BAB 6

1014 Kata
Tak lama, setelah tetangga baru itu pulang, Rheina mendapati sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Rheina cukup familiar dengan mobil hitam itu. Melihat tak ada pergerakan dari mobil itu, Rheina memilih mendekati kendaraan itu. Rheina terkejut, seorang pria memejamkan mata dengan posisi duduk di balik kemudi mobil. Sepertinya pria itu tertidur. Diketuknya kaca mobil itu, cukup keras Rheina mengetuk hingga akhirnya Revan terbangun. Rheina menyilangkan tangannya saat pria itu menurunkan kaca jendela mobil sembari tersenyum malu. "Kenapa gak pulang?" "Gapapa. Hehe. Ya udah, aku mau pulang dulu ya," Revan hendak menyalakan mobilnya. "Eh, tunggu. Sarapan dulu. Di rumah ada banyak makanan. Ayo temani aku makan," ajak Rheina. Revan mengangguk. Pria itu keluar dari mobilnya dan berjalan mengekor Rheina ke dalam. "Cuci muka dulu di toilet sana. Aku tunggu di meja makan." Rheina berlalu kembali menuju dapur setelah menunjukkan letak toilet kepada Revan. *** Revan baru saja keluar dari toilet. Rheina sudah siap duduk dimeja makan dengan dua piring di hadapannya. "Aku tak tahu apa kamu suka masakan ku," ujar Rheina. Revan tersenyum. "Tak apa. Aku bisa makan semua makanan yang masih bisa dimakan, dan kelihatannya masakanmu enak." Revan segera duduk mengambil posisi di seberang meja, berhadapan dengan Rheina. "Kalau boleh tahu, apa rencanamu selanjutnya?" "Mungkin aku akan mencoba melamar pekerjaan di kantor Mbak Ella." Revan menganggukkan kepalanya. Dia setuju, apalagi mereka berada di satu jalur yang sama, urusan pakaian. "Untuk berumah tangga, apa kau ada rencana menikah lagi?" tanya Revan hati-hati. "Uhukk..." Revan menyodorkan segelas air minum kepada Rheina. "Maaf." Hanya kata Maaf yang bisa Rheina katakan. Pasalnya wanita itu masih belum ada pikiran untuk membangun rumah tangga kembali. Luka yang ia terima masih belum kering, dia hanya ingin fokus kepada dirinya sendiri terlebih dahulu. "A-aku minta maaf, mungkin aku tak bisa memberikan jawaban yang kamu inginkan. Aku rasa kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dariku." Rheina mengepalkan kedua tangannya dibawah meja. Meski Revan pria tampan dan mapan, Rheina tak berani berharap terlalu jauh. Perbedaan antara dia dan Revan sangatlah jauh. Revan jauh lebih baik dari segala aspek, dan dia pun lebih pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik juga. "Tak apa. Aku tak akan memaksamu untuk menerimaku dalam waktu dekat. Aku sudah selesai. Kamu makanlah dengan nyaman. Aku pulang dulu. Terima kasih sarapannya." Revan tersenyum lalu kemudian berbalik ke luar rumah Rheina. Rheina sudah kehilangan selera. Dia membereskan meja makan lalu memilih bersiap ke kantor tempat Ella bekerja. *** Rheina kini sedang dalam perjalanan menuju kantor Ella. Dia disambut ramah oleh resepsionis perusahaan itu. "Bu Rheina bisa ke lantai tiga dahulu, Bu. Karena ibu sudah ditunggu oleh pihak HRD," ucap sang resepsionis mengarahkan. Rheina sedikit bingung. Dia ke perusahaan itu masih akan menaruh lamaran pekerjaan, tapi kenapa langsung dipanggil pihak HRD? *** "Kami sudah mendengar perihal Bu Rheina dari Bu Ella. Dan kami memang sangat menantikan Bu Rheina untuk bergabung dengan kami." Kepala HRD itu mengulurkan tangannya. Rheina membalas uluran tangan kepala HRD yang bernama Ricky itu. "Terima kasih, Pak." "Sama-sama. Ibu bisa mulai bekerja mulai besok dan ruangan ibu ada di lantai sembilan belas." "Oh iya, Pak. Mohon maaf