Kenapa harus Kekeyi

900 Kata
Ketika Tera sampai di kampus, angka pada layar ponsel-nya menunjukkan angka 15:30. Meskipun Sabtu sore, masih ada mahasiswa yang berlalu-lalang. Itu mengejutkannya.  "Tera!! Tera, sini!!"  Dari cafe yang sering dijadikan tempat nongkrong mahasiswa, ada yang berteriak sambil melambaikan tangannya dengan heboh.  Tera langsung berlari menyebrang.  "Ya ampun Yuri, ku kira siapa. Kamu gak pulang kampung?" Tanyanya dengan napas terengah.  "Masih ada nilai yang belum keluar, males banget ntar udah santai-santai eh disuruh balik lagi cuma buat remed." sahut Yuri sambil menggigit sepotong kue. "Hari ini jadi bimbingan?"  "He'eh," Tera menarik kursi di sebelah Yuri. "Entar jam empat." Tera menyelesaikan kalimatnya dan duduk, lalu mengambil sepotong kecil kue memasukkannya ke mulut.  "Eh ini enak banget. Aku abisin ya?"  Pulang kerja tadi Tera hanya sempat mandi dan berganti baju, dan sekarang perutnya sudah meronta minta jatah. Tanpa ragu-ragu dia mengambil lagi sepotong kue dan melahapnya dalam satu suapan besar.   Tera baru saja menelan ketika dia melihat seseorang menarik kursi di depannya, dan langsung memberondonginya dengan pertanyaan dalam satu tarikan napas.  "Kak Tera baru dateng? Sendirian? Kak Arashnya mana, dia gak kesini?"  Tera mengabaikan gadis itu dengan meminum segelas air. Sofie ini sebenarnya anak yang menyenangkan. Wajahnya lembut dan cantik yang dibingkai dengan rambut hitam panjang dan lurus.   Karena berasal dari daerah yang sama, Sofie selalu berada di sekelilingnya dan Arash. Hal itu membuatnya merasa sedikit tak nyaman.  Kalau saja Sofie bukan keponakan dari suami tantenya, mungkin sudah dia buang jauh-jauh dari lingkaran pertemanannya.   Yuri buru-buru menyela untuk meredakan ketegangan. "Tera mau bimbingan skripsi, ngapain nenteng-nentang si Arash?"  Mata Sofie yang indah membesar, "wah... kak Tera udah mau skripsi? Hebat. Kak Arash tau?"  Yuri tidak tahan mendengarnya, jadi dia berkata pada Sofie, "duuh, nanyain Arash mulu. Mau ngapain sih? Jangan bilang naksir, Arash itu punya Tera!"  Tera melirik Yuri dari balik lensa dengan penuh rasa terima kasih.  "Gimana bisa punyanya kak Tera? Mereka aja gak ada hubungan apa-apa." Sahutnya dengan wajah cemberut.  Pada saat itu, Tera memperhatikan tatapan menghina di mata Sofie. Dia menghela napas dalam diam, merasa ucapan Sofie benar. Hubungannya dengan Arash memang dekat, tapi tak ada kejelasan dan jauh dari kesan romantis.  Tunggu saja, setelah skripsinya selesai. Tera akan membuat segalanya jadi jelas.   "Aaa!!! Pada liat ini deh." Mendadak Yuri heboh, jarinya mengklik beberapa gambar, dan menunjukkan pada kedua temannya dengan antusias, "Omg! Omg! Cakepnya beneran gak manusiawi nih dosen! Apalagi yang make kemeja putih, lengan digulung, kacamataan, ngomong bahasa prancis. Gila bener! Sesek napas nih liatnya!!"  "Kayaknya aku belum follow deh. IG-nya apa Yur, buruan ih!! Sofie tak mau ketinggalan, dia mengusap layar ponsel-nya tidak sabar. Bahunya langsung layu begitu mendengar jawaban Yuri.  "Mana ada! Pak El nggak punya IG. Ini aja liat di Reva." Yuri menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Menurut analisaku nih, pak El gak bikin IG karena dia gak mau cewek-cewek di kampus pada ngehalu, nge-fly..."  "Itu dosen apa kecubung? Sampai bikin nge-fly gitu?"  Fakta Tera memotong ucapannya dengan santai membuat Yuri sebal setengah mati. "Emang kamu gak pernah masuk kelasnya sampai gak tau gimana cakepnya pak El??"  "Pernah, tapi jarang sih."  El atau Ghamaliel R Sutedja adalah dosen muda yang mengajar mata pelajaran strategi bisnis pariwisata. Biasanya kelasnya diadakan setiap akhir pekan dan Tera yang memiliki kerja sampingan, lebih sering titip absen daripada datang.   Kalaupun bisa datang, dia lebih memilih duduk di bagian belakang karena datangnya selalu mepet. Wajarlah kalau dia tidak terlalu memperhatikan tampang dosen yang digilai mahasiswi se-universitas. Pokoknya, selama tak mengurangi nilai akademiknya, Tera akan tetap berjalan di koridornya selama ini.  Yuri mendesah dengan dramatis. "Cewek-cewek lain rela bangun pagi, dandan, ngukir alis biar cakep, sampe rela gak sarapan biar gak telat, biar bisa dapat duduk paling depan, biar bisa dikenal sama pak El. Pada akhirnya semua pengorbanan itu kalah sama yang sering titip absen. Dunia benar-benar nggak adil!"   Tera tiba-tiba merasa dirinya seperti penyusup suatu sekte dimana dosennya yang ganteng jadi berhala yang disembah oleh anggota sekte, sedangkan dia orang tersesat yang perlu diluruskan jalannya.  "Pasti kak Tera rajin beramal, jadi Tuhan deketin cowok-cowok cakep ke dia." Tiba-tiba Sofie tersenyum dan berkata dengan nada penuh arti. "Yah, emang sih deket belum tentu memiliki, tapi kan bangga juga..."  Sofie lagi-lagi merujuk hubungannya dengan Arash. Tera berusaha untuk tidak mempedulikannya, tapi sulit. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum melontarkan balasan yang kejam kepada perempuan berwajah polos yang duduk di depannya sambil bertopang dagu.  Namun, tanpa sengaja perhatiannya beralih kepada gelang perak yang melingkar di pergelangan tangan kanan Sofie.  Gelang itu... dia bersama Arash sewaktu pria itu membelinya.  Tera memiringkan kepalanya dan berpikir sejenak. Kenapa gelang itu bisa berada di tangannya?    "Eh, Sofie, gelang itu..."  Sebelum semua pertanyaan yang ada di ujung lidahnya terlontar keluar, ponsel-nya bunyi 'pip' pelan. Gambar amplop terlihat di layar. Selain operator kartu, pinjaman online dan tukang tipu yang mengiming-imingi hadiah ratusan juta. Hanya ada satu orang lagi yang berkomunikasi dengannya pakai sms.   "Saya ada urusan mendadak. Kalau kamu maksa hari ini, datang ke Grand Savero Bogor, kamar 1545. Kita bahas di sana! Lewat dari jam 6 CANCEL!!!"  Tera membaca pesan dari dosen pembimbingnya, lalu menyipitkan matanya dengan curiga. Ke hotel untuk membahas skripsi? Bukannya itu terlalu berlebihan  "Kenapa?" Yuri menjangkau ponsel dari tangan Tera, dalam hitungan detik ponsel itu sudah berpindah tangan, "ini pak El?"  Tera mengangguk.  "Ya Tuhan! Dia nyuruh kamu ke hotel!"  Tera mengangguk lagi seperti ayam yang mematuk makanan.  "Terus ngapain masih di sini? Bukannya langsung berangkat, nanti keburu telat!"  "Tapi ini ke hotel lho, Yuri! Hotel!!!" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN