Adrian merasa malas berangkat pagi ini. Lagi pula dia sebenarnya jenuh harus bekerja di kantor papanya. Tapi bagaimanapun juga dia tidak siap untuk kembali menjadi pilot. Tidak dan tidak. Trauma itu masih terus melekat. Apalagi saat ini, dia tidak bisa meninggalkan Pelangi. Istrinya itu tengah hamil. Dia masih belum percaya sebenarnya. Wanita yang telah menjebak dan menipunya kini benar-benar mengandung anaknya. Buah hatinya, darah dagingnya. Hidupnya sudah hancur seharusnya. Bersama dengan perginya Kirana. Tapi dengan kedatangan Pelangi, sebenarnya wanita itu malah menolongnya dari keterpurukan. Dan hal itu kini menjadi berkah tersendiri untuknya. Menatap Pelangi yang pagi ini masih tertidur. Mungkin Pelangi terlalu lelah, karena kemarin dia mengajak berkeliling istrinya itu. Dan merasa

