Nyawa seharga 10% gaji

1086 Kata
"Emang kenapa? Tahun kemarin ada yang demi skripsi sampe nyamperin dosen ke rumah sakit, ada yang nunggu depan wc. Mereka biasa aja!"  Tera sampai tidak tahu harus bagaiman merespon. Hotel dan rumah sakit, dua tempat yang benar-benar berbeda. Apa temannya ini tidak tahu bagaimana bahayanya perempuan datang ke hotel seorang diri?  "Aku minta reschedule aja deh. Lebih aman"  Yuri duduk tegak di kursinya dan menatap gadis di sampingnya dengan marah. Dia memiliki tatapan yang jelas menunjukkan kalau dia berniat mencekiknya.  "Ya lord Tera! Kamu kebanyakan makan kepala ayam geprek atau apa sih kok oon? Memangnya ngatur jadwal dosen gampang?"  Tera menunduk menatap layar ponsel, jari-jarinya yang ramping mengetik dengan kecepatan yang luar biasa. Dia bahkan tak mengindahkan omelan Yuri. Kalau capek pasti berhenti sendiri.  "Tera, kamu tau berapa banyak cewek-cewek di kampus kita yang cantik, seksi, dewasa sampai yang bikin burung cowok kedutan deketin pak El? Puluhan! Tapi gak ada satupun yang dilirik. Sekarang, lo yang biasa-biasa aja disuruh dateng bimbingan skripsi gak mau karena takut diapa-apain. NGACA WOYYY!!! Kalau disuruh milih antara liat Kekeyi mukbang cilok panas, sama kamu yang ngajak mantap-mantap, aku rasa pak El lebih suka liat Kekeyi mangap-mangap kepanasan!"  Tera mengangkat kepala, "banding-bandingin aku sama Kekeyi, kamu yakin masih punya hati nurani?"  "Lagian pake ngeyel. Kalau gak pergi gimana skripsi mau kelar? Emang kamu udah lupa sama rencanamu kemarin?  "Iya, iya aku pergi!" Diingatkan tentang rencana untuk menyatakan perasaannya. Tera akhirnya menyerah. "Tapi aku gak suka ya dibandingin sama ciloknya Kekeyi."  Tawa renyah Yuri meledak, setelah tenang dia berkata dengan ekspresi serius. "Mending kekeyi sih, seenggaknya dia cuma banyak makan tapi gak pernah keliaran pakai sesuatu yang bikin dia mirip anak TK."  Tera nyengir menunjuk sederet gigi putih, gigi taring bagian kirinya menyembul keluar.   "Aku belum nyuci, jadi seketemunya aja."   "Gak usah lebay deh, Yuri. Kak Tera gak keliatan semuda itu kok!" Sofie hampir tidak bisa menahan dengki dalam suaranya sebelum ia berpaling ke Tera dan berkata dengan wajah cantiknya dan suara lembut, "kak Tera  kamu kan mau ketemu dosen, bukan mau main. Kalau boleh ngasih saran nih, mending kak Tera ganti baju dan pakai sesuatu yang kelihatan lebih dewasa."  Sesuatu yang kelihatan dewasa?  Tera melihat pakaiannya dengan alis terajut.   Sore ini pilihannya terbatas hanya pada sweeter dan kaos atau kemeja. Tera hanya mengambil secara acak, sweeter kuning muda yang nyaman, ada gambar beruang besar tercetak di bagian depan, Tera memadukannya dengan celana boyfriend berwarna navy yang ia gulung semata kaki dan  sneakers bertema es krim ungu-kuning.  Penampilannya hari ini terlihat sopan, tapi tak ada salahnya sih mendengar masukan teman. Namun pikiran itu keburu di rusak yuri.  "Bener itu bener!" Yuri dengan bersemangat duduk tegak dan mengusulkan, "sesuatu yang seksi, dewasa dan menggoda biar skripsimu di approve dalam sekali pertemuan, jadi minggu depan langsung sidang terus wisuda. Gimana kalau kamu pinjemin dia Sof? Baju-bajumu kan kebanyakan dewasa,  bitchy-seksi-naughty gitu."  Sofie cemberut dan protes memberitahu kalau berpakaiannya itu. Girly dan elegan!!!  Sementara Sofie dan Yuri berdebat membedakan antara elegan dan vulgar, Tera bergidik membayangkan dirinya berkeliaran dalam balutan sesuatu yang girly, seperti rok mini atau slip dress dengan kaki terbalut wedges.  "Oke, thank's sarannya."  Sebelum bayangannya terjadi, Tera mencangklong tas ranselnya yang berat kemudian segera pamit.  Masa depannya sudah menunggu dan dia malah menyia-nyiakan satu jamnya yang berharga untuk meladeni dua orang yang tak jelas, sama tak jelasnya dengan dosen yang semena-mena mengubah jadwal bimbingan di menit-menit terakhir pertemuan.  Setelah bayangan Tera menghilang. Sofie melirik Yuri, ragu-ragu sebentar, lalu bertanya. "Arin, kamu kenapa sih nafsu banget nyuruh dia selesain skripsinya. Masih ada waktu setahun lagi kan?"  "Gue cuma bantu teman mewujudkan cita-citanya "  "Cita-cita apa?"   "Nikah...muda."  Sofie terdiam sebentar, dan senyumnya membeku sebentar di wajahnya yang cantik. "Nikah muda? Sama Arash?"  Yuri memberi Sofie kedip, lalu meraih tas selempangnya.  "Ayo, kita pulang!!!"  *** "Buat surat tender proyek perbaikan jalan desa dan provinsi. E-mail ke saya, cc ke Pak Rusdi, juga ke direktur bidang konstruksi, selanjutnya biar mereka yang tangani proyek ini!" Alarik mengangkat alisnya dengan takjub dan membuat catatan di tab-nya. "Bos memang hebat, berangkat umtuk lihat tanah, pulang malah bawa proyek bernilai milyaran." "Kamu yang lebih hebat. Perusahaan dapat proyek ini berkat jasamu yang cukup besar. Akhir bulan ini, kamu dapat bonus tambahan sebesar 10% dari gaji pokok." Alarik merasa bingung dengan bosnya yang tiba-tiba jadi murah hati. Siang tadi, Alarik dan pak Rusdi, direktur pengembang properti, ditambah kepala desa yang merangkap jabatan sebagai calo tanah, mengikuti bosnya melihat sebidang tanah. Rencananya di tanah itu akan dibangun villa dan pemandian air panas ala Jepang. Ternyata tanah itu masih berupa hutan cemara yang luas dengan infrastruktur yang tak memadai. Jalanan utamanya hanya selebar dua kendaraan, dengan gundukan dan lubang yang cukup untuk berendam seekor kerbau ditambah dengan tanjakan, turunan serta tikungan tajam. Tidak seperti biasanya, Alarik KO dalam perjalanan pulang, dia mabuk darat dan menumpahkan isi perutnya dalam Range Rover Velar yang harganya lebih dari 2 milyar. Gara-gara dia semua orang sibuk, perjalanan tertunda setengah jam. Bosnya tidak berkata apa-apa. Dia menunggu di luar saat sopir membersihkan muntahan asistennya sambil menelepon ke direktur keuangan untuk membeli mobil baru. Pada titik ini Alarik benar-benar kehilangan sosok tampan dan berkelasnya. Pada saat dia berpikir perjalanan tadi adalah momen terakhir dalam kariernya sebagai asisten, bos besar malah memberinya bonus gaji 10%. Kali ini Alarik percaya, keajaiban itu ternyata benar-benar ada. Di jalan, saat mereka terus melaju,  Alarik melihat Ghamaliel dari sudut matanya. Mereka baru saja menempuh perjalanan yang medannya 11-12 dengan wahana halilintar di dunia fantasi. Namun, pria itu, terlihat seolah dia baru keluar dari pekan mode di Paris saat dia mendiskusikan sesuatu lewat ponsel-nya dengan sikapnya yang terlihat angkuh.  "Kalian berdua hebat," Alarik mulai bersuara, "nggak ada yang mabuk sama sekali lewat jalan tadi." "Itu sih..." ucapan pak Rusdi dipotong Ghamaliel. "Karena kami nggak minum larutan soda kue sebelum berangkat." Larutan soda kue? Alarik bertanya-tanya maksud ucapan Ghamaliel, tapi tak ada jawaban. Bosnya malah menjawab panggilan telepon, bertanya ke pak Rusdi juga percuma, sepertinya dia tidak tahu apa-apa. Kenapa dia tidak tanya ke Google? Pasti google tahu jawabannya. Merasa tercerahkan, pria itu tersenyum, matanya berbinar ketika menulis kata kunci di tab-nya. Dia membuka web Alo dokter untuk melihat hasil pencarian. Hatinya langsung loncat ke tenggorokan ketika membaca. ...efek samping paling parah adalah muntah-muntah hebat, kejang, gangguan pada saraf dan otak, perburukan pada penyakit ginjal atau jantung, gangguan pada elektrolit seperti... Sudut mulut Alarik berkedut. Dia teringat air minum dari Ghamaliel. Harusnya air merk itu ada manis-manisnya, tapi yang dia minum tadi sedikit pahit. Kemudian otak cerdasnya menghubungkan ucapan pria itu dan jawaban dari Google barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN