Bab 9 : Bapak jangan macam-macam sama saya ya!

1017 Kata
"Paak, ayo dong, Paak. Bukain pintunya, pleaseeee. Saya udah jauh-jauh ke sini khusus nemuin bapak." Biarpun sudah di usir, Tera masih menempel di depan pintu Ghamaliel. Ghamaliel mendengar rengekannya, tapi dia tidak peduli atau lebih tepatnya terlalu malas untuk peduli. Lagipula, dia masih sibuk dengan urusan neneknya. Tera masih menunggu dengan sabar, tangannya menggaruk-garuk pintu. "Padahal aku udah seneng banget lho, dapet bapak sebagai dospem." Tera mulai mengeluarkan serangkaian pujian yang dia sendiri bergidik waktu ngomongnya. "Cewek-cewek di kampus pada jatuh cinta sama bapak, termasuk saya juga, gimana enggak seneng coba bisa lebih deket sama bapak? Eh, udah sampai sini malah diusir. Tega amat bapak." Di balik pintunya Ghamaliel tertegun, lalu telinganya memerah. Dia tahu dirinya punya banyak penggemar di kampus, dan biasanya para mahasiswi cukup mengaguminya diam-diam. Kalaupun ada yang berani menggodanya dengan agresif, biasanya itu di kelas atau saat ramai, dan Ghamaliel selalu menjaga martabatnya, jadi dia tidak akan pernah tergoda oleh rayuan mereka. Dan ketika tiba-tiba ada seorang wanita muda datang ke depan pintunya, mengaku jatuh cinta padanya. Ghamaliel benar-benar tidak siap. Wanita ini benar-benar tidak tahu apa itu rasa malu, pikir Ghamaliel. Tadinya dia mau minta tolong ke Tera, tapi begitu dia tahu bagaimana perasaan gadis itu, Ghamaliel mulai sedikit ragu. Dia tahu bagaimana menyusahkannya seorang wanita kalau sudah menempeli seorang pria. Sementara dia termenung, ponsel dalam genggamannya kembali bergetar. "Tiga lantai lagi," Alarik mengetik. Ah, masa bodoh dengan perasaan cintanya! Setelah berpikir begitu, Ghamaliel langsung membuka pintu. Tera yang menempel di sisi lain terjerembab, itu membuatnya kaget dan refleks jatuh dengan wajah menempel di d**a Ghamaliel. Jari-jarinya yang panjang dan ramping, menekan tulang pinggulnya dengan keras. Ghamaliel menatapnya. Udara di depan pintu menjadi lebih tipis karena hawa dingin yang dipancarkan dari matanya. Ujung-ujung lidah pria itu berdecak. Benar-benar wanita ini. Dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun kesempatan untuk dapat menggodanya. "So-sorry." "Oke, enggak usah minta maaf. Cepat masuk!" Iyesss!!! Akhirnya... Tera mengikuti Ghamaliel seperti seekor anjing kecil. "Kamu tolongin saya, dulu. Bisa 'kan?" Kepala Tera mengangguk-angguk, "bisa, bisa, Pak. Apa sih yang enggak buat bapak." Ghamaliel mencibir, gadis yang dibutakan cinta, memang sering bersikap enggak masuk akal. "Aku baru ngomomg mau minta tolong, tapi kamu sudah bersikap siap mati. Memangnya kamu enggak mau tau aku mau minta tolong apa?" Mata almond Tera mengerjap, "Emang mau minta tolong apa? Enggak susah 'kan?" "Enggak begitu, tapi nanti aku kasih imbalan buat jasamu." Sebelum Tera berhasil mencerna apa maksudnya, Ghamaliel sudah menarik tasnya, lalu melemparnya ke atas sofa. Doa Tera cuma saat melihat tas itu melayang satu, semoga sofa itu cukup empuk supaya macbook-nya yang berharga selamat. Ghamaliel membawanya ke dalam kamar. Tera mulai was-was, apalagi sewaktu Ghamaliel memintanya naik ke atas tempat tidur. "Cepatlah!" "Tapi, pak..."  Kesabaran Ghamaliel menipis, dia mengangkat tubuh Tera dan melemparnya ke atas kasur, melepas kacamatanya dan menarik karet rambut gadis itu.  "Pak, bapak mau ngapain sih?"  Ghamaliel tidak menjawab, dia menutupi tubuh Tera dengan selimut lalu memberi perintah. "Buka bajumu! Beha dan celana panjang sekalian."  Tera langsung melompat bangun. "Nggak mau! Saya emang butuh nilai, tapi nggak begini, pak. Saya masih punya akhlak!"  Menghadapi rentetan penolakan, Ghamaliel menatap tajam perempuan di depannya.  Mulutnya setengah terbuka, rambut berantakan, wajahnya memerah sampai ke leher. Walaupun enggan mengakui, tapi dia kelihatan imut.  "Kamu yang buka sendiri di bawah selimut, atau aku yang buka paksa?"  "Tapi, pak?"  "Pilih salah satu!"  Di bawah tatapan tajam Ghamaliel, Tera tak bisa menolak apalagi kabur, dia tidak melihat celah untuk itu. Terpaksalah dia membuka pakaiannya sendiri dan memberikannya kepada Ghamaliel.  Kulit telanjangnya terasa dingin. Tera menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut supaya hangat.  Di koridor, pintu lift terbuka. Nenek Sutedja keluar diikuti oleh Alarik dan dua orang lainnya.  Sepanjang jalan, nenek Sutedja tak berhenti mengomeli Alarik karena menekan angka di setiap lantai.  "Udah nek, jangan marah-marah. Nanti keriput lho."  "Nggak marah juga udah keriput." Ejek Alarik.  Monic yang menuntun tangan nenek Sutedja jadi tak enak hati sudah salah ngomong, tentu saja nenek Sutedja langsung membela.  "Keriput begini nenek udah laku, nggak kayak kamu. Kenceng cuma ditempelin laler!"  Alarik merengut. Apa itu berarti dia tempat sampah?   Beberapa saat kemudian, mereka sampai depan pintu. Nenek Sutedja menekan bel.  Di dalam, Ghamaliel sibuk melempar pakaian Tera secara acak, lalu kembali ke kamar, membuka kaos melemparnya sembarangan.  Dari balik selimut Tera mengintip.  Ya Tuhan! Ya Tuhan! Andai ini nikmatmu lanjutkanlah, kalau ini cobaan jauh kan lah.  Tenggorokannya tiba-tiba mengering. Ghamaliel membuka kancing celana, dan menariknya sebatas pinggul.  Kepala Tera pusing melihat pemandangan di depan, otot-ototnya begitu indah. Pinggang dan perutnya ramping, tanpa benjolan lemak sedikitpun. Bahkan otot-otot perut bawahnya jelas terbentuk, naik dan turun sedikit bersamaan dengan tarikan napasnya.  Pria ini begitu indah untuk diabaikan.  Tera teringat Yuri dan barisan fangirl Ghamaliel, kalau dia mengambil satu foto dan mengirimnya ke salah satu dari mereka, mereka pasti meledak dan gila.   Tapi, sebelum mereka gila, sepertinya Tera yang akan gila duluan. Bagaimana tidak, sekarang mata Ghamaliel terpaku padanya saat dia mendekat. Matanya bergerak dari wajah ke bibir dan tetap berada di sana. Dia seperti elang, mengincar tikus yang gemetar ketakutan.  Tera menelan udara yang tersangkut ditenggorokannya.  "Pak... jangan... pak. Saya mohon..."  Ghamaliel tidak bereaksi dengan permohonannya, dia sudah duduk sisi tempat tidur. Bau tembakau yang samar masuk langsung ke hidungnya. Wajahnya terasa panas, Tera menutupinya dengan selimut.  Ini benar-benar memalukan.  Tera tidak punya waktu untuk mengekspresikan keterkejutannya.  Selimutnya sudah ditarik dengan kasar. Gadis itu berontak, dia menggigit bahu Ghamaliel demi mempertahankan selembar selimut untuk menutupi tubuhnya.  "Lepasin!" Ghamaliel menjerit kesakitan, dia mendorong kepala Tera menjauh. "Argh!! Sialan kenapa menggigitku?!!"  Tera melihat Ghamaliel mengelus bahunya. Sakit pasti itu, mengangkat dagunya mulai mengancam. "Bapak jangan macam-macam sama saya!"  "kamu pikir aku mau ngapain kamu, heh!"  Ghamaliel menggertakkan giginya, menarik wajah mungil Tera lalu menepuk-nepuk dan mencubit-cubit pipinya.  Kulit Tera yang tadinya kuning langsat sekarang memerah.  Rambutnya yang hitam dan halus tidak luput dari tangan Ghamaliel yang mengacak-acaknya dengan sadis.  Lalu pria itu mundur, melihat hasil karyanya.  "Oke perfect! Kamu boleh tidur, beneran atau pura-pura terserah. Satu lagi, apapun yang terjadi jangan tunjukin mukamu."  Tera menjawab dengan anggukan. Dia takut sekarang, seekor kucing bermain-main dahulu sebelum memangsa tikus. Menurutnya, itulah yang dilakukan oleh Ghamaliel sekarang.  Dia memang seorang maniak! 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN