Bab 8 : Pak, jangan, please....

1168 Kata
Ghamaliel secara acak mengambil kertas yang berserakan di atas tempat tidur. Semuanya, ada 120 lembar jawaban milik mahasiswa tingkat 5. Dia sudah memeriksa sebagian, dan tak bisa menahan lidahnya untuk memaki.  Kenapa anak-anak ini begitu t***l?!!  Kemana perginya saripati makanan yang merangsang pertumbuhan sel otak yang mereka konsumsi dari kecil? Apa keluar bareng ampas hingga  sel otak mereka tak berkembang dengan benar?  Atau, mereka kebanyakan eksis di media sosial makanya otaknya menyusut.  Menurutnya, perpaduan sempurna makanan mengandung micin, aplikasi alay plus keinginan viral supaya terkenal,  menciptakan generasi yang IQ-nya tiarap.   Tidak percaya? Lihat saja kertas-kertas jawaban ini. Essay semudah ini hanya segelintir orang yang bisa menjawab dengan benar.  Yang lainnya, terutama yang perempuan entah sengaja atau memang otak kopong, banyak yang mengosongkan jawaban dan hanya menulis no wa mereka.  Minta ditegur?? Mimpi!!!  Ghamaliel menulis angka 0 besar di lembar jawaban mereka.  Sebagian lagi menulis hal-hal konyol seperti,  "Pak saya nyerah. Kasih nol aja gak papa. Saya siap kok remed. Anya 08137657090."  Di lembar jawaban yang lain. "Pak bagi Wa nya dong, saya bingung sama pertanyaan ini."  Atau, "pak, saya gak paham matkul-nya. Gak ada gitu niat buka les privat?"  Ada juga yang menulis, "pak, kok bapak mirip Seok jin sih?"   Ghamaliel mengambil ponsel dan meng-Google nama Seok Jin. Setelah fotonya keluar dia bergumam pelan.  "Tidak cukup dengan bodoh! Mereka juga rabun. Dibandingkan Seok Jin, jelas cakep aku kemana-mana lah."  Konyolnya, dia malah menulis note yang bunyinya. "Pergi ke rumah sakit atau pengobatan India sebelum rabun makin parah!"  Jawaban atau curhat yang ngaco atau sengaja dibuat lucu. Dia beri nilai 0,5 anggap saja upah menulis.  Yang minta remed? Dia hanya menjawab, "ujian itu seperti kesalahan, jangan diulangi lagi!"  Ghamaliel merasa sudah terlalu lama melihat laptop dan kertas. Matanya sangat lelah, dia melepas kacamatanya dan menggosok alisnya.   Saat melihat jendela, matahari sudah bertukar shift dengan lampu jalanan.  Ghamaliel meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai. Dengan membawa secangkir kopi dan rokok dia pergi menuju balkon.   Saat mengembuskan cincin asap, Ghamaliel tidak mengetahui, di bawah sana ada konspirasi tingkat tinggi untuk mengubah tatanan hidup nyamannya yang melibatkan neneknya.   Yah, kalaupun Ghamaliel tahu juga percuma. Toh, dia tak akan berlari memeluk neneknya sambil bilang terima kasih. Tetapi kalau ngamuk, sudah pasti. Pria itu tak sudi ada yang mencampuri urusannya tak terkecuali neneknya.  Secangkir kopi yang tadinya penuh hanya tinggal menyisakan ampas. Rokoknya yang kedua tinggal setengah. Tetapi, anak yang mau bimbingan skripsi belum datang.  Ghamaliel masuk lagi ke dalam kamar, ponselnya berdengung pelan diatas tempat tidur, saat diangkat mati. Ada 10 panggilan tak terjawab dari Alarik.  Dia mengambilnya lalu menekan nama Alarik, "Ngomong jangan berbelit-belit dan langsung ke intinya." Ucapnya ketika teleponnya tersambung.  "Boss, nenekmu menyuruhmu secepatnya turun. Pak Ganjar dan keluarganya baru datang, ada cucunya juga, dia baru pulang dari luar negeri. Anaknya cantik."  Ghamaliel menaikkan alisnya ketika mendengar informasi tidak penting yang disampaikan Alarik. "Intinya?"  "Intinya boss, kamu harus turun. Kelihatannya nenekmu sudah nggak sabar untuk menyatukan dua keluarga."  Saat Alarik diam, wajah tampan Ghamaliel langsung suram. Suaranya jelas tidak terlalu senang, "bilang ke nenek, dia sudah kelewat tua untuk menikah lagi."  Bel pintu di luar rumahnya berdering. Secara otomatis dia menutup telepon, meninggalkan Alarik yang menatap ponselnya dengan wajah kekurangan darah.  Boss, menyatukan dua keluarga itu maksudnya, kamu dapat istri, bukan kakek tiri.   **** Tera sampai depan pintu unit 545, napasnya agak tersengal. Komplek hunian ini luas. Dia harus berjalan dari ujung ke ujung untuk menemukan unit milik dosennya, lalu menyadari dia keluar di lantai yang salah.  Salahkan pikirannya yang melayang ke Arash dan sofie, jadi matanya salah membedakan antara angka 13 dan 15. Sekarang dia datang terlambat, semoga saja bapak dosen berbaik hati mau menerimanya.  Semangat!!!!  Setelah menarik napas panjang Tera menepuk kedua pipinya, lalu tangannya menekan bel.  Tak lama kemudian, ada sedikit langkah kaki di pintu, diikuti oleh bantingan dan pintu terbuka. "Cari siapa?"  Astaga!...suaranya, pantaslah mahasiswi sering ribut telinganya hamil setelah kelas selesai, ternyata suara dalam pria ini begitu...seksi.  Gadis di depannya dua kepala lebih pendek darinya, Ghamaliel menunduk, dia menyadari ekspresi aneh di wajah Tera, dalam hatinya mengeluh.  Dasar perempuan ini, meski dilihat dari sudut manapun dirinya sangat tampan, dia kan tak perlu menatapnya dengan tatapan seperti melihat mahluk turun dari surga begitu.  "Ehem!"  Tera tersadar dia tersenyum menunjukkan taring giginya yang imut, "Halo saya Tera, saya sudah bikin janji bimbingan sama bapak."  Ghamaliel melihat jam pada ponsel, lalu.  Brakk!!!  Menanggapi Tera, pintu di tutup dengan suara keras.  Bagi mereka waktu hanyalah jam, tapi baginya waktu adalah uang, dan datang terlambat sama saja membuang-buang uangnya.  Ponsel di tangannya  bergetar, pesan masuk dari Alarik.  "Urgent! Urgent! Nenekmu naik keatas."  Bersamaan dengan itu, bel rumahnya juga berdering.  Ponselnya bergetar lagi. "Nenek mau menyeretmu turun. Cepet kabur, boss!!"  Satu pesan masuk lagi, alis Ghamaliel bertaut. Kenapa dia mengirim pesan sepotong-sepotong?   "Boss, pak Ganjar sama cucunya ikut naik."  Ghamaliel mengetik balasan dengan cepat, "Jadi kenapa kalau mereka ikut naik?!!!"  Bel pintu rumahnya masih berdering, dengan jeda tiap 5 detik dan pola yang teratur.  Suara ponsel dan bel pintu yang bergantian membuatnya kesal.   Ghamaliel mengabaikan pesan tersebut dan berjalan dengan tidak sabar menuju pintu. "Berhenti menyentuh benda itu! Pulang, dan tunggu jadwal pertemuan baru."  "Kapan? Kalau bisa jangan lama-lama ya, pak?"  Permintaan Tera dan ponselnya ditangannya yang terus-terusan bergetar membuatnya meledak.  "Sudah datang telat, sekarang kamu malah ngatur saya, siapa dosennya di sini hah!"  Tera menggigit sudut bibirnya, dia memetik keberanian untuk menjawab, "maaf, pak. Kalau gitu saya permisi dulu."  Ghamaliel tidak berkata apa-apa, dan menutup pintu, kali ini dengan pelan, tatapannya fokus dengan benda ditangannya.  Pesan terakhir dari Alarik berbunyi, "boss, instal wa atau line pliss, pulsaku habis." Sisanya, sms collect dari operator.  Ghamaliel mendengus, siapa suruh jadi orang t***l. Kirim pesan sepotong-sepotong. Ghamaliel tidak menginstall aplikasi yang diminta Alarik, terlalu berisik. Sebagai gantinya dia menelepon.  Telepon tersambung diangkat tetapi tidak ada suara yang terdengar. Ghamaliel mengira sinyal, tepat saat dia mau menutup telepon, ada suara neneknya di sisi lain.  "Kenapa kamu nggak ngomong?"  Lalu suara Alarik, "cuma misscall."  Suara neneknya, "dasar anak  jaman sekarang, bisa beli handphone jutaan tapi nggak bisa beli pulsa. Tapi Monic, kamu nggak usah khawatir cucuku nggak begitu. Pulsa di handphonenya banyak, terakhir nenek lihat masih cukuplah buat beli satu motor baru. Padahal udah lama nggak beli, tapi kok ya ndak abis-abis."  Bibir Ghamaliel menipis, mengingat-ingat kapan nenek-nenek itu berhasil membuka ponselnya. Kalau tidak salah waktu liburan musim panas 5 tahun yang lalu.  Btw, siapa itu Monic? Ghamaliel bergumam penuh kecurigaan.  "Cucumu emang hebat. Aku yang tua ini, bisa mati dengan tenang kalau Monic nikah sama cucumu."  What??!!!! Menikah? Siapa yang mau menikah.  "Kek, jangan gitu. Belum tentu kak Ghamalnya mau."  "Mau! Pasti mau, kamu cantik gini. Pinter juga."  Ghamaliel meraung. "Siapa yang kamu maksud mau itu!!!"   Di sisi lain, Alarik terbatuk hebat, dan segera menggeser tombol merah ke kiri.  Seperti kambing qurban siap potong, Ghamaliel berjalan mondar-mandir dengan panik.  Dia harus membuat calon yang dibawa neneknya kehilangan minat, dengan kualifikasi dirinya yang nyaris sempurna Ghamaliel sadar itu akan susah, jadi dia harus mencari cara.  Berpikir...berpikir...cepat berpikir!  Mendadak dia teringat Tera. Gadis itu pasti bisa bantu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN