Bab 7 : Calon istri, bukan calon kakek!

1025 Kata
Nenek Sutedja hari ini mengenakan gaun terbaiknya. Dia turun untuk memeriksa persiapan pemotongan pita Mall baru miliknya. Tapi, mata tuanya malah di suguhi pemandangan yang membuatnya tidak bahagia.  Alarik ini mirip menantunya. Tidak terlalu tampan memang, tapi mempunyai pesona sendiri di mata para gadis. Nenek Sutedja memarahi besannya ketika dia mendengar Alarik sering gonta-ganti pacar.  Saat itu besannya hanya menjawab, "wajar namanya anak muda."  Lihat anak muda itu sekarang! Beraninya dia rangkul-rangkulan di depan umum. Di acaranya pula.  Apa dia tidak memikirkan kakaknya?  Suasana hati nenek Sutedja langsung memburuk saat teringat cucu kesayangannya.  Lalu, bagaimana kalau ada koleganya yang lihat? Nanti dibilang bocah kurang ajar ini lebih laku dari pewarisnya, Ghamaliel.  Untuk sesaat Tera bertanya-tanya siapa wanita tua itu sampai dia mendengar suara rendah Alarik.  "Nek, ada temanku. Bisa nggak aku kerjain nanti?"   Nenek Sutedja sepertinya memahami situasi, dia menepuk lengan Alarik. "Baiklah kalau kamu sibuk."   Alarik mengorek telinganya.  Sukar dipercaya, nenek rese ini langsung mengabulkan permintaannya begitu saja.  Dengan perasaan seolah baru saja mendapat jackpot ratusan juta, Alarik menarik tangan Tera sebelum ada yang berubah pikiran.  Sebelum pemuda itu beranjak, nenek Sutedja berkata seakan dia orangtua paling malang sedunia.  "Kakek sering kasih bunga ini setiap nenek ulang tahun, dulu hidup kami susah, untuk bisa membeli bunga ini, kakek menyimpan uang makannya selama sebulan. Dia rela kelaparan demi membuat istrinya senang. Hari ini, lihat bunga ini di letakkan sembarangan, nenek jadi merasa bersalah. Kalian anak muda sibuk sendiri-sendiri, apa boleh buat. Biarlah nenek renta ini memindahkannya sendiri."   Alarik tidak berdaya. Dia lalu berbalik sambil menahan malu ke Tera. "Kamu tunggu di dalam, ku urus orangtua ini dulu."  Ketika nenek Sutedja menatapnya, Tera mengangguk malu-malu. Setelah itu, dia mengatakan ke Alarik untuk mentraktirnya lain kali, lalu tersenyum pada nenek sebelum dengan cepat menyingkir dari sana.  "Bunga mana yang mau dipindah?"  "Lupakan. Itu hanya bunga biasa."  Jawaban yang diucapkan dengan wajah tanpa dosa itu membuat wajah Alarik suram dan keruh.  Sebaliknya, nenek tua itu terlihat riang. Dia berkeliling memeriksa pekerjaan karyawannya dengan ujung bibir tertarik ke atas. Suasana hatinya benar-benar baik bagus hari ini.  Hubungan Alarik yang berpotensi membuat cucu kesayangannya jadi bujang tua sudah ia musnahkan satu untuk hari ini, dan pasti akan ada hari lain.  Selama Ghamaliel belum ada tanda-tanda punya pasangan, hubungan Alarik akan selalu dibasmi. Bahkan, ketika tunas-tunas itu masih dalam bentuk pertemanan tetap dibasmi apalagi kalau sudah berbentuk cinta.  Matikan saja, jangan ragu-ragu!  *** Ketika melewati pintu kaca yang otomatis terbuka, Tera disambut hawa sejuk dari pendingin udara menghantam wajahnya.  Nuansa hijau pegunungan mendominasi lobi. Ruangannya beraroma hujan yang menyentuh tanah. Mereka juga memasang musik suling sunda dan suara air mengalir yang terdengar sayup-sayup.  Bagian luar yang hiruk pikuk dan dalam gedung yang damai dan tenang seperti dua dunia yang berbeda. Tera seperti terlempar di pedesan jaman dulu.  Dengan kenyamanan seperti ini pantaslah hunian kelas atas ini jadi primadona. Walaupun Senin harga naik, tetap laris manis seperti paket ayam geprek sepuluh ribuan.  Dia menyesal tak bisa berlama-lama di sini. Setelah bertanya letak unit 545 Tera masuk ke dalam lift dan menekan angka 15.  Ponselnya bergetar terus menerus dalam tasnya.  Dia mengusap jarinya di layar. Pesan yang masuk semuanya dari Arash.  Tera membaca semua pesan dan tak bisa menahan senyum. Orang itu memang tidak kreatif. Masa, isinya pesannya kayak lagu yang hits jaman dulu kala.   Kamu dimana?  Dengan siapa?  Lagi apa?  Sudah makan? Makan apa? Dijemput atau nggak?  Pesan terakhirnya 5 menit yang lalu, "telepon aku kalau udah nggak sibuk."  Seperhatian itu kah dia? Seketika jiwanya melayang.  Agar Arash semakin memikirkannya. Tera belajar sabar dan menahan diri untuk tidak menelepon atau membalas pesan tersebut.  Tera bersabar, tapi ibu jarinya tidak. Jari pengkhianat itu menggeser tombol hijau tepat di dering pertama saat ponselnya berbunyi.  Telepon itu dari Arash. Tera bicara dengan nada yang terdengar manis dan imut.  "Iya, ini Tera."  "Kok Tera, sih? Bukannya ini bidadari?"  Biarpun bercandaan Arash seperti kerupuk yang baru di goreng alias garing. Tetap saja itu membuat hati Tera seperti taman. Berbunga-bunga.  Ditengah-tengah pembicaraan mereka, alisnya bertaut samar-samar telinganya mendengar suara lembut perempuan yang bertanya tentang warna lipstik.  "Bagus yang tadi daripada yang ini."  "Bagus yang kamu pakai sih, warnanya lembut. Kayaknya lebih enak." Sepertinya Arash lupa menjauhkan ponsel ketika menjawab pertanyaan tadi.  Tera bertanya dengan ragu, "Arash, kamu ngomong sama aku?"  Jeda sejenak.  Pria itu terbatuk-batuk kecil untung menghilang gugup. Tetapi, tetap saja suara canggungnya terdengar dengan jelas, "So-sorry, Ter. Aku tadi ngomong sama Sofie.  "Sofie? Kok bisa?" Nadanya terdengar seperti orang yang memergoki pacarnya selingkuh.  "Tadi aku- aku ke kampusmu, tapi kamu nggak ada. Kebetulan ada Sofie, dia ikut ke Cakung."  "Ohh."  "Aku lagi nyetir, nanti ku telepon lagi. Bye!"  Sambungan terputus. Tera melihat ponselnya dengan pandangan linglung.  Arash dan Sofie...  Tanpa ia sadari timbul perasaan gelisah dalam hatinya.   Ah, lupakan! Lupakan. Mereka cuma pulang bareng, buat apa merasa cemburu?   Di sisi lain, Ghamaliel berada dalam kamar mewahnya.   Penampilannya santai- kaos hitam dengan celana 3/4 warna army muda. Cahaya terang dari lampu menegaskan kulitnya yang berwarna zaitun. Hidungnya tinggi, matanya memiliki garis yang rapi dan memiliki tatapan yang tegas sekaligus lembut di saat bersamaan.   Laki-laki iri dengan penampilannya sementara, tak sedikit wanita yang terpesona olehnya.  Pria itu terkubur dalam kertas-kertas ujian tengah semester yang ia bawa pulang. Dia jadi dosen bukan sengaja, tapi karena perasaan saling membutuhkan.  Dia butuh 10% saham milik ayahnya untuk memperkuat posisinya di perusahaan Sutedja.  Sedangkan ayahnya, butuh gelar S2 milik anaknya untuk akreditasi perguruan tinggi swasta milik keluarganya.  Mengajar bukan hal baru untuk Ghamaliel. Sewaktu mengambil S2 di Auckland, dia pernah menjadi asisten dosen. Muridmya waktu itu banyak yang usianya lebih tua, dan dia sama sekali tidak mengalami kesulitan. Jadi, dengan percaya diri dia meengira, mengajar yang lebih muda, harusnya lebih mudah.  Sayangnya dia lupa, Jakarta itu bukan Auckland, yang semuanya teratur, yang muridnya disiplin. Di sana kalau ada staff atau tenaga pengajar yang tampan, sikapnya biasa-biasa saja. Paling senyum atau hanya 'say hi'.  Di sini lain, pertama kali berdiri di depan mahasiswa, tidak ada satupun yang diam. Mereka malah mengambil gambarnya. Tidak lama kemudian, foto-fotonya yang sedang mengajar sudah beredar di linimasa universitas.   Seminggu kemudian, dia mendengar fans club-nya sudah terbentuk dengan anggotanya membludak. Yang lebih menganggu lagi, mereka mengikutinya kemana-mana. Menyebalkan! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN