ia ikut bersalah karena keluarganya ternyata ikut andil secara tak langsung perihal perceraian wanita itu.
Revan ingin segera kembali menemui keluarganya, meminta penjelasan kepada mereka. Pikiran Revan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan saat pulang ke rumah utama. Tapi untuk saat ini, biarlah ia menjaga Rheina dari jauh dulu, memastikan wanita itu sampai di kontrakannya dengan selamat.
***
Usai melihat Rheina pulang ke rumah sewanya, Revan bergegas menemui orang tuanya. Pria itu menekan emosinya dalam-dalam agar nanti menghadapi kedua orangtuanya itu dengan pikiran tenang dan emosi yang stabil.
Revan tak ingin menyakiti orang tuanya meski itu secara verbal. Bagaimanapun Revan tak ingin menjadi anak durhaka.
Saat masuk ke dalam rumah besar itu, ia mendapati orangtuanya sedang bersantai di ruang tengah.
"Wah, anak Mama sudah pulang, Pa." Sang Mama tampak begitu bahagia menyambut anak semata wayangnya itu datang. Sudah lama Revan tak pulang ke rumah utama karena kesibukannya menjadi pengacara.
Sang Papa hanya tersenyum tak berkomentar. Masih ada sedikit rasa kecewa karena Revan lebih memilih menjadi pengacara dibanding mengurus perusahaannya yang kini dibantu oleh Ella untuk mengurusnya.
"Ma, Pa, boleh Revan bicara sebentar?" tanya Revan setelah duduk di sofa single di dekat mereka.
"Gak makan dulu? Ayo kita makan dulu baru ngobrol. Mama yakin kamu pasti belum makan siang kan?" ucap Mama yang berpindah duduk di dekat anaknya yang mulai dewasa itu.
Revan yakin, setelah ini pasti Mamanya akan membicarakan perihal perjodohan atau kencan buta dengan beberapa wanita random yang tak Revan ketahui seluk beluknya. Lalu kapan ia bisa membicarakan masalah Rheina dengan mereka?
Tidak, Revan harus menyampaikannya saat ini juga.