sebelumnya. Berhubung saya masih dalam proses perceraian dengan suami saya, bolehkah saya izin cuti atau keluar kantor saat jam kerja untuk proses sidang perceraian saya?" tanya Rheina. "Boleh, Bu. Asalkan tak mengurangi kinerja dan target Ibu Rheina. Kami rasa Bu Rheina merupakan Desainer profesional, jadi hal itu masih baik-baik saja." "Terima kasih banyak, Pak," ucap Rheina bahagia Hari ini wanita cantik itu sangat bahagia. meski dia kehilangan pekerjaan sebelumnya, dia mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Rheina akan bekerja dengan sangat giat. Dia tak ingin mengecewakan Ella yang telah banyak membantunya. Mengingat perusahaan lamanya itu bekerjasama dengan perusahaan tempat ia bekerja kini, Rheina mulai berpikir akan rencana balasan untuk mereka yang telah mengusiknya. Dia juga akan menggali informasi mengenai Novita dan apa pengaruhnya di perusahaan itu hingga dalam sekejap dia bisa mengambil alih semua miliknya, suami dan pekerjaan Rheina. Ya, Dalam beberapa hari, posisi Manajer Desain digantikan oleh Novita. Bukankah itu hal aneh, Rheina diturunkan dari jabatannya tanpa tahu sebab salahnya, sementara Novita yang notabenenya tak ada apa-apanya jika dibanding Rheina, justru dinaikkan jabatannya. Rheina keluar dari bangunan tinggi itu. Dia hendak pulang. Dia ingin menikmati sisa waktunya sebagai pengangguran. Merasa nanti akan bosan, Rheina memilih pergi ke pertokoan dengan menggunakan taksi. Sudah lama ia tak menginjakkan kakinya ke surganya para wanita, berbelanja. Rheina merasa dulu dia wanita bodoh. Pasalnya, saat Alvano meminta Rheina untuk tak sering-sering ke mall untuk Spa dan berbelanja, wanita itu patuh, menuruti keinginan suaminya. Kali ini, dia akan melanggar semua itu karena tak lama lagi, hubungan mereka akan resmi berakhir. Rheina sempat berkhayal, memikirkan pilihan apa yang akan Vano pilih jika Rheina juga membuat gugatan tentang KDRT. Rheina ingin Vano merasakan sedikit pembalasan dari Rheina. Ia tak ingin Vano menyesal, tapi ingin pria itu menderita. Sungguh, rasanya Rheina ingin sekali menjadi wanita jahat. Itu hanya sebuah hukuman kecil dari Rheina, setidaknya agar hatinya lega. "Sial, kenapa sih kemana-mana ada pasangan itu!" Rheina kesal. Mood nya mendadak buruk. Dimana ada pasangan itu, pasti akan ada keributan. Tak akan ada hal baik jika pasangan itu melihat Rheina ada disekitar sana juga. Rheina sudah bisa memperkirakan hal itu. Rheina memilih masuk ke salah satu toko untuk menghindari Alvano. Rheina mengintip dan mengawasi mereka dari dalam toko. "Lagi ngapain?" tanya pria yang tiba-tiba muncul dari belakang Rheina. Rheina terlonjak kaget. Kepala pria itu sangat dekat dengan wajahnya, tepat di samping Rheina. "Kamu?! kok bisa ada disini?" Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Harusnya aku yang tanya, kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Rheina tak mau kalah. "Kalau aku wajar ada disini. Yang gak wajar itu kamu." Revan tersenyum menggoda wanita itu. "Siapa saja kan bisa ada di sini. Di sini kan tempat umum-" "Coba cek sekelilingmu!" potong Revan. "Ya ampun!" Rheina baru menyadari jika toko tempat ia berada saat ini adalah toko khusus pakaian pria. "Maaf." Wajah Rheina memerah. Dia malu. Sementara Revan tertawa. Hingga akhirnya pria itu menyadari sesuatu. "Habis dari sini, kita ke butik ya? Katanya gaun pernikahan kita sudah jadi," ujar seorang wanita dengan suara manja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN